Tuesday, January 15, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 15 – 2

9 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 15 – 2
Images : Channel 3
Khun Nai datang ke kamar Kiew. Dan Kiew langsung menghapus air matanya. Khun Nai lansung berrtanya, kemana Peat pergi?
“Peat bilang kalau dia punya urusan yang harus segera di selesaikan, ayah,” bohong Kiew.
Khun Nai tampak marah.
--
Peat pergi ke condo Chaya. Chaya masih menangis jika mengingat saat pernikahan Peat dan Kiew. Bel condo-nya berbunyi, dan saat dia membuka pintu, Peat berdiri di depannya. Mereka saling bertatapan.
Flashback
Kemarin, saat Peat datang ke tempat Chaya dan bilang ingin membicarakan sesuatu.
“Kenapa? Kau ingin aku keluar dari hidupmu? Jika kau mau, aku akan melakukannya,” ujar Chaya. (Wow, udah bagus itu).
“Chaya. Jika aku bilang padamu kalau aku tidak bicara baik denganmu karena rencanaku…”
“Dan kau juga menyakitiku. Itu juga rencanamu?”
“Ya. Termasuk pernikahanku dengan Kiew.” (ampun lho kamu Peat!!)
“Jelaskan padaku. Aku akan mendengarkan,” ujar Chaya dengan suara keras.
Peat menjelaskan kalau ayahnya meninggalkan ibunya di malam pernikahan mereka untuk menemui ibunya Kiew. Ibunya sangat marah karena di abaikan dan memilih keluar dengan ayah kandungnya hingga dia mengandung dirinya. Jika saja Khun Nai tidak pergi malam itu, dan jika saja Khun Sa tahu mana yang benar dan salah, hidupnya pasti tidak akan hancur seperti ini! Jadi, dia mau setiap orang mendapatkan karma atas apa yang mereka lakukan!
“Lalu kenapa kau harus menikahinya? Masih banyak metode lain untuk balas dendam,” marah Chaya.
“Tidak ada metode balas dendam yang lebih baik daripada mengulangi masa lalu itu. Aku akan menikahi Kiew dan aku akan pergi dari kamar pengantin, sama seperti yang ayah lakukan. Menyakiti ayah secara langsung, ayah akan bisa menahannya. Tapi, jika aku menyakiti putrinya, ayah pasti akan terluka berkali-kali lipat.”
“Kau yakin kalau kau menikahinya karena ingin balas dendam? Bukan karena kau mencintainya? Dari yang ku lihat, kau terlihat sangat mencintainya.”
“Aku tidak mencintainya. Segala itu hanya pura-pura. Orang yang ku pikirkan mengenai cintai, hanya ada satu orang. Itu adalah Chaya (aissh… kau memberi harapan palsu lagi kepada Chaya yang mencoba move on darimu!!) Kau adalah orang yang ada di sisiku ketika aku marah. Kau orang yang paling ku percayai. Dan yang lebih penting, kau benar-benar mencintaiku. Aku sudah melihatnya selama ini. Aku bukannya tidak melihat, tapi aku hanya tidak mengatakannya, kalau aku juga menyukaimu (dia bilangnya suka, bukan cinta). Dan tunggu hingga hari ini tiba untuk ku katakan.”
“Benarkah Peat?” tanya Chaya penuh harapan dan bahagia. “Peat, kau jujur kan?”
Peat mengangguk. Dan Chaya langsung menyadarkan kepalanya ke bahu Peat. Dia benar-benar senang dan bahagia. Dia bahkan sudah tidak marah lagi.
“Kalau aku mau kau membantuku sekali lagi, apa kamu bisa?”
“Aku siap melakukan apapun yang kau inginkan. Apa yang harus ku lakukan?”
“Di hari pernikahan, buat semua orang percaya kalau kau sudah bisa melupakanku. Dan setelah pergi dari kamar pengantin, aku akan datang mencarimu langsung.”
End
Dan karena itulah, Peat datang menemui Chaya. Chaya bertanya dengan serius pada Peat, apa Peat benar-benar tidak mencintai Kiew? Dia bertanya hal itu karena dari cara Peat memandang Kiew, Chaya belum pernah melihat Peat memandang orang lain seperti itu, bahkan padanya.
“Biarkan aku masuk dulu dan aku akan menjawab pertanyaanmu, ya.”
Dan di depan pintu condo Chaya, terlihat kalau Kris melihat mereka berdua.
--
Khun Nai marah karena Peat pergi meninggalkan Kiew di hari pernikahan seperti ini. Kiew berusaha menenangkan Khun Nai kalau dia tidak apa-apa dan bisa menunggu Peat.

“Pengantin pria harusnya di kamar pengantin bersama dengan pengantin wanita. Bukan keluar seperti ini!’ marah Khun Nai. Dan setelah itu, dia teringat saat dia juga melakukan hal yang sama seperti yang Peat lakukan. Dia meninggalkan Khun Panee sama seperti Peat. “Atau Peat… dia…”
“Ada apa, yah?”
“Tidak ada,” sembunyikan Khun Nai. “Aku hanya berpikir kalau hari ini harusnya menjadi hari penting bagimu dan Peat.”
“Setiap hari juga hari yang penting, yah. Meskipun hari ini Peat tidak ada di sini, mulai dari sekarang, Peat akan selalu bersama denganku setiap hari.”
Khun Nai tahu kalau Kiew hanya berpura-pura baik-baik saja. Tapi, Kiew terus berusaha menyembunyikan perasaannya sebenarnya dan menyuruh Khun Nai untuk beristirahat. Khun Nai tidak bertanya lagi dan kembali ke kamarnya, tapi terlihat dari raut wajahnya dia sepertinya sudah curiga kalau Peat hanya ingin balas dendam padanya.
--
Peat sudah masuk di dalam condo Chaya. Wajahnya terlihat merasa bersalah. Chaya memanggilnya dan menanti jawaban Peat atas pertanyaannya tadi. Dan Peat menyakinkan Chaya kalau dia benar-benar tidak merasakan apapun pada Kiew selain rasa benci!
Tapi, wajahnya tampak bersalah saat dia teringat saat Kiew memohon padanya untuk tidak pergi.
Ponsel Peat berbunyi. Telepon dari Khun Nai. Dan Peat memilih untuk tidak menjawab. Chaya bertanya rencana Peat selanjutnya. Dan Peat mengajak Chaya untuk membicarakan mengenai mereka saja. Bukankah Chaya sudah percaya padanya?
“Kalau begitu… malam ini akan menjadi malam kita!” ujar Chaya dan mendekat ke Peat. 
--
Kiew masuk ke kamar penganti. Dia melihat baju pengantin Peat yang berserakan di lantai kamar mandi. Kiew terduduk dan menangis penuh kesedihan sambil memeluk baju pengantin itu.
--

Chaya sudah berganti pakaian dan Peat membawanya ke restoran Katha. Katha jelas kaget melihat Peat dan Chaya datang bersama ke restorannya, padahal hari ini hari pernikahan Peat. Dan bukan hanya itu, Chaya juga menggandeng tangan Peat. Kris juga ada di sana dan tidak suka melihat mereka.
Katha langsung dengan nada marah, bertanya kenapa Peat kemari? Bukannya harusnya bersama dengan pengantinnya? Dan kenapa dia datang bersama dengan Chaya?
“Aku bosan. Ingin merayakan,” jawab Peat.
“Bosan? Kau baru menikah, bagaimana bisa sudah bosan? Dan pengantinmu tidak mengatakan apapun?” tanya Katha.
Tapi, Peat tidak menjawab dan malah minum-minum. Kris juga minum dengan emosi. Katha kesal melihat Chaya. Dia menarik Chaya menjauh dan mengajaknya bicara berdua. Dia mau tahu apa yang terjadi. Tapi, Chaya menjawab tidak tahu apapun. Peat tiba-tiba datang menemuinya dan memintanya untuk menemaninya.
“Aku rasa dia bertengkar dengan pengantinnya.”
“Itulah kenapa kau bahagia?! Melihat orang lain bertengkar dan kau bahagia?!” marah Katha.
“Tidak. aku hanya bahagia melihat semua temanku berkumpul bersama.”
 “Aku sudah merasa ada yang aneh dari awal. Biar ku tanya jujur saja, kau menyembunyikan sesuatu kan?”
“Tidak ada apapun. Dan jika kau mau tahu, tanya Peat saja sendiri!”
“Aku tentu akan tanya langsung!”

Peat mengajak Kris untuk minum-minum dan cheers. Kris menatapnya dan langsung memukulinya. Katha yang lagi bicara dengan Chaya jelas terkejut. Kris dengan marah bertanya alasan Peat melakukan hal ini? Peat berpura-pura bodoh dan bertanya apa yang di lakukannya?
“Jangan biarkan aku mengatakannya! Betapa bajingannya kau!”
“Ini urusanku. Kau tidak perlu ikut campur!’ marah Peat dan memukuli Kris.

Mereka terus menerus pukul-pukulan. Katha dan Chaya melerai mereka. Katha dengan emosi menyuruh mereka untuk diam. Dia bahkan menyuruh Peat untuk pergi saja dulu, dan baru datang lagi jika sudah berpikiran jernih. Peat langsung pergi dengan marah dan Chaya mengikutinya.
Setelah Peat dan Chaya pergi, Katha bicara baik dengan Kris. Dia tahu kalau Kris marah karena Peat datang dengan Chaya, tapi Kris harusnya tidak bertindak seperti itu. Kris hanya diam dan terus minum.
--
Peat dan Chaya pulang ke condo. Chaya segera mengeluarkan handuk untuk mengobati luka pukulan di wajah Peat. Tapi, Peat melarangnya dan bahkan meminta Chaya untuk meninggalkannya sendiri. Wajah Chaya tampak kecewa. Dia akhirnya pergi ke kamarnya dengan kesal dan hanya menyuruh Peat untuk minum obat.
Setelah Chaya pergi, Peat tampak gelisah. Entah apa yang di pikirkannya karena dia bangkit berdiri.
--

Kiew melihat foto prewedding-nya dengan Peat dan menangis. Dia benar-benar sedih dan kecewa.
--
Peat duduk di pinggir jendela. Dia tidak tampak bahagia dengan balas dendam yang telah di lakukannya. Sebaliknya, wajahnya malah tampak merasa bersalah.
--
Esok hari,
Peat akhirnya pulang ke rumah. Dan begitu dia masuk rumah, Khun Nai sudah langsung bertanya kemana saja dia kemarin?
“Kau bangun cepat atau kau tidak tidur semalaman?” tanya Peat dengan sarkasm.
“Aku bertanya padamu. Kemana kau pergi kemarin malam?”
Kiew mendengar suara mereka. Dia turun. Peat melihatnya. Peat berpura-pura menguap dan meminta Khun Nai untuk bicara nanti saja. Khun Nai tidak mau dan memanggil Peat yang berjalan menuju kamar.
“Biarkan saja, ayah,” ujar Kiew. “Peat mungkin belum siap untuk bicara sekarang. Orang seperti Peat, kau tidak bisa memaksanya.”
Peat tersenyum sinis dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia berjalan melewati Kiew begitu saja.
--
Kris tertidur di restoran Katha. Begitu bangun, dia langsung teringat saat kemarin melihat Peat yang datang ke condo Chaya. Dan kemudian, Peat membawa Chaya ke restoran Katha. Setelah itu, dia menghajarnya.
--

Peat siap mandi dan begitu keluar, dia melihat Kiew sudah menunggunya. Kiew menggandeng tangan Peat dan berkata akan mengobati luka di wajah Peat. Peat menatapnya dengan heran.
“Kau tidak akan bertanya padaku, seperti ayah? Mengenai kemana aku kemarin?”
“Aku tidak berani tanya.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut kalau aku tanya, kau mungkin akan marah lagi.”
Peat langsung tidak mau bicara lagi. Dia mau istirahat saja. Kiew akhirnya meminta Peat memberitahu ada apa? Kenapa Peat bersikap seperti orang yang tidak saling mencintai?
“Kau berpikir berlebihan. Aku sudah bilang kalau aku lelah. Aku hanya ingin bertemu teman-temanku. Itu saja. Jika aku tidak mencintaimu, kenapa aku mau menikah denganmu?”
“Lalu apa kau punya hal yang tidak nyaman padaku? Kau bisa beritahu aku. Mungkin aku bisa membantumu. Kita sudah menjadi suami istri sekarang. Apapun itu, kita harus saling mendukung. Jangan di pendam sendiri.”
Peat tidak mau membahas hal itu. Dia ingin tidur dan meminta untuk bicara nanti saja. Kiew benar-benar kecewa.
“Kalau begitu, aku akan menunggu hingga kau siap untuk bicara. Peat, silahkan beristirahat,” ujar Kiew.
Dia mendekat ke arah Peat yang menutup mata dan tidur (sepertinya pura-pura). DIa memeluk Peat dengan penuh cinta. Walaupun di hari pernikahan mereka, mereka tidak bisa tidur bersama, tapi hari ini mereka bisa tidur bersama. Dia telah menjadi istri sah Peat dan dia akan terus di sisi Peat entah itu susah ataupun senang. Dia mencintai Peat!
Tapi, Peat tidak memberikan respon apapun terhadap ucapannya. Kekecewaan Kiew semakin mendalam. Dia berbalik membelakangi Peat dan menahan air matanya.
BERSAMBUNG
  

9 comments: