Sunday, January 13, 2019

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 13 - part 1

0 comments


Network : GMM One

Pernakah kamu bertanya apa gunanya belajar dengan keras?

Pernakah kamu merasa tak ada guru yang bisa memahami kamu?

Pernakah kamu merasa kesal dengan sistem sekolah konyol yang bahkan tidak kita inginkan?



Saat Direktur sedang berbicara, Taeweesilp menyela dan menyuruh agar Direktur langsung berbicara ke intinya saja. Dan Direktur pun bertanya padanya, tipe murid seperti apa yang di inginkan setiap sekolah.

“Yang berbakat,” jawab Taeweesilp. Dan Direktur tersenyum senang.


Pernakah kamu penasaran kenapa sekolah hanya tertarik pada siswa luar biasa, tanpa melihat penderitaan kita? Dan berapa lama kita harus bertahan?


“Menurut saya inilah waktu nya bagi kita untuk menghasilkan lebih banyak siswa Berbakat. Inilah waktu nya potensi mereka di perkuat. Untuk mencapai hasil yang optimal, kami membutuhkan lebih banyak dana dari kementerian. Tiga kali lipat,” jelas Direktur kepada mereka semua.

“Hari ini, akan kuceritakan kisah sekolah ini. Inilah kisah sekolah bernama SMA Ritdha. Dan kelas specialnya yang disebut The Gifted,” kata Pang. Didepan kamera laptop nya.

T H E      G I F T E D


Wave memasangkan alat komunikasi di kerah baju Pang, dan dikerah bajunya sendiri, sehingga mereka berdua bisa saling berkomunikasi dari jauh. Lalu setelah semuanya okay, Wave menjelaskan kepada Pang agar berhati- hati dan jangan bertindak bodoh, karena bila Pang kehilangan alat itu, maka signal komunikasi mereka bisa terputus.

“Aku tahu,” kata Pang.

“Aku harus pergi ke ruangan siaran untuk menjalan kan sistemnya. Jadi kamu akan pergi ke ruangan rapat sendirian, dan membongkar semua nya kepada setiap orang. Aku mempercayai mu Pang, kita tidak bisa membuat kesalahan apapun hari ini,” jelas Wave.



Sebelum pergi menjalan kan tugas masing- masing, Pang menatap ke arah Guru Pom. Dan dengan tenang, Guru Pom mengatakan bahwa Pang tidak perlu mengkhawatirkannya. Lalu Pang pun mengucapkan terima kasih, dan pergi bersama dengan Wave.



Namtaan menghampiri Wave dan Pang. Dia mengatakan bahwa dia mau memberikan pin yang telah dikumpulkan nya kepada mereka berdua. Lalu Wave pun menerima pin tersebut, dan berlari pergi duluan.


“Berapa lama kamu sudah disini?” tanya Pang sambil berjalan lebih dekat kearah Namtaan.

“Ohm dan aku melakukan yang terbaik. Ini semua yang kami dapatkan,” jelas Namtaan sambil menunjukan semua lencana yang ada. Dan Pang mengambil lencana kelas 8.



Karena Pang masih tidak tampak akan bercerita padanya, maka Namtaan pun bertanya dan dia menjelaskan bahwa dia telah mendengar semua pembicaraan Pang dengan Guru Pom tentang Direktur. “Mengapa kamu tidak membicarakannya dengan kami? Apa kita masih teman?” tanya Namtaan dengan sedikit emosi.

“Namtaan, tenanglah. Aku tidak memberitahu mu karena ini berbahaya. Dan aku tahu bahwa jika aku memberitahu mu, maka kamu akan menghentikan ku,” jelas Pang.


Namtaan menjelaskan bahwa tentu saja dia akan menghentikan Pang, karena dia peduli pada Pang, tapi apa selama ini Pang pernah mau berhenti. Lalu dia mengatakan bahwa dia merasa terluka, karena Pang tidak mempercayai dirinya dan bahkan Ohm.

“Kamu sangat berubah, Pang,” kata Namtaan.

“Namtaan, ini tidak seperti itu,” balas Pang.

“Kemudian, apa?” tanya Namtaan.

“Aku minta maaf. Aku harus pergi,” balas Pang.



Namtaan memegang tangan Pang dan menahannya, dia mengatakan bahwa jika Pang tidak mau berhenti maka dia akan ikut dengan Pang. Tapi Pang tidak mau Namtaan terlibat dalam masalah ini, karena orang yang bisa menghentikan Direktur hanyalah dirinya dan Wave.

Namun Namtaan bersikeras untuk ikut bersama dengan Pang, karena dia peduli. Dan Pang pun membalas bahwa karena dia juga pedulilah, makanya dia tidak ingin membuat mereka terlibat



“Tidak. Kamu berbohong. Aku tidak ingin kamu pergi, Pang. Aku tidak mau. Bisakah kamu tolong jangan pergi? Aku tidak ingin kamu pergi, Pang,” kata Namtaan sambil menangis.

Melihat Namtaan yang mulai menangis, maka Pang pun langsung memeluk dan menenangkannnya. “Aku minta maaf, Namtaan. Aku tidak bisa mundur sekarang,” kata Pang.


Dengan perlahan, Pang menggerakan tangannya menyentuh leher  Namtaan. Dan dengan sura kecil yang tidak kedengaran, Pang berbisik di telinga Namtaan, lalu dia melepaskan Namtaan dan pergi. Kemudian setelah Pang pergi, Namtaan pun terduduk dilantai dan menangis.


Diruang siaran. Wave mengatifkan semua komputer dan peralatan elektonik, lalu melalui alat komunikasi di kerahnya, dia menanyakan dimana Pang berada sekarang. Tapi Pang tidak menjawab, lalu karena mendengarkan suara seperti orang menangis, maka Wave pun bertanya.


“Tidak ada, cuma bersin saja,” kata Pang sambil mengusap hidungnya. Dia telah berada tepat di depan pintu ruangan rapat.

“Apa kamu baik- baik saja? Apa kamu siap?” tanya Wave. Dan Pang mengiyakan. Lalu Wave pun menekan tombol ‘enter’ di komputernya.



Pang memperhatikan lencana kelas 8 yang di dapatnya dari Namtaan. Lalu dia mengingat- ingat semua yan telah di laluinya. Dan dengan erat, dia memegang lencana tersebut, kemudian memasang lencana tersebut di bajunya.


Suatu hari kamu menyadari bahwa kamu telah melalui banyak hal. Dari siswa tidak berguna kelas 8. Berubah menjadi siswa kelas Berbakat. Kamu mulai mempelajari tentang Potensi mu. Kamu melihat melihat ketidak adilan. Dan untuk hari ini, rasanya agak aneh, tapi segalanya akan segera berakhir.

No comments:

Post a Comment