Sunday, March 17, 2019

Sinopsis Lakorn – Nang Rai Episode 02 - 5

1 comments

Sinopsis Lakorn – Nang Rai Episode 02 - 5
Images by : Channel 7


Arthit berada di rumah Kae, dan dia terus menanyakan kenapa Kae belum pulang juga sih? Dengan kesal Panee menjawab kalau mungkin Kae mampir ke suatu tempat dulu. Prang yang turun ke ruang tamu, berkomentar kalau Kae tidak pernah mampir kemanapun.

Panee sedang asyik menontong lakorn, dan lakorn yang di lihatnya itu di bintangi oleh Pat yang berperan sebagai nang ek (aktingnya jelek, nangis tapi malah seperti tertawa gitu). Panee berkomentar kalau Pat tidak lah cantik walaupun dia pemeran utamanya.
Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, dan Arthit langsung berdiri merasa kalau itu Kae. Prang juga berdiri, merasa kalau itu adalah temannya yang menjemputnya.


Suara mobil itu adalah mobil Pob yang mengantar pulang Kae. Kae berterimakasih karena Pob telah mengantarnya. Mereka bertatapan. Tapi, tatapan itu harus segera terhenti karena Prang dan Arthit keluar rumah.
Prang langsung menggoda Kae. Sementara itu, Arthit malah menatap tajam dan tidak suka pada Pob. Pob sendiri langsung permisi untuk pulang.

Setelah mobil Pob pergi, Arthit langsung mencerca Kae dengan banyak pertanyaan. Bukannya Wadee bilang kalau Kae pulang naik taksi? Kenapa malah bersama Pob?
Kae belum menjawab, dan Prang langsung berkomentar kalau dirinya jadi Kae dia pasti akan sangat senang jika bisa bersama dengan Pob. Arthit langsung melotot padanya. Dan Prang tidak takut, dia malah berlalu pergi dengan santai karena Tum sudah menjemputnya.
Kae memilih masuk ke dalam rumah. Dan Arthit mengikutinya. Panee langsung bertanya Kae darimana saja? Arthit sudah menunggu dari tadi.
“Aku tidak suka melihatnya. Dia bertingkah seperti kau adalah barang miliknya. Dan itu berlebihan,” komentar Panee dengan suara kecil pada Kae.
“Ibu lah yang memanfaatkannya untuk melakukan segala sesuatu yang kau inginkan,” balas Kae.
“Kenapa kau tidak menelponku dan memberitahu kalau kau baik-baik saja?!” tanya Arthit dengan suara keras, wajahnya bahkan tampak marah.
“Dia sudah pulang itu artinya dia baik-baik saja,” balas Panee.
“Aku melihatnya lebih dari baik. Karna orang yang mengantarkannya… bukan orang biasa.”
Dan Panee langsung bisa menebak kalau itu adalah Khun Pawabob. Panee segera memberitahu schedule Kae besok dan menyuruh Kae untuk segera tidur. Yang artinya, Panee mengusir Arthit secara halus. Arthit mengerti sindiran itu dan pamit pulang.
“Besok, dia bisa ke tempat kerja sendirian. Sekarang ini, lebih mudah pergi kerja sendiri, jadi kami tidak mau merepotkan mu lagi, Khun Arthit,” tegas Panee.
“Kalau begitu, aku akan mengambil barangku dari dalam mobil,” jawab Arthit dengan kesal dan langsung keluar untuk mengambil barangnya di mobil.
Setelah Arthit keluar, Panee berkata pada Kae kalau dia tidak perlu ketergantungan pada Arthit lagi. Itu karena Kae sudah terkenal dan akan semakin terkenal. Dia bisa melihat kalau Arthit itu tidak tulus. Arthit hanya ingin memiliki pacar selebriti.
“Dan untuk Khun Pawabob, kau harus membuatnya semakin menyukaimu,” ujar Panee.
Kae menerima telepon dari polisi mengenai ayahnya yang mabuk di kedai dan menolak untuk membayar minuman. Dan Khem bahkan memukul polisi yang datang ke sana untuk melerai pertengkaran. Panee langsung berteriak kesal karena Khem terus membuat masalah. Arthit yang kebetulan mendengar, langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Kae ke kantor polisi.
--

Kae dan Arthit tiba di kantor polisi. Khem langsung memohon agar Kae membantunya bebas. Arthit memberitahu kalau dia sudah bicara dengan polisi dan Khem tidak akan di tuntut karena kekerasan yang di lakukannya. Tapi, Khem masih mabuk dan akan membuat masalah, jadi dia menyarankan untuk membiarkan Khem sehari di kantor polisi. Khem berteriak kalau dia sudah tidak mabuk, dan Kae juga ingin membawa Khem pulang.
Tapi, Arthit malah berkata kalau mereka bisa menjemput Khem besok pagi ketika Khem sudah sadar. Kae mau tidak mau mengikuti saran Arthit.
--
Esok pagi,
Arthit menunjukkan Jum mobil-nya. Jum jelas heran karena Arthit punya mobi, atau itu mobil.
“Tidak usah pedulikan siapa pemilik mobil-nya. Tapi, kau harus punya mobil untuk pergi kerja. Bukankah itu hal bagus?”
“Ya bagus. Tapi kau harus pastikan tidak akan berubah dan meninggalkanku.”
“Aku melakukan segalanya untuk kita. Percayalah padaku,” yakinkan Arthit.
--

Sementara itu, Prang pulang dan menunjukkan pada Kae dompet yang berisi banyak uang yang di terimanya. Kae jelas tidak suka.
“Setidaknya, aku mendapatkan apa yang ku inginkan. P’Kae terlalu baik pada orang lain. Aku bisa tahu kalau Khun Arthit adalah pembuat masalah,” komentar Prang.
“Pergi saja kemanapun kau suka.”
“Kau harusnya mendengarkan Prang sesekali,” komentar Panee. “Aku takut kalau Arthit akan memeloroti uangmu.”
“Ibu, P’Kae sudah punya orang yang memelorotinya. Jika bertambah satu orang lagi, aku rasa tidak masalah,” komentar Prang. Panee jadi kesal dan menyuruh Prang masuk ke dalam kamar saja.
Setelah Prang masuk ke dalam kamar, Panee mulai bicara dengan baik pada Kae.
Saat itu, Arthit sudah berdiri di depan rumah Kae, dan melihat pintu rumah tidak terkunci, dia langsung masuk ke dalam.
“Kau harus menjauh dari Arthit mulai dari sekarang,” perintah Panee. Dan hal itu terdengar oleh Arthit.
BERSAMBUNG





1 comment: