Sunday, November 25, 2018

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 05-2

1 comments

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 05-2
Images by : GMM Tv
Look menghadap atasan dan dimarahi habis-habisan karena tidak berhasil membawa Tee kembai. Karena Tee, perusahaan mereka jadi merugi dan juga kehilangan kredibiltas. Jika Look tidak bisa mengatasi hal ini, maka dia akan menggunakan caranya sendiri walau itu kejam. Look hanya bisa terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
--
Tonmai tidak seperti biasanya tampak murung. Dan hal ini jelas membuat Noina sediki heran. Saat itu, Pana masuk ke dalam kelas dan memanggil Tonmai keluar sebentar untuk bertemu dengan walinya.
Tonmai mengikuti Pana keluar. Dan Noina tampak khawatir dengan Tonmai, walau dia tidak tahu apa yang terjadi.
Tonmai di bawa ke ruangan bekas lab sains. Ruangan kosong tempat kemarin Tonmai terkurung bersama Tharnnam. Pana membuka ruangan itu dan menyuruh Tonmai masuk, setelah itu, dia menutup pintu ruangan itu lagi dan menunggu di luar.
Di dalam ruangan itu ada Tee. Dan Tonmai jelas terkejut karena ternyata yang ingin menemuinya adalah Tee. Tee mengeluarkan kotak bekal sarapan yang Tonmai tinggalkan di kamarnya tadi pagi. Dia bertanya cara Tonmai masuk ke dalam rumahnya? Dan dengan siapa Tee bicara tadi pagi di kamarnya? Tonmai mencoba berbohong kalau dia tidak bicara dengan siapapun.
“Aku melihatnya. Beritahu aku, Tonmai. Dengan siapa kau bicara?”
“Aku bicara dengan P’Tharnnam.”
“Tidak mungkin. Apa kau gila? Gimana bisa kau bicara dengannya?”
“Aku bisa entah bagaimana. Aku pergi ke rumahmu melewati pintu Doraemon (itu sebutan Tharnnam untuk pintu rahasia di belakang rumah Tee). Pintu yang hanya kau dan P’Tharnnam yang tahu.”
Tee masih sulit untuk mempercayainya. Tetapi, Tonmai terus bicara kalau Tharnnam sangat senang melihat Tee kembali. Dan jika bukan karena Tharnnam, dia mungkin tidak akan bisa menyelamatkan Tee, dan mungkin sekarang Tee sudah mati. Tharnnam sangat sedih melihat Tee yang menyakiti diri sendiri. Dia tidak peduli jika Tee percaya padanya atau tidak, tetapi dia hanya ingin melihat Tharnnam bahagia. Dan satu lagi, Tharnnam juga tidak tahu alasannya bunuh diri hari itu. Dan dia juga tidak mengerti kenapa masih gentayangan.
“P’Tee. Dapatkah setidaknya kau hidup bahagia demi kakakku? Dia sudah cukup menderita,” ujar Tonmai dan keluar dari ruangan itu.
Tee benar-benar terhenyak mendengarnya. Dia masih sulit mempercayai setiap perkataan Tonmai.
Saat Tonmai sudah keluar, Pana masuk dan bertanya apa yang Tee biarakan dengan Tonmai? Tee balik bertanya, apa mungkin ada orang yang bisa berkomunikasi dengan orang yang sudah mati? Pana tidak mengerti dengan pertanyaan Tee. Di tambah lagi Tee bertanya apa mungkin Tharnnam masih ada di sekitar mereka? Pana menasihati Tee untuk tidak tenggelam dalam masa lalu, mereka tidak bisa memperbaiki yang telah terjadi di masa lalu, tapi mereka dapat berubah untuk masa depan.
--

Chompu sedang membaca ramalan bintang. Dan dia sangat terkejut saat melihat Tee datang ke tokonya. Tee datang untuk membeli beberapa minuman keras. Chompu sedikit terkejut tetapi tetap menjualnya untuk Tee.

