Saturday, January 26, 2019

Sinopsis C-Movie : To My 19 Year-Old (part 2)

0 comments


Pagi hari. Yi Xue melakukan lari pagi. Kemudian setelah itu, dia kembali ke asrama dan menimbang berat badannya. Dan ketika dia melihat hasilnya, dia mengeluh karena dia sudah berlari selama satu jam serta tidak ada memakan apapun sejak pagi, tapi berat badannya malah hanya berkurang sedikit saja.



“Dari sudut pandangku. Kamu tidak harus mengurangin berat badanmu. Itu terlalu sulit bagimu. Kamu memiliki wajah bulat yang kecil dan pipi tembem. Jika kamu menjadi lebih kurus, kamu tahu kan…” komentar Dongdong.

“Diam. Wajahku kecil. Tapi lihat lah perutku, besar dan begitu banyak lemak, kamu tidak tahu sakitnya hatiku,” balas Yi Xue.



Teman sekamar Yi Xue yang berbadan sedikit gemuk, Da Mao. Ketika dia membuka pintu kamar, dia terhalang oleh tumpukan pakaian Li Qian yang berada dibelakang pintu. Da Mao mengomeli Li Qian yang jarang menyuci pakaian, dan telah menaruh pakaian itu selama setengah bulan di sini.

“Biar aku yang mengurus pakaian itu,” kata Yi Xue menengahi mereka. Lalu dia menanyakan siapa yang akan membeli timbangan badan baru.



“Aku. Aku akan menemukan satu pria tampan hari ini!” kata Li Qian dengan bersemangat sambil memakai kutek di kuku nya. Dan Dongdong memuji Li Qian yang tampak sangat cantik hari ini. Lalu secara serempak dia dan Da Mao menanyakan siapa yang akan menjadi mangsa baru Li Qian sekarang.

“Jangan bertanya, akankah dia membiarkan mangsanya melarikan diri begitu saja? Seluruh universitas akan tahu hal itu dalam 2 hari,” kata Yi Xue menyela mereka semua. Dia kemudian mengambil keranjang pakaian kotor Li Qian dan membawa nya keluar untuk dicuci.


Ibu pengurus asrama datang dan berteriak kepada seluruh murid. Dia menyuruh mereka untuk bersiap dan memakai pakaian, karena akan ada pria yang datang ke asrama mereka.


Tiga orang pria berpenampilan biasa dengan gaya sok keren masuk ke dalam gedung asrama. Dan melihat mereka, setiap murid perempuan menatap mereka dengan pandangan tidak tertarik sama sekali. Tapi ketiga pria itu tidak sadar sama sekali.

Lalu ketika setiap murid perempuan berhamburan keluar dari asrama, barulah mereka bertiga sadar bahwa tidak ada yang tertarik kepada mereka.


Mo Xiao Feng memberikan seekor kucing segelas susu, dan membantunya. Disekelilingnya setiap perempuan menatapnya dengan pandangan memuja, mereka mengatakan bahwa Xia Feng sangat tampan sekali dan mirip dengan Idola mereka.



Yi Xue yang kebetulan berada disana, dia merasa penasaran. Dan saat dia melihat Xiao Feng yang  berjalan masuk ke dalam gedung asrama. Dia melihat Xiao Feng seperti melihat seorang Idola terkenal yang sangat tampan dan keren.



“Kita berempat bisa bersantai di taman yang besar, dan menikmati hal yang kita suka,” canda Xiao Feng sambil tertawa bersama ketiga temannya. Dan mendengar itu, Yi Xue langsung tampak tidak tertarik kepada Xiao Feng.


Ibu pengurus asrama menjelaskan kepada setiap murid perempuan yang berada diasrama. Dia mengatakan bahwa saat ini tabung air diasrama laki2, dikamar 101, itu sedang rusak dan butuh waktu untuk memperbaikinya. Serta tidak ada kamar cadangan yang tersedia untuk mereka berempat di asrama laki2. Maka dari itu, mulai hari ini mereka berempat akan tinggal disini.


Kronologis Peristiwa.

Didalam kamar. Ketika mereka berempat sedang makan sup bersama, tiba- tiba saja banyak air yang menetes dari atas kamar mereka, tepat di tengah meja makan mereka.

“Kenapa ada hujan?” tanya si Kacamata.

“Eh… mengapa hujan nya terasa asin ya?” tanya si Gemuk.



Mereka berempat lalu melihat ke atas, dan ternyata atap kamar mereka sedikit bocor. Mengetahui hal itu, mereka pun segera memindahkan sup mereka agar tidak terkena. Tapi ketika mereka lanjut makan lagi, tiba2 saja atap diatas mereka roboh. Dan seorang pria yang sedang boker terjatuh ke bawah bersama dengan kloset yang sedang didudukinya.

“Kenapa jadi begini?”

“Ini bukan panci panas!! Dasar sialan!!” keluh si Gemuk sambil berusaha membersihkan lidahnya.

Kronologis End.

Ibu pengurus asrama mengingatkan setiap murid perempuan untuk berhati2 dan lebih banyak memakai pakaian saat mau keluar dari dalam kamar. Dan mereka tidak boleh memperlihatkan apa yang seharusnya tidak diperlihatkan. Serta jangan menggantung pakaian dalam  di terali jendela lagi.

Kemudian selesai mengingatkan setiap murid perempuan diasrama, Ibu pengurus asrama menunjukan kepada Xiao Feng dan ketiga temannya, kamar dimana mereka berempat akan tinggal sekarang.



Dongdong segera menutup pakaiannya yang sedikit terbuka, ketika Xiao Feng dan ketiga temannya berjalan ke arah mereka. Begitu juga dengan Yi Xue.

Ketika tanpa sengaja bola voli yang Xiao Feng bawa terjatuh di dekat kaki Yi Xue, dia pun menyuruh agar Yi Xue menendangkan bola itu ke arahnya. Tapi Yi Xue menolak, dia mengingatkan bahwa Xiao Feng harus menggunakan kata ‘tolong’.


“Baiklah. Tolong, tendang bolanya ke sini,” kata Xiao Feng dengan sikap santai. Dan Yi Xue pun langsung menendang bola itu tepat ke wajah Xiao Feng.

Li Qian datang dan mengambilkan bola voli itu. “Xiao Feng, dia sahabatku. Dia tidak bermaksud jahat,” kata Li Qian dengan lembut.


Kesal melihat itu, Yi Xue berjalan melewati mereka berdua dan menyenggol bahu Xiao Feng dengan kuat.

“Siapa namamu?” tanya Xiao Feng.

“Lei Feng!” balas Xi Yue dengan sembarangan.



Didalam kamar mandi. Yi Xue mengeluh, karena setelah keempat pria itu tinggal diasrama mereka, kini setiap mau keluar dari kamar mandi ke kamar, mereka harus berpakaian. Tapi Li Qian sama sekali tidak masalah para pria itu tinggal disini.

“Terus terang. Seperti yang kamu tahu, Mo Xiao Feng mengejar- ngejar ku. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya dua hari yang lalu, sebelum dia pindah. Jadi…” kata Li Qian dengan bangga. Dan Yi Xue langsung menyela.

“Jadi kamu bilang iya. Bagaimana bisa seorang gadis seperti mu memberikan hatinya kepada orang brengsek seperti itu?” komentar Yi Xue.

“Kamu tidak mengerti. Dia seperi sinar matahari yang hangat, humoris, dan pesona nya memancar. Juga dia sangat tampan di lapangan voli,” balas Li Qian dengan senang.



Xiao Feng berserta ketiga temannya bergiliran untuk mengintip para gadis yang sedang mandi. Giliran pertama adalah Xiao Feng, dia memanjat sesuatu untuk mengintip dari jendela kamar mandi. Tapi baru sebentar dia mengintip, ketiga temannya yang tidak sabaran meminta ganti giliran mengintipnya. Dan karena itulah, mereka ketahuan oleh Yi Xue.

“Cepat pakai bajumu. Seseorang mengintip,” kata Yi Xue. Dan setiap orang pun langsung masuk ke dalam bilik kamar mandi.

“Kita ketahuan. Ayo pergi,” kata Mo Xiao Feng memberitahu ketiga temannya, tapi belum sempat dia turun, ketiga temannya yang ketakutan langsung melarikan diri sambil membawa tangganya. Sehingga Xiao Feng tidak bisa turun.



Yi Xue datang membawa sapu, tepat disaat Xiao Feng meloncat turun. “Rupanya itu kamu?” kata Yi Xue, saat mengetahui siapa orang yang mengintipin mereka.



“Terus kenapa?” balas Xiao Feng dengan berani.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Yi Xue sambil mendorong dada Xiao Feng.

“Aku mengintip seorang gadis yang sedang mandi,” jawab Xiao Feng, jujur.



Yi Xue mendorong Xiao Feng ke dinding dan menahannya, lalu dia mulai ingin memarahi Xiao Feng. Tapi Xiao Feng langsung menarik dan mendorong Yi Xue ke tembok. Ternyata Xiao Feng melakukan itu, karena Yi Xue sedang berpakaian sedikit terbuka, dan disaat itu ada orang yang sedang lewat di dekat mereka.

“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Yi Xue dengan tegas, ketika Xiao Feng menatapnya.

“Terlalu memalukan untuk dilihat,” jawab Xiao Feng.

“Kamu tahu apa itu rasa malu?”

“Aku membicarakan tentang kegemukanmu,” bisik Xiao Feng dengan suara kecil.



Yi Xue langsung menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya. Kemudian dia memegang leher Xiao Feng dan menariknya mendekat. “Kamu seharusnya tidak berbicara sepatah kata pun. Tentang aku yang gemuk,” kata Yi Xue dengan marah, lalu dia menendang benda penting Xiao Feng, dan pergi.

Dengan kesakitan, Xiao Feng pun meringis sambil memegang bagian penting dirinya yang Yi Xue tendang dengan sangat kuat itu.



Keesokan harinya. Diatas atap. Saat sedang bermain gitar, Xiao Feng melihat Yi Xue datang untuk menjemur pakaian. Dan dia pun berteriak memangil Yi Xue dengan sebutan ‘Bakso’, lalu dia mendekati Yi Xue.

“Aku akan memanggilmu begitu mulai sekarang,” canda Xiao Feng.

“Beraninya kamu!!” balas Yi Xue sambil bergerak untuk menendang Xia Feng. Tapi dengan segera Xiao Feng langsung menghindar sambil melindungin bagian dirinya yang semalam ditendang.


Didalam kelas. Saat sedang membersihkan tengkorak palsu, Yi Xue teringat akan Xiao Feng. Dia melihat seolah tengkorak itu adalah wajah Xiao Feng yang sedang bersin, karena dia mengusapnya menggunakan kuas.

Tepat disaat itu, Xiao Feng mengetuk jendela kelasnya. Dan karena itu Yi Xue pun merasa kaget, dan langsung menjatuhkan tengkorak palsu itu ke lantai.





Guru menegur Yi Xue, dan Yi Xue langsung meminta maaf. Melihat hal itu, Xiao Feng masuk melalui jendela kelas dan menjelaskan kepada si Guru.

“Maaf. Aku Mo Xiao Feng dari kampus Fotografi. Hari ini adalah hari ulang tahun saya,  jadi bisakah Anda memberikan ijin kepada Yi Xue? Semua orang yang akan datang ke ulang tahun saya,” jelas Xiao Feng sambil melambaikan tangan kepada ketiga temannya, dan ketiga teman Yi Xue yang telah menunggu dibawah.

“Yang kami butuhkan adalah Nona Yang. Bisakah kamu memberikan ijin padanya?” pinta Xiao Feng kepada si Guru.

“Muda dan bebas. Baiklah, pergi sana,” kata si Guru memberikan izin.


Didalam café. Yi Xue mabuk dan naik ke atas meja. Dia berteriak memanggil pelayan untuk membawakan sebotol bir lagi. Dan melihat itu, Xiao Feng tersenyum, dia lalu membawa Yi Xue untuk turun dari atas meja.

“Bakso? Kamu memanggilnya seperti itu. Apakah aku terlihat seperti itu saat aku mabuk?” tanya Yi Xue sambil tertawa. Dan Xiao Feng menggangguk.

“Lihatlah dirimu. Dengan wajah merah itu. Kamu juga mabuk kan?” tanya Yi Xue lagi. Dan kali ini Xiao Feng hanya diam dan tidak bereaksi. Lalu karena itu, maka Yi Xue pun menjadi malas, dan pergi untuk ke kamar mandi.


Li Qian cemburu saat melihat mereka berdua pergi, jadi dia pun langsung berdiri dan ingin menyusul mereka. Tapi para teman Xiao Feng menahannya.


Xiao Feng menemain Yi Xue pulang, tapi Yi Xue menolak dan mengatakan bahwa dirinya tidak mabuk. Namun baru saja, dia berbicara begitu, dia kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh. Tapi untungnya Xiao Feng langsung menangkapnya.

Xiao Feng kemudian mengendong Yi Xue yang mabuk diatas punggungnya. Tapi dalam perjalanan pulang, tiba2 saja Yi Xue mau muntah, jadi dia pun langsung menurunkannya. Lalu dengan penuh perhatian dia melepaskan jaketnya dan memakaikann itu di bahu Yi Xue.



Saat Yi Xue yang telah selesai muntah mendekatinya, Xiao Feng langsung merasa mual. Dan dengan perhatian, Yi Xue langsung memlapkan mulut Xiao Feng.

“Kamu memiliki perut yang lebih kuat daripada aku. Hanya sedikit lebih kuat,” kata Yi Xue, kemudian dia berdiri secara tiba2. Dan Xiao Feng pun segera membantu serta menggendongnya kembali sambil tersenyum senang.



Keesokan harinya. Diatas atap. Xiao Feng dan Yi Xue mengobrol bersama selagi menjemur pakaian masing2 dijemuran.

“Li Qian adalah pacarku? Sejak kapan?” tanya Xiao Feng, tidak mengerti.

“Kamu tidak perlu berpura- pura. Dia telah memberitahuku,” balas Yi Xue.


Xiao Feng menyangkali semua itu. Dan Yi Xue membalas bahwa Li Qian temannya adalah gadis yang sangat cantik dan populer di kampus mereka, dan semua anak laki2 menyukainya. Lalu Xiao Feng bertanya, apa dia harus bersama dengan Li Qian karena Li Qian cantik.

“Tentu saja. Kamu kan serigala,” jawab Yi Xue.


Xiao Feng langsung mengejutkan Yi Xue seperti seekor serigala, dan ketika Yi Xue tampak kaget karenanya, dia tersenyum senang. “Sejujurnya, aku tidak pernah bosan melihat wajahmu yang seperti bakso,” goda Xiao Feng.

“Apa sih?” balas Xi Yue, tidak peka. Lalu dia mengejar untuk menendang Xiao Feng yang teruse memanggilnya ‘Bakso, bakso’.


Xiao Feng berhenti, saat dia merasakan bahwa Yi Xue tidak lagi mengejarnya. Dan Yi Xue sambil sibuk menjemur pakaian, dia menjawab bahwa ini bukan drama, dia harus mengeringkan pakaiannya, jika tidak warna nya akan luntur dan mengotori pakaian yang lain.

“Sangat tidak romantis,” komentar Xiao Feng.

“Tidak ada hal semacam itu di antara kita. Dasar membosankan!” balas Yi Xue.



Xiao Feng menanyakan kenapa Yi Xue sangat menyukai sejarah, dan Yi Xue pun menjawab. Lalu selagi Yi Xue sibuk bercerita tanpa memperhatikannya, dia memakai kameranya dan memotret Yi Xue beberapa kali.

“Karena kamu hanya melihat hal2 berdasarkan penampilan, kamu tidak akan mengerti. Banyak hal yang diwariskan oleh waktu. Mereka memiliki kisah2 yang indah. Aku ingin sekali mengelilingin situs2 warisan dunia, setelah lulus nanti. Aku akan menyimpan semua koleksi barang antik ku disatu ruangan. Dan aku akan mendengarkan cerita2 setiap hari,” cerita Yi Xue. Lalu dia menanyakan alasan Xiao Feng menyukai fotografi.


“Karena aku dapat menangkap banyak moment fantastis pada setiap moment dalam hidupku. Jadi aku akan membantu mu menangkap moment ini,” kata Xiao Feng sambil memotret Yi Xue sekali lagi. “yang kemudian akan berubah menjadi sebuah cerita. Waktu bagaikan pisau ukiran. Itu akan menciptakan suatu moment setiap hari. Gambar yang bagus tidak hanya akan menangkap kerutan wajah, tapi juga dapat melihat kisah2 yang sudah berlalu. Hey. Bakso! Tersenyumlah.”



Yi Xue mendekati Xiao Feng dan merebut kamera nya, kemudian dia memotret Xiao Feng menggunakan kamera itu. Dan tanpa rasa keberatan, Xiao Feng langsung tersenyum lebar dan membentuk V dengan dua jarinya.



Lalu selagi Yi Xue sibuk menggunakan kameranya untuk memotret hal yang lain, Xiao Feng memotret Yi Xue menggunakan kamera kecilnya. Dan mengetahui hal itu, Yi Xue balas memotret Xiao Feng yang sedang memotretnya.



“Biarkan aku melihat itu,” kata Yi Xue, mendekat.

“Memohonlah padaku,” balas Xiao Feng, menjauh.

“Biarkan aku melihat itu!! Aahh, mengerikan! Hapus gambar ku itu,” keluh Yi Xue melihat hasil dirinya yang dipotret.

“Bagaimana bisa kamu melihat gambar ini dengan jelas dari jarak sejauh itu?”

“Aku akan memukulmu jika kamu tidak menghapus foto itu,” kata Yi Xue sambil memukuli kepala Xiao Feng dengan pelan.

“Kamu sudah melakukannya,” balas Xiao Feng. Lalu dia kembali memotret Yi Xue.

***

Yi Xue berlari masuk ke dalam sebuah restoran. Disana dia menuju salah satu meja yang telah ditempatin oleh pelanggan yang lain.

“Maaf, kursi ini sangat penting bagiku,” jelas Yi Xue dengan nafas kelelahan, karena habis berlarian.

“Gila!” keluh si pelanggan. Lalu dia pergi dari meja sana ke meja yang lain.



Tanpa memperdulikan si Pelanggan itu, Yi Xue mengeluarkan kertas dan pena dari tas nya, lalu dia mulai menulis surat untuk dirinya sendiri di masa lalu.

“Hari ini sangat istimewa. Aku mengirimin mu surat yang bermakna ini dari sepuluh tahun kemudian. Aku Yang Yi Xue berusia 29 tahun.”


Setelah selesai menulis, Yi Xue memasukan surat itu ke dalam kotak tua dan menutupnya.

No comments:

Post a Comment