Saturday, January 26, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 21 – 1

0 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 21 – 1
Images : Channel 3
Peat mengunjungi Chaya di kamar sebelum berangkat kerja. Dan Chaya memohon pada Peat untuk tidak pergi bekerja dan menemaninya. Tapi, Peat menolak, dia harus ke kantor karena ada rapat dan jika Chaya butuh sesuatu Chaya bisa menelponnya atau memanggil Taeng.
 “Peat, dapat aku bertanya sesuatu. Kau mencintaiku, dan tidak mencintai Kiew kan?”
Peat terdiam mendapat pertanyaan itu.
--
Kiew sedang bersiap peergi kerja. Dan Taeng mengetuk pintu kamarnya. Dia bertanya, apa Kiew tidak ada rencana berubah pikiran? Apa Kiew mau kembali ke kamar pengantin? Jika ya, dia akan segera memindahkannya.
Kiew langsung tegas mengatakan kalau dia tidak akan pindah. Dan jika Taeng terus bertanya, dia akan marah. Taeng jadi bingung sendiri, yang satu nyuruh dia pindahin, yang satu lagi nggak mau pindah. Tapi, dia kemudian mendapat ide.
--
“Peat, tolong jawab aku. Kau mencintaiku,” pinta Chaya karena Peat terus bungkam.
“Aku mencintai Peat,” ujar Chaya lagi. “Sangat mencintaimu. Kau tidak mencintai Kiew kan?”
“Aku tidak suka. Aku benci,” akhirnya Peat menjawab.
“Kalau begitu, setelah konferensi pers kemarin, kemana kau membawanya?”
Peat hanya memberitahu kalau dia hanya membahas masalah berita itu. Tetapi, Chaya terus bertanya ini-itu seperti menginterogasi. Peat sampai lelah menjawab pertanyaannya. Dia menyakinkan Chaya untuk tenang saja dan dia akan berangkat kerja dulu.
Chaya kembali merengek meminta Peat untuk tidak pergi kerja. Peat berulang kali menolak, tapi Chaya terus merengek.
Untung saja Taeng datang sambil membawa obat sarapan untuk Chaya. Saat melihat Chaya menyandarkan kepalanya ke dada Peat, Taeng langsung menawarkan diri untuk memanggil ambulans karena Chaya pingsan. Chaya jadi kesal juga, lagi asyik merengek sama Peat malah di ganggu sama Taeng. Peat segera memanfaatkan hal itu untuk pergi kerja dan menyuruh Taeng untuk menjaga Chaya dengan benar.
Chaya langsung berteriak kesal menyuruh Taeng untuk tidak mengganggunya. Taeng malah menyindir kalau sepertinya Chaya sudah sembuh dan dia akan melaporkannya pada Peat.
“Diam! Aku tahu kau bawahan Kiew. Aku tahu kau orang Kiew. Kau berpikir untuk memisahkan ku dan Peat?” marah Chaya.
“Aku seorang pelayan. Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah bos-ku. Tapi aku terganggu karena aku tidak tahan. Aku orang yang optimis. Aku tidak bisa tahan melihat orang melanggar norma agama. Terutama jika mengganggu suami oran lain. Itu dosa.”
Chaya marah mendengar perkataan Taeng yang benar itu, dan berteriak menyuruh Taeng untuk keluar. Taeng tidak mau, tapi Chaya mengangkap mangkuk sup dan hendak melemparkannya pada Taeng, jadi Taeng memilih keluar.
Di dalam setelah Taeng keluar, Chaya berteriak seperti orang gila! Taeng langsung menggerutu menyebut Chaya yang sudah seperti orang gila saja.
--
Peat tidak langsung pergi ke kantor. Dia menunggu Kiew untuk pergi ke kantor bersama. Tapi, Kiew tidak peduli padanya dan berjalan melewatinya.
--
Kris menemui Khun Nai. Dia menyerahkan laporan keuangan yang Tee sudah manipulasi.
--

Peat menahan Kiew dan memaksanya untuk berangkat kerja bersamanya. Kiew tidak mau, tapi Peat terus memaksa. Mereka terus berdebat seperti biasa. Dan setelah perdebatan panjang, Kiew berjalan pergi. Peat hendak menyusul, tapi dia mendapat telepon dari Khun Nai yang menyuruhnya untuk segera datang ke kantor.
--

Di ruangan Khun Nai, sekarang ada Kriss, Tee, Peat dan Kiew juga. Khun Nai menyerahkan dokumen yang diberikan Kris dan itu adalah laporan keuangan. Dimana, ada sejumlah uang yang keluar untuk keperluan yang tidak jelas dan nilainya jutaan.
“Ayah menuduhku menggelapkan uang perusahaan?”
“Aku tidak bilang begitu. Tapi, aku butuh penjelasan. Karena tanda tangan di dokumen itu adalah tanda tanganmu.”
“Ayah tidak bilang, tapi aku tahu maksud ayah. Aku tidak tahu apapun. Tanda tangan itu bukan milikku. Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini!”
“Ada dua hal. Tanda tangan asli dan palsu. Karena kau tidak mengakui, aku akan bertanya kepada dept. acc untuk menyelidiki akun-mu, untuk memastikan apakah ada transaksi yang tidak normal atau tidak.”
Peat semakin emosi karena di tuduh menggelapkan uang perusahaan. Khun Nai memintanya untuk tenang terlebih dahulu, sekarang kan mereka sedang menyelidiki apakah hal ini benar atau tidak. Peat tidak terima karena merasa Khun Nai menuduhnya. Dan itu artinya, Khun Nai tidak percaya padanya.
Khun Nai berulang kali menjelaskan kalau dia percaya pada Peat, tapi dia harus bicara dengan bukti. Peat juga harus paham kalau dia adalah pemimpin perusahaan dan dia harus menyelidiki hal ini dengan adil dan seksama, bukan mempedulikan status ayah dan anak.
Tapi, Peat terus keras kepala dan bahkan menuduh Khun Nai yang curiga padanya karena dia bukanlah anak kandung. Jika Kiew yang berada di posisinya, dia yakin Khun Nai pasti tidak akan melakukan hal seperti ini. Kiew langsung menegur Peat untuk tidak mencampur adukkan masalah pribadi dan kerja.
Peat yang berpikiran sempit, tidak mau mendengarkan siapapun dan terus pada pendiriannya, pada pendapatnya. Khun Nai akhirnya menyuruh Peat untuk tidak datang bekerja hingga masalah ini clear. Peat malah semakin marah (arrgghh, kebiasaan di manja sih!!)
Dan bukan hanya dengan Khun Nai, Peat bertengkar. Tapi juga kepada Kris. Kiew yang berusaha bersikap adil juga tidak lepas dari amarah Peat.
Setelah Peat pergi, Khun Nai mengajak bicara Kiew, Kris dan Tee. Dia meminta Kris dan Kiew untuk menghandle pekerjaan Peat selama Peat tidak bekerja. Dan jika ada masalah, bisa bertanya padanya atau Tee. Mereka akan membantu pekerjaan Peat sampai dia menemukan kebenaran dari masalah ini.
“Ayah, apa kau benar-benar mengira kalau Peat yang melakukan ini?” tanya Kiew.
“Aku ingin percaya pada Peat. Tapi, agar jelas, kita harus menyelidiki hal ini. jadi kita bisa tahu yang terjadi. Bagaimana denganmu, Kiew? Apa kau berpikir Peat melakukan hal ini?”
“Aku tidak yakin. Aku tidak tahu mengenai Peat sama sekali. Orang yang di liputi amarah akan bersedia melakukan apapun untuk balas dendam, tanpa peduli apa itu benar atau salah.”
“Aku juga berpikir sama sepertimu. Aku juga ingin percaya yang Peat katakan. Tapi, aku tidak tahu apa ini rencananya atau tidak.”
Kris menengahi, berpura-pura baik, dengan membela Peat.
--
Peat pergi ke makam ibunya. Dia curhat pada ibunya kalau dia tidak melakukan hal itu. Tapi, ayah tidak percaya padanya dan menuduhnya mencuri uang perusahaan. Dan itu pasti karena dia tidak ada hubungan darah dengannya.
--
Kris menikmati kopi-nya. Tee menghampirinya dan bertanya rencana selanjutnya.
“Kenapa kau bertanya? Kau ingin tahu atau ingin membantu?”
“Keduanya. Karena kita berada dalam perahu yang sama. Dan… aku bisa mendapatkan uang.”
“Jangan khawatir. Jika kau bekerja denganku, kau pasti akan mendapat uang yang besar.”
Tee tersenyum. Dan bertanya tujuan Kris hingga bersedia memberikan uang besar padanya? Kris tersenyum dan memberitahu kalau dia akan menghancurkan hidup Peat dan juga perusahaan Khun Nai. Jadi, apa Tee akan mengadukannya pada Khun Nai?
“Hal itu tergantung, keuntungan apa yang akan ku dapatkan. Jika bagus, aku akan menutup mulutku dengan rapat.”
Kris menawarkan kalau Tee akan mendapatkan uang yang banyak, lebih daripada uang yang di dapatkannya selama bekerja dengan Khun Nai. Tee tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Kris. Mereka saling berjabatan.
--

Pa berada di restoran Katha dan menguping Katha yang lagi teleponan (cieee… ngapa nggak pacaran aja sih). Mereka lagi menyelidiki siapa yang menyebarkan berita mengenai Peat yang bukan anak kandung Khun Nai.
Peat datang ke restoran Katha dengan wajah muram. Katha jelas heran melihatnya.
--
Kris menemui Kiew dan memberikan dokumen rencana marketing. Sambil memberikan dokumen itu, Kris membahas mengenai masalah tadi. Dan dia berpura-pura khawatir dengan Peat. Untung Kiew tidak ingin membahas masalah itu lebih lanjut dan lebih fokus untuk bekerja.
Kiew mendapat telepon dari Pa yang melapor kalau Peat ada di tempat Katha dan terlihat tertekan hingga minum-minum. Kiew dengan dingin menanggapi karena dia sudah tidak peduli apapun lagi. Pa sampai kaget karena mengira kalau Kiew masih akan bersikap baik pada Peat, tapi ternyata Kiew benar-benar tidak peduli lagi pada Peat. Pa mengerti dan mengakhiri telepon.
Selesai bicara dengan Kiew, Pa bicara dengan Katha. Dia memberitahu kalau Kiew tidak akan datang. Katha langsung menyebut Kiew sangat kejam. Pa tidak terima temannya di katai kejam, dan mengingatkan Katha siapa yang duluan bersikap kejam. Mereka saling berdebat dengan suara keras dan terdengar oleh Peat.
“Jika dia tidak mau datang, tidak usah datang,” ujar Peat dengan suara keras. “Aku bisa sendiri.”
Dan Pa menyuruh Katha untuk menelpon Chaya saja. Peat langsung menolak, dia tidak butuh siapapun.
--

Sementara Kris bertanya pada Kiew yang sudah selesai bertelepon, apa dia tidak akan menemui Peat? Kiew menegaskan kalau dia tidak mau datang dan ikut campur urusan Peat lagi. Dan Kris memuji Kiew sebagai orang baik.
“Aku bukan orang baik atau apapun itu. tapi, aku sudah melihat orang yang menggunakan kemarahan dalam menjalani hidupnya dan apa yang di dapatkannya. Tidak ada kebahagiaan. Depresi dan juga tenggelam dalam kemarahan. Hidup manusia itu singkat. Kita bahkan tidak tahu kapan kita akan mati. Jika kita terus membalas dendam satu sama lain, lalu kapan hidup kita akan bahagia?”
Kris terdiam mendengarkan perkataan Kiew.

No comments:

Post a Comment