Sunday, March 17, 2019

Sinopsis Lakorn – Nang Rai Episode 02 - 3

0 comments

Sinopsis Lakorn – Nang Rai Episode 02 - 3
Images by : Channel 7
“Masuklah ke dalam mobilku. Mobilku di parkir di sana,” ujar Pob pada Kae yang memandangnya.
“Tapi… ayahku dan aku akan membuat kursimu basah.”
“Tempat duduk kursi bisa di tukar jika basah. Tapi, jika terjadi sesuatu padamu, tidak ada yang bisa menggantikannya.”
Kae terperangah mendengarnya. Dan Pob tanpa basa basi menyuruh Kae untuk memegangi payung sementara dia menggendong Khem masuk ke dalam mobil.
--
Pob mengantarkan Kae dan Khem ke rumah baru mereka. Panee dan anak-anak keluar karena mendengar suara ribut. Dan begitu keluar, mereka malah lebih terfokus melihat mobil Pob yang bagus dan tidak peduli pada Khem yang mabuk dan basah kuyuo.
Kae menyuruh Nao untuk membantunya membawa Ayah masuk ke dalam rumah. Tapi, Nao malah protes tidak mau membawa ayah karena bau alkohol. Kae jelas marah dan Panee juga langsung menyuruh Nao untuk membawa Khem masuk ke dalam. Nao meminta Chom membantunya membawa ayah masuk ke dalam.
Setelah itu, Kae berterimakasih atas bantuan Pob padanya. Pob kemudian pamit pulang pada semuanya.
Setelah Pob pergi, ibu langsung memuji Pob yang kaya karena memiliki mobil sebagus itu. Dan pria seperti Pob-lah yang pantas menjadi suami Kae. Dengan begitu, mereka semua bisa mempunyai hidup yang nyaman. Kae terlihat tidak suka mendengar perkataan ibu.
Chom bertanya kepada Kae, ke kamar mana Ayah akan tidur? Kae langsung menatap ke Panee. Dan Panee langsung berkata kalau Khem tidak boleh masuk ke dalam kamarnya. Dia bisa muntah jika mencium bau Khem.
“Kalau begitu, bawa Ayah ke kamar Nao,” ujar Kae.
“Euy, aku tidak mau. Kakak kan menyuruhku pergi sekolah. Jika ayah tidur denganku, aku tidak akan bisa ke sekolah,” protes Nao.
“Tapi aku sudah berbagi kamar dengan P’Prang juga,” ujar Chom.
Kae menatap Panee. Dan Panee dengan kejam menyuruh mereka untuk meletakkan ayah di gudang saja, yang berada di samping kamar mandi. Jadi, Khem bisa ke kamar mandi dengan mudah jika mau muntah.
“Bawa ayah dulu dan mandikan,” perintah Kae. “Tukarkan juga pakaiannya.”
Nao dan Chom dengan muka cemberut membawa ayah masuk ke dalam rumah.

Kae kemudian bertanya pada Panee, dimana semua pakaian ayah? Dan pakaiannya juga. Apa Panee membawanya?
Muka Panee langsung berubah dan dia langsung berlari masuk ke dalam kamar sambil meneriakkan nama Chom. Kae menghela nafas, menyadari kalau Panee tidak membawa pakaiannya dan pakaian Khem.
--
Esok hari,
Kae keluar rumah dan bertemu dengan Prang yang baru pulang. Prang yang tahu kalau Kae akan memarahinya, langsung berkata kalau Kae tidak perlu terus memarahinya. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Dan dia yakin dengan jalannya. Jadi, tidak peduli seberapa keras Kae melarangnya, dia tidak akan pernah bekerja.
Usai mengatakan hal itu, Prang masuk ke dalam rumah. Kae hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Kae.
Pas sekali, Arthit tiba dengan motornya dan memberi tumpangan pada Kae untuk ke lokasi syuting. Kae menolak dengan sopan tawaran Arthit. Pob ternyata juga ke depan rumah Kae untuk menjemput Kae, tapi begitu melihat Kae bicara dengan Arthit, dia langsung pergi.
“Khun Pawapob sering datang ke lingkungan ini, karena Khun Paksuda juga tinggal di sekitar sini,” ujar Arthit. Dan tentu membuat Kae mengira kalau Pob tadi hanya lewat menuju ke rumah Pat.
Akhirnya, Kae menerima tumpangan Arthit. Dan Arthit tersenyum senang, seolah telah memenangkan sesuatu.
--

Khun Kesiree (panggilan Khun Kesi) pergi ke lokasi syuting dan bicara dengan J’Noi.
“Aku harap kalian dapat mengerti. Aku tidak ingin menyakiti atau menghancurkan hidup orang lain. Tapi, aku perlu melindungi reputasi putraku.”
“Tapi Kae… dia terlihat tidak membahayakan. Dia juga tertutup.”
“Tertutup? Tapi malah memilih ‘ikan’ yang berkualitas. Wanita luar biasa seperti Paksuda saja membicarakan hal itu. Aku ingin kau membuat anakmu itu menjadi terkenal. Dia mempunyai wajah yang cantik, jadi tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan suami kaya. Jangan sampai dia terlibat dengan putraku, jika dia tidak mau mendapatkan masalah,” peringati Khun Kesi.
J’Noi hanya bisa tersenyum dan membenarkan.
--

Kae dan Wadee sedang menunggu giliran syuting mereka. Dan Wadee memanfaatkan waktu untuk berolahraga. Wadee kemudian bertanya kenapa Kae terlihat stress? Bukankah Kae sudah pindah ke rumah baru.
“Apa… kau memikirkan mengenai Khun Pawapob?” goda Wadee.
“Bukan. Aku hanya stress memikirkan adik-adikku yang menolak untuk sekolah. Mereka terlalu     pelawan.”
“Apa ibu mu tidak memarahi mereka?”
“Dia tidak pernah memarahi mereka.”

Saat sedang berbincang, J’Noi menghampiri Kae dan mengajak Kae untuk bicara berdua dengannya. Tidak lama, seorang kru datang untuk mengambil jas Nguan, tapi jas itu malah menghilang. Nguan kemudian meminta di carikan jas baru saja. Kru mengatakan tidak bisa, karena jas itu sudah di ambil untuk syuting adegan sebelumnya, dan jika di ganti, maka syuting scene sebelumnya juga harus di ulang.
Dan saat itulah, Nguan melihat Wadee yang sedang berolahraga di lantai dengan menggunakan jas-nya sebagai alas. Dengan kesal, Nguan segera menarik jas-nya dan mengibaskannya.
“Duduk di jas orang lain seperti ini, kenapa kau masih berpura-pura tidak tahu?” marah Nguan. “Kau tolong pergi carikan pengharum untuk menghilangkan bau di jas ini,”perintah Nguan pada kru. “Biar ku tanya ya, kenapa kau menyemprotkan banyak parfum sih? Apa kau tidak mandi?” tanya Nguan pada Wadee.
Wadee kesal mendengar pertanyaan itu, “Bukan urusanmu,” jawabnya dan langsung pergi.
--

Sepertinya, J’Noi sudah menyampaikan pesan dari Khun Kesi, ibu Pob.
“Aku tahu kalau kau bukan tipe wanita yang berusaha mendapatkan pria kaya. Tapi, apa yang bisa ku lakukan ketika ibu Khun Pob tidak mau mengerti. Mereka orang kaya. Punya kekuasaan. Punya nilai tersendiri. Mereka tidak akan menyalahkan putra mereka. Bahkan dengan… perusahaan kita, itu ada di tangan mereka.”
“Jadi, mereka menyalahkanku? Aku bisa mengerti.”
“Baguslah jika kau mengerti. Terimakasih ya,” ujar J’Noi. “Oh ya, ada sebuah acara juga. Kau harus datang. Kau juga akan mendapatkan bayaran.”
“Apa Wadee akan pergi juga?” tanya Kae.
“Ya.”
Dan Kae setuju untuk datang.
--
Selesai syuting, Wadee mengajak Kae untuk pulang bersama. Tapi, Kae menolak karena jalur rumah mereka berbeda.
“Apa ada orang lain yang menjemputmu? Apa si pria pekerja bak itu? Dia terlihat sopan.”
“Dia baik.”
“Jelas sekali kalau dia menyukaimu. Jangan berikan hatimu padanya. Sisakan beberapa untuk Khun Pawabob juga,” goda Wadee.
“Oiii, jangan menyebut namanya. Aku mohon.”
Dan Wadee tidak menyebut nama Pob lagi. Dia jadi membahas mengenai acara minggu depan, dimana mereka juga harus menari. Kae langsung lemas, karena dia tidak bisa menari. Wadee menenangkannya karena dia akan mengajari Kae cara menari.
Saat sedang bersenang-senang, Pat malah datang dan meminta waktu untuk bicara berdua dengan Kae. Wadee hendak menemani Kae, tapi Kae berkata tidak perlu.
Nguan lewat di sana dan dengan suara keras mengomentari jas-nya yang masih berbau busuk padahal sudah di semprotkan hampir setengah botol pengharum baju. Dia sengaja bicara dengan keras agar terdengar oleh Wadee.
“Nguan, kau masih menyemprot jas-mu juga,” komentar Mafai yang lewat dan melihat tingkah Nguan.
“Bau nya terlalu kuat. Aku rasa, orang yang menduduki jas-ku ini, sudah tidak mandi cukup lamaaaa.”
“Siapa?”
“Itu…”
Wadee langsung kesal. Dan dia langsung memanggil Mafai dan meminta bantuan Mafai untuk membantunya membawakan barang-barangnya ke depan karena ibunya sudah menunggu. Mafai dengan senang hati mengiyakan. Dan dia langsung membantu Wadee dan memberikan barang yang ada di tangannya pada Nguan. Nguan jadi kesal.
Pat memperingati Kae untuk tidak mendekati Pob karena hal itu membuat keluarga Pob menjadi cemas. 
“Kau berasal dari keluarga miskin dan berharapa bisa menaikkan statusmu dengan uang, dan mendapat tempat di lingkungan ini. lihat. Jangan biarkan jalannmu menjadi rusak dengan di keluarkan dari lakorn yang sedang kau filmkan saat ini. Karena keluargamu saat ini sedang bermimpi. Bermimpi menggerogoti uangmu! Pikirkan mengenai hal itu! kau berani merusak mimpi keluargamu, atau lebih mudah untuk berhenti mengganggu Pob,” peringati Pat.

Saat itu, Arthit datang untuk menjemput Kae, jadi Kae memanfaatkan hal itu untuk pergi. Tapi, Pat memanfaatkan moment itu untuk memotret kedekatan Pat dan Arthit.
--

Malam hari,
Khun Kesi mendapatkan foto dari Pat yang memperlihatkan kedekatan Kae dan Arthit. Foto itu langsung dia tunjukkan pada Khun Wichan, Nee dan Pob yang sedang makan.
“Dia kan nangrai yang ada di MV bersama P’Pob,” ujar Nee.
“Dia mencoba mendekati abangmu, bahkan ketika dia sudah punya pacar! Dasar kelas rendahan!” umpat Khun Kesi.
Pob tidak nyaman mendengarnya dan memilih masuk ke dalam kamar dengan alasan sudah kenyang.
--

Di dalam kamarnya, Pob melihat foto itu. Pat juga mengirimkan foto itu padanya. Pob jadi mengingat saat tadi pagi dia melihat Arthit yang menjemput Kae.
--

Kae sudah tiba di rumah. Panee menyambutnya dan berbasa-basi bertanya apa Kae sudah makan? Setelah itu, dia baru bertanya apa Kae benar mau tidur di ruang tamu? Kae bisa saja tidur di kamar bersamanya, atau dia bisa tidur di ruang tamu bersama Kae. Kae menolak hal itu.
Kae juga memberitahu mengenai acara yang harus di hadirinya minggu depan. Dan Panee langsung bersemangat karena artinya Kae pasti akan mendapatkan uang di undang ke acara tersebut. Mendengar uang, Nao dan Chom langsung turun dan ikut nimbrung. Chom bahkan berkata kalau dia mendengar jika orang terkenal di undang ke acara akan mendapat bayaran sekitar 200-300.000 baht, dann untuk pendatang baru mungkin sekitar 10.000 baht.
“Sebanyak itu?” kaget Panee. “Jika begitu, aku akan membayar DP mobil.”
Chom dan Nao tambah semangat. Chom merayu Panee agar membiarkannya ikut kursus mengemudi. Sementara Nao meminta motor agar bisa balapan bersama teman-temannya. Dan Panee langsung menyanggupi.
“Kae, aku memberikan Prang uang untuk membeli beberapa pakaian baru. Kau sekarang adalah artis. Kau harus mengenakan pakaian bagus agar terlihat cantik. Tidak seperti ini.”
Kae hanya diam dan berkata mau mandi dulu. Sementara itu, tampak kalau Panee sangat memanjakan Chom dan Nao dengan berkata akan mengabulkan semua keinginan mereka.

No comments:

Post a Comment