Saturday, December 15, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 20 – 1

3 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 20 – 1
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com
Khun Wiset sedang berselingkuh dengan Praw, dan dia mendapat telepon dari anak buahnya yang melapor kegagalannya membunuh Siriya. Khun Wiset jelas marah, tetapi Praw yang tidak tahu apa yang terjadi, menghibur Khun Wiset.
--
Da dan Na menunggu di depan ruang UGD dengan cemas. Khun Pawinee, Khun Nat dan Khun Pa tiba tidak lama kemudian dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Thi bisa tertembak?
“Hal ini… kalian harus bertanya kepada Siriya,” ujar Da dan menatap Siriya dengan tajam.
“Seseorang mencoba membunuhku. Tetapi, Khun Thi datang dan menyelamatkanku. Itulah kenapa dia tertembak.”
“Seseorang mencoba menembakmu di dalam perusahaan?” kaget Khun Pawine.
Dan Da mulai marah – marah menyalahkan Siriya yang membuat hidup Thi berada dalam bahaya. Dia bahkan berkata kalau sejak kedatangan Siriya, keluarga Sutharak terus mengalami hal buruk. Jika sesuatu terjadi pada Thi, Siriya harus bertanggung jawab!
“Kalian semua lah yang harusnya bertanggung jawab,” balas Na. “Jika bukan karena salah satu dari kalian berusaha membunuhku, Khun Thi tidak akan berada dalam posisi seperti ini.”
Dokter keluar tidak lama kemudian dan memberitahu kabar baik. Untungnya peluru tidak mengenai titik vital dan Thi tiba tepat waktu di rumah sakit, sehingga nyawanya tidak terancam bahaya.
Setelah dokter pergi, keluarga Sutharak termasuk Na pindah menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Dan saat itulah Da mulai membahas sesuatu pada Siriya.
“Ketika aku tiba di tempat kejadian, aku melihat Siriya mampu berjalan,” beritahu Da.
Semua jelas bingung dengan maksud Da. Dan Na bingung harus membuat alasan apa. Da menekankan kalau dia  melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri. Semua menuntut penjelasan Siriya. Da juga terus memojokkan Siriya yang telah berbohong tidak bisa berjalan. Pa juga menuduh Siriya berpura-pura lumpuh agar di kasihani. Dan bisa saja tuduhan Siriya bahwa mereka adalah pelaku penembakan, semuanya adalah bohong.
“Itu tidak benar. Aku benar-benar di serang hingga aku tidak bisa berjalan,” tekan Na.
“Maka buktikan hal itu. Karena kita ada di rumah sakit sekarang, dokter mungkin bisa memberikan jawabannya,” tantang Khun Nat.

Dalam keadaan genting tersebut, Krit tiba. Dia membawa surat dokter karena sudah menduga kalau keadaan seperti ini mungkin akan terjadi. Surat yang di bawanya bukan hanya informasi dari dokter mengenai keadaan Siriya tetapi juga terapist yang telah mengobati Siriya selama 2 tahun ini. Dan tertulis kalau Siriya memang ada kemungkinan bisa berjalan lagi.
“Bagaimana kami bisa percaya padamu? Kau bisa saja memalsukan dokumen tersebut untuk melindungi boss-mu,” tuduh Khun Nat.
“Jika Anda tidak percaya, Anda dapat menelpon dokter tersebut,” ujar Krit. “Ini dokumennya. Dan aku ada menulis nomor dokternya. Silahkan telepon. Dengan begitu kau akan tahu kalau aku tidak berbohong.”
Khun Nat menerima dokumen tersebut dan melihat isinya. Dan untuk lebih menyankinkan, Krit memperlihatkan rekaman video dimana Siriya belajar berjalan dan mampu berjalan dengan alat bantu.
“Kenapa kau tidak bilang, dan malah tampak bingung?” marah Da.
“Aku berusaha menjelaskan tapi kalian tidak mau mendengar.”
“Sejak kapan kau bisa berjalan? Kenapa tidak beritahu?” tanya Khun Pawinee.
“Baru saja. Tapi, aku belum lancar. Aku tidak beritahu karena aku tidak mengira kalau kalian akan tertarik. Tapi kalau kalian masih belum percaya, kalian bisa bertanya pada Khun Thi saat dia sudah sadar. Karena Khun Thi pernah membawaku untuk pemeriksaan untuk memastikan kalau aku lumpuh. Dan yang lebih penting lagi, Khun Thi juga tahu kalau aku melakukan terapi jalan dan mungkin bisa berjalan lagi.”
Semua langsung diam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Mereka hanya menatap tajam pada Siriya.
--
Krit membawa Na ke tempat sepi. Dia berkata kalau kita beruntung karena Ya telah hampir bisa berjalan, jadi dia bisa meminta dokumen tadi untuk keadaan darurat. Kalau tidak, kebohongan mereka pasti telah ketahuan. Na berterimakasih atas bantuan Krit.
Krit kemudian bertanya, apa Na ada melihat wajah pelakunya tadi? Sayangnya, Na tidak bisa melihatnya karena wajahnya tertutup helm. Dan ada kemungkinan kalau pria yang menyerangnya tadi, di perkerjakan oleh si pelaku. Krit merasa kalau si pelaku semakin berani hingga mengirim orang untuk menyerang di lingkungan perusahaan. Na setuju dan karena itu dia merasa ada yang aneh, di tambah lagi penyerangan ini terjadi ketika dia hendak menyerahkan informasi penting untuk menangkap Khun Wiset.
“Khun Wiset tahu dan dia berencana untuk menutup mulutmu!” simpul Krit.
--
Khun Wiset datang ke rumah sakit dengan ekspresi seolah tidak bersalah. Pa menyambutnya dan protes karena Khun Wiset tiba terlambat. Khun Wiset langsung beralasan kalau dia tadi sedang rapat, tapi dia segera menyelesaikan rapatnya. Pa tidak percaya, karena dia menelpon ke kantor dan di beritahu kalau Khun Wiset sudah pergi dari kantor sejak tadi.
“Itu… rapat di tempat lain,” bohong Wiset. “Meh! Kau juga tahu kalau sekarang aku melakukan banyak hal. Dan kau tahu kan, aku melakukan semua itu untuk kau dan Namneung.”
Khun Pa langsung mengerti dan memperlakukan Khun Wiset dengan baik lagi. Dia mengajak Khun Wiset menjenguk Thi. Thi belum sadar, tapi kata dokter kondisi Thi baik-baik saja.
“Bagaimana dengan penembaknya? Apa sudah tertangkap?” tanya Wiset dengan cemas.
“Belum,” jawab Na yang masuk ke ruang rawat Thi. “Tapi mungkin saja kita akan segera menangkapnya. Karena walaupun aku tidak melihat wajah si pelaku, tapi aku ingat ciri-ciri lainnya dan penampilannya. Dan juga pistol yang di gunakannya.”
“Bagus. Aku harap dia segera tertangkap,” ujar Wiset gugup. Dan kemudian mengajak Pa untuk pulang.
Na menatap tajam pada Wiset. Dan Wiset mengalihkan tatapannya dan keluar dari ruang rawat bersama Pa.
--
Khun Nat bertemu dengan Krit di lorong rumah sakit. Mereka masih tampak canggung. Tetapi. Krit kemudian meminta agar Khun Nat tidak bersikap bias pada Siriya. Dia telah membawa bukti untuk Siriya, dan jika Khun Nat tidak percaya, Khun Nat dapat menyelidikinya sendiri. Semua bukti itu asli.
“Jangan berlebihan. Bahkan walaupun dalam pikiranmu aku bukan orang baik, aku juga membuat banyak kesalahan. Tapi, biar ku peringati sebagai yang lebih tua yang telah lebih dulu makan asam garam dunia, aku ingin kau memperbaiki perilakumu terhadap Siriya. Karena aku mulai tidak yakin, apa kau melindungi Siriya karena rasa tanggung jawab atau karena perasaan pribadi. Jangan gunakan pekerjaan sebagai alasan. Alasan itu mungkin bisa menipu orang lain, tapi kau tidak akan bisa menipu dirimu sendiri. Apapun yang kau pikirkan, apapun yang ingin kau lakukan, ingat tanggung jawab kerjamu. Dan juga harga dirimu juga.”
Usai memberi nasihat pada Krit, Khun Nat langsung pergi. Dan Krit terlihat memikirkan perkataan Khun Nat itu.
--
Khun Pawinee menjaga Thi yang masih belum sadar juga. Dan saat melihat Siriya yang datang untuk menjenguk Thi lagi, Khun Pawinee langsung mengajak Siriya keluar untuk bicara sebentar.
“Kejadian hari ini membuat ku percaya kalau ada orang yang ingin melukaimu. Dan aku juga percaya kalau ada sesuatu tersembunyi di balik kematian Pipop.”
“Lalu kenapa kau beritahu aku?”
“Karena hal ini berhubungan denganmu dan Pipop. Pelaku ingin membunuhmu dan Pop. Dia tidak berniat membunuh Thi. Thi tidak ada hubungannya dengan hal ini. Jangan libatkan Thi ke dalam hal ini,” pinta Khun Pawinee. “Aku tidak tahu apa yang membuatnya menyelamatkanmu. Itu mungkin karena instingnya. Atau perasaan pribadinya. Meskipun dia bukan putra kandungku, aku juga mencintainya seperti putraku. Aku membesarkannya dengan tanganku sendiri.  Sejak aku lahir, aku tidak pernah memohon kepada orang lain. Tapi, saat ini, aku mohon, jangan buat hidup Thi terkait dengan hidupmu. Aku sudah kehilangan seorang putra yang sangat ku cintai, aku tidak ingin kehilangan yang lain lagi. Jika waktu di surat wasiat itu sudah habis, (merujuk ke waktu pernikahan Thi dan Siriya) aku ingin kau mengembalikan hidup Thi seperti sebelumnya, Siriya. ”
Na terdiam mendengan permintaan Khun Pawinee tersebut. Dia sepertinya merasa bersalah juga telah membuat nyawa Thi dalam bahaya.
Na pergi ke ruang rawat Thi, dia teringat kebaikan Thi padanya walaupun dia dalam keadaan lumpuh. Dia teringat Thi beberapa kali menyelamatkannya nyawa-nya.
“Kenapa kau menyelamatkanku? Sejak aku lahir, di hidupku… tidak pernah ada orang yang mengorbankan hidupnya untukku seperti ini,” ujar Na dan menggenggam tangan Thi. “Jangan lakukan hal ini lagi. jangan membuatku merasa berhutang. Kau tidak harus mati karena ku. Mengerti, Khun Thi?”
Tentu saja Thi tidak menjawab karena dia belum sadarkan diri.
--

Na pergi ke kantor polisi dan memberikan keterangan mengenai ciri-ciri pelaku kepada Chanat. Chanat memuji ingatan Siriya yang bagus, karena biasanya di dalam keadaan seperti itu, orang akan ketakutan dan tidak memperhatikan pelaku. Dia berterimakasih atas informasi Siriya dan akan segera menangkap pelaku.
--
Thi sudah sadar. Khun Pawinee berada di sampingnya dan meminta Thi menganggap hal ini hanya sebagai kesialan. Lain kali, mereka akan lebih tegas lagi mengenai peraturan keamanan di perusahaan. Da yang ada di sana kemudian berkomentar kalau Thi menggunakan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa lain, hal itu tidak setara.
Dan Thi baru sadar kalau Siriya tidak ada. Dia bertanya diman Siriya?
Pa, Khun Wiset dan Namneung datang menjenguk Thi. Pa mulai mengomel karena dia kan sudah bilang agar Thi tidak ikut campur dengan hidup Siriya, sekarang lihat kan, Thi jadi sial.
“Ya, tapi untungnya aku tidak mati. Karena masih ada banyak hal yang harus ku selesaikan,” ujarnya dan menatap ke Khun Wiset yang terus menunduk.
Khun Pawinee bertanya maksud perkataan Thi, dan Thi beralasan kalau dia hanya membicarakan pekerjaan. Tetapi, Khun Wiset pasti tersindir dengan perkataan Thi tersebut. Thi kemudian bertanya keadaan Siriya? dan Khun Nat yang menjawab kalau Siriya selamat. Dan sekarang sedang memberikan keterangan di kantor polisi.
“Karena sekarang sedang membahas Siriya, aku juga ingin bertanya mengenai kelumpuhan Siriya pada mu,” ujar Da. “P’Thi tolong jelaskan kebenarannya.”
Thi jelas bingung. Semua menatapnya.
--

Saat semua sudah pulang, Na menjenguk Thi. Dia menggunakan tongkat, bukan lagi kursi roda.
“Aku dengar kau sudah mulai bisa berjalan?”
Dan Thi tersenyum. “Selamat!”
Na balas tersenyum. Mereka saling bertatapan.
--
Khun Wiset mencuci tangan di toilet. Dia memikirkan perkataan Thi tadi, dan menyimpulkan kalau bukan hanya Siriya yang tahu masalah ini, tapi juga Thi. Hal ini membuatnya lebih cemas lagi.
Dari toilet, dia langsung menyuruh Pa pulang duluan dengan Namneung. Dia ada hal mendesak, dan tidak bisa ikut dan mengantar mereka pulang. Pa sampai kesal karena tidak biasanya Khun Wiset terburu-buru. Namneung malah menyarankan agar Pa tidur di rumah Khun Pawinee hari ini, dan dia bisa pulang sendiri. Pa mengerti, tetapi dia menyuruh Namneung untuk mengirimkan nomor mobil dan nomor telepon taksi yang nanti di tumpangi Namneung untuk pulang, dan begitu sampai rumah harus melapor.
Setelah Khun Pa pergi, Namneung langsung menelpon Chet dan memberitahu kalau ayah dan ibunya tidak ada di rumah malam ini.
--
Thi bicara dengan Siriya. Dia memberitahu Siriya kalau dia memberikan nomor telepon Dokter yang memberikan Siriya terapi kepada Da. Dan dia juga sudah menjelaskan pada semuanya, kalau Siriya sudah mengikuti terapi sebelum masuk ke keluarga Sutharak. Juga mengenai Siriya yang telah belajar berjalan menggunakan kruk. Jadi, tidak ada kecurigaan lagi.
“Tapi. Bagaimana keadaanmu?”
“Bagaimana apanya?”
“Lukamu! Apa masih sakit?”
“Tidak sakit sama sekali. Aku rasa aku seperti super hero. Di tembak tapi masih baik – baik saja. Lihatlah.”
Dan Na langsung memarahi Thi karena masih bisa bercanda seperti itu. Thi langsung menggoda kalau Siriya khawatir padanya. Dia juga mengingatkan kalau Siriya berhutang padanya sekarang.
“Ingat kau harus baik padaku. Karena aku telah menyelamatkan nyawa-mu.”
Tetapi, mereka malah bermain-main rebutan kruk. Dan membuat Siriya terjatuh ke tubuh Thi. Mereka bertatapan sesaat dengan canggung, tetapi kemudian saling tersenyum.

Support penulis hanya dengan membaca sinopsis ini (Khun Mae Suam Roy) di :
k-adramanov.blogspot.com. Terimakasih. Happy Reading.

3 comments: