Sunday, November 25, 2018

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 05-1

2 comments

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 05-1
Images by : GMM Tv
Kita mundur sedikit ke saat Tee merasa bermimpi bertemu Tharnnam. Saat Tee bertanya apa dia layak untuk mati?
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?”
“Selama ini, aku mencoba untuk memaafkan diriku demi mu. Tapi, semua percuma.”
“Apa kau yakin bahwa kau telah memaafkan dirimu? Kau suka menjadi aktor karena itu caramu untuk lari dari dirimu sendiri. Kau menyuruh Pana untuk tidak memberitahu Tonmai mengenai dirimu denganku. Jadi Tonmai tidak akan membencimu.”
“Apa mati itu menyeramkan, Tharnnam?”
“Tidak, Tee. Mulai sekarang, kita tidak harus bertemu hanya saat kau mabuk.”
Episode 05 – Sesuatu yang hilang
Look pergi ke rumah Tee. Dan Tee menyambutnya dengan malas. Wajah Look tampak marah. Dia bertanya alasan Tee melakukan hal itu, menghilang selama 2 hari dan tidak bisa di hubungi. Dan karena itu, Tee membuat kekacauan di lokasi syuting dan juga perusahaan. Tetapi, Tee malah tidak peduli. Dia sangat bahagia sekarang, tidak perlu melakukan apapun.
Look kecewa pada sikap Tee yang seperti ini. Dia tahu kalau dia salah terkait surat itu, tetapi dia sudah berusaha untuk Tee. Tee harus kembali dan jangan meninggalkan mimpi dan segala yang telah di raihnya. Dia menyuruh Tee memikirkan setiap orang yang peduli dan sayang padanya.
“Aku tidak marah padamu. Aku tahu kau khawatir padaku dan keuntungan yang kau dapat dariku.”
“Aku tidak pernah menginginkan apapun darimu. Sejak aku mengenalmu, aku hanya ingin kau bahagia. Aku ingin melihatmu mengejar mimpimu, bukannya hidup bersalah seperti ini.”
Dan Tee tetap membahas surat itu. Look capek menjelaskan. Dan Tee malah menyuruh Look mencari orang lain dan bantu orang-orang itu mencapai mimpi mereka. Yang secara halus, dia tidak ingin Look menjadi manager-nya lagi. Dan dia juga tidak ingin kembali ke dunia hiburan.
Look keluar dari rumah Tee dengan kecewa mendalam. Tee melihatnya dari jendela di kamarnya. Di dalam mobil, Look menangis mengingat perkataan dan perlakuan Tee padanya. Dan Tee juga menyesal telah menyakiti Look.
--
Tharnnam sedang merenung sendirian dan menangis. Tonmai masuk ke dalam kamar setelah menenangkan ibunya. Di tangan Tonmai ada surat-surat itu.
“Apa ada yang ingin P’ katakan padaku?”
“Aku juga tidak tahu, Tonmai. Yang bisa aku ingat, hari itu, Tee tidak datang. Semakin aku tahu kalau aku menyakiti seseorang, semakin aku merasa jahat. Waktu itu, hidupku sangat baik. Aku punya keluarga bahagia. Aku berkencan dengan orang yang ku kagumi sejak lama. Aku tidak tahu kenapa aku bunuh diri.”
Dan tiba-tiba, di tangan Tharnnam muncul walkman-nya. Tharnnam jelas kaget, itu artinya ada yang membakar walkman itu. Hal itu membuat Tharnnam berfirasat buruk. Dia meminta Tonmai untuk segera ke rumah Tee untuk memeriksa.
Mereka masuk ke dalam rumah Tee melalui pintu rahasia dan pintu belakang rumah yang tidak di kunci. Tetapi, kamar Tee terkunci. Terdengar suara benda terjatuh. Tonmai mendobrak pintu dan mereka melihat Tee tergantung.
Dengan kekuatannya, Tonmai menurunkan tubuh Tee dan berusah menyadarkannya. Tharnnam juga panik dan memanggil nama Tee. Tee sedikit membuka matanya, di tengah kesadaran yang tingal sedikit, Tee melihat sosok Tonmai dan… Tharnnam.
--
Tonmai menidurkan Tee ke atas kasur. Tharnnam tampak sangat khawatir. Tonmai memberitahu kalau Tee akan baik-baik saja, dia hanya mabuk dan tertidur. Dan terlihat botol-botol alkohol dan walkman yang telah hangus terbakar.
Tonmai yang tahu kalau Tharnnam ingin bersama Tee, bersedia pergi. Tapi, Tharnnam memohon pada Tonmai untuk membiarkannya menggenggam tangannya. Dan Tonmai memberikannya izin. Mereka saling menggenggam tangan. Dan Tharnnam merasuki tubuh Tonmai.
Dalam tubuh Tonmai, Tharnnam bisa secara nyata menyentuh Tee. Dia menangis melihat wajah Tee dan menyentuhnya. Dia juga berterimakasih karena Tee masih memikirkannya. Dia tidur di atas dada Tee.
Setelah itu, dia keluar dari tubuh Tonmai. Tonmai pulang ke rumah sementara Tharnnam menjaga Tee. Tonmai berkata kalau dia akan kembali besok pagi untuk menjemput Tharnnam sekalian berangkat sekolah. Tharnnam berterimakasih atas bantuan Tonmai.
Saat pulang, ibu sudah menunggunya. Dia merasa cemas karena Tonmai keluar malam. Tonmai beralasan kalau dia hanya jalan-jalan. Tonmai kemudian bertanya mengenai pertengkaran tadi, apa mengenai P’Tharnnam? Orn membenarkan. Tonmai bertanya mengenai Tharnnam, kenapa ayah dan ibu tidak pernah menceritakannya padanya? Orn hanya menjawab kalau itu adalah kisah lama. Dan mereka tidak bisa kembali ke saat itu, jadi mereka memilih melupakannya karena masih harus hidup untuk masa depan.
“Jika aku mati, ibu juga akan melupakanku juga? Sangat menyakitkan untuk di lupakan, bu.”
Orn tidak bisa menjawab pertanyaan Tonmai itu. Dan Tonmai memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
--
Esok hari,
Tonmai pergi ke rumah Tee. Dia datang untuk menjemput Tharnnam sekaligus melihat keadaan Tee. Dia meninggalkan sarapan untuk Tee. Tharnnam meminta izin untuk tetap tinggal mendampingi Tee satu hari lagi. Tonmai mengerti dan pamit pergi sekolah.
Tee ternyata sudah sadar. Dan dia heran melihat Tonmai ada di kamarnya, di tambah lagi Tonmai bicara sendiri.
Tee mencuci mukanya. Dia menatap lehernya yang terasa sakit. Dia ingat saat Tonmai datang menyelamatkannya, dia sempat seperti melihat sosok Tharnnam. Dan hari ini, dia melihat Tonmai bicara sendiri. Tee merasa ada yang aneh.
Dia tidak sadar dan tidak tahu kalau ada Tharnnam di sampingnya. Bersandar di bahunya. “Aku di sini, Tee. Jangan menyakiti dirimu sendiri lagi.”




2 comments: