Sunday, March 24, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 1 - part 1

0 comments
Krong Karm Episode 1 – part 1
Network : Channel 3

Di bar. Seorang wanita menyanyi dengan gembira di atas panggung. Kemudian setelah itu dia mengatakan bahwa dia mau merayakan untuk adiknya yang sekarang telah memiliki seorang suami yang manis, dan ini adalah hari terakhirnya bekerja di bar ini. “Mari rayakan untuk adik ku… Renu. Yay!!” teriaknya.

Wanita itu turun dari atas panggung, dan berkumpul bersama Renu serta suami Renu dan juga dengan semua teman- temannya. Lalu dengan bergembira mereka minum-minum bersama.

Di kereta. Renu menunjuk kejauhan dan mengatakan bahwa rumahnya berada disebelah sana dan sangat jauh, jika mereka berjalan kesana, maka kaki mereka akan sangat lelah. Dan Chai membalas bahwa bagaimana jika mereka ke rumah Renu nanti, karena sekarang mereka sudah menjadi suami- istri, jadi sudah seharusnya mereka ke rumah Renu untuk memberi penghormatan kepada kedua Ibu Renu, serta dia juga ingin lebih mengenal saudara Renu.


“Baiklah! Mari pergi ketika kita memiliki waktu bebas nantinya,” kata Renu setuju. Lalu dia menanyakan tentang apa yang Ibu Chai suka, dan apa yang Ibu Chai benci, sehingga dia bisa mempersiapkan dirinya dengan baik.

“Kamu akan melihatnya sendiri nanti,” balas Chai. Dan Renu tersenyum, mengiyakan.

Sesampainya di kampung halaman Chai. Disana mereka menaiki becak. Dan ketika melihat mereka, seorang tetangga menanyakan siapa wanita yang Chai bawa pulang. Dengan bangga, Renu pun tersenyum dan mengatakan,”Istri! Aku Istri P’Chai!” katanya, memperkenalkan diri.

“Huh? Istri Chai!” balas si tetangga terkejut. Lalu dia berteriak dan memberitahu kepada setiap orang bahwa Chai pulang membawa seorang Istri.

Para tetangga yang berada disana langsung berkumpul, dan bergosip. Si tetangga yang bertanya barusan, dia mengatakan kepada para tetangga lain bahwa Istri Chai sangat cantik, tapi sekali lihat saja, dia bisa menebak dengan mudah kalau istri Chai adalah seorang wanita penghibur.

“Aku benar- benar ingin mengetahui bagaimana perasaan Nang Yoi (Ibu Chai) nantinya, ketika dia tahu bahwa menantunya adalah seorang wanita penghibur!” kata si tetangga tersebut, tersenyum senang.

Setiba nya tiba di depan rumah Chai. Renu berkomentar bahwa rumah Chai sangat besar, dan ramai pengunjung.

“Hia’Chai!” panggil seorang wanita muda. (Hia berarti kakak tertua).

Chai turun dari becak berserta dengan Renu. Kemudian dia menyuruh si wanita muda itu untuk membantu mengangkatkan kopernya. Dan dengan segera si wanita muda pun membantu. Lalu dengan ramah, Renu menanyakan namanya.

“Aku Boonplook,” jawab si wanita muda, memperkenalkan dirinya.

“Pekerja di toko kami,” kata Chai, memperkenalkan Boonplook.


Chai lalu mengajak Renu untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan ketika melihat kepulangannya, Yoi langsung tersenyum senang dan menyambutnya. Tapi ketika dia melihat kedatangan Renu, dia berhenti tersenyum dan dengan tegas menanyakan siapa wanita yang bersama Chai itu dan mengapa Chai membawanya.


“Dia Renu,” kata Chai. Lalu dia menyuruh Renu untuk memberikan salam pada Ibunya.

“Halo, ma!” kata Renu dengan sopan. Tapi Yoi tidak menyukainya, dan dengan sinis menyuruh agar Renu tidak usah memanggil nya ‘ma’ seolah mereka keluarga.

Saat mengetahui kalau Renu adalah istri Chai. Yoi menjadi marah, karena menurutnya Renu adalah seorang wanita yang tidak benar, terlihat dari cara berpakaian Renu dan make- up Renu. Yang tampak sangat rendahan baginya. Lalu Yoi mengusir Renu keluar dari tokonya. Tapi Renu tidak mau perrgi, dan menolak untuk pergi.


“Wanita baik- baik tidak akan mengikuti pria seperti ini, dan mengumumkan kepada publik bahwa dia adalah istrinya. Kecuali wanita rendahan!” kata Yoi, berteriak marah.

“Aku berasal dari Takli,” balas Renu, memperkenalkan dirinya dengan tenang.

“Huh! Kamu pasti bekerja sebagai wanita panggilan!” balas Yoi.


“Kamu tahu dengan baik ya, bahwa tinggal di Takli berarti bekerja sebagai gadis panggilan di bar,” balas Renu, berani. “P’Chai mengapa kamu tidak memberitahu Ibu mu kalau aku tidak bisa pergi kemanapun,” kata Renu, dengan manja kepada Chai.

“Mengapa kamu tidak bisa pergi?” teriak Yoi.

“Aku hamil,” jawab Renu, singkat. Dan Yoi pun merasa syok.


Didalam rumah. Yoi memarahi Chai, dan Chai melawan, karena Renu adalah istrinya dan benar Ibu dari anaknya juga. Mendengar itu, Yoi semakin merasa marah, dia mengatakan bahwa sebelum Chai mengambil Renu menjadi istri, pernahkah Chai berpikir untuk bertanya padanya, karena apa yang Chai lakukan sekarang hanyalah masalah saja.


“P’Chai. Jika Ibu mu tidak bisa menerima ku, mari kita pergi,” panggil Renu sambil membawa kopernya. Dan Chai pun mengikutinya.

Melihat itu, Yoi merasa berat dan tidak mau membiarkan anaknya, Chai, pergi bersama Renu. Jadi dengan terpaksa dia pun mengambil sebuah kunci dan melemparkan nya kepada mereka. Lalu dia menyuruh mereka untuk tinggal dirumah kecil, karena dia tidak ingin membiarkan Renu tinggal di rumahnya ini dan membawa kesialan.


“Tapi itu rumah yang sepi!” kata Chai, keberatan.

“Kamu bisa tinggal di manapun. Jika tidak mau, maka pergi saja!” balas Yoi.

Renu memungut kunci yang dilemparkan kepadanya, dan berterima kasih kepada Yoi. Lalu dia mengajak Chai untuk pergi ke rumah itu. Dan Chai pun mengikutinya.

Chai meminta agar Renu tidak merasa marah kepada Ibu nya, dan Renu mengerti, karena baginya Ibu Chai adalah Ibu nya juga. Disaat itu seorang tetangga berteriak memanggil Chai, dan menanyakan siapa wanita yang bersama Chai.

“Aku Istri P’Chai,” kata Renu, memperkenalkan dirinya. Dan semua orang yang berada dipasar langsung memandangnya.
Tiba di rumah kecil, dengan gembira Renu mengatakan bahwa rumah itu seperti rumah impiannya. Dan Chai pun menjelaskan asal rumah itu, dan sebenarnya rumah kecil ini akan menjadi rumah pengantinya bersama…

“E’Philai!” kata Renu dengan sinis.

“Apa kamu mengenalnya? Mengapa kamu memanggilnya E?” tanya Chai, heran. (E panggilan kasar untuk memanggil wanita).

“Aku tidak kenal. Hanya saja aku tidak ingin mendengar namanya. Aku benci setiap orang yang mendekati kamu ataupun pacarmu itu. Aku possesive,” kata Renu. Dan Chai pun berhenti membahas tentang Philai.

“Aku mengerti. Aku tidak akan mengatakan itu lagi,” kata Chai, berjanji.

Renu dan Chai masuk ke dalam rumah. Dan ketika mereka masuk, keadaan didalam rumah itu sangat kotor dan tidak terawat, karena sudah lama tidak di tinggalin.



Ditoko. Yoi mengingat tentang kata- kata Chai yang telah berani melawannya, dan dia merasa stress. Lalu ketika Boonplook mendekatinya, dan menanyakan tentang Chai serta Renu, maka kekesalannya pun muncul kembali. Dengan tegas dan sedikit kesal, Yoi menyuruh Boonplook untuk tidak usah ikut campur dan kembali bekerja saja. Dan Boonplook pun menurut.
Dirumah kecil. Chai serta Renu bekerja sama dalam membersihkan rumah. Chai membersihkan halaman rumah. Sementara Renu menyapu dan mengepel dalam rumah. Kemudian bersama- sama mereka menlap perabotan di dalam rumah yang sudah berdebu tebal.


Chai kembali ke rumah, dan disana Yoi kembali memarahinya. Yoi mau agar Chai membawa Renu kembali ke bar, dan mengaborsi bayi didalam kandungan Renu, karena Yoi sangat yakin bahwa wanita seperti Renu pasti telah beberapa kali melakukan arbosi, jadi bila mereka kini melakukannya, itu tidak akan menjadi masalah.


Chai melawan, tapi Yoi tidak mau dibantah lagi. Karena Chai telah dijodohkan dengan Philai yang sempurna. Jadi dia tidak ingin membiarkan Chai melakukan sesuatu yang mempermalukan keluarga mereka nantinya.

“Ma!” kata Chai. Tapi Yoi sama sekali tidak mau dibantah.

Didalam kamar. Chai merapikan kasurnya, sepertinya dia ingin membawa kasur itu ke rumah kecil untuk Renu. Dan selama melipat kasur, Chai mengingat perkataan Ibu nya.


Flash back
“Jika bayi itu keluar dengan rambut merah dan mata biru seperti orang asing. Pernahkah kamu berpikir bagaimana keluarga kita akan menghadapi publik?” kata Yoi yang tidak percaya kalau bayi didalam kandungan Renu adalah benar cucunya.

 “Ma!  Itu benar- benar bayiku. Sejak dia tidur denganku, dia tidak pernah…”

“Memberi dirinya atau meminjamkan dirinya kepada orang lain. Apapun yang dikatakannya, kamu percaya itu?” potong Yoi dengan sinis. Dan dia tertawa ketika Chai terdiam. “Kamu mengakuinya, kan? Dia wanita penghibur. Arbosi tidak mahal, obatnya juga tidak mahal. Tanyakan padanya, berapa banyak yang diinginkannya untuk pergi dari hidupmu dan kembali ke tempatnya berasal? Aku siap membayar!” kata Yoi.

Flash back end

Chai turun dari dalam kamarnya sambil membawa kasur nya. Lalu Yoi kembali mengingatkan Chai untuk segera mengurus semuanya, sebelum orang- orang menyebarkan gosip ini sehingga Philai mengetahuinya.

“Ma! Aku sudah menulis surat kepada Philai bahwa aku tidak bisa menikahinya,” kata Chai. Dan mendengar itu, Yoi terkejut.

“Apa? Apa kamu gila, Chai? Apa yang kamu beritahu padanya?” tanya Yoi.

“Aku tahu, aku salah. Tapi aku tidak ingin dia menunggu. Perhiasan pernikahan, berikan saja pada mereka, karena kita adalah pihak yang salah,” jawab Chai.

Yoi marah, karena Chai malah memilih wanita yang tidak baik untuk menjadi Istri, sementara wanita yang baik malah Chai tolak. Dan Chai membalas bahwa dia tidak mencintai Philai, melainkan dia mencintai Renu. Lalu Chai mengancam bila Ibu masih memaksanya, maka dia akan pergi bersama Renu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Mendengar itu, Yoi merasa sedih dan kecewa. Karena anaknya, berani mengatakan ingin meninggalkannya, hanya demi seorang wanita seperti Renu.

Menaiki sepeda, Chai mengunjungin tempat Asa sedang bekerja. Dan disana Asa menanyakan mengenai Istri Chai, dia menjelaskan bahwa kampung mereka, yaitu Chumseang begitu kecil, jadi baru saja Chai melangkah turun dari kereta, maka semua orang akan langsung tahu Chai datang dan dengan siapa.

“Beritahu aku. Apa yang Ibu katakan?” tanya Asa.

“Ceritanya panjang. Ma menyuruh kamu untuk menjaga toko,” jawab Chai.

“Pekerjaan ku belum selesai,” balas Asa.

“Aku akan mengurusnya untukmu,” kata Chai. Dan Asa pun lalu menaiki sepeda nya, dan pulang ke rumah.


Setibanya di rumah. Asa menanyakan kenapa Ibu nya tidak menyuruh kakak nya saja yang menjaga toko, mengapa harus memanggilnya. Dan Ibu menjelaskan bahwa dia tidak mempercayainya lagi, karena Chai telah berani membawa seorang wanita penghibur pulang ke rumah, dan itu membuat keluarga mereka malu. Jadi Ibu tidak mau menganggap Chai sebagai anaknya lagi.

“Kamu bicara terlalu berlebihan,” komentar Asa.

“Setelah kamu melihat gadis itu, kamu juga tidak akan bisa berkata- kata. Jaga toko ya,” balas Yoi, lalu dia pergi.


Yoi pergi ke kuil, dan menemui Atong, anaknya, yang merupakan seorang biksu disana. Dia mengatakan bahwa ada sebuah masalah besar yang terjadi sekarang.

Ayah menjelaskan kepada Chai, kalau Chai adalah anak tertua, jadi Ibu menaruh banyak harapan pada Chai lebih daripada ke yang lain. Tapi walaupun begitu, Chai tetap tidak mau mengaborsi anaknya sendiri, dan mengirim Renu kembali ke tempat lama nya.

“Dia selalau melalukan amal di kuil. Tidakkah dia tahu itu adalah dosa?” komentar Ayah.

“Apa yang harus aku lakukan, pa?” tanya Chai.


“Kamu tidak perlu melakukan apa- apa. Tetap tinggal saja. Karena sekarang Ibumu seperti api yang membara. Jadi tunggulah sampai besok, mungkin dia sudah akan tenang,” jelas Ayah. Dan Chai berterima kasih pada Ayah.

Dikuil. Yoi mengeluhkan mengenai Chai, kepada Atong. Dia memberitahu bahwa sekarang Chai telah berani melawan dan mengancamnya, hanya karena dia tidak mau menerima seorang wanita seperti Renu.

“Bu! Dengarkan. Setiap orang mempunyai kamarnya sendiri,” jelas Atong.
“Aku tidak peduli. Sekarang, aku hanya punya satu solusi. Hanya kamu satu- satunya yang bisa menyelamatkan reputasi keluarga kita,” kata Yoi.

“Apa rencanamu?” tanya Atong.


Menaiki perahu. Yoi mengingat rencananya bersama dengan Atong. Yoi mau agar Atong berhenti menjadi biksu, dan menikahi Philai. Sebenarnya Atong tampak keberatan, tapi Yoi memohon agar Atong mau melakukan itu untuknya, karena itu semua untuk kebaikan keluarga mereka.
Yoi pergi ke Tabkrit untuk menemui Philai, sebelum surat yang dikirimkan oleh Chai sampai di sana. Jadi walaupun Tabkrit itu jauh, dia tetap pergi ke sana. Lalu sesampainya di rumah temannya itu (Pikhul, Ibu Philai), Yoi pun menanyakan dimana Philai. Tapi ternyata disaat itu Philai sedang pergi bersama Ayahnya untuk mengunjungin Istri pertamanya dan kemungkinan mereka berdua akan menginap disana, dan kembali besok.
 “Apa kamu ada mendapatkan surat? Surat Chai dari Taklee,” tanya Yoi kepada Pikhul.

“Umm! Hari sebelumnya, ada tukang pos datang. Philai yang menerima nya,” jawab Pikhul dengan sedikit perasaan heran, kenapa Yoi bertanya.

Yoi kemudian menceritakan mengenai Chai, anaknya. Dan Pikhul menanyakan apa rencana Yoi. Lalu Yoi pun menjelaskan niatnya, sejak Philai tidak bisa menjadi menantu anak tertuanya, maka dia ingin Philai menjadi menantu untuk anak keduanya dan menikahi anak keduanya.

“Tunggu. Tunggu! Biksu tidak bergabung di militer, kan? Dan jika dia bergabung ke militer, lalu membawa istri tidak jelas kepada Ibunya lagi, apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana anak ku hidup?”  tanya Pikhul, tidak terima.

“Lebih baik menikah sebelum gabung ke militer,” jelas Yoi. Itu semua asalkan Philai setuju dengan nya.

“Tapi mereka tidak saling mencintai,” balas Pikhul.

“Oh! Mereka akan saling jatuh cinta setelah tinggal bersama, phikul.”

Malam hari. Chai mandi, dan Renu mendekatinya, lalu menawarkan diri untuk menggosokan punggung Chai.

“Setiap pria di dunia pasti iri padaku,” kata Chai, menggoda.

“Manisnya. Aku bahkan tidak tahu apa kamu akan diam- diam berkencan dengan orang lain dibelakang ku atau tidak,” balas Renu.

“Istriku begitu cantik dan pintar, dimana aku akan bisa menemukan yang lain? Aku hanya punya kamu,” balas Chai. Dan Renu merasa senang.

Chai kemudian menjelaskan bahwa ketika bayi mereka lahir nantinya, dia percaya bahwa hati Ibu nya akan melembut dan Ibu nya pasti akan bisa menerima mereka. Dan Renu tersenyum. Lalu mereka berdua saling bermain air.
Didalam kamar. Renu menyisir rambutnya dan merenung.

Flash back

Mama bar menantang Renu, bila Renu bisa mendapatkan Chai sebagai suami, maka dia akan membiarkan Renu untuk pergi. Dan para teman Renu berkomentar bahwa pasti Renu tidak akan bisa mendapatkan Chai, karena tidak mungkin pria seperti Chai mau mengambil Renu sebagai Istri, jadi lebih baik Renu bangun dan berhenti bermimpi.


Mendengar itu, Renu tersenyum menatap ke arah Chai.


Beberapa hari / atau bulan setelah itu, teman Renu menanyakan sudah berapa kali Renu menolak tamu yang ada hanya karena tergila- gila pada Chai. Dan Renu mengangkat lima jari nya. Melihat itu, teman Renu berkomentar sampai kapan Renu akan terus menunggu Chai saja, karena Renu pasti akan segera kelaparan.

“Itu bukan berarti aku akan kalah taruhan denganmu, tapi aku pikir, aku benar- benar jatuh cinta dengan P’Chai. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini dengan pria manapun sebelumnya,” jelas Renu.


“Apa ada cinta sejati untuk wanita panggilan seperti kita, kak?” komentar teman Renu.

“Dia sudah menghilang beberapa hari. Tidak tahu jika dia pergi ke tempat bar yang lain atau tidak.”

“Aku beritahu kamu, dalam dua hari, kamu akan dilupakan. Jadi kamu segeralah berdandan dan terima pelanggan. Aku capek menjawab pelanggan untukmu.”

“Aku tidak bisa melakukan itu, kak. Aku hanya ingin P’Chai. Jika aku tidur dengan yang lain, aku merasa seperti aku menghiaknati dia,” kata Renu, bersikeras. Dan para teman Renu tertawa serta mengejek Renu.

Flash back end


Renu berhenti menyisir rambutnya. Dia mengambil pewarna bibir dan memakainya. Lalu memperhatikan dirinya sendiri di depan cermin.

No comments:

Post a Comment