Sunday, March 17, 2019

Sinopsis Lakorn – Nang Rai Episode 02 - 4

0 comments

Sinopsis Lakorn – Nang Rai Episode 02 - 4
Images by : Channel 7
Kae dan Wadee sedang bersiap untuk syuting. Sambil bersiap, Wadee membahas mengenai Khun Arthit yang sepertinya telah menjadi jasa pengantar jemput Kae. Kae tidak mau membahas hal tersebut. Jadi, Wadee membahas mengenai tarian yang harus mereka lakukan di acara nanti.

Wadee mulai membuka musik di ponselnya dan hendak menunjukan tariannya. Tapi, dia memerlukan properti untuk tariannya, dan dia malah mengenakan topi yang ada di sana. Kae langsung memberitahu Wadee kalau itu adalah topi Nguan, dan jika Wadee menggunakan topi itu, nanti Nguan mengamuk. Wadee tidak peduli dan tetap menari.
Wadee juga mengajari Kae untuk menari.
--
P’Hong menghampiri Nguan dan kru, “Apa kalian sudah siap?”
“Kami tidak bisa menemukan topi Nguan. Topi-nya hilang,” lapor Mohm.
Ke dan J’Noi langsung memarahi Poei yang adalah kru busana tapi malah menghilangkan properti syuting. J’Noi memerintahkan Poei untuk mencari topi itu sampai ketemu dan terpaksa mereka harus syuting scene lain dulu sambil topi itu ketemu.
“Kemarin jas-nya Nguan yang bau parfum, sekarang topinya hilang. Bagaimana kau melakukan pekerjaanmu?!” omel J’Noi pada Poei.
Nguan kemudian teringat sesuatu. Dia akan mencari topi itu sendiri. Da mulai berjalan menuju ruang ganti Kae dan Wadee.

Dan benar, topinya ada pada Wadee. Dan Wadee sedang mengajari Kae menari. Nguan langsung memarahi Wadee karena telah mengambil topi keperluan syuting itu. usai mengatakan hal itu, Nguan langsung pergi. Kae jadi takut karena Nguan tampak sangat marah.
--
Minggu depan,
Nguan sedang membawakan acara untuk mengumumkan debut presenter untuk parfum Labell. Dan kedua presenter itu adalah Pob dan Pat. Khun Kesi yang melihat acara itu sangat bangga pada Pob yang terlihat tampan.
“Wanita itu nang ek atau nang rai, sih? Dia terlihat sangat mendekati Pob, seolah dia ingin menelan Pob!” komentar seorang wanita (sepertinya dia ibu Ladawan) pada Khun Kesi. Dia berkomentar seperti itu karena Pat terus menempel dan memegang tubuh Pob.
“Aku rasa mereka hanya mengikuti konsep untuk produk ini,” jawab Khun Kesi, membuat alasan.
Wanita itu kemudian mundur ke belakang untuk menelpon Lada yang belum juga datang. Setelah wanita itu pergi, Khun Wichan menyuruh Khun Kesi untuk memperhatikan Pat, yang terlihat berlebihan. Khun Kesi menenangkan Khun Wichan, dia merasa kalau Pat itu hanya ingin memanfaatkan popularitas Pob agar bisa ikut terkenal juga.

Acara selanjutnya adalah wawancara untuk Khun Pob dan Pat. Awalnya wawancara berlangsung lancar, dan Pat terus menempel pada Pob. Tapi, tiba-tiba Lada muncul dan mendorong Pat menjauh dari Pob. Tanpa malu, Lada langsung menyapa para wartawan dan memperkenalkan dirinya sebagai tunangan dari Pob.
Pat tidak terima dan mendorong Lada menjauh dari Pob karena ini adalah acaranya.
Nguan sendiri membacakan acara selanjutnya adalah pertunjukan spesial dari artis baru VK dengan Saturn Labell! Yaitu, Wadee dan Kae. Wadee dan Kae langsung naik ke atas panggung dan menunjukkan duet tarian mereka.
Hal itu menarik perhatian sebagian reporter yang mewawancarai Pob. Pob sendiri juga melihat tarian Kae dan tampak senang. Semua bertepuk tangan untuk penampilan Kae dan Wadee.

Sementara itu, Pat langsung protes pada EO karena mengundang Kae ke acara ini. EO jelas heran, kenapa Kae tidak boleh datang?
“Kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu?” tanya Pat lagi, tidak menjawab pertanyaan EO.
“Kenapa aku harus memberitahu Anda terlebih dahulu? Apa kau eksekutif VK?”
“Aku dengan paman dan tante (khun Wichan dan Khun Kesi – pemilik VK -).”
“Aku tidak tahu hal itu. Para eksekutif yang mengirim dua gadis itu kemari. Aku rasa mereka ingin memperkenalkan mereka.”

Pat malah ngambek dan tidak ingin melanjutkan acara. Dia memilih untuk pulang. Setelah Pat pergi, Pob menghampiri EO itu dan berterimakasih karena sudah mau melakukan permintaannya (wuoo, berarti Pob lah yang menyuruh agar Kae dan Wadee di undang ke acara ini).

Pob menatap Kae yang tersenyum dan asyik berbincang dengan para kru.
--
Kae dan Panee pergi ke bank lagi untuk mencairkan uang check gaji Kae. Sambil menunggu uang check di cairkan, Panee meminta Arthit untuk membantunya mencarikan mobil. Dia ada rencana untuk melakukan DP mobil. Dan juga dia ingin membeli sepeda motor untuk anak muda. Arthit menyanggupi untuk membantu Khun Panee.

“Khun Kaewalai, apa kau ingin aku mengajari cara menyetir? Aku juga akan membantumu mendapatkan SIM,” tawari Arthit.
“Terimakasih. Tapi aku tidak ingin merepotkan.”
“Itu tidak merepotkan. Melakukannya sendirian akan sangat menyulitkan ibumu.”
--

Ibu Ladawan memperingati Lada untuk segera memutuskan pacarnya yang ada di luar negeri itu sebelum Pob tahu. Lada protes, dia kan sudah melakukan semua yang ibunya inginkan, dengan berpura-pura di depan wartawan kalau dia sangat mencintai Pob hingga rela pulang kemari.
“Kau kembali karna kau ingin mobil baru untuk di London. Ingat ini, jika kau tidak memutuskan pacar asing mu itu, aku tidak akan mewariskan hartaku!”
“Kau tidak ingin memberikannya padaku, apa kau akan memberikannya pada selingkuhan ayah?” tantang Lada balik.
“Lada!” marah ibu. “Lihat saja, aku akan menggunakan semua uang dan harta ku untuk di donasikan ke badan amal! Hal tu lebih baik daripada membiarkan pacar asing-mu itu mengambil semuanya!”
--

Arthit membantu keluarga Kae untuk membeli mobil. Chom sangat senang dan ibu langsung memperingati Chom untuk menunggu hingga usia 18 tahun baru bisa membuat SIM dan mengendarai mobil.  
“P’ Kae, aku sudah tahu caranya mengemudi. Dapatkan aku mengantarkanmu ke lokasi syuting sekarang?” bujuk Prang.
“Ibu, aku ingin motor,” minta Nao.
“Motor? Minta sana sama P’Kae. Dia masih harus pergi ke acara,” ujar Ibu.
“Baiklah. Tapi kau harus mengemudi hati-hati,” setuju Kae.

Nao langsung senang. Dan Chom langsung ikut meminta di belikan ponsel baru. Dan Kae menyetujuinya. Mereka bertiga langsung mengatakan mencintai Kae. Panee juga menyuruh Kae untuk masuk ke dalam mobil untuk mencoba mobil baru itu.
Sementara itu, Arthit memasang wajah sinis melihat kelakuan semua anggota keluarga Kae.
--
Arthit mengajari Kae cara mengendarai mobil. Dan Kae mendengarkan dengan seksama ajaran Arthit itu. Mereka mulai belajar mengedarai mobil secara rutin.
--

Pat menemui Pob dan membicarakan mengenai gossip terbaru Kae. Kae di kabarkan adalah nang rai yang lebih cantik daripada nang ek dan kini sedang mencari cinta dengan pegawai bank. Dan Pob tampak tidak suka dengan berita tersebut.
--
Kae dan Wadee telah selesai syuting. Saat Kae bicara dengan kru mengenai syuting besok, Wadee diam-diam menerima telepon dan tersenyum senang. Kae tentu heran melihat Wadee yang senyum-senyum, tapi Wadee berkata tidak ada apa-apa.
Arthit, Kae dan Wadee kaget melihat ban mobil Kae bocor. Wadee langsung panik dan bertanya-tanya, siapa yang melakukan hal itu? sementara itu, Arthit memasang senyum jahat.
“Kau baik, Khun Arthit. Kau datang dan menjemput Kae setiap saat padahal kau bukan pacarnya. Gini saja, aku akan meminjamkan mobilku padamu agar kau bisa mencari mekanik dan membawanya kemari untuk mengganti roda,” ujar Kae.
“Uh, aku akan…”
“Aku akan menjaga Kae,” potong Wadee.
Arthit terlihat kecewa dan akhirnya pamit pergi untuk mencari mekanik setelah menerima kunci mobil Wadee.

Setelah Arthit pergi, Wadee langsung mengomentari ban mobil Kae yang tiba-tiba pecah. Eh, malah muncul sebuah mobil dan Pob turun dari mobil tersebut. Wadee langsung tersenyum sumringah.
“Aku ingin pipis. Aku ke kamar mandi dulu ya,” ujar Wadee dan langsung pergi.
“Aku ingin bicara denganmu,” ujar Pob.
Dan diam-diam, Wadee mengintip mereka dari jauh.
“Tapi, aku tidak mau,” jawab Kae.

Pob masih membujuk Kae untuk bicara sambil dia mengantar Kae pulang. Kae mengatakan kalau mereka tidak boleh bicara satu sama lain.
“Siapa yang menentukan kalau kita tidak boleh saling berbicara? Kenapa tidak kita biarkan hati kita yang menentukan? Karena ini adalah hidup kita. Ayo pergi. Aku hanya meminta waktu 30 menit.”
“Tapi…”
Wadee yang melihat Kae masih ragu, keluar dari persembunyiannya. Dia memanggil Kae dan berbohong kalau Arthit menelponnya dan mengatakan agar Kae pulang naik taksi saja. Wadee menyarankan agar Kae pulang denga Pob saja.
“Aku percayakan sahabatku padamu. Tolong jaga dia ya,” ujar Wadee pada Pob. “Aku mau pergi pipis dulu.”
Akhirnya, Kae mau pergi dengan Pob.
Wadee tersenyum senang melihatnya. Dia keluar dari persembunyiannya dan langsung menelpon Arthit, dan berbohong kalau Kae sudah pulang dengan taksi yang kebetulan lewat. (wkwkwk ternyata semua adalah rencana Wadee untuk membantu Pob agar punya waktu berdua dengan Kae).
Nguan ternyata dari tadi memperhatikan yang Wadee lakukan. “Benar-benar teman yang baik, memecahkan ban mobil teman sendiri dan membiarkan orang lain meminjam mobilnya sendiri,” sindir Nguan. “Bagaimana kau akan pulang?”
Dan Wadee baru tersadar akan hal itu. Gimana caranya pulang?
“Syuting sudah selesai. Aku akan mengantarkanmu. Mobilku di parkir di sana. Aku akan menganggap hal ini sebagai berbuat amal,” tawari Nguan.
“Aku tidak mau.”
“Terserah kau. Tapi, aku dengar bahwa ‘preta’ (hantu lapar) suka berkeliaran di sekitar sini. Uh, menyeramkan. Aku harus pergi.”
Wadee takut dan ingin mengejar Nguan, tapi dia malah menginjak tali sepatunya sendiri dan terjatuh. Nguan langsung mengejeknya. Tapi, dia tetap baik dengan menawari tangannya untuk membantu Wadee berdiri. Eh, si Wadee malah mendorong Nguan dan berdiri sendiri kemudian menuju mobil Nguan. Tampak sekilas, Nguan tersenyum kecil.
--

Pob membawa Kae ke sebuah jembatan yang menunjukkan keindahan malam kota Bangkok.
“Aku hanyalah gadis biasa, kau tidak harus membawaku ke tempat yang indah. Jika kau ingin bicara denganku, kau bisa membawaku ke tempat biasa saja.”

“Aku tidak membawamu ke sini untuk menikmati pemandangan,” balas Pob. “Hari ini VK Ent memasang papan iklan pertamamu untuk mempromosikan lakorn terbaru.”
Dan Kae tampak terkesima karena memang terlihat sebuah papan iklan besar yang menampilkan lakorn terbaru dimana dia pemeran sebagai nang rai.
“Aku akan pergi untuk sementara waktu. Dan ketika aku kembali, segalanya mungkin sudah berubah. Kau mungkin akan menjadi terkenal, memiliki ketenaran, tapi perasaan yang ku miliki untukmu, tidak akan pernah berubah,” ujar Pob dan membuat Kae terkejut. “Kau juga punya perasaan padaku juga kan?”
“Tapi…”
“Tapi apa? Jangan bilang kalau kita terlalu berbeda. Karena tidak peduli apapun yang orang lain katakan, aku akan menjadi lelaki biasa yang berdiri di depan mu, yang meminta cinta-mu. Jika kau belum siap, tidak masalah. Tapi, aku ingin kau tahu kalau aku tidak akan pernah berubah.”

Dan Pob maju ke depan. Mendekati Kae. Dan mencium bibir Kae. Kae menutup matanya dan meneteskan air mata. Dia mencintai Pob, tapi dia takut akan semua hal yang terlalu berbeda di kehidupan mereka.
--
Wadee menelpon Mafai dan berterimakasih karena telah mau menunggu Arthit datang untuk mengganti ban mobil dan juga bersedia untuk mengantarkan mobilnya.
Usai menutup telepon, Nguan langsung mengejek Wadee yang punya banyak sekali ‘pelayan.' Mereka jadi bertengkar lagi. Dan karena kesal, Wadee meminta di turunkan saja di pinggir jalan.
“Emang kau bisa jalan?” tanya Nguan, karena tadikan Wadee terjatuh dan tampaknya terkilir
“Bisa,” jawab Wadee dengan ketus.
Dan terpaksa, Nguan menepikan mobilnya. Wadee langsung mau keluar, tapi pintu mobil Nguan tidak bisa di buka dari dalam. Nguan menjawab kalau pintu mobilnya itu lagi rusak, dan dia akan membukakan pintunya dari depan untuk Wadee. Tapi, Wadee malah tidak sabaran dan terus berusaha membuka pintu mobil, jadi ketika Nguan membukakannya, dia jadi terjatuh ke atas tubuh Nguan.
Wadee malah berteriak histeris. Nguan jadi kesal, ini itu bukan lakorn jadi tidak perlu berlebihan. Pas sekali, ibu Wadee menelpon dan Wadee langsung bertanya ibunya dimana? Ibu menjawab kalau dia di rumah, dan Mafai sudah bilang kalau Wadee di antar pulang oleh Nguan, jadi dia merasa lega.
Ibu meminta Wadee untuk membiarkan dia bicara pada Nguan. Dan Wadee langsung memberikan ponselnya pada Nguan. Nguan bicara dengan manis pada Ibu Wadee. Usai bicara dengan ibunya Wadee, Nguan langsung mengembalikan ponnsel Wadee.
“Ibu mu sangat baik. Aku suka padanya. Masuklah, aku akan mengantarmu,” ujar Nguan. “Jika kau tidak mau masuk, aku akan menelpon ibumu.”
Dan akhirnya, Wadee kembali masuk ke dalam mobil Nguan.
--

Nguan akhirnya mengantar Wadee hingga ke depan rumahnya. Tapi, karena dia melihat Wadee kesulitan berjalan, Nguan langsung menggendong Wadee. Ibu dan Mafai keluar karena mendengar suara mereka. Dan Ibu langsung berterimakasih dan meminta maaf karena sudah merepotkan Nguan. Ibu juga menyuruh Wadee untuk berterimakasih pada Nguan. Tapi, Wadee malah diam saja, jadi Nguan pamit pulang dulu.
Setelah Nguan pergi, Ibu langsung memarahi Wadee yang tidak mengucapkan terimakasih.

“Dia kan tadi bilang sendiri, tidak perlu. Lagipula, aku tidak menyukainya.”
“Tapi, itu tidak sopan.”
“Tidak masalah Khun Mae. Nguan selalu berwajah masam seperti itu, itulah kenapa tidak ada yang bicara dengannya,” beritahu Mafai.
“Tapi, dia baik dan juga gentleman padaku,” balas Ibu.
“Dia hany berakting, bu.”
Mafai memilih pamit pulang dulu.


No comments:

Post a Comment