Wednesday, March 27, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 2 - part 1

1 comments


Krong Karm Episode 2 – part 1
Network : Channel 3

Di pasar. Renu menjual kue dessert buatannya. Seorang pembeli yang tertarik akan semua kue jualan Renu yang tampak menarik, dia pun berhenti dan membelinya. Namun karena ini pertama kalinya dia melihat Renu berada disini, maka dia pun bertanya- tanya. Dan dengan bangga Renu memperkenalkan dirinya sebagai menantu dari anak pertama Yoi, dan dia tinggal di dekat pertenakan babi.


Di toko. Ketika mengetahui bahwa kue dessert yang sedang di makannya adalah buatan Renu, maka Yoi merasa sangat kaget, dan dia langsung berhenti memakan kue tersebut. Namun sebisa mungkin dia berusaha bersikap tetap tenang.


Dan ketika akhirnya si pembeli, yaitu Mao, teman baik Renu, pergi dari tokonya. Yoi langsung memuntahkan kue yang dimakannya. Lalu dia berteriak memanggil dan menyuruh Boonplook untuk membuang kue dessert ini semua nya untuk anjing.

Saat Yoi pergi meninggalkan toko, dengan segera Boonplook memakan semua kue dessert itu.


Di pasar. Yoi bertemu dengan banyak orang yang membicarakan tentang betapa enaknya kue dessert buatan menantunya, dan dengan terpaksa Yoi pun tersenyum kepada mereka.


Di tempat penggilingan padi. Saat melihat Ibu nya datang, Asa merasa panik. Dia menyuruh setiap orang di tempat penggilingan untuk menjawab tidak tahu dimana dia berada, jika Ibu nya bertanya. Lalu setelah mengatakan itu, Asa langsung berlari pergi.


Yoi berteriak memanggil nama Asa, tapi Asa tidak ada. Kemudian Yoi pun bertanya kepada para pekerja dimana Asa. Dan seperti apa yang Asa minta pada mereka, maka mereka pun menjawab tidak tahu.


Yoi datang ke rumah Renu. Dan dengan riang, Renu menyapa nya,” Maaaaa…” panggil Renu. Dan Yoi langsung memarahinya agar jangan memanggilnya ‘Ma’, tapi panggil dia seperti para pekerja memanggil nya. Dan Renu pun mengiyakan sambil tersenyum ramah.

“Tao Kae (Bos) Nia, ada urusan apa kamu ke sini? Ohhh.. kamu merasakan dessert ku enak ya. Jadi kamu ingin memesannya, kan? Kamu suka kan?” kata Renu sambil tersenyum.


“Aku bukan temanmu. Aku datang untuk menanyai mu. Mengapa kamu memberi dessert mu kepada orang- orang di pasar?! Dimana kamu mendapatkan uang! Apa kamu kaya?” kata Yoi dengan marah.

Renu menjawab bahwa dia memang tidak kaya, tapi dia punya uang. Dan dengan sinis, Yoi mengatakan kalau uang itu pasti Renu dapatkan dari menjual diri. Mendengar itu, Renu sama sekali tidak marah, malahan dia tetap tenang dan menjawab bahwa benar dia bekerja di bar, tapi dia bekerja di bagian dapur nya saja.


“E’Renu, dengarkan baik- baik. Aku tidak akan menerima kamu sebagai menantu ku! Jadi jangan beritahu siapapun bahwa kamu menantu tertua! Karena tidak ada yang mempercayai kamu!

Tidak ada yang peduli padamu! Mereka tahu kamu berasal dari tempat rendahan! Aku beritahu kamu, ber-hen-ti ber-mim-pi!” kata Yoi dengan nada keras dan kasar. Lalu dia mengatakan bahwa dia telah membuang semua dessert buatan Renu ke anjing di jalan, dan anjing pun menolak nya.

Mendengar itu, Renu tampak sedih dan kecewa, tapi dia berusaha untuk tetap bersabar. Lalu ketika Yoi pergi, dia pun duduk dengan lemas.


Asa merasa kegirangan, saat mengira Ibunya telah pergi. Tapi ternyata dia salah, karena Ibunya ternyata telah menunggu nya di dalam kantor. Dan dengan cepat, Asa mengubah ekspresinya serta berpura- pura senang melihat Ibu nya datang.

“Aww, ma… kamu datang di waktu yang pas! Aku akan mengatur meja nya untukmu,” kata Asa sambil membuka rantang makanan di atas meja.

“Jangan bersikap seperti tidak ada yamg terjadi,” balas Yoi dengan nada dingin.


Ayah datang dan menanyakan ada masalah apa, karena Yoi tampak sangat cemberut. Dan Yoi pun langsung mengomel, dia merasa kesal karena Asa dan Ayah telah bekerja sama untuk menipu nya, kepadahal mereka tahu kalau dia sangat membenci Renu.

“Mengapa begitu? Renu adalah istri Chai, juga menantu kita. Dia juga mengandung cucu kita,” kata Ayah, membela Renu. Sementara Asa sibuk membongkar rantang makanan dan menyusunnya diatas meja.

“Aku sudah bilang berkali- kali! Aku tidak akan menerima nya sebagai menantu ku!” balas Yoi.


Asa ikut membela Renu, dia memanggil Renu dengan sebutan ‘Sor’. Dan mendengar itu, Yoi langsung memukul lengannya serta memarahinya. Jadi Asa pun langsung berhenti memanggil Renu dengan sebutan ‘Sor’, lalu dia membela diri dengan mengatakan bahwa dia bukan ingin menipu Yoi, tapi karena dia ingin Ibu nya bisa merasakan sesuatu yang enak.

“Renu adalah wanita yang pekerja keras. Dia tahu bagaimana bekerja, tidak malas sama sekali. Jadi mengapa kamu tidak menerimanya?” tanya Ayah.

“Dia wanita kelas rendahan. Aku mencoba untuk melindungin keluarga mu. Apa aku salah? Tunggu dan lihat saja. Aku akan menendang nya keluar dari hidup Chai! Keluar dari keluarga kita!” balas Yoi. Lalu dia pergi.


Asa mengikuti Ibu nya menggunakan sepeda, dan menawarkan diri untuk mengantarkan Ibu pulang karena cuaca sedang panas. Tapi karena sedang emosi, Yoi pun menolak. Tapi dengan begitu pandai nya, Asa mampu membujuk nya untuk ikut bersama nya.

“Jika kamu tidak naik, kamu akan pingsan dan mati sebelum koma,” kata Asa.

“Asa, kamu mengutukku?” balas Yoi.

“Mau naik?” balas Asa singkat. Dan Yoi pun naik.



Sepanjang perjalanan, Yoi terus saja mengatai Renu dengan kata kasar. Dan Asa pun mengingatkan nya untuk tidak bicara begitu ketika marah, karena seiring nya waktu berlalu, emosi Yoi akan menghilang, tapi kata- kata yang telah Yoi ucapkan tidak akan pernah bisa terhapuskan. Tapi Yoi sama sekali tidak peduli.


Sri, teman Yoi, datang ke toko untuk mengobrol. Dan saat mengetahui, kedua anak Yoi telah menikah, maka dia pun menanyakan apa Asa juga sudah punya. Yoi pun menjawab bahwa Asa belum punya, karena saat ini usia Asa masih 20 tahun, terlalu cepat untuk membicarakan tentang pasangan untuk nya.

“Aku punya seorang keponakan. Umurnya 18. Cantik. Ini. Dia cantikkan, dua tahun lalu dia memenangkan kontes kecantikan di Chumsaeng,” kata Sri dengan bangga sambil menunjukan foto keponakannya kepada Yoi.


Yoi mengakui bahwa keponakan Sri sangat cantik, tapi dia belum tertarik. Dan Sri pun menjelaskan bahwa Ayah dari keponakannya ini adalah seorang kepala kecamatan, dia punya pertanian dan pabrik penggergajian arang. Tapi Yoi tidak mau, karena menurutnya Asa tidak bisa melakukan pekerjaan seperti itu. Dan Sri membalas bahwa semuanya bisa di pelajari.

“Di Kha Mang. Kam Nan Sorn adalah pria terkaya,” kata Sri. Dan Yoi mulai merasa tertarik.



Atong datang ke rumah Jantra untuk memberikan novel kesukaannya, tapi Jantra menolak dengan alasan dia tidak punya waktu untuk membaca. Namun Atong sedikit memaksa, dia mengatakan Jantra bisa mengambilnya dan membaca nya nanti ketika ada waktu luang. Dan Jantra pun menerima novel itu, lalu dia masuk ke dalam rumah begitu saja.



Jantra diajak untuk menonton film malam ini, tapi karena sedang tidak mood maka Jantra pun menolak dan beralasan dia ingin tetap di rumah menemanin Ama (Nenek) saja. Mendengar itu, Ama langsung menasehati agar Jantra pergi saja menonton film, jangan bersamanya terus, karena jika suatu hari dia meninggal, maka Jantra akan sendiri.

“Wanita baik seperti mu harus bertemu pria baik yang bisa menjaga mu,” kata Je, setuju dengan Ama. Dan Jantra pun akhirnya, setuju untuk pergi menonton film bersama dengan Je.


Malam hari. Saat makan malam, Yoi menunjukan foto keponakan Sri. Dan karena cantik, maka Asa pun sedikit merasa tertarik. Yoi lalu menjelaskan bahwa dia mendapatkan foto tersebut dari pelanggan mereka yang sering datang belanja ke sini untuk membeli barang yang akan dibawa dan dijual kembali. Yaitu Sri.

“Kamu ingin menjodohkannya dengan siapa?” tanya Asa, tertarik.



“Siapa lagi? Yah, kamu lah! Dia bilang sudah memperhatikan kamu sejak lama dan benar- benar ingin kamu menjadi menantu keponakannya! Jika kamu mau, menikah dan tinggalah dengannya, karena Phiangphen adalah anak termuda, jadi dia yang akan menjaga kedua orang tua nya ketika mereka tua dan meninggal,” jelas Yoi.

“Hey! Hey! Jangan meninggal! Aku takut hantu,” canda Asa sambil tertawa.


Di depan gedung bioskop. Jantra tidak sengaja bertabrakan dengan wakil bupati, yaitu Chinnakorn, dan membuat pop corn yang baru di beli Chinnakorn jatuh. Lalu secara bersamaan, mareka sama- sama saling meminta maaf.



Je yang melihat itu menghampiri mereka dan memperkenalkan mereka berdua. Jantra adalah pekerja di toko nya, atau lebih tepat nya, orang yang mengurus Ama nya dan asistennya.

“Nama mu sangat cantik, Jantra,” puji Chinnakorn. Dan Jantra merasa sedikit canggung serta malu, jadi dia pun mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan apa Je ingin membeli pop corn lagi.


“Ini sudah cukup. Ayo mari masuk, filmnya sudah mau di mulai,” kata Je pada Jantra. “Sampai nanti ya,” kata Je pada Chinnakorn.

“Oh, aku juga punya tiket nya,” balas Chinnakorn.



Malam hari. Yoi memberitahu Asa, menurutnya Piangphen adalah pasangan yang sempurna untuk Asa, karena status keluarga Piangphern. Dan jika Asa menjadi menantu di keluarga itu, maka Asa akan bisa hidup nyaman selama- lamanya.

“Aku tidak tahu bagaimana bertani,” kata Asa.

“Kamu bisa belajar. Jika tidak bisa, maka biarkan orang lain melakukannya. Dan kumpulkan uang nya, kemudian kamu bisa mencari pekerjaan yang lain,” jelas Yoi.



Asa tidak tertarik akan hal seperti itu, dan dia pun beralasan bagaimana jika nanti dia bertemu Piangphern, dan ternyata penampilan Phiangphern tidak sama seperti yang ada di foto. Mendengar itu, Yoi memukuli Asa sekali, karena Asa terlalu banyak bercanda. Lalu Asa pun pamit dan pergi.



Asa pergi ke bioskop. Disana secara kebetulan, Asa mendapatkan nomor bangku di sebelah Jantra. Dan melihat Asa yang duduk di sebelahnya, Jantra tampak sedikit tidak nyaman.

“Asa. Kamu disini sendirian?” tanya Je. Dan Asa mengiyakan.

“Aku mengajak Hia Tong, tapi dia menolak. Dia lebih suka membaca buku dan diam di dalam kamar seharian,” jelas Asa.


“Dia pasti sedang mempersiapkan diri nya menjadi pengantin,” komentar Je sambil tertawa. Dan mendengar itu, Jantra tampak sedih.



Ketika film telah selesai, Chinnakorn menghampiri Je serta Jantra, dia menawarkan diri untuk menemanin mereka pulang. Je setuju, dan mengajak Asa untuk ikut pulang bersama juga.


Tapi Asa menolak pulang bersama mereka, dengan alasan dia mau berjalan- jalan dulu untuk mencari makanan. Lalu setelah mereka bertiga pergi, dia duduk sendirian di bangku bioskop.



Setelah mengantarkan Je serta Jantra pulang. Chinnakorn pamit kepada mereka dengan sopan sambil terus tersenyum menatap ke arah Jantra. Dan melihat senyum itu, Je merasa mengerti sesuatu.


Jadi setelah Chinnakorn pergi. Je pun langsung memuji Chinnakorn di depan Jantra. Dia mengatakan bahwa pria baik seperti Chinnakorn itu sangat jarang sekali serta Chinnakorn adalah seorang wakil bupati. Dan mendengar itu, Jantra hanya mengiyakan saja.




Dini hari. Seperti biasa. Renu membuat kue. Kali ini dia membuat beberapa kue dessert yang baru lagi. Lalu setelah itu, dia berdandan, dan pergi ke pasar untuk menjual kue dessert buatan nya.

“Kamu pekerja keras ya. Kamu mengubah menu mu setiap hari ya,” komentar salah satu pembeli.

“Iya. Aku takut pelanggan akan bosan,” balas Renu sambil tersenyum ramah.



Di pasar. Ketika Yoi sedang berbelanja, salah satu penjual menanyakan mengapa Yoi masih membiarkan menantu tertua Yoi mengangkat dan berjualan sendirian. Lalu ketika melihat bahwa benar Renu sedang berjualan, Yoi merasa sangat tidak suka.

“Dia seorang gadis Thai. Jika aku biarkan dia membantu di toko, dia akan merasa terlalu nyaman. Ini apa yang kupikir kan,” kata Yoi dengan nada sinis.




Yoi kemudian memperhatikan Renu yang berjualan dengan tatapan benci. Dan ketika melihat bagaimana Renu berjualan dengan sikap yang tampak genit ke pelanggan, Yoi makin merasa benci padanya. “Kembali ke sifat aslimu!” gumamnya.

1 comment: