Friday, January 25, 2019

Sinopsis C-Movie : To My 19 Year-Old (part 1)

3 comments




Seorang pria bernama Mo Xiao Feng. Dia berjalan menelusuri jalan yang sedikit bersalju dan berbatuan, kemudian setibanya di tempat yang di inginkannya, dia memotret keindahan alam yang berada di hadapannya.



Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya. Dia berjalan ke arah pemukiman penduduk, dan disana dia tertarik kepada sebuah kotak tua yang dilihatnya di penjual jalanan. Ketika dia menanyakan berapa harga kotak tersebut, si kakek tua yang menjual menjawab ‘Sesuai dengan keinginanmu’. Dan dia pun menaruh beberapa uang kertas, lalu dia membawa kotak tua tersebut.


Salju turun. Dan dia melihat ke arah langit.


Didalam kamarnya. Mo Xiao Feng menuliskan surat untuk seseorang.

“Yi Xue, apa kabar? Salju sedang turun di sini? Apakah daun maple sudah memerah di sana? Ini surat ke – 99 ku. Aku telah hidup mengembara begitu lama, dan aku mulai merasa rindu kampung halaman…”



Mo Xiao Feng berjalan berkeliling mencari pemandangan indah diseluruh tempat yang dapat dikunjunginnya. Dan ketika malam sudah hampir tiba, dia mendirikan tenda didekat sungai dan duduk disana sambil menulis.

“… Akhirnya, aku menginjak kakiku di Jalan Tea- horse. Aku ingat kamu mengatakan nya kepadaku bahwa kamu ingin menjelejahi warisan dunia, dan mendengarkan kisah- kisah kuno. Menurutku mimpi indah itu tidak boleh di lupakan…”



Pagi hari. Mo Xiao Feng bersiap dengan seluruh bawaannya di dalam ransel, kemudian dia melanjtutkan perjalanannya ke tempat yang lain sambil memotret segala sesuatu yang dilihatnya.

“… Jadi aku pergi ke Moreno Glacier di Jerusalem, dan menginjakkan kaki di pasir di kota Nepal. Sekarang, aku di Jalan Tea- horse. Pemandangannya sangat indah di sepanjang jalan, itu sangat alami. Hati ini punya banyak cerita tanpa mu…”



Setelah selesai menulis surat ke – 99 nya. Mo Xiao Feng memasukan surat itu ke dalam kotak tua, dan lalu dia menutup kotak tua tersebut. Kemudian sambil merokok, dia berdiri memandang ke luar jendela.

“… Aku membayangkan tentang penampilan terakhir mu untuk beberapa kali. Berpikir tentang rambut ekor kuda mu. Aku juga membayangkan, kapan kita bertemu lagi. Ini akan menjadi cuaca yang baik, juga hangat. Tidak seperti di sini. Meskipun matahari terbit. Udara dingin menyengatku.”


Kotak tua yang telah di kunci tersebut, tiba- tiba terbuka sendiri.


Seorang wanita bernama Yang Yi Xue. Bangun tidur, dia berjalan ke arah dapur sambil menyisir rambutnya. Didapur, dia mendengarkan siaran berita di radio, sambil menikmati segelas kopi harum yang baru siap di seduh.

Selesai bersiap- siap, dia berjalan ke arah stasiun kereta. Kemudian saat kereta datang, dia masuk ke dalamnya. Dan disana dia bertemu dengan seorang pria kenalannya, dan si Pria dengan baik langsung berdiri dan memberikan tempat duduk untuk dirinya.



“Keadaan mu belum membaik. Jaga dirimu dan pakailah lebih banyak baju hangat. Ini air dan obat. Jangan minum kopi dengan perut yang kosong. Lihatlah dirimu. Ada lingkaran hitam di bawah mata mu. Apakah kamu bergadang sampai larut malam lagi?” tanya si Pria dengan penuh perhatian kepadanya. Dan dia hanya tersenyum menanggapi itu, tanpa menjawab.


Sebuah pesan teks masuk ke hape Yi Xue. Seorang teman nya menanyakan apa Yi Xue sudah mendengar kabar tentang kematia Mo Xiao Feng, saat berfoto di Jalan Tea- Horse, Xiao Feng tertinggal di gunung bersalju dan meninggal karena suhu yang dingin.

Membaca pesan itu Yi Xue memejam kan matanya dengan erat. Dia tampak sangat sedih.



Dirumah Xiao Feng. Yi Xue melihat sekumpulan foto yang diambil oleh Xiao Feng di berbagai tempat. Lalu Ibu Xiao Feng datang dan memberitahu kepadanya bahwa ada sesuatu yang ingin di berikan oleh Xiao Feng secara pribadi kepada Yi Xue, tapi pada akhirnya Xiao Feng tidak bisa memberikan itu sendiri.


Saat melihat foto Xiao Feng, dengan sedih Yi Xue memeluk foto tersebut dengan erat. Lalu Ibu Xiao Feng mendekatinya, dan dia memberikan sebuah kotak tua kepada Yi Xue.



“Dia menulis surat- surat ini untuk mu dalam waktu 10 tahun ini,” kata Ibu Xiao Feng sambil menangis, lalu dia pergi meninggalkan Yi Xue.



Yi Xue berjalan di tengah jalan dengan pandangan kosong, tanpa memperhatikan mobil yang melewatinya. Dia mengingat isi surat dari Xiao Feng untuknya.

“Yi Xue, salju turun di sini. Apakah disana daun maple berubah menjadi merah? Aku bertanya pada diri sendiri beberapa kali. Apakah aku seorang pria pemberani? Aku telah mendaki gunung tertinggi, dan melintasi gua terbesar. Namun ketika aku keluar dari kereta setelah 15 jam perjalanan. Aku hanya memesan semangkuk mie saja, di dekat perusahaanmu. Aku mendengar tentang kekasih mu. Seseorang yang pasti menjaga mu. Itu bagus untukmu.”



Yi Xue sampai di stasiun kereta. Dan ketika kereta datang, dia masuk ke dalamnya, lalu lanjut membaca satu persatu surat untuknya itu. Sambil membaca surat itu, dia terus menangis dengan keras, sehingga setiap orang di kereta memandanginnya dengan heran.

“Apakah kamu ingat saat Matahari terbenam di atap, 19 tahun yang lalu. Kamu mengatakan bahwa kamu akan berkeliling dunia. Sudahkah kamu berangkat? Aku telah menghabiskan 5 musim dingin untuk bepergian, tapi aku tidak pernah bertemu denganmu dimanapun. Dan aku… Aku sangat merindukan mu, Yan Yi Xue.”



Didalam kamarnya, Yi Xue menulis surat balasan untuk Xiao Feng yang telah tidak ada di dunia ini. Dia menulis surat itu sambil meneteskan air mata.

“Mo Xiao Feng, apa kabar mu disana? Apakah sedang turun salju? Daun maple berubah merah di sini. Sepuluh tahun yang lalu kita saling mengenal. Dan Delapan tahun kita tidak saling bertemu.”


Semua surat yang ditulis kan oleh Xiao Feng telah selesai Yi Xue baca.

“Dalam ingatanku, kamu adalah laki2 yang hanya mengutak- atik kamera, dan selalu berpakaian keren. Jika aku berani. Akankah ingatanku berubah? Kamu orang yang sangat mempesona, aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menegaskan perasaan mu kepadaku. Aku selalu berkata pada diri sendiri, pertemuan denganmu lebih baik daripada tidak pernah bertemu sama sekali. Aku lupa bahwa ada tiga hal di dunia ini yang tidak dapat disembunyikan, yaitu kesakitan, kemiskinan, dan mencintai mu. Sepuluh tahun, ini sudah terlambat, dan kita dipisahkan oleh kematian. Tapi Mo Xiao Feng. Aku masih sangat mencintaimu. Mencintaimu.”



Selesai menulis surat balasan untuk Xiao Feng, Yi Xue memasukan surat itu ke dalam kotak tua dan lalu dia menutup kotak tua tersebut. Kemudian sambil menangis, dia memeluk kotak tua tersebut, dan setetes air matanya jatuh mengenai kotak tua itu.

Kotak tua tersebut tiba- tiba tampak seperti mengeluarkan sinar bewarna biru yang tidak terlalu terang dari dalamnya. Tapi Yi Xue tidak menyadari hal itu, karena matanya tertutup. Kemudian terdengar suara kecil yang mengatakan ‘Nama’.



Mendengar itu, Yi Xue membuka matanya, kemudian dia membuka kotak tua tersebut. Dan dia merasa sangat heran, karena surat balasan yang ditulisnya dan dimasukan nya ke dalam kotak tersebut menghilang.

Mengira bahwa kotak tersebut berlubang, maka Yi Xue mencari surat balasannya di atas tumpukan surat dari Xiao Feng yang berserakan disekitarnya. Namun karena tidak menemukan nya, maka Yi Xue pun berbaring dan lalu dia tertidur.



Suara jam alarm berbunyi, dan mendengar itu Yi Xue pun terbangun. Kemudian secara ajaib sebuah surat tiba2 muncul di hadapannya, dan melihat itu Yi Xue merasa sangat terkejut. Lalu dia membaca surat tersebut, “Jika kamu yakin dan percaya. Mungkin kah akhirnya akan berbeda? Waktu pukul 23:00, 11 November 2017.”

Yi Xue melihat ke arah jam kecil diatas mejanya yang menunjukan pukul 23:00, 11 November 2017. Lalu dia melihat ke kotak tua yang terbuka disebelahnya. Merasa ada sesuatu yang aneh, Yi Xue mengambil sebuah kertas kosong dan menuliskan pukul 23:03, 11 November 2017. Kemudian dia memasukan surat itu ke dalam kotak tua tersebut dan menutupnya.



“Menghilang lah. Menghilang,” gumam Yi Xue berharap, lalu dia membuka kotak tua tersebut. Dan benar saja, surat yang dimasukannya ke dalam tadi telah menghilang.

Dengan gugup, Yi Xue memeluk kotak tua tersebut dan melihat ke arah jam diatas mejanya. Lalu tepat di saat jam menunjukan pukul 23:03. Surat yang ditulisnya barusan muncul secara ajaib dihadapannya.


“Aku bisa mengirim ini,” gumam Yi Xue dengan bersemangat.



Yi Xue memakai kacamata dan sepatunya dengan terburu- buru, lalu dia juga membawa tas nya. Kemudian sambil memeluk kotak tua tersebut dengan erat, dia berlari keluar dari rumahnya ke tempat yang jauh.

“Apakah ini keinginamu untukku? Atau karena aku sangat merindukanmu? Apa ini hanya ilusi? Atau tak masalahkah jika itu hanya fantasiku? Air mata itu benar adanya. Senyum itu juga benar adanya. Mencintaimu juga sebuah kebenaran. Memikirkan tentang mu dengan seluruh pikiranku. Tapi aku yang masih berusia 19 tahun, tidak pernah berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Kali ini aku harus memberitahumu dengan lantang.”

‘Mo Xiao Feng, bisakah kamu mendengarku? Aku menyukaimu. Aku menyukaimu. Aku menyukaimu. Aku akan selalu menyukai mu!!’

‘Siapa nama mu?’

‘Lei Feng’


‘Bakso’

3 comments: