Monday, December 24, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 10 - part 1

2 comments


Network : GMM One
Didalam kamarnya. Pang melakukan rekaman untuk dirinya sendiri. Seperti rekaman yang sama dengan apa yang kita lihat di Episode pertama.

“Tanggal 13 Juli. Itu saat pertama kali kami tahu potensi anak terakhir, Korn. Saat itu, aku memutuskan untuk merahasiakan potensi ku dari sekolah. Dan aku benar. Setelah itu, terjadi peristiwa kritis. Penutupan sekolah.”

Pang mencoba menghubungin nomor Namtaan, tapi tidak nomor Namtaan tidak bisa dihubungin sama sekali. Kemudian terdengar berita dari speaker sekolah. berita itu tersiar di seluruh sekolah sampai ke dalam kelas, juga kantin.

Ini sistem siaran darurat. Menyapaikan pesan dari Tuhan. Para guru dan murid sekalian, hari penghapusan telah tiba. Hari penghapusan telah tiba.

Di Grup LINE tanpa Wave. Punn mengirim kan pesan agar mereka semua segera berkumpul di Auditorium sekarang. Jadi dengan segera Pang pun berlari ke sana.


T H E      G I F T E D


Sebuah aplikasi terinstal di hape setiap murid. Disana ada menu Start mission, Check Reward, serta Live Countdown. Misi Baru yang diberikan oleh aplikasi itu adalah ‘Pergi ke kelas 4/1 dan hentikan pelajaran’. Hadiah nya adalah ‘Naik ke kelas 1 di semester selanjutnya’.

Di kelas 4/1 terjadi sebuah kekacauan yang luar biasa, para murid dari kelas lain datang dan memberantakan isi kelas. Beberapa murid wanita yang berada di dalam kelas memekik dengan keras karena ketakutan. Dan Guru yang ingin menghentikan para murid yang membuat kekacauan itu, dia malah diserang juga.

Dikantin juga tidak kelas kacau. Seorang murid wanita dari 4/1. Disiram pakai mie. Dan beberapa murid yang lain berlari melarikan diri sambil berteriak.


Diperpustakaan juga sama. Mereka memberantakan isi perpustakaan, menyiramkan bensin, dan menyalakan api untuk membakar buku yang ada. Lalu alarm kebakaran pun berbunyi.


Diauditorium. Semua murid berbakat berkumpul. Pang menjelaskan bahwa kecurigaan mereka mengenai Wave adalah benar, dan kini Namtaan tidak bisa dihubungin. Lalu Punn membalas bahwa itu tidak mungkin, karena Namtaan ada mengirimkan pesan padanya agar mereka semua berkumpul disini.

Tiba- tiba saja, sebuah pesan masuk di LINE Grup tanpa Wave ke hape mereka semua masing- masing. Dan yang mengirimkan pesan itu adalah Wave. Dasar Tolol, tulisnya. Dan kemudian pintu auditorium tertutup, sehingga mereka semua tidak bisa keluar.


Diluar auditorium. Seorang murid yang mengunci itu, dia menekan tombol complete untuk misinya, yaitu kunci siswa berbakat di auditorium dan hadiahnya adalah nilai 4 disemua kelas wajib.


Dispeaker yang berada diauditorium, Wave berbicara kepada mereka semua. “Selamat datang, teman- teman berbakat, yang saking bodohnya sampai masuk jebakan. Kalian membuktikan bahwa kalian memang payah.”

“Keluarlah, brengsek!” maki Claire.

“Daripada mengata- ngataiku, sebaiknya kalian cari cara untuk keluar. Aku menyiapkan game menarik untuk kalian mainkan. Butuh waktu sampai kalian bisa keluar…”



Dengan emosi Mon menendang speaker itu, sehingga hancur. Lalu dia berjalan menjauh, dan berlari dengan cepat menendang pintu auditorium. Dan dia berhasil keluar dari auditorium. Lalu setelah itu, Mon segera menahan murid yang mengunci mereka itu.



Claire mengambil hape si murid, dan melihat aplikasi yang Wave gunakan untuk memberikan perintah kepada semua murid. Dan lalu Pang ikut melihat, kemudian dia menjadi sangat terkejut sekali.

“Wave mau membocorkan soal Kelas Berbakat,” kata Wat sambil menunjukan angka hitungan mundur yang ada pada aplikasi.

“Wave pasti sudah gila. Dia mengacau cuma gara- gara kalah saat UTS?” komentar Ohm.



Punn menanyakan apa yang harus mereka lakukan kepada Pang. Tapi Mon menyela, dan mengatakan bahwa sebaiknya mereka segera mencari Wave. Mendengar itu, Pang tidak setuju, menurutnya mungkin saja saat ini Wave sedang mempermainkan mereka, sehingga mereka harus hati- hati dalam mengambil langkah.




“Aku setuju, tapi menemukannya adalah yang terpenting,” kata Punn, mengatakan pendapatnya.

“Punn, bisakah kamu menyalin potensi Wave dan retas komputer sekolah? Tolong lacak asal perintah aplikasi ini. Kalau berhasil, segera beri tahu kami,” jelas Pang sambil memberikan hape si Murid kepada Punn.

“Bagaimana kalau sisanya mencarinya?” tanya Punn.

“Ide bagus. Tapi untuk jaga- jaga, pergilah berpasangan. Kita butuh bantuan kalau ada apa- apa,” jelas Pang.

Tim pun dibagi. Korn dan Claire pergi ke kamar Wave. Jack dan Joe ke ruang siaran dan sasana. Mon berinisiatif pergi sendiri, karena dia kuat, jadi dia bisa mengurus para berandal, dan dia bakal ke kafetaria. Pang sendiri, dia bakal pergi ke ruang komputer. Lalu semuanya pun bubar dan mulai berpencar ke tujuan masing- masing.


“Bagaimana denganku?” tanya Ohm dengan bingung.

“Aku punya tugas penting buatmu,” kata Pang sambil memegang bahu Ohm.



Melalui CCTV. Wave memperhatikan Pang dan Ohm, tapi dia tidak bisa mendengarkan perkataan mereka berdua sama sekali.


Diatas atap. Namtaan masih terus berteriak, meminta bantuan. Tapi sayangnya, tidak satupun orang berada disana dan mendengar teriakannya. Lalu saat aplikasi milik Wave muncul di hapenya, Namtaan menjadi frustasi. Dia menatap ke bawah. Dan saat dia melihat sebuah tali tua, dia memikirkan sesuatu.



Sambil berlari Pang memberikan perintah kepada setiap orang. Dan menannyakan situasi masing masing- masing. Didalam kelas, Punn masih sibuk meretas, dan dia menjelaskan bahwa ini mungkin akan memakan waktu sekitar sejam.


Mon sedang menuju ke kantin, saat dia melihat seorang guru di serang oleh dua orang murid perusak mading. Dia langsung membantu guru tersebut. Dan mendengar itu, Pang mengingatkan Mon agar jangan memakai kekerasan.



Setelah Mon berlari pergi, Bu Ladda yang sampai disana dan melihat semua kekacauan itu langsung bertanya kepada si Guru. Dan si Guru menjelaskan apa yang terjadi, menurutnya mereka harus segera memberitahu Direktur.

“Tidak perlu. Biar saya yang urus,” tegas Bu Ladda.




Hitungan mundur masih berjalan. Pang. Claire dan Korn. Jack dan Joe. Mereka semua sama sekali tidak bisa menemukan dimana Wave berada. Dan mengetahui itu, Punn jadi bertanya- tanya sendiri.


Saat Pang melihat sebuah CCTV di sudut ruangan komputer, dia jadi menyadari sesuatu. Dengan ngeri, dia memandang ke arah pintu keluar. “Jebakan!” teriak Pang sambil berlari untuk keluar. Dan pintu tertutup.



Claire terkunci di dalam kamar Wave. Sementara Korn terkunci diruang tamu di kamar Wave. Jack dan Joe juga sama. Tidak peduli bagaimanapun mereka berteriak serta berusaha, mereka tidak bisa membuka pintu itu, karena Wave memasang alat pengunci otomatis diatasnya.


Pang berhasil keluar dari ruangan komputer tepat waktu. Lalu disaat itu, dia melihat sebuah drone terbang melewatinya yang sedang dalam posisi telungkup.



“Aku akan membiarkanmu duduk manis di ruangan terkunci. Akan kutunjukan, meski bersatu, kalian tidak bisa menghentikan ku,” kata Wave kepada Punn melalui hape.

2 comments: