Sunday, January 20, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 18 – 1

0 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 18 – 1
Images : Channel 3
Chaya merasa cemas karena Peat belum menghubunginya. Jadi, Chaya mengirim pesan pada Peat, meminta Peat memberitahunya jika sudah sampai di Seoul.
--

Peat mendesak Kiew untuk menjawab tujuannya kemari? Apa untuk mengikutinya? Kiew menjelaskan kalau dia datang untuk liburan dan tidak ada niat mengikuti Peat. Dan akhirnya mereka sadar kalau semua ini adalah kerjaan Khun Nai. Peat juga sadar, dia telah di tipu untuk datang kemari dengan alasan kerjaan.
Mereka saling berdebat dan membuat Kiew emosi.


Kiew segera keluar dan menelpon Khun Nai. Dia protes karena Khun Nai mengirimnya dan Peat untuk bersama. Padahal Khun Nai tahu kalau dia tidak ingin bertemu dengan Peat. Khun Nai menjawab telepon tanpa sadar kalau Kris ada di dekat sana dan mendengar pembicaraan mereka. Peat juga menguping dan dia tersenyum sinis saat Kiew berkata kalau setiap dia melihatnya, dia akan merasa terluka. Tetapi, Peat tidak lanjut mendengarkan.
“Aku tahu, sayang. Itulah kenapa aku melakukan hal ini. Aku mungkin tidak bisa merubah masa lalu, tapi aku akan melakukan segalanya untuk membuat saat ini dan masa depanmu dan Peat lebih baik. Aku mengatur perjalanan bulan madu ini karena aku ingin membuktikan bahwa cinta dapat mengalahkan kemarahan. Karena Peat telah menggunakan kemarahan untuk menghancurkan cinta, kamu harus menggunakan cinta untuk menghancurkan kemarahan di dalam diri Peat.”
“Ya, ayah,” jawab Kiew dan mematikan telepon.
Selesai berbicara dengan  Kiew, Khun Nai berbalik dan melihat Kris yang menatapnya.
--
Kiew kembali ke dalam kamar. Dia memikirkan perkataan ayahnya kalau Peat mencintainya, tapi kemarahan dan dendam membuat Peat mengabaikan hal tersebut.

Peat sudah bertukar baju. Dia menghampiri Kiew dan menyuruh Kiew untuk pindah kamar saja, karena dia tidak ada niat sama sekali untuk pindah dari kamar ini. Kiew menatapnya dan teringat lagi perkataan Khun Nai kalau dia harus menggunakan cinta untuk menghancurkan kemarahan di dalam diri Peat.
“Aku akan tinggal di sini,” beritahu Kiew. “Tinggal di kamar ini bersama denganmu! Karena aku adalah istrimu.”
“Jangan kira kalau aku tidak tahu apa yang kau dan ayah rencanakan.”
“Baguslah kalau kau tahu. Jadi aku tidak perlu mengatakan apapun.”
“Kau tidak akan bisa melakukannya, Kangsadan.”

“Tapi, aku akan melakukannya,” tekad Kiew. “Karena aku mencintaimu!” dan Kiew langsung memeluk Peat. Peat sampai kaget. “Aku sangat merindukanmu. Bukankah kau merindukan ku juga?”

“Aku…” Peat sedikit ragu untuk menjawab. Dia juga hampir memeluk Kiew, tapi dia tersadar dan segera menurunkan tangannya.

“Aku rasa, aku sudah mendapatkan jawabannya,” ujar Kiew. Dan dia  langsung mencium Peat. “Kau juga merindukanku!” senyum Kiew.
Peat benar-benar speechless dengan yang Kiew lakukan.
--

Khun Nai mengajak Kris bicara berdua. Dia menjelaskan kalau dia ingin Peat dan Kiew berdua saja, jadi dia membuat sedikit rencana. Jadi selama waktu bulan madu Peat, dia mempercayakan Kris untuk menghandle pekerjaan Peat. Kris mengerti dan akan menjaga itu sebagai rahasia.
“Tidak perlu. Karena Peat dan Kiew sudah menikah, jadi wajar jika mereka melakukan bulan madu.”
“Aku… maksudku Chaya,” jelas Kris.
“Mengenai Chaya… aku akan mengatasinya sendiri. Tapi Kris, kau tidak marah padaku kan? Jika aku menyakiti perasaan Chaya. Chaya membuat kesalahan sekarang. Aku harus memperingatinya, jadi dia mengerti. Aku tidak ingin Chaya tenggelam dalam rasa bersalah.”
“Aku juga tidak suka dengan yang Chaya lakukan juga. Jika paman Nai perlu bantuanku, paman bisa memberitahuku.”
“Terimakasih.”
--
Kiew menghubungi Pa dan memberitahu yang terjadi. Pa mendukung Kiew untuk mendapatkan Peat kembali dan jangan membiarkan Chaya mencuri Peat. Pa bahkan membiarkan saran-saran ekstrem pada Kiew untuk mendapatkan Peat.
Pas sekali, Peat keluar kamar dan hendak pergi keluar. Kiew langsung mengakhiri video call dengan Pa dan mengejar Peat.
Pa kemudian berpikir dan menyadari kalau itu artinya Chaya sekarang sendirian. Dia memikirkan sebuah rencana.
Kiew mengejar Peat keluar hotel dan bertanya Peat hendak kemana? Peat tidak mau memberitahu dan menyuruh Kiew untuk tidak ikut campur. Kiew kali ini memasang wajah tebal dan terus mengikuti Peat walaupun Peat berkata dia hanya memerlukan Chaya.
“Aku tidak percaya padamu,” ujar Kiew.

Peat tidak pediuli dan lanjut jalan. Kiew segera meraih tangan Peat dan menggandengnya. Kiew kemudian melihat ada sebuah toko baju yang menjual baju musim dingin yang bagus, dia meminta Peat untuk melihat baju di toko itu. Peat dengan dingin langsung duduk di pinggir jalan, yang artinya dia memberikan izin pada Kiew untuk masuk. Kiew memperingati Peat untuk tidak pergi kemanapun.


Kiew selesai berbelanja dan membeli baju baru. Peat sedikit terpana melihat penampilan Kiew. Dan Kiew menyadari itu. Kiew juga membelikan Peat syal dan langsung memasangkannya pada leher Peat.
--


Kiew membawa Peat berkeliling dan melihat-lihat barang. Kiew terlihat bahagia, dan hal itu membuat Peat tanpa sadar juga tersenyum melihatnya. Peat senang melihat senyum bahagia Kiew. Tapi saat Kiew menatapnya, Peat segera menghilangkan senyum di wajahnya dan berlalu pergi.
--
Kiew dan Peat melewati depan toko yang menjual lonceng angin, toko yang sama seperti Peat membeli lonceng angin untuk Kiew 4 tahun lalu. Kiew meminta Peat untuk berhenti sebentar, karena dia ingin membeli lonceng angin. Peat menolak karena itu bukan urusannya.
“Tapi itu benda yang berhubungan denganmu. Bukankah kau ingat pernah membelikan lonceng angin untukku?”
“Aku tidak ingat! Aku pernah membelikanmu benda tidak berguna seperti itu?”
“Ya, kau pernah membelikannya. Dan itu juga sangat penting bagiku. Tapi aku memecahkannya di hari yang sama kau mengalami kecelakaan motor.”
“Jadi kau ingin membeli ini untuk mengganti yang lama? Jika itu sangat penting untukmu, kau seharusnya menjaganya dengan lebih baik. Karena barang yang sudah rusak, meskipun kau membeli yang baru untuk menggantinya, kau tidak akan bisa menggantinya. Itu sama seperti perasaan manusia. Jika sudah hancur, tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya,” tegas Peat dan pergi meninggalkan Kiew.
“Bahkan meskipun itu sudah rusak, aku akan memperbaikinya hingga menjadi lebih baik. Kau mendengarku?”
Tapi Peat tidak menjawab dan terus meninggalkannya.
--
Kris masih sibuk mempelajari dokumen – dokumen dan menemukan hal yang aneh. Tee masuk ke dalam ruangannya dan menanyakan, apa benar kalau Kris meminta kepada dept. accountng untuk melihat laporan 3 bulan yang lalu? Apa ada masalah?
“Aku melihat ada angka yang tidak wajar. Jadi aku ingin memeriksanya agar lebih yakin.”
“Jadi… kau menemukan hal yang tidak normal?”
“Masih belum. Tapi segera, aku mungkin akan menemukannya. Jika aku menemukan hal yang tidak normal, aku akan segera memberitahu Khun Nai dan Khun Tee.”
“Baik. Tapi… khun Peat sudah memeriksa hal ini, seharusnya tidak ada masalah.”
“Peat itu hebat dalam marketing. Dan aku, aku ahli dalam angka-angka. Jika aku menemukan hal yang tidak di temukan Peat, maka itu bukan hal yang aneh.”
Tee tampak sedikit cemas.
--

Kiew mengejar Peat. Dia mengajak Peat untuk makan tteokbokki. Peat tidak mau, tapi Kiew terus memaksa karena dia lapar. Dia bahkan menawarkan Peat untuk lanjut bertengkar lagi jika mereka sudah selesai makan. Kiew terus merayu, dan Peat akhirnya setuju untuk makan.
--
Pa membawa Katha ke rumah Chaya dan menyuruh Katha untuk menyelesaikan masalah ini pada Chaya. Katha mengerti, dan menyuruh Pa untuk pulang saja. Pa dengan ketus bertanya, kenapa? Kau takut aku tidak akan bersabar dan malah menampar temanmu?
“Bukan begitu. Jika itu kamu, bagaimana perasaanmu jika temanmu membawa orang lain untuk bicara denganmu mengenai hal tidak bermoral yang telah kau lakukan? Bukankah kau akan marah dan merasa malu? Dan terlebih lagi aku adalah teman Chaya sementara kau adalah teman Kiew.  Kau dapat mengira kan akan merasa seberapa malu-nya Chaya? Tidak peduli seberapa marahnya aku pada Chaya, aku juga harus melindungi temanku.  Aku memberikan mu janji sebagai seorang pria, aku akan memperingatinya dengan serius. Mencari cara untuk menghentikan Chaya,” jelas Katha.
Dan dia mengajak Pa untuk melakukan pinky promise. Pa akhirnya mengerti dan membiarkan Katha untuk bicara berdua dengan Chaya.

Tapi…. Dia tidak pergi malah menguping. Dia kan nggak ada janji tidak akan menguping. Pas lagi asyik menguping, datang Taeng. Dia meminta izin untuk ikut menguping bersama dengan Pa. pa setuju, dan mereka lanjut nguping.
Katha menasehati Chaya mengenai perbuatan Chaya yang telah salah. Tapi, Chaya tidak peduli walaupun menurut orang-orang perbuatannya salah.
“Peat dan aku saling mencintai sebelum Kiew datang ke hidup Peat.”
“Peat bilang begitu?”
“Ya.”
“Kau percaya padanya?  Baik. Aku mungkin tidak tahu kalau Peat dan kau saling mencintai sebelumnya atau tidak, tapi Peat sudah menikah. Dan yang kalian lakukan ini salah. Jika Peat benar-benar mencintaimu, dia harusnya mengatakan hal itu sebelum menikah dengan Kiew. Dia tidak akan membiarkan masalah menjadi sebesar ini. Dan terlebih lagi, dia tidak mau bercerai sekarang. Jika kita katakan saja Peat mencintai Kiew, maka aku akan lebih mempercayai hal itu.”
“Khata! Jika kau mau mengatakan hal seperti itu, pergi saja! Pergi!”
“Kau berani mengusirku?! Rumah ini bukan milikmu (betul sekali!)! Biar ku tanya, jika Peat tidak bersedia menikah selama hidupnya, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan bertahan menjadi simpanan yang tinggal di rumah yang sama dengan istri sah selama hidupmu? Itu menjijikan!”
“Aku bukan simpanan! Aku satu-satunya wanita yang Peat cintai!”
“Orang yang saling mencintai tidak akan mencapai titik serendah ini! Ai-Pet bilang kalau dia akan segera menyelesaikan masalah ini. Terus, apa dia ada bilang padamu bagaimana dia akan menyelesaikan masalah ini?”
“Peat akan menjadi milikku selamanya. Aku akan menjadi satu-satunya wanita bagi Peat.”
“Dan jika cara Peat menyelesaikan masalah ini adalah menyingkirkanmu dari hidupnya dan memilih bersama dnegan Kiew selamanya, apa yang akan kau lakukan?”
“Peat tidak akan pernah melakukan hal itu! tidak seperti kau yang memihak pada orang lain, dan tidak memihakku!”
“Itu karena kita teman. Itulah kenapa aku memperingatimu ketika kau membuat kesalahan. Aku tidak bisa diam saja and membiarkan kau dan Peat melakukan hal menjijikan seperti ini! Chaya, pulanglah! Dan berhenti mengganggu Ai -Peat!”
“Terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku Katha! Tapi aku sudah memilih. Aku tidak akan pergi kemanapun.”
Katha kehilangan kata-kata, dia hanya bisa mengatakan : “Jika kau tidak mau mendengarkan tidak masalah. Tapi, jika suatu hari kau terluka, kau urus saja sendiri. Aku mungkin tidak akan bisa menolongmu sama sekali.”
“Hari seperti itu tidak akan pernah ada Katha.”
Katha memilih pergi. Chaya sudah benar-benar diluar kendali. Taeng dan Pa yang menguping saja sampai kesal. Taeng bahkan sampai menyebut Chaya tebal muka dan tidak tahu malu.
--

Kiew dan Peat makan bersama. Sebelum makan, Kiew sibuk memotret makanan, setelah itu dia memotret Peat. Peat menyadarinya dan melarang Kiew untuk memotretnya. Kiew menurut. Dia kemudian mengingatkan Peat kalau mereka pernah makan bersama dulu di sini, 4 tahun yang lalu. Peat ingat hal itu, tapi Peat bilang dia tidak ingat. Dan langsung pergi tanpa makan.
Kiew mengejarnya. Tapi, Peat terus berjalan dengan cepat meninggalkan Kiew.
“Kau seharusnya tidak datang ke hidupku dan merusak segala yang seharusnya menjadi milikku. Dan kau seharusnya meninggalkan hidupku dari dulu. Kenapa kau tidak pergi? Kenapa kau masih menggangguku? Sekarang kau masih tidak berhenti. Kau terus mengganggu,” marah Peat.
“Aku tidak akan berhenti hingga kau berhenti bungkam bahwa sebenarnya kau juga mencintaiku. Kau bilang mencintai orang lain, itu tidak benar. Kau berbohong padaku. Berbohong pada dirimu sendiri.”
“Aku tidak mencintaimu. Kau dengar? Aku tidak cintai padamu. Aku tidak bohong. Itu kebenarannya.  Aku membencimu! Itu kebenarannya!” tegas Peat dan meninggalkan Kiew seorang diri.
Kiew terluka mendengarnya. Dia tidak mengejar Peat lagi.
Kiew berdiam diri dan mencoba menguatkan dirinya. Dia bertanya-tanya, haruskah dia percaya pada perkataan Peat atau pada dirinya sendiri?




No comments:

Post a Comment