Saturday, January 26, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 20 – 2

1 comments
Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 20 – 2
Images : Channel 3
Pa menarik Katha agar berjalan lebih cepat. Katha sampai heran kenapa Pa terburu-buru sekali? Khun Nai kan juga belum selesai konferensi pers. Pa menjelaskan kalau dia merasa khawatir pada Kiew yang membiarkan orang-orang berpikir kalau dia bukan putri kandung Khun Nai. Jika dia yang mengalami kejadian ini, dia pasti sudah merasa sangat stress. Katha mengerti maksud Pa.


Tapi, tidak lama mereka malah melihat Peat yang menarik Kiew dengan kasar. Mereka jadi bingung mau ngejar Peat dan Kiew atau menemui Khun Nai dulu. Eh, mereka malah melihat Chaya. Pa yakin kalau Chaya pasti akan mengikuti Peat dan menampar Kiew. Katha menyuruh Pa untuk tenang karena Chaya kan hanya berdiri di sana dan tidak melakukan apapun.
Peat memaksa Kiew untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi. Chaya langsung berteriak memanggil Peat, tapi mobil Peat tetap tidak berhenti. Dia malah melihat Pa dan Katha di sana. Katha bertanya apa yang terjadi pada Chaya? Dan Chaya tidak menjawab, malah pergi.
“Mau kemana kau? Kau orang atau kerbau? Sudah di tanya malah nggak jawab,” omel Pa.
Chaya berbalik dan menatapnya tajam.
--
Konferensi pers telah selesai. Dan pas sekali Tee menerima telepon dan Tee berkata kepada si penelpon dia akan mengatasinya.
“Dari siapa itu?” tanya Kris yang berada di belakang Tee.
“Bukan siapa-siapa,” jawab Tee.
Tee kemudian memberitahu Kris kalau Khun Nai ingin bicara dengan Kris mengenai gossip yang tersebar. Karena kan hanya beberapa orang yang tahu mengenai masalah itu. jadi Khun Nai hanya ingin bertanya untuk memastikan kalau bukan salah satu orang mereka yang keceplosan ngomong sama reporter.
“Jadi kami semua menjadi orang yang di curigai paman Nai?” tanya Kris.
“Kau bisa menganggapnya begitu. Tapi, jika kau tidak melakukannya, kenapa kau merasa takut?” sindir Tee dan kemudian permisi untuk pergi duluan.
--
Peat membawa Kiew. Kiew bertanya kemana Peat mau membawanya? Dia masih harus bekerja. Tapi, Peat tidak menjawab pertanyaannya dan itu membuatnya kesal.
--
Chaya masuk kembali ke dalam perusahaan dan menuju ruang kerja Peat. Pa mengikutinya. Katha menahan Pa, biar dia yang mengurus temannya itu.
Katha masuk ke dalam ruang kerja Peat, dan bertanya pada Chaya, “Apa yang terjadi?”
“Jangan menggangguku!”
“Aku juga tidak ingin mengganggu! Tapi kau bertingkah seperti orang gila! Kenapa? Kau tidak tahan melihat Peat pergi dengan Kiew, kan?”
“Khata!” marah Kiew.
“Jangan marah jika aku benar. Tapi menjadi orang ketiga, kau harus kuat melihat hal seperti ini seumur hidupmu.”
Chaya semakin marah dan mengusir Katha keluar. Dia bahka melempar bantal sofa pada Katha.

Pa tertawa begitu Katha keluar karena di teriaki dan di lempari bantal sofa. Katha jadi ikut tertawa, dia juga merasa aneh, padahal dia hanya bilang kebenaran. Mereka juga bertemu Kris, dan Kris bisa menebak kalau mereka datang karena di panggil Khun Nai juga. Pa membenarkan. Dan bahkan kalau dia yang jadi Khun Nai, dia pasti juga akan curiga. Katha masih yakin kalau bukan salah satu dari mereka yang menyebarkan berita itu. Mungkin salah seorang dari orang yang terliba test DNA dulu.
“Kita teman. Tidak mungkin saling mengkhianati kan?” ujar Katha.
“Benar. Ktia teman. Bagaimana mungkin saling menyakiti,” timpal Kris.
Dan Pa terlihat curiga dengan Kris. Kris menyadari tatapan aneh Pa dan bertanya ada apa? Tapi, Pa mengatakan tidak ada apa-apa dan hanya memikirkan sesuatu.
--
Akhirnya, Peat dan Kiew bicara di tempaty yang sepi. Kiew langsung bertanya tujuan Peat membawanya kemari? Jika Peat hendak menyakitinya, dia akan berteriak keras agar orang lain mendengarnya. Dia menyuruh Peat cepat mengatakan apa maunya?
“Kau ingin tahu yang ku mau, kan? Aku mau kebenaran! Sekarang hanya ada kita berdua. Tidak ada ayah. Tidak ada reporter. Kau tidak perlu berakting seperti orang baik. Bilang padaku, kenapa kau melakukan segalanya?”
“Aku tidak berakting. Semua yang sudah pernah ku katakan adalah benar. Walau sebanyak apapun kau bertanya, jawabannya akan tetap sama.”
Tapi, Peat terus tidak percaya. Kiew menyatakan kalau dia sudah lelah dan ingin mengakhiri segalanya sekarang.
“Tidak bisa. Aku tidak mengizinkan segalanya berakhir.”
“Kenapa kau masih bertahan? Kau masih belum puas menyakiti hatiku?”
“Jawab aku! Kenapa kau melindungiku? Bilang padaku yang sebenarnya. Bilang.”
“Aku melakukannya untukmu. Aku ingin melindungimu! Aku tidak tahan melihat orang yang ku cintai terluka. Sudah puas? Aku tanya, apa kau sudah puas?” marah Kiew dan berbalik pergi.
Peat memeluknya dan menahannya pergi. Kiew benar-benar lelah dan dengan suara pelan berkata : “Sudah cukup, Peat. Tolong jangan sakiti hatiku lebih dari ini lagi. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Jika kau sudah tidak mencintaiku lagi, biarkan aku pergi. Jangan menggangguku lagi.”
--
Khun Nai dengan di dampingi Teee berbicara dengan Katha, Kris dan Pa. Dia menjelaskan kalau dia mengumpulkan mereka untuk memastikan kalau bukan salah satu di antara mereka yang menyebarkan mengenai hasil test DNA Peat. Dan karena mereka bilang bukan, maka dia akan menyelidiki lebih lanjut bagaiman cara reporter mengetahui hal itu.
Katha setuju, dia juga ingin tahu siapa orang yang menyebarkan berita itu dan apa keuntungan yang mereka dapat dengan tersebarnya berita itu.
Tee menatap penuh kecurigaan pada Kris.
Selesai berbincang dan setelah semuanya sudah pergi, Tee bertanya pada Khun Nai, kenapa Khun Nai mengumpulkan semua teman-temannya Peat dan bertanya secara langsung? Biarkan saja dia yang menyelidiki dan mungkin mereka bisa menemukan sesuatu.
“Agar aku bisa melihat siapa yang bertingkah mencurigakan,” ujar Khun Nai.
“Itu… Khun Nai, Anda merasa kalau salah seorang dari mereka adalah orang yang menyebarkan berita itu?”
“Aku juga tidak yakin. Tapi, aku tidak bisa yakin sepenuhnya. Situasai seperti ini, kita tdak bisa mempercayai siapapun. Tee, tolong selidiki siapa pelakunya.”
“Ya, khun Nai.”
--
“Jika kau sudah memutuskan untuk bersama Khun Chaya, maka pergi kepadanya,” tegas Kiew. “Biarkan aku sendiri,” lanjut Kiew dan melepaskan pelukan Peat.
Peat hanya bisa diam melihat KIew yang berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
--
Chaya pulang ke rumah Khun Nai. Dan dia langsung mencari Taeng, dan bertanya, apa Peat sudah pulang atau tidak?! dengan kesal Taeng menjawab : “Belum.” Chaya langsung pergi lagi dengan kesal.
--

Tee pergi ke bawah jembatan dan bertingkah mencurigakan. Dia tidak menyadari kalau Kris diam-diam mengikutinya dari belakang.
Tee menemui seorang pria dan memberikan amplop coklat berisi uang pada pria itu. Tee meminta pria itu untuk bersabar sedikit lagi. tapi, pria itu malah mengeluarkan pistolnya dan memukul Tee. Dia tidak bisa bersabar lagi setelah memberikan waktu 1 minggu pada Tee, dia ingin Tee segera mengembalikan hutang 1 juta baht -nya. Jika tidak, dia akan membunuh Tee. Dan jangan pernah berpikir untuk kabur!

Setelah pria itu pergi, Kris menghampiri Tee. Dan Tee jelas kaget melihat Kris.
--
Kiew pulang ke rumah dengan mata sembab. Dan Taeng yang melihatnya merasa khawatir dan bertanya siapa yang membuat Kiew menangis? Bersamaan dengan itu, Peat juga tiba di rumah. Peat segera memberi perintah pada Taeng untuk memindahkan semua barang di kamar Kiew kembali ke kamar pengantin. Taeng tidak berani membantah dan hanya menjawab : ya.
Tapi, Kiew menolak. Dia tidak ingin pindah sekamar dengan Peat lagi. Chaya yang berada di atas tangga mendengar pembicaraan mereka. Dan dia juga mendengar Peat memaksa Kiew untuk kembali tinggal di kamar bersamanya.
“Aku tidak akan pindah,” tegas Kiew.
“Aku tidak peduli. Karena kau sudah menjadi istriku, tugasmu adalah tidur di kamar yang sama denganku! Kalau kau terluka, patah hati hingga mau mati itu adalah urusanmu.”
Kiew jelas marah mendengar ucapan Peat. Tapi, Peat menarik Kiew. Chaya panik dan bergegas turun. Dia memanggil nama Peat dan kemudian terduduk di tangga karena pusing.
Peat langsung menghampirinya. Dan Chaya meminta Peat untuk membawanya ke kamar. Peat ragu tapi akhirnya dia memilih untuk mengantarkan Chaya ke dalam kamar. Hati Kiew semakin terluka melihat hal itu.
--
Peat menanyakan keadaan Chaya dan menawarkan untuk membawa Chaya ke rumah sakit. Chaya menolak dengan alasan kalau istirahat sebentar juga sudah lebih baik. Peat memeriksa suhu tubuh Chaya dan tidak panas.
“Ya udah, istirahat saja. Jika kau masih belum baik, kita ke rumah sakit,” ujar Peat dan mau pergi. 
Tapi, Chaya langsung menarik tangan Peat dan meminta Peat untuk menemaninya. Dia tidak mau sendirian. Peat terdiam sesaat sebelum menjawab setuju.
Kiew yang melihat dari depan pintu, tidak mendengar pembicaraan mereka. Dia hanya melihat Chaya yang terus menggenggam tangan Peat.

Kiew kembali ke kamarnya dan melihat Taeng yang sudah menyusun pakaiannya dan akan memindahkannya ke kamar pengantin. Kiew menyuruh Taeng untuk meletakkannya dan berkata dia tidak akan pindah.
“Khun Chaya tidak sehat. Khun Peat akan menjaganya. Dia mungkin tidak akan kembali tidur di kamar itu. Dia menyuruhmu melakukannya (memindahkan barang Kiew ke kamar pengantin) adalah  karena dia ingin menang.”
“Tidak tidak. Aku rasa kalau Khun Peat benar-benar ingin kau kembali,” pendapat Taeng.
“Dia hanya ingin menang melawanku,” tegas Kiew.
Taeng masih berusaha membela Peat, tapi Kiew sudah tidak mau mendengar apapun lagi. Taeng mengerti dan memilih keluar.
--
Kiew dan Khun Nai makan malam bersama. Tapi, Kiew tampak tidak berselera. Hal itu membuat Khun Nai merasa khawatir. Dia menyuruh Kiew untuk tidak memikirkan berita tadi dan kembali bersemangat. Kiew mengiyakan dan menyuruh Khun Nai juga untuk makan lebih banyak.
Khun Nai kemudian bertanya pada Taeng, dimana Peat? Taeng menjelaskan kalau Khun Chaya sedang tidak sehat dan Peat sedang menjaganya.
“Taeng, kau yang harus menjaga Khun Chaya. Kau tahu itu? jangan biarkan Khun Peat yang menjaganya sendiri,” perintah Khun Nai.
“Baiklah. Aku akan menjaga Khun Chaya,” ujar Taeng bersemangat, mengerti maksud Khun Nai.
--

Peat berada di kamar Chaya dan menyuapi Chaya. Chaya sangat senang karena Peat menjadi perhatian padanya. Dan Chaya mulai bermanja-manja pada Peat walaupun Peat mengabaikan manjaannya itu. Dia hanya menyuruh Chaya untuk beristirahat.
--
Kiew berada di dalam kamarnya. Dia kesulitan untuk tidur.

Peat masuk ke kamar pengantin usai memastikan Chaya tidur. Tapi, dia melihat kalau kamarnya masih kosong, belum ada barang Kiew. Dia segera pergi ke kamar Kiew dan mengetuk pintu dengan keras. Kiew membukakannya.
“Aku sudah bilang, kau harus tidur di kamar itu. Kenapa kau tidak mendengarkanku?” marah Peat.
Chaya yang sedang tidur, terbangun. Dan dia tidak melihat Peat. Dia langsung panik.
“Aku tidak mau mendengarkanmu. Aku tidak mau menjadi korbanmu lagi!” tegas Kiew. “Kau tidak bisa memaksaku. Jangan memaksaku dengan kata ‘tugas seorang istri’! Itu tidak berguna. Karena kau sendiri juga tidak tahu apa itu ‘tugas seorang suami yang baik’,” tegas Kiew dan langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
Chaya mendengar pembicaraan mereka. Dan tampak marah, apalagi saat Peat menggedor menyuruh Kiew membuka pintu.
Chaya kembali ke dalam kamarnya. Dan dia ingat saat tadi Peat mengibaskan tangannya saat dia menghalanginya pergi dengan Kiew.
“Peat tidak benar-benar mencintainya!” yakinkan Chaya pada dirinya sendiri.
--
Esok pagi,
Tee menyerahkan sebuah dokumen pada Kris dan mengatakan kalau dia sudah membuat dokumen itu sesuai denga yang Kris inginkan. Kris memeriksanya dan puas dengan hasilnya. Itu dokumen laporan keuangan dimana yang menandatangani adalah Peat.

Flashback
Saat Kris menghampiri Tee kemarin, dia memberitahu kalau dia sudah melihat semuanya dan tahu kalau Tee membutuhkan uang sekarang ini, hingga Tee bekerja sama dengan manager finance dan menggelapkan uang perusahaan. Dan dia juga tahu kalau ada uang tanpa asal yang jelas masuk ke dalam rekening Tee.
“Jika Khun Nai tahu masalah ini, dia pasti akan sangat marah. Karena anak buah kepercayaan-nya, mengkhianatinya.”
“Aku juga tidak ingin melakukan hal ini. Tapi, aku harus melakukannya, jika aku tidak mendapatkan uang untuk membayar hutangku, aku pasti tidak akan bisa hidup.”
“Aku sudah percaya kalau uang bisa membeli segalanya!”
“Apa yang kau inginkan? Aku bersedia melakukan segalanya, tapi aku hanya minta satu hal. Jangan beritahu hal ini pada Khun Nai. Aku tidak ingin Khun Nai kecewa padaku.”
“Aku tidak meminta banyak. Hanya bekerja sama-lah denganku. Dan aku akan menjaga rahasia ini.”
“Baiklah. Aku bisa melakukannya. Tapi… apa yang kau ingin aku lakukan?”
“Hancurkan hidup Ai-Peat,” ujar Kris dan tersenyum sinis. “Coba kau pikirkan, jika Ai-Peat hancur, paman pasti akan sibuk terkait masalah Ai-Peat. Dia tidak akan punya waktu untuk mencari kesalahan orang lain. Sekarang, rahasia penggelapan uang itu akan terus menjadi rahasia. Aku juga punya uang untukmu juga. Tapi, jika kau tidak mau melakukannya, hidupmu pasti akan hancur, Khun Tee.”
“Setuju! Apapun yang kau inginkan, akan ku lakukan.”
Kris mengulurkan tangannya dan Tee menyambut uluran tangan Kris. Mereka saling bersalaman.
End
Kris memberikan segepok uang pada Tee. Dan jika Tee memerlukan sesuatu lebih, bilang saja padanya. Tee menerima uang itu dan berterimakasih.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Tee.
“Aku akan membuat Ai-Peat menjadi kambing hitam masalah ini. Jadi, orang-orang akan menilainya sebagai orang jahat!”
 BERSAMBUNG
 

1 comment: