Sunday, December 16, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 9 - part 2

0 comments


Network : GMM One

Dikantor. Guru Pom meminta Pang untuk tolong mengawasi kelakuan murid- murid sebagai Ketua Siswa. Dikarenakan kemarin malam, semua data akademi diretas dan dicuri, serta gudang dirusak dan alat tukang menghilang, tapi sayangnya wajah pelaku tidak tampak jelas di CCTV.

“Pak, tentang menjadi Ketua Siswa, apa saya harus melakukannya?” tanya Pang yang masih merasa ragu.

“Aku tahu kamu tidak menginginkannya. Tapi ini perintah langsung dari Direktur. Tidak ada yang bisa dilakukan,” balas Guru Pom.

“Baiklah, saya akan melakukannya. Tapi Anda berkata anda ingin saya mengawasi tingkah laku teman saya. Apa maksudny?” tanya Pang.


Tepat disaat itu, Wave datang. Dia mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan. Melihat itu dengan segera Guru Pom menyembunyikan gambar blur si pelaku. Dan Pang pun menjadi mengerti.

Wave datang untuk menanyakan alasan Guru Pom memanggilnya. Dan Guru Pom menjelaskan untuk semua barang yang pernah Wave minta, mereka sudah mendapatkannya, dan akan ada orang yang datang untuk menaruhnya nanti malam di kamar Wave. Dan Wave mengiyakan, lalu sebelum Guru Pom mengatakan apapun lagi, Wave permisi dan pergi.

“Apa maksud Anda…?” tanya Pang dengan curiga. Dan Guru Pom mengangguk.

Dikamar. Wave membuka sebuah kotak, yang disana tertempel sebuah kertas memo bertuliskan Jika ada sesuatu yang bisa dibantu, beritahu aku. Kemudian saat melihat isinya, Wave teringat kejadian di masa lalu.


Flash back

Wave mendapatkan sebuah laptop baru dari Bu Nara. Dan melihat itu, Wave mengatakan kalau dia pernah meminta kepada kakek dan neneknya, tapi kata mereka laptopnya lamanya masih bisa bekerja. Sehingga dia tidak dibelikan.

Dan Bu Nara membalas bahwa orang tua memang begitu, tapi hal ini diperlukan agar Wave bisa lebih mengembangkan kemampuan. Tapi Wave pun merasa tidak enak, karena harus menerima barang semahal ini.


“Jangan khawatir. Aku akan memberitahu mereka bagaimana pentingnya ini untuk pendidikan mu, okay?” kata Bu Nara sambil tersenyum. Dan dengan senang Wave mengiyakan.

Bu Nara lalu menyerahkan selembar kertas kepada Wave, dan menjelaskan bahwa ini adalah proyek yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan. Lomba penelitian. Dan pemenang nya bisa mendapatkan beasiswa di semua Universitas.

“Apa kamu tertarik?”


“Oh… mm… tapi saya dapat 0 untuk matematika. Dan ini kompetinsi nasional, saya pikir saya tidak bisa melakukannya,” tolak Wave yang walaupun di dalam hatinya dia mau.

Bu Nara memberikan semangat bahwa Wave pasti bisa, yang perlu Wave lakukan hanyalah percaya pada diri sendiri. Dan Wave pun tersenyum malu- malu, lalu dia mengiyakan, tapi dia masih tidak tahu proyek seperti apa yang harus di lakukan.

“Jangan khawatir. Aku akan membantu mu untuk mencari tahunya,” kata Bu Nara.

Flash back end

Wave tersenyum mengingat kejadian dulu itu. Wave memandangin komputernya. Lalu saat dia melihat dua makalah laporan Matematika Dasar 2, konsep logika dasar, miliknya. Wave kembali merenung.


Keesokan harinya. Diperpustakaan. Pang menceritakan kepada Namtaan serta Ohm apa yang terjadi, dan apa yang Guru Pom beritahukan padanya. Dan Ohm pun berkomentar bahwa Wave memang bisa melakukan itu. Tapi Namtaan tidak setuju, karena mereka masih belum mempunyai bukti, dan Wave adalah teman ‘Gifted’ mereka juga.

“Benar. Dia teman ‘Gifted’ menyebalkan kita. Aku tidak tahu. Dia mungkin punya rencana buat hancurin sekolah,” kata Ohm dengan nada pelan. Dan Pang langsung memukulnya.

“Kamu terlalu banyak baca komik,” balas Pang kepada Ohm.



“Kalau tidak ada yang lain. Aku bailk kerjain laporan matematika dulu. Aku orang terakhir yang menyelesaikan itu,” kata Namtaan.

“Kamu bukan orang terakhir. Pang juga belum,” balas Ohm. Dan Pang juga ‘mmh.. oh?’

“Pang tidak masuk hitungan,” balas Namtaan. Dan Pang tersenyum, karena Namtaan mengerti. Lalu Namtaan pun berjalaan pergi.

Sebelum akan meninggalkan perpustakaan. Namtaan mendapatkan pesan Line dari Wave yang mengatakan bahwa dia telah membuat laporan matematika untuknya, sebagai ungkapan terima kasih karena Namtaan telah merawat luka nya. Lalu Namtaan pun menanyakan dimana Wave.


Diatap. Namtaan menanyakan kenapa Wave berada disini, dan Wave membalas bahwa dia suka disini. Lalu Namtaan bertanya lagi, apa Wave penyendiri dan suka disini. Dan wave membalas kenapa Namtaan terus bertanya- tanya, apa Namtaan sedang menyelidikinya.

“Aku tidak menyelidik. Ketika kamu berteman dengan seseorang, kamu kasih tahu mereka satu atau dua hal tentang dirimu kan,” kata Namtaan.

“Kamu mau jadi temanku?”

“Ya iyalah. Apa kamu ga mau berteman sama siapa saja?”

“Ga. Kalau berteman bisa merubah kepribadianmu, aku lebih suka sendiri,” jawab Wave.

Namtaan berkomentar bahwa walaupun kepribadian Wave tidak baik, tapi Wave seharusnya mempunyai teman juga. Dan Wave pun tersenyum, lalu dia menceritakan tentang kejadian masa lalunya, saat dia mengerjakan sebuah proyek untuk mendapatkan beasiswa. Dengan bersemangat dan tertarik, Namtaan mendengarkan serta terus bertanya.

“Kamu mau tahu? Itu cerita yang panjang,” kata Wave, karena Namtaan terus bertanya.

“Tentu saja,” balas Namtaan langsung.
 Flash back

Diatas atap. Bersama dengan Bu Nara, Wave mengerjakan proyek penelitian tersebut.

“Itu waktu aku masih disekolah lamaku, ada satu gutu yang tidak melihatku sebagai orang bodoh. Dia orang yang menyuruhku untuk melakukan penelitian untuk mendaftar beasiswa. Walaupun itu bukan sesuatu yang besar. Aku memberikan hati dan jiwaku sampai….”

Saat semua sudah selesai. Bu Nara memberikan selamat kepada Wave yang telah mengerjakan dengan baik. Tapi Wave masih mengerjakan, karena dia ingin merapikan beberapa bagian supaya sinkron.

“Tapi ini sudah sempurna,” kata Bu Nara dengan kagum.

“Hanya sedikit lagi untuk selesai,” balas Wave.

Setelah Wave selesai mengerjakan. Dia mengobrol dan bermain bersama- sama dengan Bu Narra. Dan saat melihat wajah Bu Nara yang tersenyum kepadanya. Wave ikut tersenyum.

Flash back end saat Namtaan tiba- tiba bersuara. “Kamu punya perasaan ke Bu Nara?”


Wave menanyakan kenapa Namtaan berpikir itu, dan Namtaan menjelaskan bahwa wajah Wave menunjukan segalanya sewaktu membicarakan tentang Bu Nara, dan Namtaan merasa lega karena ternyata Wave masih bisa menyukai seseorang. Lalu Namtaan menanyakan apa yang terjadi kepada Bu Nara selanjutnya.

“Sudah gelap. Kita harus kembali,” elak Wave.

Sewaktu turun dari atap. Di dekat tangga. Ternyata disana Pang, Ohn, Punn, serta Claire sedang berkumpul. Dan mereka menanyakan kenapa Wave tidak ikut. Lalu dengan bingung, Wave menanyakan kenapa Namtaan tidak ditanya. Dan Pang membalas kalau Namtaan sedang mengerjakan laporan, jadi tidak masalah.

“Kalau mau ngomong, ngomong saja,” kata Wave dengan tenang.


“Sesuatu yang gila terjadi di sekolah. Data akademis sekolah diretas. Seseorang menggeledah kantor admin. Terakhir, seseorang mencuri benda dari koperasi sore ini,” jelas Punn.

“Terus?” tanya Wave, tidak mengerti.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ohm dengan nada menuduh.

“Dia sama aku sore ini. Gimana cara dia ngelakuinnya?” bela Namtaan.


Wave yang mengerti langsung menjadi emosi, karena mereka telah menuduhnya. Dan Pang menunjukan gambar blur si pelaku yang tampak dari CCTV, mirip seperti Wave. Lalu Pang menanyakan apa ini adalah Wave.

“Gimana pun aku ngomong, kalian tidak akan percaya,” kata Wave.

“Coba buktikan,” balas Punn.

“Itu bukan aku,” tegas Wave.

“Aku tidak percaya,” balas Ohm.

Wave langsung menyuruh Claire untuk melihat, apa dia berbohong. Dan hasilnya, Wave tidak berbohong. Namun Ohm dengan keras protes, karena menurutnya hanya Wave yang bisa melakukan semua ini.


“Lihat? Kamu cuma percaya apa yang ingin kamu percaya,” balas Wave dengan keras, lalu pergi. Dan Namtaan pun memanggilnya, tapi Wave tetap pergi.

“Kenapa kalian melakukan ini? Aku tidak setuju dengan ini,” kata Namtaan kepada mereka semua yang telah main nuduh.

Ohm tetap bersikeras bahwa pelaku nya adalah Wave. Sementara Punn, dia mengatakan bahwa mungkin saja memang bukan Wave pelaku nya. Dan Namtaan menjelaskan bahwa Wave ada bersamanya dari tadi, jadi itu tidak mungkin.

“Aku tidak tahu. Bagaimana pun, dia tidak bisa di percaya,” kata Pang.

Didalam kamarnya. Wave tampak sedih.

No comments:

Post a Comment