Tee duduk di pinggir danau sambil minum-minum. Dia ingat saat di selamatkan kemarin, dia sempat melihat sosok Tharnnam. Dia juga memikirkan perkataan Tonmai yang bilang bisa bicara dengan Tharnnam. Dan juga ingat mengenai perkataan Pana kalau mereka tidak bisa memperbaiki hal yang telah terjadi.
Di dekat danau yang sama, tetapi agak jauh, Noina dan Tonmai sedang nongkorong bersama. Noina bertanya apa yang terjadi pada Tonmai? Tonmai bisa menceritakannya padanya daripada memendamnya sendiri.
“Noina, bisa aku bertanya? Apa yang kau pikirkan mengenai kebahagiaan sejati untuk orang-orang?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu mengenai kebahagiaan orang lain. Aku hanya tahu kebahagiaanku sendiri.”
“Apa kebahagiaanmu?”
“Kau ingin tahu kebahagiaanku  di umur berapa?”
Tonmai sedikit tersenyum mendengarnya. “Kau selalu sama. Tidak peduli berapa tahun yang berlalu, kau tetap sama.”
“Ibuku bilang, semakin kau mencoba mencari kebahagiaan, semakin kau tidak bahagia. Kebahagiaan harus ada di sana untuk kau lihat. Sekarang, aku sedang memegang ice cream, kan? Dan aku sangat ingin memakannya. Dan sekarang itu ada di dalam mulutku. Itu artinya, kebahagiannku adalah ice cream. Sudah tahu? Kalau kau, apa kebahagiaanmu?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu apa yang membuatku tidak bahagia. Kalau dulu, itu adalah hari ulang tahunku. Aku merasa sangat tidak bahagia. Ketika aku masih kecil, aku tidak mengerti kenapa aku lahir di hari yang sama dengan kakakku bunuh diri. Terkadang, aku membenci kakakku. Terkadang, aku membenci ayahku. Dan terkadang, aku membenci diriku sendiri.”
“Lalu, bagaimana dengan sekarang? Kau masih berpikir seperti itu?”
“Tidak lagi. Aku sudah terbiasa. Tapi, di ulang tahun ku tahun ini, aku mendapatkan hadiah yaitu kamar kakakku. Kau tahu apa yang lucu? Aku bertemu dengan kakakku di kamar itu. Dan hanya aku yang bisa melihat dan berkomunikasi dengannya. Sulit di percaya, kan? Kakakku tidak bisa ingat alasan dia bunuh diri. Dan kenapa dia bisa terkurung di kamar itu. Setiap aku melihatnya sedih setelah tahu apa yang terjadi setelah dia meninggal, aku merasa sangat tidak bahagia. Aku juga tidak tahu kenapa. Jadi… aku ingin menolongnya semampuku. Ketika aku melihat senyumnya, itu membuatku merasa bahagia entah kenapa. Ketika seseorang berpikir untuk bunuh diri, itu artinya mereka tidak bisa melihat cara untuk bahagia kan?”
“Ibuku bilang jika kau ingin melihat orang lain bahagia bahkan ketika kau sedih, itu artinya kau memiliki cinta yang luar biasa,” ujar Noina. “Jika kau ingin melihat kakakmu bahagia lebih dari dirimu sendiri, kenapa kau tidak melakukannya?”
“Jadi… kau percaya yang ku katakan.”
“Aku sudah mengenalmu lama, kau tidak pernah mengatakan yang kau rasakan. Aku tidak percaya dengan yang kau bilang mengenai kakakmu, tapi aku percaya dengan perasaanmu,” ujar Noina dan menatap mata Tonmai. Hal itu bisa membuat Tonmai sedikit tersenyum. Noina sangat senang bisa melihat Tonmai tersenyum lagi.
--
Pak Tai dalam perjalanan pulang, dan heran melihat ada seorang pemuda di depan rumahnya. Dia memanggil pemuda itu, dan itu adalah Tee. Tee meminta waktu Paka Tai untuk membicarakan sesuatu.
Mereka bicara di dalam rumah. Tee memberitahu kalau dia tidak bisa melupakan Tharnnam seolah Tharnnam ada di sebelahnya. Dan saat dia bertemu Tonmai, dia merasa seolah Tonmai adalah Tharnnam.
Tharnnam ada di rumah Tee, dan dia menangis melihat walkman yang di bakar. Dia merasa sedih karena Tee menderita saat mengingatnya. Dai juga melihat semua tempelan bintang di langit-langit kamar Tee yang sudah di cabut semuanya dan di bakar dengan walkman itu juga. Tharnnam menangis.
“Apakah mungkin kalau Tharnnam benar-benar ada bersama Tonmai?”
“Tee, setiap aku bertemu Tonmai, aku juga merasakan kehadiran Tharnnam. Tapi, aku tidak tahu apa itu benar atau tidak kalau Tharnnam ada bersama dengan Tonmai. Aku juga percaya kalau itu mungkin saja.”
Tee terharu mendengar jawaban itu. Dia tidak menyangkan kalau pak Tai berpikir seperti itu. Dia berterimakasih.
--
Tee pulang ke rumahnya. Dia menyalakan lampu. Tharnnam senang karena Tee sudah pulang. Dia tersenyum lebar, tetapi senyum itu menghilang saat Tee hanya melewatinya begitu saja. Tee melihat walkman yang telah hangus dan beberapa bintang yang belum terbakar sepenuhnya. Tee mengambil barang-barang itu dan menyimpannya dalam sebuah kotak yang berisi barang-barang kenangannya. Di dalam kotak itu juga ada medali lari, name tag, buku komik doraemon dan fotonya bersama Tharnnam. Termasuk surat yang dulu Chet lemparkan padanya.
“Tharnnam, jika kau masih ada, aku ingin minta maaf.”
Dan Tharnnam menyadarkan kepalanya di bagian belakang tubuh Tee. “Aku tidak tahu antara sebelum dan setelah aku mati yang mana yang lebih buruk.”
Flashback
Saat Tee mengundang Tharnnam untuk masuk pertama kalinya ke dalam kamar. Seorang gadis keluar dari rumah Tee. Gadis itu adalah Jane.
“Ini Tharnnam,” perkenalkan Tee pada Jane.  “Tharnnam, ini P’Jane.”
Tharnnam tampak terkejut melihat P’Jane ada di dalam rumah Tee. Dan P’Jane bahkan sangat akrab dengan Tee dan Hatori. Tee tidak menyadari hal itu, dia mengajak Tharnnam untuk masuk dan makan bersamanya dengan Jane. Tharnnam tidak berani menolak.
Di dalam, Jane mengeluarkan semua makanan yang di belinya dan menuangnya ke dalam piring. Tharnnam membantunya, sementara Tee bermain dengan Hatori.
“Tharnnam. Aku mau minta tolong. Mengenaiku dan Tee, tolong jangan beritahu siapapun.”
“Mengenai apa?”
“Tentang aku yang pacaran dengan Tee. Aku tidak ingin ada orang yang tahu.”
“Sudah berapa lama P’ pacaran dengan Tee?”
“Sejak aku kelas 12.” (P’Jane lebih tua dari Tee).
Dan mereka mulai makan bersama. Tampak jelas kalau Tharnnam merasa sedih karena ternyata Tee telah berpacaran dengan Jane. Dan bahkan mereka sangat mesra. Selesai makan, Tharnnam pamit pulang. Jane menyuruh Tharnnam untuk mampir kapan saja jika ingin bermain dengan Hatori.
Tharnnam keluar dengan berat hati. Dan dari jendela luar, dia melihat Tee yang sedang tidur di pangkuan Jane. Dia merasa patah hati.
Dari rumah Tee, Tharnnam pergi ke rumah Pak Tai. Dia ingin meminjam uang 100 baht karena uangnya sudah habis untuk belanja. Tharnnam tampak malu untuk meminjam uang lagi. Tetapi, pak Tai dengan senang hati meminjamkannya dan bahkan memberikan lebih. Tharnnam berterimakasih dan berjanji akan bekeraj lebih giat besok untuk mengganti uang lebih itu. Pak Tai tersenyum melihatnya dan menyuruh Tharnnam untuk segera pulang sebelum hari gelap.
Tharnnam pergi ke warung dan membeli makanan siap jadi. Setelah itu, dia pergi ke toko bu Padthai yang sudah tutup. Dia ingin membeli setengah kotak rokok. Padthai segera menyuruh Chompu untuk melayani pelanggan. Chompu dengan kesal memberikan setengah kotak rokok pada Tharnnam dan langsung menutup pintu kedai lagi.

Tharnnam melewati sebuah rumah. Dia tampak sedih melihat rumah itu. Dan apa yang di lihat Tharnnam? Dia melihat Chet dan Orn yang sedang hamil besar. Chet dan Orn tampak bahagia.
Tharnnam melanjutkan langkahnya. Dia pergi ke daerah dengan rumah yang lebih sederhana. Sebelum masuk, Tharnnam mencoba tersenyum. Itu adalah rumahnya. Dengan takut, Tharnnam meletakkan makanan yang di belinya di atas meja. Dia mengintip ke dalam kamar ibunya dan membangunkannya. Sepertinya, ibunya sedang tidur bersama orang lain. Begitu bangun, Tharnnam langsung memberikan rokok yang di belinya tadi.
Bersambung
 Nah lho… ternyata Orn bukanlah ibu Tharnnam. Jadi itu artinya, Tonmai dan Tharnnam adalah saudara tiri. Tapi, kenapa ibu Tharnnam tidak pernah di ceritakan? Terus, Tee ternyata pacaran dengan P’Jane. Jadi, Tharnnam itu sebenarnya, cinta pertama yang di maksud Tee atau bukan? Dan Tharnnam ternyata juga bekerja untuk Pak Tai.
Sebenarnya, apa masa lalu dari Tharnnam yang begitu di sembunyikan oleh orang-orang di sekitarnya? Kenapa Tee tampak takut untuk bertemu Tonmai sebelumnya? Dan kenapa Pana meminta pak Tai waktu itu untuk tidak menceritakan mengenai Tharnnam pada Tonmai?


1 comment: