Monday, March 11, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 01 – 3

0 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 01 – 3
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
Esok hari,
Zi Hao memberi perintah kepada Li Jian agar manager setiap departemen pakaian wanita harus memberikan ide ataupun saran mengenai cara meningkatkan pendapatan departemen mereka. Dia bahkan menyarankan agar mereka membuat kuisioner untuk di isi oleh pekerja dan customer mereka.
Dan karena ini hari pertamanya bekerja di departemen pakaian wanita, dia ingin melihat bagaimana situasi di lapangan. Dia yakin kalau mall sedang ramai terutama di bagian penjualan pakaian wanita karena sekarang kan sudah mendekati musim natal.
Eh… tapi kenyataannya, lantai mall tempat menjual pakaian wanita malah kosong melompong. Zi Hao sampai tidak percaya dan mengira kalau dia sudah salah lantai. Li Jian menjawab tidak.
“Kenapa tidak ada satu orangpun?”
“Kita baru saja buka. Jadi, para customer masih tidur,” alasan Li Jian.

Tapi, Zi Hao merasa tidak demikian. Dia langsung pergi ke salah satu toko dan meminta supervisor toko di sana memberikan laporan penjualan baju kemarin. Tapi, ternyata tidak ada. Supervisor gugup dan membuat alasan kalau sebenarnya penjualan toko bagus, akan tetapi sejak bulan November, para customer lebih banyak yang datang melihat tanpa membeli. Dia juga tidak tahu apa alasan hal itu terjadi. Supervisor menjelaskan kalau para customer masih menghabiskan banyak uang untuk membeli makanan dan membeli ponsel baru, tapi untuk baju, mereka merasa kalau baju tahun kemarin masih bisa di pakai untuk tahun ini.
“Dan lagi, para wanita, mereka rela menghabiskan banyak uang untuk suami dan anak mereka, tapi untuk diri sendiri mereka sulit,” jelas supervisor.
“Li Jian, apakah aku terlalu impulsif?” tanya Zi Hao.
“Anda akhirnya sadar. Anda yang bilang akan bertanggung jawab ya,” sindir Li Jian.

Tidak lama, Zi Jie datang ke lantai tersebut dan semua SPG langsung menyambutnya dengan genit. Mereka dengan gaya genit berkata kalau mereka sedih karena Zi Jie pindah bagian dan meninggalkan mereka di sini. Zi Jie memperlakukan mereka dengan manja, dan bahkan sebagai tanda perpisahan, dia mempersilahkan para wanita itu untuk memilih pakaian yang mereka inginkan di lantai ini dan dia yang akan membayarnya. Semua langsung bersorak girang.
Zi Jie kemudia menghampiri Zi Hao. Zi Hao menyindir Zi Jie yang sekarang sedang berada dalam jam kantor tetapi malah menggoda para karyawan.
“Apa kau tidak lihat, sekarang ini aku sedang mencoba meningkatkan penjualanmu. Ini hari kerja pertamamu. Penjualan tidak boleh terlalu buruk. Aku rasa aku akan menghabiskan sekitar NT $300.000 hari ini. Bagaimana? Aku baik padamu kan. Ini karena kau menolongku di rapat pemegang saham kemarin,” ujar Zi Jie senang. “Udah ya, aku pergi dulu. Bye.”
Tidak lama, semua pengunjung wanita di mall tersebut mendapatkan pesan Line secara bersamaan yang isinya : Ke Ai Fashion Apparel- waktu terbatas untuk membeli koleksi pakaian terbaru!
Membaca pesan Line tersebut, para wanita yang ada di dalam mall langsung heboh apalagi melihat desain pakaian yang ada. Dan mereka bahkan berkata harus segera pergi ke pasar Tian Tian, atau mereka akan kehabisan.
Zi Hao mendengar kehebohan dan obrolan mereka tersebut. Apalagi para SPG langsung mengomel kalau customer mereka di curi lagi, dan hal itu sangat menjengkelkan.
“Pasar Tian Tian?” tanya Zi Hao.  
“Itu pasar tradisional di dekat sini. Aku selalu pergi ke sana untuk sarapan kue beras. Di sana ada toko baju,” jawab Li Jian.
“Pesan apa yang membuat para wanita itu menurut seperti domba?” bingung Zi Hao. “Mari kita pergi untuk melihatnya.”
--
Zi Hao dan Li Jian tiba di pasar tersebut. Tidak sulit mencari toko pakaian Ke Ai, karena mereka tinggal melihat di mana banyak wanita berkumpul.
Ke Ai sedang mempromosikan koleksi baju terbaru tokonya. Dan para wanita berkumpul dengan semangat untuk mendengarkan penjelasan desain tersebut. Ke Ai menggunakan tante Li Hua dan Wen Wen sebagai model untuk bajunya.


Zi Hao memperhatikan kerumuman itu. Dan matanya langsung membelalak begitu melihat kalau orang yang sedang menjelaskan mengenai baju itu adalah Chang Ke Ai!
Zi Hao terus memperhatikan ke arah Ke Ai, dan Li Jian mengira kalau Zi Hao memperhatikan Wen Wen, jadi dia memberitahu kalau Wen Wen adalah orang yang menjual kue beras di depan toko pakaian itu. Zi Hao mengabaikan ucapan Li Jian tersebut.
“Pemilik toko itu punya ingatan yang sangat bagus. Dia ingat semua ukuran dan baju yang pernah di beli setiap pelanggan,” beritahu Li Jian.
“Tentu saja,” ujar Zi Hao.

Salah satu pelanggan memuji Ke Ai yang sangat pintar hingga bisa ingat ukurannya. Dia yakin kalau Ke Ai pasti akan menjadi peringkat pertama jika ikut ujian masuk universitas. Atau Ke Ai adalah murid teratas dulu-nya?
“Kalian bercanda saja. Jika aku masuk universitas, siapa yang akan membuat style sempuran untuk kalian semua?” ujar Ke Ai.
“Ya, benar juga,” jawab semua pelanggan serempak.
Zi Hao tidak tahan lagi melihat dari jauh, jadi dia mendekat sambil menunjuk Ke Ai, “Ke Ai, ternyata kau. Kau mencuri semua pelangganku!”
Semua menatapnya bingung. Wen Wen bahkan langsung menyuruh Zi Hao untuk menurunkan jarinya. “Dia punya nama. Namanya Chang Ke Ai. Apa kau tidak tahu sopan santun?!”
Dari belakang, Li Jian langsung memberi kode kepada Wen Wen. Dan hebatnya, Wen Wen mengerti kode Li Jian yang mengatakan bahwa Zi Hao adalah wakil president Hua Li Dept. Store.
Ke Ai mengabaikan Zi Hao dan kembali sibuk melayani para pelanggannya. Dan tiba-tiba saja Li Jian berteriak karena teringat sesuatu : “Chang Ke Ai! Aku ingat sekarang! Dia kan juara pertama peringkat masuk universitas di angkatan kita! Dia lulus masuk universitas kita, tapi dia tidak datang saat daftar ulang.”
“Peringkat pertama?!” kaget Wen Wen.
Zi Hao sendiri langsung menarik Ke Ai keluar dari tokonya untuk bicara dengannya. Ibu Ke Ai tentu langsung memarahi Zi Hao, dan Zi Hao langsung minta maaf dengan sopan.
“Kau masih ingin mengingkarinya sampai sekarang?” tanya Zi Hao.
“Ingkari apa? Jika aku bisa…,” marah Ke Ai. “Eh, tunggu. Apa aku ada hutang uang sama mu?” tanya Ke Ai bingung.
“Aku di terima masih ke universitas tujuan pertama mu.”
“Oh ya? Terus? Selamat ya,” ujar Ke Ai dengan ekspresi malas.
“Kenapa kau tidak masuk?”
“Bukan urusanmu.”
“Aku tahu. Itu karena kau takut. Kau takut harus membawa tas sekolahku untuk satu tahun, makanya kau tidak masuk universitas.”
“Dasar orang gila!”

Tapi, Zi Hao malah ingin menghitung hutang taruhan waktu itu yang telah berlalu selama 10 tahun di tambah bunga untuk membawa tas itu. Ke Ai emosi dan menyuruh Zi Hao untuk tidak bermain-main dengannya, dia tidak punya waktu.
“Kalau kau mau beli baju, silahkan masuk. Jika tidak, jangan mengganggu usaha jualanku!” tegas Ke Ai dan langsung melemparkan garam ke arah Zi Hao. “Pergi!”
Zi Hao terhina dan mencoba tersenyum. Tapi, pada akhirnya dia memilih pergi.
--
Walau sudah kembali ke mall pun, Zi Hao masih membahas mengenai Ke Ai dan hutang Ke Ai yang harusnya membawa tas-nya selama setahun. Dia bahkan meminta pendapat Li Jian, kalau Ke Ai tidak mengangkat tas-nya sepuluh tahun yang lalu, maka bagaimana cara dia menghitung bunganya?
“Tapi, kau sekarang kan tidak bawa tas sekolah lagi,” ujar Li Jian.
“Jadi kenapa? Apa tidak boleh aku bawa koper atau tas ke kantor, hah?”
Li Jian tertawa tidak habis pikir. Kenapa Zi Hao malah menghabiskan waktu untuk memikirkan hal itu bukannya memikirkan mengenai cara meningkatkan penjualan departemen pakaian wanita. Chang Ke Ai bahkan lebih pandai jualan baju daripada Zi Hao.
“Kelihatannya, dia memang lebih pintar jualan baju daripada aku. Kenapa tidak kita pekerjakan saja dia di sini untuk menjual baju?” tanya Zi Hao.
Impossible!”
Why?”
Because… kau baru saja bertengkar dengannya. Kenapa dia harus membantumu?”

Zi Hao malah tersenyum. Li Jian ketakutan, karena setiap kali Zi Hao tersenyum seperti itu, pasti tidak akan ada hal baik. Li Jian sampai menyuruh Zi Hao untuk berhenti tersenyum.
“Tuliskan 20 cara untuk membujuk Chang Ke Ai agar mau bekerja di Hua Li Dept. Store. Dan kirimkan padaku 20 menit dari sekarang,” perintah Zi Hao pada Li Jian. 

No comments:

Post a Comment