Saturday, November 24, 2018

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 04-2

1 comments


Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 04-2
Images by : GMM Tv
 Look berusaha menelpon Tee tetapi Tee tidak mau mengangkat teleponnya. Sutradara, produser dan penulis masuk dan langsung memarahi Look. Mereka merasa marah pada Tee yang selalu datang terlambat, dan berkelakuan seperti ini. Dan Look sebagai managernya gagal mengatur Tee. Penulis marah karena Tee adalah peran utama, dan jika peran utama tidak hadir, seluruh syuting harus tertunda dan itu membuang waktu mereka apalagi mereka harus segera menyelesaikan syuting. Look sampai menangis dan meminta maaf, tetapi itu percuma. Seluruh scene membutuhkan peran utama dan terpaksa syuting harus di hentikan hari ini.
Mereka membanting pintu saat keluar. Look tidak tahu harus bagaimana lagi.
--
Tee melewati toko alat tulis Chet. Dia awalnya hendak masuk saat melihat Orn, tetapi saat melihat Chet ternyata ada di toko itu juga, Tee berjalan melewatinya.
Tee melewati danau (tempat Tharnnam bunuh diri) dan di danau itu, dia melihat Tonmai yang sedang duduk sambil menatap danau. Tee melewatinya.
Tonmai duduk di tepi danau bersama dengan Tharnnam.
“Malam itu, apakah dingin berada di dalam air?”
“Di dalam air, itu lebih hangat daripada di sini.”
“Darimana kita harus mulai agar tahu apa yang terjadi padamu hari itu?”
“Aku juga tidak tahu. Terkadang, aku berpikir fakta bahwa aku tidak tahu apapun, bisa jadi merupakan hal baik.”
Tonmai terdiam mendengar hal itu. Dan dalam pikiran masing-masing mereka menatap ke arah danau.
--
Tee pergi ke sebelah toko Chompu yang bernomor 49 M.11. Dan toko itu dalam keadaan tergembok. Pas sekali, Chompu melihatnya dan segera menyapa. Dia memperkenalkan diri dengan semangat agar Tee mengenalinya. Dan Tee ternyata masih mengenali Chompu. Dia memberi tanda agar Chompu diam dan tidak terlalu heboh.
Chompu mengundang Tee ke dalam tokonya dan memuji Tee yang sekarang menjadi lebih keren. Dan dia menyesal karena hamil terlalu cepat. Chompu kemudian heboh bercerita ini itu. Tee mencari bu Padthai karena dia rindu mau minum kopi buatannya. Chompu memberitahu kalau ibunya sudah meninggal, dan karena itu dia menutup kedai kopi ibuya dan mengubahnya menjadi toko kelontong. Dia harus menghidupi putrinya.
“Kalau toko sebelah? Apa itu sudah lama di tutup?”
“Oh, sudah hampir 10 tahun. Setelah nenek P’Jane meninggal, dia pindah ke Bangkok bersama suaminya. Tapi dia tidak menjual ataupun menyewakannya, jadi nya ruko itu terbengkalai seperti itu. Omong-omong, apa Pana tahu kau kembali ke sini?”
“Aku sudah memberitahunya.”
Dan saat itu, Noina pulang. Dan dia langsung menjerit keras melihat Tee. Chompu langsung menenangkan Tee kalau gadis itu adalah putrinya. Tee ingat pada Noina karena sudah pernah melihat sebelumnya. Noina sangat senang mendengarnya karena Tee mengingatnya.  
--
Pana sudah menunggu Tee di depan rumah. Dan saat Tee pulang, mereka langsung masuk ke dalam rumah untuk berbincang. Tee menunjukkan surat yang di kirimkan padanya setiap hari kematian Tharnnam, tanggal 13 Maret. Surat pertama sepertinya di kirim saat dia memulai debut. Pana heran, kenapa Tee baru tahu surat itni? Tee menjelaskan kalau surat itu di kirimkan ke alamat Look, tempat tinggalnya dulu. Dan P’Look menyembunyikan surat itu darinya.
“Kau tahu siapa pengirimnya?” tanya Pana.
“Hanya satu orang yang bisa melakukannya.”
“Kau ingin aku bicara mewakilimu pada orang itu?”
“Aku akan pergi menemuinya sendiri.”
“Kau yakin?”
“Ya. Dan kau ada bawakan barang yang ku minta?”
Dan Pana mengeluarkan sebotol alkohol dari dalam tasnya. Tidak lupa, dia menyuruh Tee untuk menjaga kesehatan.
--
Sendirian, dalam rumah yang gelap, Tee menghabiskan waktu dengan minum-minum alkohol. Dia menatap langit kamar tidurnya, bertebaran tempelan bintang yang bercahaya dalam gelap. Dia teringat saat melihat Tonmai di kantornya di Bangkok.

flashback
“Tharnnam, jika aku mendapat beasiswa untuk sekolah di Bangkok, kau akan ikut denganku?” tanya Tee.
Mereka sedang tiduran di dalam kamar sambil menatap tempelan bintang itu.
“Jika aku kesana, dapatkan aku membawa satu set bintang bersinar ini dan mendekorasi kamar baru kita?”
“Tentu saja. Tapi aku rasa kita bisa membelinya baru di Bangkok. Bukankah lebih mudah membeli baru?”
“Aku hanya ingin satu set bintang ini. Bintang-bintang ini sama dengan yang aku tempel di kamarku. Ketika adikku lahir, aku bisa melihat bintang yang sama sepertinya. Omong-omong, aku sudah memutuskan akan memanggil adikku, Tonmai.”
“Kau sudah tahu kalau yang akan lahir adalah bayi laki-laki?”
Tharnnam menggeleng.
“Dan kenapa kau memberinya nama Tonmai.”
“Karena Tonmai dalam bahasa inggris artinya sebuah pohon.”
“Dia adikmu, bukan adikku,” jawab Tee. (Sepertinya arti nama Tee juga adalah pohon).
Tharnnam kemudian bercerita kalau dia ingin adiknya tumbuh menjadi orang baik, berbakat dan tampan seperti Tee. Tee tersenyum dan berterimakasih pada Tharnnam yang selalu ada di sisinya. Mereka saling berpelukan dalam tidur.
End
Tee menatap bintang-bintang itu. Dan dia mencabut salah satu tempelan bintang tersebut. Wajahnya nampak penuh kesedihan.
--
Tharnnam sedang mengajari Tonmai cara bermain gitar. Dan mereka tampak bersenang-senang. Gitar yang di gunakan adalah gitar milik Tharnnam yang ada di dalam kamar itu. Terdengar suara bel rumah.
Orn keluar membukakan pintu. Dan yang datang adalah Tee. Orn tampak terkejut melihat kedatangan Tee, di tambah lagi Tee datang untuk mencari Chet. Chet tidak suka melihat Tee.
Tee masuk ke dalam rumah Chet. Mereka bicara di ruang tamu. Tonmai dan Tharnnam melihat dari atas tangga. Tee menunjukkan surat-surat yang di terimanya, dia tahu kalau Chet lah yang mengirim surat itu padanya. Orn terkejut dan melihat surat itu.
“Untuk apa?” tanya Tee.
“Aku takut kalau kau mungkin lupa. Aku lihat kalau sekarang kau adalah aktor, hidup dengan baik dan bahagia. Dan aku tidak tahan melihatnya. Kau harus ingat yang telah kau lakukan.”
“Aku tidak pernah melupakan Tharnnam. Aku kembali setiap tahun kesini untuk mengingatnya. Aku merindukannya setiap aku kembali.”
“Itu tidak cukup. Kau harus memikirkannya setiap kali kau bernapas. Dan kau harus ingat bahwa setiap menit kau hidup, Tharnnam berhak mendapatkannya juga!”
Tharnnam melihatnya dengan nanar dari atas tangga.
“Jadi apa yang kau inginkan? Aku sendiri merasa sedih sebanyak yang kau rasakan. Apa lagi yang bisa ku lakukan? Apa kau ingin aku mati baru kau bisa puas?”
“Ya, jika kau bisa. Orang sepertimu selayaknya mati! Keluar sekarang juga dari rumahku. Keluar!”
Dan Tee memutuskan keluar. Tharnnam merasa sedih melihatnya. Begitu pula dengan Orn.
“P’Chet, kenapa kau melakukannya? Apa yang kau dapatkan dengan melakukan itu? Kenapa kau harus melakukannya? Dia bisa melaporkanmu ke polisi dan menuntutmu!”
“Jika dia membawa polisi untuk menangkapku, dia yang akan terlibat. Aku tidak takut. Pria sepertinya tidak layak hidup di masyarakat. Dia harus membawa Tharnnam dalam hatinya!”
“Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Bagaimana denganku dan Tonmai? Apa arti kami di hidupmu? Beritahu aku. Beritahu aku. Kau bilang pada kami untuk melupakan Tharnnam. Tapi, kau tidak pernah melupakannya. Aku rasa alasan Tharnnam bunuh diri bukanlah Tee, tapi bisa saja…”
“Berhenti!” marah Chet. Dia tidak mau mendengarkan Orn dan keluar dari rumah.
Orn sangat marah. Tonmai juga tidak tahu harus bagaimana melihat pertengkaran ibu dan ayahnya. Dia hanya bisa menenangkan tangisan ibunya. Tharnnam sendiri hanya bisa menangis melihat semua itu, kematiannya menjadi nestapa bagi orang-orang yang di kasihinya.
Chet keluar rumah. Dia hendak menenangkan diri dengan merokok, tetapi rokoknya malah sudah habis.

Flashback
Chet berlari ke danau. Dia melihat tubuh kaku Tharnnam yang sudah mulai di masukkan ke kantong mayat. Dia berlari dan memeluk tubuh Tharnnam sambil berteriak membangunkan Tharnnam. Tapi semua sia-sia, putrinya telah meninggal. Pak Tai berusaha menenangkannya tapi percuma. Dan di sana juga ada Tee dan Pana.
Tee tampak ketakutan melihat tubuh Tharnnam yang telah kaku.


Di pemakaman Tharnnam, Chet tampak bersedih. Dia menatap seragam seklah Tharnnam dan juga walkman milik Tharnnam. Chet mendengarkan isi walkman Tharnnam, dan dia mendengar pesan yang Tharnnam buat untuk Tee bahkan nyanyian Tharnnam. Dan Chet juga menemukan kotak hadiah jam itu. Serta sebuah surat di dalam kotak itu : Aku tidak bisa menunggumu lagi.
Mata Chet terbelalak membaca surat tersebut. Dia tampak sangat marah.
Pana dan Tee datang ke pemakaman Tharnnam. Mereka melihat dari jauh, dan Pana merasa kalau sebaiknya mereka datang besok saja. Tee setuju dan berbalik. Sayangnya, Chet melihat mereka.
Dia melempar surat di dalam kotak itu ke arah Tee dengan penuh kemarahan. “Kenapa kau membuatnya menunggumu?”
“Dia…”
“Aku tidak bertanya padamu, Pana. Aku bertanya padanya! Tidak ada satupun yang menunggumu sekarang. Silahkan pergi ke neraka atau kemanapun. Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di depanku!”
Dan Tee terhenyak mendengarnya. Dia memungut kertas yang di lemparkan Chet, dan membacanya.
End
Tee dalam gelap mendengarkan rekaman di dalam walkman itu. Dia menangis mendengar suara Tharnnam. Dan dalam tangis, Tee tertidur. Dalam tidurnya, dia kembali berjumpa dengan Tharnnam.
Mereka seperti berdiri di air (sebenarnya, saat adegan Tee bersama Tharnnam, selalu terdengar suara gemericik air). Tharnnam membelai rambut Tee dan menggenggam jemari Tee. Dia bertanya kenapa Tee menangis?
“Aku layak untuk mati kan?” tanya Tee.
Tharnnam bertanya alasan Tee berpikir demikian? Dan Tee menggenggam tangan Tharnnam, bertanya apa kematian itu menyeramkan?
“Mulai dari sekarang, kita tidak bertemu saling bertemu hanya ketika kau mabuk. Kita bisa bersama selamanya. Kau tidak akan terluka dan merasa sakit lagi,” ujar Tharnnam dan memeluk Tee. “Aku sudah menunggu sangat lama. Datang lah padaku, Tee.”
Dan Tee terbangun dari tidurnya. Dia menyeret kursi. Dia juga membuat simpul lingkaran dengan seprainya. Dia menatap ke langit kamarnya. Tee naik ke atas kursi, meletakkan simpul itu dan bersiap… gantung diri.
Kursi di jatuhkan. Dan dia tergantung.
Bersambung


1 comment: