Sunday, November 25, 2018

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 06-2

3 comments

 Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 06-2
Images by : GMM Tv

Tonmai bertanya untuk apa Tee datang menemuinya? Tee menjawab kalau dia sekarang sedang berusaha hidup bahagia seperti yang Thrannam inginkan. Dan dia ingin tahu Tharnnam ingin dia hidup seperti apa lagi. Tapi, Tonmai juga tidak tahu karena Tharnnam tidak bersamnya sekarang.
“Jadi, dimana Tharnnanm sekarang?”
“Di rumahmu,” jawab Tonmai.
Tee lanjut bertanya, apa saja yang Tonmai tahu mengenai kakaknya? Dan Tonmai menjawab hanya beberapa hal. Dia bertanya makanan favorit Tharnnam, tetapi Tonmai juga tidak tahu. Jadi, Tee menawarkan untuk memberitahu Tonmai makanan kesukaan Tharnnam. Dia langsung pergi padahal Tonmai belum ya. Tonmai terpaksa mengikutinya.
Top membawa Noina ke café, dia membahas mengenai Noina yang tadi ngobrol dengan Tonmai. Noina berbohong kalau Tonmai tadi hanya bertanya PR padanya. Tee mencobo percaya dengan menyindir kalau dia mengira kalau Tonmai mengajak Noina jalan lagi. Noina membantah hal itu. Dan Top seperti mengejek Tonmai yang tidak punya teman lain selain Noina, dan jika Noina terus menghindarinya, Tonmai akan menghilang perlahan dari hidup Noina.
“Kenapa kau sangat tidak menyukainya?”
“Sebenarnya, aku tidak punya masalah apapunn padanya, tapi banyak orang yang membencinya. Jadi, aku tidak ingin kau berteman dengannya.”
“Tapi, dia tidak melakukan sesuatu yang salah.”
“Kau yakin? Kalau begitu kenapa banyak yang tidak menyukainya? Dan juga dia tidak dapat berteman dengan yang lain. Pikirkan hal ini, kau selalu menjaganya. Pria apa yang tidak bisa menjaga diriya sendiri.”
Noina tidak suka mendengar hal itu dari Top. Tetapi, dia juga tidak membantah ucapan Top.
--
Tee membawa Tonmai ke rumah pak Tai. Dan Tonmai jelas tidak tahu kalau itu rumah pak Tai. Karna tidak ada yang membuka pintu, Tee meminta Tonmai untuk menunggu sebentar diluar bersamanya. Tee melihat jam yang Tonmai kenakan dan memuji jam itu yang tampak keren. Dia bisa menebak kalau Tharnnam yang memberikan jam itu padanya. Tonmai mengangguk membenarkan.
Tidak lama, pak Tai pulang. Dia mengundang mereka masuk untuk makan. Tonmai sedikit terkejut karena ternyata Tee membawanya ke rumah pak Tai. Saat sudah masuk, Pak Tai meminta waktu sebentar untuk menyiapkan makanan.
Jadi, Tonmai melihat sekeliling ruang tamu pak Tai. Dia menemukan beberapa foto pak Tai bersama Tharnnam yang tampak bahagia. Dan, dia melihat sebuah piagam juga. Dan di meja ada 2 buah buku, satu buku milik Pak Tai. Dan satu lagi buku milik Tharnnam. Di buku itu tertulis :       
        
            Nama : Tharnnam Kwanyu
            Grade : 10-12
            Student No : 16
            Subject : Thai language
            Instructor : Pisut Channuan
Dan di sebelahnya, buku Pak Tai bertuliskan informasi yang sama. Dan piagam yang ada di meja bertuliskan : Transkirp Nilai dari Pendidikan Non Formal tahun 2001 atas nama Satit Sangkaew dan terpajang foto Pak Tai.

Tee menghampiri Tonmai dan bertanya seperti apa tampak Tharnnam? Dan Tonmai menjawab sama seperti kita. Tee bertanya, apa saja yang Tharnnam ceritakan mengenainya? Tonmai memberitahu mengenai anjing Tee, Hatori, yang suka sate babi panggang. Dan juga mengenai dirinya yang adalah cinta pertama Tee.
“Itu saja?”
“Emang apa lagi yang P’ ingin dia katakan? Ekspresi P’ seolah tidak percaya yang ku katakan. Jadi, apa gunanya bertanya?”
“Aku hanya ingin membuktikan perkataanmu.”
Tonmai kecewa karena P’ membawanya hanya untuk membuktikan perkataannya. Tee membenarkan tapi hanya setengah. Karena dia punya tujuan lain, dia ingin menunjukkan pada Tonmai kalau kebahagiaan Tharnnam bukan hanya dirinya, tetapi ada yang lain, yaitu Pak Tai.

Saat itu, Pak Tai memanggil mereka untuk makan karena makanannya sudah jadi. Mereka duduk bersama untuk makan, dan mereka berterimakasih atas makanan itu. Dan pak Tai menyuruh mereka makan hingga habis. Pak Tai juga memberitahu kalau telur kukus adalah makanan yang paling di sukai Tharnnam. Tharnnam sering memintanya untuk memaksa itu dan bahkan membungkusnya pulang untuk di berikan pada ibunya.
Saat sudah selesai makan, mereka tidak langsung pulang tetapi masih duduk bersama. Tonmai memberitahu Tee kalau dia tidak menyangka kalau Tharnnam sangat dekat dengan pak Tai, dia kita mereka hanya akrab di sekolah saja.
“Itu karena mereka sama-sama NFE.”
“NFE? Apa itu?”
“NFE singkatan dari Non-Formal Education. Kau tidak pernah mendengarnya? NFE adalah untuk mereka yang ingin sekolah tetapi tidak ada batasan usia dan biayanya tidak mahal. Dan hanya ada satu kelas dalam seminggu.”
“Jadi, P’Tharnnam sekolah di NFE?”
Tee heran karena Tonmai tidak tahu hal itu. “Kau tidak tahu?”
“P’Tharnnam bilang kalau dia sekolah di tempat yang sama denganku.”
“Tidak, Tharnnam tidak sekolah di sekolahhmu. Pak Tai punya usaha fotocopy di sekolah, jadi dia meminta Tharnnam bekerja untuknya.”
“Tapi, aku melihat seragam sekolah P’Tharnnam,” kaget Tonmai.
Dan pembicaraan mereka harus terhenti karena pak Tai datang untuk memberikan mereka buah sebagai pencuci mulut. Tonmai masih bingung dengan kenyataan itu, jadi dia bertanya kepada Pak Tai, kenapa P’Tharnnam tidak sekolah di sekolah yang sama sepertinya? Pak Tai terkejut mendapat pertanyaan itu. Dan dia melirik ke arah Tee.
--
Tonmai sudah pulang dari rumah Pak Tai seorang diri. Dia duduk di tepi danau dan mengingat pertanyaanya pada Pak Tai. Dia teringat saat pertama bertemu dengan Tharnnam, Tharnnam jelas-jelas bilang kalau Tonmai sekolah di tempatnya dulu sekolah. Bahkan ada seragam Tharnnam dan Tharnnam juga bilang teman dari Chompu, ibu Noina.
“Kenapa dia harus berbohong?”
--
Tee masih di tempat Pak Tai. Dia teringat suatu hal.

Flashback
Tharnnam sedang membaca komik di pinggir danau. Tee yang baru selesai latihan menghampirinya dan memberitahu kalau dia tadi latihan. Tharnnam tidak mempermasalahkan hal itu, sebaliknya dia memberikan buku komik yang sedang di bacanya. Tee sangat senang karena itu adalah komiknya yang di sita guru. Tharnnam menyuruh Tee untuk berhati-hati lagi, karena jika dia ketahuan membantu Tee mengambil buku itu, pak Tai pasti tidak akan menyuruhnya mengantar dokumen fotocopy ke ruang guru lagi. Tee mengangguk.
Dan Tharnnam memberikan buku PR fisika Tee yang telah di kerjakannya. Tee sangat senang dan memuji Tharnnma yang sangat pintar walau tidak sekolah. Tharnnam tersenyum dan menjawab kalau dia belajar lebih banyak daripada yang lain, tapi dia juga tidak yakin apa jawabannya benar atau tidak. Jadi, Tee harus memeriksanya lagi.
Tee berbaring di rumput. Dia berujar kalau lebih baik jika Tharnnam sekolah bersamanya. Jadi mereka bisa lebih sering bersama, duduk sebangku dan dia bisa mencontek PR Tharnnam. Tharnnam tersenyum mendengarnya.
“Apa kau ingin sekolah sama sepertiku? Jika kau berada di kelasku, aku berani taruhan kalau kau akan menjadi siswa top!”
“Aku ingin. Aku mencoba lulus test penempatan.”

“Apa kau menggunakan sertifikat NFE mu untuk masuk universitas?” tanya Tee. Tharnnam menggangguk. “Kalau gitu, ayo kuliah di tempat yang sama.”
Tharnnam menggangguk senang mendengarnya.
Saat itu, Pana dan temannya lewat di danau itu dan melihat mereka. Teman Pana menghampiri Tee dan menggodanya yang sedang pacaran. Tharnnam tersenyum senang mendengarnya.
“Tidak. Dia hanya ingin meminjam buku komikku,” bohong Tee.
Wajah Tharnnam tampak kecewa.
“Hey, kau gadis Xerox kan? Apa kau sedang merayu Tee? Kau tidak sekolah di sekolah kami, kan? Kau punya teman yang manis yang bisa di perkenalkan padaku.”
Tetapi, Tee hanya diam saja, tidak membela Tharnnam. Pana memarahi temannya itu dan menyeretnya pergi.
“Tharnnam, ayo pulang,” ajak Tee.
“Kau malu padaku, kan?”
Tee tidak bisa menjawab. Dan Tharnnam tampak sangat kecewa.
End
Pak Tai bertanya apa yang sedang Tee pikirkan? Tee menghela nafas dan mengatakan khawatir dengan Tonmai. Dia tidak menyangka kalau Tonmai tidak tahu mengenai hal itu. Pak Tai menyakinkan kalau Tonmai pasti baik-baik saja, karena Tonmai adalah anak yang kuat. Dan Tonmai mungkin bisa menghadapi masalah lebih baik daripada Tharnnam.

Flashback
Tharnnam membantu pak Tai hingga malam. Dia tampak muram. Pak Tai menyarankan Tharnnam untuk bilang saja pada ibunya kalau dia mau sekolah. Tetapi, Tharnnam tidak berani. Pak Tai berusaha menyemangati Tharnnam. Tharnnam akhirnya mau coba bilang, tapi pak Tai harus membantunya.
Esok hari,
Pak Tai menemani Tharnnam bicara dengan ibu. Tharnnam menjelaskan kalau dia bisa lulus tes penempatan, dia bisa mulai masuk kelas 11 di semester selanjutnya. Dan mengenai biaya sekolah, pak Tai akan membantunya mencari beasiswa, jadi ibu tidak perlu khawatir mengenai uang.
“Pak Tai, biar langsung ku katakan saja. Ini saran dari Chet, kan? Jawab aku. Kau bukan saudara, kenapa kau harus mencampuri hidup putriku? Aku tidak mau.”
Pak Tai terkejut karena ibu Tharnnam malah berpikir seperti itu.
“Jika kau tidak bahagia karena hanya ini batas kemampuanku dalam membesarkanmu, kau bisa merapikan barangmu dan tinggal dengannya.”
“Bu, ayah bilang aku bisa tinggal dengan ibu. Dia hanya ingin membantu biaya sekolahku,” tangis Tharnnam.
“Kenapa kau panggil dia ‘ayah’? orang itu tidak pernah peduli untuk membesarkanmu dan orang itu juga yang menyuruhku untuk meng-aborsi mu. Tharnnam, berapa kali aku harus mengingatkan hal itu?! Aku tidak pernah melarangmu jika kau ingin melakukan sesuatu, tapi ini menyakitiku tahu kalau kau mencoba menipuku untuk melindunginya. Jika kau sangat ingin sekolah, tinggal saja dengannya.”
“Ibu, tidak. aku minta maaf. Tidak apa-apa jika aku tidak sekolah. Aku salah. Aku tidak ingin sekolah lagi,” tangis Tharnnam dan memohon agar ibunya tidak meninggalkannya.
Pak Tai merasa sangat kasihan pada Tharnnam. Dan ibu juga bilang tidak bisa menyetujui hal itu pada pak Tai.
End
Pak Tai merasa sedih mengingat kenangan itu.
--
Tharnnam menunggu hingga malam, tetapi Tee belum pulang juga. Padahal sudah jam 9.

Tonmai pergi ke rumah Noina. Dia mengetuk pintu dan membawa makanan juga, tetapi Chompu memberitahu kalau Noina belum pulang dan sedang nonton dengan Top. Chompu menyuruh Tonmai menelpon Noina saja. Tonmai menelpon, tetapi Noina tidak mengangkat. Noina malah mengirim pesan kalau dia sedang makan dengan ibunya dan akan menelpon kembali nanti.
Tonmai merasa kecewa karena Noina berbohong padanya.
“Apa yang dia bilang?”
“Film nya sudah hampir habis. Dan dia akan pulang sebentar lagi,” bohong Tonmai pada Chompu.
Chompu mengajak Tonmai untuk masuk, tetapi Tonmai menolak karena hari sudah terlalu malam.
--

Orn pergi membuang sampah keluar. Dan dia melihat Tee yang baru pulang. Mereka saling memberi salah setelah itu Orn kembali ke rumah.
Sudah jam 10 lewat, dan Tee baru pulang. Saat Tee membuka pintu, Tharnnam langsung keluar dari pintu rumah Tee. Dia hendak pulang seperti janjinya pada Tonmai. 
Tonmai pulang dengan pikiran kacau. Dia merasa kecewa karena Noina berbohong padanya, dan dia membuang makanan yang di belinya untuk Noina.
“Kau darimana, Tonmai? Kenapa kau pulang telat?”
“Gimana kau bisa di sini? Aku belum memanggilmu.”
“Jangan bicarakan itu dulu. Kenapa kau pulang telat? Kau tidak tahu kalau ayah dan ibu merasa khawatir padamu?”
“Aku baru selesai mengerjakan PR di sekolah.”
“Jangan berbohong! Darimana kau?”
“Jangan menyalahkanku jika aku berbohong!” marah Tonmai. “P’ juga berbohong! Kau kira aku tidak tahu mengenaimu?! Semua orang tidak ada yang jujur. Kau juga! Pergi saja ke neraka sana! Aku ingin sendiri,” ujar Tonmai dan meninggalkan Tharnnam.
Perkataan Tonmai yang menyuruhnya pergi, seperti membuka sebuah ingatan dan luka Tharnnam dulu. Ucapan orang-orang yang menyuruhnya pergi, tergiang di kepalanya.
Tee : Aku rasa kau harus pulang sekarang!
Ibu : Kau harus tidur!
Chet : Tunggu diluar sana!
Pak Tai : Pulanglah, Tharnnam!
Ucapan itu terngiang berulang kali di telinganya. Tangannya mengepal seolah menahan amarahnya. Terlalu menyakitkan baginya. Dan byur!!!
Tubuh Tharnnam terlempar masuk ke dalam air yang dalam!!!
Tonmai merasa bersalah, dia berbalik, tetapi Tharnnam sudah tidak ada.
Bersambung

3 comments:

  1. Lnjut truz mb...pnasaran ma episode2 slnjutnya

    ReplyDelete
  2. Sedihnya kasian Tharnnam 😢 lanjut trus y min penasaran episode selanjutnya n semangat trus

    ReplyDelete
  3. Sedih...tharnnam sbnerny bunuh diri krn orng2 yg dy sayangi mlh mngabaikan dy.ibu n ayah ny egois lbh mntingin kbhagian mreka.sedihhh

    ReplyDelete