Saturday, March 30, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 2 - part 3

1 comments


Krong Karm Episode 2 – part 3
Network : Channel 3
Dini hari. Renu memasak kue baru. Dan seperti biasa, setelah itu dia akan membawa semua kue dessert dagangannya ke pasar. Lalu seperti biasa juga, banyak orang yang datang untuk membeli kue dessert buatan Renu yang sangat enak.


Ketika semua dagangannya telah habis terjual, Renu pergi ke toko Yoi untuk membeli beberapa bahan kue. Dan kali ini, dia tidak menjumpai Yoi, melainkan Atong. Karena Yoi sedang pergi ke rumah kerabat di Pak Nam Pho bersama Ayah, diantar oleh Asa.



Awalnya Atong tidak mengenali siapa Renu, namun saat dia melihat keranjang yang Renu bawa, dia langsung mengenali Renu sebagai kakak ipar nya dan menyapa Renu dengan sopan.

“Sayang kue nya sudah terjual. Jika tidak, aku akan membawa kan beberapa untuk kamu coba,” kata Renu dengan ramah, kepada Atong yang baik.

“Aku sudah merasakannya. Asa membawa kan nya untukku. Itu sangat enak, Sor. Nanti aku akan menggutingkan beberapa halaman di koran atau di buku mengenai resep kue, dan menitipkan nya pada Asa untuk mu,” balas Atong dengan ramah. Dan Renu pun berterima kasih.

Atong kemudian mengambilkan barang yang Renu minta, dan memberikan harga diskon kepada Renu. Namun Renu menolak, karena dia merasa tidak enak serta dia tidak mau Atong di marahi nantinya. Tepat disaat itu Asa pulang, dan dengan riang langsung menyapa Renu.


“Hia! Berikan tambahan. Ayah dan Ibu sedang pergi. Jadi berikan tambahan,” kata Asa. Dan Renu pun merasa tidak enak. Tapi Asa menyuruh Renu agar tidak perlu khawatir, karena dia tidak memberikan itu secara gratis, dia mau Renu membuatkan lebih banyak kue untuk nya, Ayah, dan Atong. Dan Renu pun tersenyum.


Asa kemudian mengambilkan barang lain yang Renu inginkan. Renu memesan 1 kg gula. Tapi Asa dengan begitu murah hatinya, dia memberikan 2 kg gula kepada Renu.

“Terima kasih ya,” kata Renu kepada Atong serta Asa yang begitu baik padanya.




Setelah selesai belanja, Renu pulang melewati depan rumah Je, dan disana mereka saling menyapa serta mengobrol singkat. Lalu ketika Renu pergi, Je pun langsung memberitahukan kepada Ama mengenai Renu yang merupakan menantu tertua di keluarga Yoi.

“Oh! Ayoi membiarkannya mengangkat itu dan berjualan seperti ini. Mengapa dia tidak membiarkannya membantu bisnis keluarga?” tanya Ama.

“Ayoi tidak menyukai dia,” jawab Je. Dan mendengar itu, Ama merasa tidak suka kepada sikap buruk Yoi kepada menantu sendiri.



Di kereta. Wanna dan Si (adik Chai) bertemu, mereka duduk di bangku yang bersebelahan. Dan dengan sikap yang sedikit cerewet, Si terus mengajak Wanna berbicara dan bertanya- tanya seperti kemana Wanna ingin pergi. Tapi Wanna diam dan tidak menjawab nya.



“Mengapa kamu tidak mau bicara denganku? Sedang tidak senang atau apa?” tanya Si, pantang menyerah. Dan akhirnya, Wanna pun menjawab.

“Ibuku sakit. Aku tidak punya uang untuk pengobatannya. Apa kamu senang? Berhenti mengganggu ku,” balas Wanna dengan nada seperti merasa terganggu.

“Sakit apa?” tanya Si, lagi.

“Tidak tahu. Tapi tidak kelihatan bagus.”

“Kemana kamu mau pergi?” tanya Si, lagi.

“Chum Saeng.”


Si yang sedikit  cerewet, bertanya lagi, dia mengatakan bahwa dia juga mau pergi ke Chum Saeng dan dia menanyakan untuk apa Wanna ke sana. Dengan kesal, Wanna pun menjawab dengan ketus, karena dia sudah memberitahu alasannya tadi, tapi Si terus saja bertanya ini- itu kepada nya.

“Rumah ku disana,” kata Si, memberitahu. Dan Wanna diam saja.


Wanna pergi ke toko Yoi dan memperkenalkan dirinya kepada Atong. Wanna adalah adik Renu, dan alasan nya datang ke sini adalah untuk bertemu dengan Renu. Dan Atong pun memberitahu bahwa Renu tidak tinggal di rumah mereka. Mendengar itu Wanna sedikit terkejut, lalu dia meminta Atong untuk memberitahukan jalan ke tempat di mana Renu tinggal.



Tepat disaat itu Si datang. Melihat itu, Wanna merasa heran serta sedikit terkejut.



Atong menghampiri Si, dan memberitahukan mengenai Ibu serta Ayah yang sudah pergi tadi pagi untuk melihat tempat acara dan menyebarkan undangan pernikahannya. Mendengar itu, Si ikut merasa bahagia. Tapi Atong belum mau menceritakan dengan siapa dia akan menikah, karena cerita nya sangat panjang.



“Jadi, apa misimu?” tanya Si kepada Wanna, ketika dia melihatnya.

“Apa kalian saling mengenal?” tanya Atong, mendengar itu.

“Iya. Kami sering bertemu di Pak Nam Pho. Dekat,” jelas Si.

Atong kemudian memperkenalkan Wanna yang merupakan, adik dari kakak ipar mereka atau lebih tepat nya istri dari kakak mereka Chai, yaitu Sor Renu. Mengetahui itu, Si merasa sedikit terkejut, karena dia baru pergi beberapa bulan dari rumah, tapi sudah ada banyak hal yang berubah. Atong akan menikah. Chia sudah punya istri.



“Apa yang terjadi? Haha… Oh! Aku juga ingin menikah,” kata Si dengan riang sambil menatap ke arah Wanna, ketika mengatakan itu. Dan Wanna mengabaikan perkataan nya. “Tunggu sebentar ya. Aku akan menemanin mu,” kata Si kepada Wanna, sebelum dia masuk ke dalam untuk menaruh barang- barangnya.


Si mengangkat kan koper kecil bawaan Wanna, dan sambil berjalan bersama, dia terus berbicara. Mendengar itu, Wanna merasa malas sekali, dan menanyakan ‘tidak bisakah Si berjalan lebih cepat?’. Lalu ketika Si masih saja banyak bicara, Wanna pun langsung berjalan duluan, melewati nya.

“Oh! Kamu mau kemana? Apa kamu tahu jalannya?” tanya Si. Mengikuti Wanna berjalan.



Di pabrik penggilingan. Si menyapa Asa ketika melihatnya. Si memperkenalkan Asa kepada Wanna. Dan Wanna kepada Asa. Tapi ketika mengenalkan Wanna kepada Asa, ternyata Si sama sekali tidak mengetahui nama Wanna, karena dia menanyakan siapa nama Wanna dan salah menyebutkan nama Wanna.

“Wannee! Wannee! Hia!” kata Si.

“Wanna,” kata Wanna, membenarkan.

“Oh ya! Wanna! Wanna!” kata Si, membenarkan perkataannya.



Si menuntun Wanna ke rumah dimana Renu tinggal. Dan saat mereka sampai disana, ternyata Renu sedang sibuk memetik kelapa tua.

“Oh! Wanna! Bagaimana kamu bisa sampai disini?” tanya Renu terkejut, saat melihat Wanna datang.

Adik suami mu yang mengantarkan ku,” jawab Wanna.

“Aku Asi. Adik termuda Tua Hia,” kata Si dengan sopan memperkenalkan dirinya. Lalu dia mengembalikan koper milik Wanna, dan pamit pergi kepada mereka.


Setelah Si pergi meninggalkan mereka, Wanna langsung membicarakan tentang tujuannya datang ke sini. “P’ Renu. Mari pulang. Ibu sakit. Sakit serius,” kata Wanna. Dan Renu terkejut.

1 comment: