Saturday, February 23, 2019

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 14 - 2

1 comments

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 14 - 2
Images by : Mango TV

Sebelum pulang, Luo Xi sempat melihat He Mo yang berdiri diam menatap jendela. Hal ini membuat hati Luo Xi semakin merasa bersalah.
--
Dalam perjalanan pulang, Luo Xi teringat saat dia sudah berusaha meminta Le Xue memegang tangannya dengan erat, tapi pada akhirnya Le Xue di bawa menjauh darinya oleh prajurit Guo Yan. Dia juga terbayang kekecewaan He Mo karena tidak berhasil membawa Le Xue kembali.
--
Murong dan Qin Shang berjaga di rumah sakit. Tapi, Qin Shang tiba-tiba saja pergi.
--
Luo Xi tidak langsung pulang ke asrama, tapi duduk di pinggir sungai. Dia teringat kenangannya di sana bersama dengan Xue.
Flashback
“Xue, guru sejarah mengajarkan kita kalau orang-orang mengapungkan lentera ke sungai Lentera di hari Festival Zhong Yuan. Kenapa orang di kampus kita mengapungkan lentera di bulan Mei? Kenapa?”
“Aku dengan dari senior, siswa di sekolah kita mengapungkan lentera di Sungai Lentera di bulan Mei untuk berdoa agar mendapat nilai bagus dalam ujian.”
“Oh, begitu. Tapi nilaimu sudah bagus, kenapa kau juga mengapungkan lentera?”
“Aku mengapungkannya untukmu.”
Luo Xi tersenyum mendengarnya.
End

Saat sedang memikirkan kenangan itu, tiba-tiba saja terdengar suara Qin Shang. Luo Xi kaget karena Qin Shang bisa tahu dia ada di sini. Qin Shang memberitahu kalau dia tadi ke asrama tapi Luo Xi tidak ada di sana. Dan dia mendengar dari Fei Yan kalau Luo Xi kemungkinan datang kemari.
Qin Shang duduk di sebelah Luo Xi. Suasana terasa canggung.
“Luo Xi, kau tidak menyukaiku? Setiap kali aku berusaha membuatmu nyaman, perkataan Murong Yu lebih berarti daripadaku.”
“Itu karena dia lebih bijaksan daripada mu. Tidak ada satupun orang yang bsia menerima kelakuan burukmu. Di dinasti An, Murong sangat mencurigakan. Tapi itu karena dia tidak punya pilihan. Dalam berbagai tekanan, agar bisa hidup, dia tidak bisa percaya pada siapapun. Hidup penuh dengan rekayasa karena itu dia tidak menyukainya. Ketika dia tiba di sini, dia secara perlahan mulai membuka hatinya. Aku bisa melihat kalau kau sudah tidak membenci Murong Yu.”
“Kenapa kau bisa bilang begitu?”
“Aku hanya penasaran. Kalian berdua saling membenci sebelumnya. Kenapa kau bisa mempercayinya sekarang? Terutama di dinasti Chen, kalian berdua saling bekerja sama. Dengan kepribadianmu, apa kau tidak takut dia mengkhianatimu?”
“Aku tidak pernah mempercayainya. Aku hanya percaya kalau dia akan menyelamatkanmu.”
Suasana canggung mulai mencair dan mereka mulai bisa tertawa. Qin Shang kemudian melihat lentera-lentera yang berbentuk bunga di sungai dan bertanya apa itu? Luo Xi memberitahu kalau itu untuk Zhong Yuan festival dan juga untuk berdoa.
“Lalu kau tidak berdoa?” tanya Qin Shang.
“Tidak. aku tidak punya waktu untuk membelinya.”
Qin Shang tiba-tiba saja meminta Luo Xi untuk menunggu sebentar dan kemudian pergi.
Dan begitu kembali, Qin Shang telah membawa lentera bunga. Luo Xi kaget dan bertanya darimana Qn Shang mendapatkannya. Dia bisa menebak kalau Qin Shang pasti mencurinya. Qin Shang membantah, dia hanya menggunakan kebijaksanannya.
“Ini. berdoalah.”
“Sudahlah. Kau yang mencuri lentera itu, jadi tulislah keinginanmu.”
Qin Shang mulai menulis.
“Aku sudah menulis keinginanku sejak masih mahasiswi baru. Setiap kali, aku selalu menulis ‘lulus ujian’, Xue juga selalu menulis doa untukku, tapi aku tetap tidak lulus. Jadi, itu tidak berguna untukku. Tapi, kau berbeda. Kau adalah kaisar, jadi mungkin para peri akan bersedia mendengarkan keinginanmu.”
Qin Shang selesai menulis. Luo Xi langsung membantunya untuk mengapungkan lentera itu ke sungai.
“Apa keinginanmu?” tanya Luo Xi. “Biar ku tebak. Menyatukan dunia? Atau menikahiku sebagai ratu-mu?”
Tapi semuanya bukan. Luo Xi jadi semakin penasaran.
“Aku harap Luo Xi akan segera menemukan Le Xue. Jika kau tidak bisa menemukannya, kau tidak akan bahagia. Aku ingat saat bertama kita bertemu di Qi, kau berbohong padaku dan bilang kalau kau adalah Dewi. Kau sangat bersemangat dan penuh keceriaan saat itu. Mata-mu tersenyum. Tapi sekarang, kita sudah melompati waktu beberapa kali dan melalui banyak hal bersama, kau berpura-pura baik-baik saja. Tertawa dan bermain. Tapi matamu tidak bisa membohongiku. Aku bisa melihat kalau kau mengkhawatirkan Le Xue. Dan kau menyalahkan dirimu sendiri. Dan kau merasa bersalah tidak bisa membawanya kembali. Aku benci karena diriku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, berdoa agar kau bisa membawa Le Xue kembali. Aku hanya ingin melihat kau tersenyum seperti dulu.” (Awww…. Siapa yang nggak tersentuh mendengar ketulusan Qin Shang tersebut).
Luo Xi sangat tersentuh. Hingga dia mencium pipi Qin Shang. Perlahan, Qin Shang mendekat, dan mencium bibir Luo Xi. Luo Xi tidak menghindar sama sekali.



BERSAMBUNG

1 comment: