Tuesday, April 2, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 06 – 3

1 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 06 – 3
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
Rapat di mulai,
Salah seorang dari trio pekerja mengatakan pendapatnya, bahwa cara paling cepat menjual baju adalah dengan melakukan siaran live. Seorang yang lain memberika ide lain kalau mereka bisa membuat group khusus wanita kaya agar datang dan berbelanja.
“Aku rasa, lebih baik jika orang terkenal membantu kita,” pendapat Daniel. “Mulai dari sekarang, kita harus membuka besar-besar mata kita. Jika kita melihat artis terkenal menggunakan pakaian kita di jalan, kita harus mengambil foto dengannya dan menyebarkan foto tersebut.”
“Itu pasti akan sulit,” komentar 2 pekerja lainnya.
“Tidak sulit. Sebenarnya, mencapai penjualan NTD 50juta tidaklah sulit. Kau dapat menghitungnya sendiri. Hua Li dept. store bagian pakaian wanita mempunyai 25 toko. Di setiap toko ada 3 orang SPG atau SPB. Setiap orang harus bekerja 22 hari dalam sebulan. Jadi, setiap orang hanya perlu mencapai penjualan NTD 30.000 per hari. Dengan begitu, jika kita mentotalkan semuanya, kita akan mencapai penjualan NTD 50juta.  Penjualan NTD 30.000 per hari, apakah itu sulit?” jelas Ke Ai.            
“NTD 30.000? Terakhir kali, aku bisa mencapai NTD 200.000 penjualan sehari,” komentar Daniel.
“Kalau aku, terakhir bisa mencapai lebih dari NTD 50.000 penjualan sehari.”
Makanya, mereka pasti bisa mencapai hal tersebut. Jadi mencapai penjualan NTD 50juta dalam sebulan bukanlah hal yang tidak mungkin.
Daniel tertawa dan menjelaskan ‘terakhir kali’ itu maksudnya adalah di masa lalu. Sudah sangat lama. Dan sekarang tidak lagi.
“Tapi, Daniel, kau yang paling banyak berjualan di departemen pakaian wanita. Kenapa kau tidak membagi kemampuan promosi-mu dengan yang lain?” tanya Zi Hao.
“Kemampuan terbaikku tidak bisa di pelajari oleh yang lain. Aku adalah pria. Para wanita sangat mempedulikan bagaimana para pria melihat mereka. Aku menjadi salah satu di antara mereka. Aku seorang pria dan juga seperti saudara perempuan mereka. Jadi, mereka memperlakukanku dengan tulus. Jadi, yang harus ku katakan : ‘Wow, pakaian ini sangat cantik! Ini di desain spesial untukmu!I’ Ding Dong! Akhirnya di beli,” jelas Daniel. “Jadi, wakil presiden, aku punya saran. Kita bisa memperkerjakan lebih banyak SPB. Mereka bisa membentuk grup lelaki. Dan hal itu pasti akan berjalan lancar.”
“Tidak bisa! Daniel, aku tidak setuju dengan caramu. Kita menjual baju jadi pelanggan kita bisa menemukan pakaian yang sesuai untuk mereka. Kita bukannya bermulut manis pada mereka. Kalau bermulut manis saja, mereka akan menyesal telah berbelanja begitu sampai di rumah. Jadi, jika seorang pelanggan tidak bisa menemukan pakaian yang sesuai di INDEX, aku dapat merekomendasikannya ke GD Shop atau toko lainnya. Kita ada di kapal yang sama. Kita tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri dan mengambil semua pelanggan. Kita juga harus membantu toko lain dengan memperkenalkan mereka kepada pelanggan. Dengan begitu, walau aku tidak bisa berhasil menjual, setidaknya aku bisa membantu toko lain menjual. Kita harus menghentikan pemikiran saing bersaing dengan sesama. Setiap pelanggan yang datang ke Hua Li dept store akan menghabiskan uang mereka di sini. Dengan begitu, kita baru bisa sukses,” jelas Ke Ai.
Semua terkesima dengan pemikiran Ke Ai, termasuk Zi Hao. Zi Hao kemudian menggunakan kata-kata untuk menyemangati mereka karena dia tahu kalau mereka kehilangan semangat juang. Mereka harus punya mimpi yang ingin di capai agar bisa semangat berjuang.
“Tulis semua mimpi kalian atau cari foto dan tempelkan. Setiap hari katakan ini pada papan mimpi kalian : Aku bisa melakukannya. Dengan penjualan NTD 50juta, hidupku akan berbeda. Aku akan mencapai mimpiku. Aku dapat mencapai penjualan NTD 30.000 setiap hari.
Trio pekerja semakin semangat. Mereka juga bersemangat untuk mempelajari produk dari toko lain di Hua Li agar bisa merekomendasikannya juga ke pelanggan. Pokoknya, mereka sekarang menjadi lebih kompak daripada sebelumnya.
Dan diam-diam, Li Jian bertanya mengenai ‘Wen Wen’ dan Ke Ai memberi tanda ‘oke’ dengan tangannya.
Wen Wen ikut bekrja secara resmi di Hua Li!
--

Zi Jie dan Xiao Gang ngobrol bersama di café. Zi Jie memberitahu hasil penyelidikannya kalau bukan Tiger yang menabrak Xiao Gang.
“Itulah kenapa aku buru-buru mencarimu. Aku sudah tahu alasannya. Kejadian ini di lakukan oleh ketua pasar Tian Tian sebelumnya. Dia ingin memfitnah Tiger. Dia melakukannya untuk mengambil kembali pasar Tian Tian,” beritahu Zi Jie.

Xiao Gang tentu tidak menyangka akan hal itu. Dan tentu, masih ada kecurigaan kalau Tiger terlibat. Zi Jie kemudian mengeluarkan kartu memori yang di ambil dari kamera mobil saat kejadian. Dan kartu memori itu tidak menguntungkan bagi Tiger. (Itu lho, waktu Tiger dan anak buahnya kena tipu oleh trik Zi Hao, sehingga mereka mengira ada polisi dan kabur. Saat itukan Tiger bilang akan membuat sesuatu yang besar, dan ternyata itu terekam oleh blackbox mobil yang ada di sana).
--

“Kalian bodoh! Kalian di peralat oleh orang lain dan menabrak pengacara itu dengan mobil. Kamera mobil bahkan ada dan bisa menjadi bukti. Aku tidak bisa membuktikan ketidakbersalahan ku sekarang!’ marah Tiger kepada anak buahnya. “Dasar pengacara sial! Dia menggunakan hal ini untuk mengancamku agar tidak menaikkan sewa! Aku tidak akan membiarkannya!”
“Kami tidak melakukan hal itu. Kenapa kita harus takut?” ujar salah satu anak buah tiger.
“Sst! Berhenti bicara kau!” marah anak buah yang lain. “Boss, aku dengar kalau pengacara itu dekat dengan polisi. Apa yang harus kita lakukan? Polisi pasti akan lebih percaya padanya.”
“Apa yang harus kita lakukan?! Dia tidak akan pernah bisa bicara lagi!” tekad Tiger.
--
Di Hua Li Dept. Store
Penjualan di departemen pakaian wanita mulai membaik. Tampak banyak pelanggan yang datang. Dan para toko mulai saling bekerja sama unuk menawarkan pakaian terbaik bagi pelanggan. Jika pakaian yang di cari tidak ada di toko mereka, mereka akan membawa pelanggan ke toko lain dan memperkenalkan pakaian yang sesuai. Ke Ai tersenyum senang melihat perkembangan tersebut.
Ke Ai kemudian berkeliling melihat toko lain. Dia berpas-pasan dengan Zi Hao dan Li Jian yang juga sedang berkeliling. Dengan sopan, Ke Ai memberi salam. Tapi, anehnya, Zi Hao dan Li Jian malah terus berjalan di belakangnya.
Ke Ai menjadi tidak tenang, apalagi teringat pertanyaan Wen Wen malam itu, apa Yang Zi Hao menyukai Ke Ai?


Pas saat Ke Ai menunduk dan hendak memperbaiki tali sepatunya, Zi Hao yang masih berjalan di belakangnya dengan Li Jian tidak memperhatikan jalan. Hingga Zi Hao jadinya menabrak Ke Ai dan hampir membuat Ke Ai terjatuh, tapi untung dia sigap memeluk Ke Ai hingga tidak terjatuh. Wajah mereka jadi sangat dekat hingga membuat Ke Ai gugup. Dia segera mendorong tubuh Zi Hao menjauh.
“Kenapa kau terus mengikutiku?” tanya Ke Ai.
“Mengikuti? Terus? Aku?” tanya Zi Hao bingung.
“Masih berani bilang nggak. Dari tadi kau mengikutiku di sana hingga sekarang.”
“Nn. Chang, aku rasa kau sudah salah paham. Wakil presiden dan aku hanya memastikan kalau pelanggan akan mempunyai pengalaman berbelanja yang baik dan setiap desain toko yang ada akan menarik mata pelanggan. Jadi, kami berjalan di sekitar sini untuk memeriksa,” jelas Li Jian.
Dan jadinya, Zi Hao menggoda Ke Ai yang sudah salah paham dan terus memperhatikannya. Ke Ai membantah hal tersebut. Tapi, Zi Hao masih terus mengganggu. Ke Ai tidak terjebak dalam godaan Zi Hao dan dengan tegas menjawab tidak salah paham dan tidak memikirkan apapun.
Zi Hao akhirnya menyuruh Ke Ai untuk mengikutinya berkeliling. Dia menanyakan pendapat Ke Ai, bagaimana caranya membawa orang yang tidak suka berbelanja ke lantai 2 (bagian pakaian wanita)?  Dan bagaimana membuat pelanggan yang hanya ingin membeli 1 buah pakaian menjadi membeli lebih banyak pakaian?
“Taktik kawan,” jawab Ke Ai.
“Kawan?” tanya Li Jian dan Zi Hao bersamaan.
“Seluruh dept. store mempunyai pelanggan yang berbeda. Target pelanggan di setiap lantai juga berbeda. Departemen pakaian wanita akan mempunyai target yang sama dengan beberapa lantai.”
“Tentu saja. Target pelanggan kita sama dengan departemen kosmetik. Seorang gadis akan berdandan untuk pria yang dia cintai. Tidak hanya wajah, dia tentu juga harus membeli pakaian.”
“Itu benar. Ketika aku berjualan pakaian di pasar, aku tidak takut bersaing dengan kompetitor sejenis. Karena aku tahu, kami bukan musuh, tapi kawan. Pelanggan mereka akan menjadi pelanggan potensialku. Ketika mereka menarik pelanggan mereka, mereka juga membantuku menarik pelangganku juga.”
“Aku mengerti maksudmu. Jika kita ingin meningkatka penjualan, kita harus memikirkan cara agar target pelanggan dari departemen kosmetik di lantai 1 akan naik ke lantai 2 juga. jadi, departemen kosmetik adalah kawan kita,” simpul Zi Hao.
“Aku juga mengerti maksud Anda. Tapi tn. Yang, apa yang harus kita lakukan?” tanya Li Jian.
“Ketika aku masih di pasar, aku bergabung bersama dengan yang lain. Contohnya, jika kau membeli sebuah pakaian, kau akan mendapatkan semangkuk kue beras atau potongan daging ayam secara gratis. Itu menguntungkan. Jadi, aku sarankan, kita harus mulai dari departemen kosmetik yang mempunyai target pelanggan yang sama dengan kita. Wanita tidak akan tahan dengan beli 1 gratis 1, dan mendapatkan potongan diskon NTD 100 jika mencapai pembelian NTD 1000. Jika kita membatasi waktu dan kuantitas, aku yakin jantung mereka akan berdetak cepat dan tidak bisa menahan godaan.”
“Aku setuju. Kita selalu menggunakan taktik ini selama berjualan. Diskon NTD 100 dengan pembelian NTD 1000. Tapi, kita harus menyesuaikan konten-nya. Tidak hanya pembelian dari toko yang sama, atau dari lantai yang sama. Dengan pembelian mencapai NTD 1000 dari departemen kosmetik, kita akan memberikan voucher diskon NTD 100 untuk pakaian wanita. Dengan begitu, pelanggan dari departemen kosmetik mungkin akan datang pada kita. Chang Ke Ai, aku izinkan kau untuk memikirkan ide hebat ini,” puji Zi Hao. Dan dia yang akan mengatasi hal ini. Dia tahu 1 orang yang bisa melakukannya.
--
Zi Jie sedang berada di ruang pantry dan menggoda para SPG. Lagi asyik menggoda, datangalah Zi Hao menemuinya.
“Tn. Liang sekarang ini tn. Jin sedang mengambil cuti panjang. Jadi, kau yang bertugas mengurus departemen kosmetik dari sekarang. Tapi, selama jam kerja, tolong jangan terlalu banyak bicara,” tegur Zi Hao. “Pemimpin harus memberikan contoh yang baik. Mengerti? Nama depanmu bahkan adalah Liang.”
Zi Jie tersenyum malu dan memberi tanda pada para SPG yang ada di sana untuk pergi. Setelah semua pergi, ZI Hao langsung bertanya, produk kosmetik apa yang baru laku terjual?
“Aku dengar itu adalah lipstick yang di endorse oleh Jamie Cheng. Tidak ada lagi stock di Taiwan karena sudah habis terjual. Tapi, dengan reputasiku, pabrik mengizinkan untuk menambahkan stock 1000 lipstick lagi. Terlebih lagi, ini adalah 1000 lipstick terakhir. Ketika persediaan nya tiba, departemen kosmetik ku akan…,” jelas Zi Jie dengan semangat.
“Berikan aku 1000 lipstick itu,” potong Zi Hao.
“No. tidak bisa!”
“Aku ingin menjadikan itu menjadi hadiah pembelian untuk departemen kita.”
“Hah? Hadiah gratis? Lalu, apa keuntungan yang akan ku dapatkan dari hal ini?”
“Aku sudah memeriksa. Rata-rata penjualan kalian adalah NTD 3.654.  Aku dapat membantu meningkatkannya menjadi NTD 5000.”
Zi Jie jelas tidak percaya, karena itu hal yang mustahil. Zi Hao mulai menjelaskan metode-nya mengenai taktik kerja sama tersebut, dan Zi Jie setuju.
Lagi asyik membahas bisnis, Zi Hao malah mendapat pesan dari ibunya yang mengingatkan untuk tidak melupakan janji dengan putri dari Bank Ju Bank lagi. Zi Jie yang membaca pesan itu, langsung mengejek Zi Hao.
--

Jammie datang ke Hua Li lagi. Dia mencari Ke Ai, karena itu dia berkeliling di setiap lantai Hua Li. Begitu menjumpai Ke Ai, dia langsung menyapa.
“Kue beras yang waktu itu kau berikan padaku, sangat enak. Ayo. Di toko mana kau bekerja? Bawa aku ke sana.”
“Ke toko ku?”
“Ya. Aku akan menghabiskan uang di sana. Chang Ke Ai (Jammie membaca tag nama Ke Ai). Nama mu sangat Ke Ai. Ayo, bawa aku ke sana. Aku akan meningkatkan penjualanmu.”
“Jika kau ingin membantu ku, maka tidak perlu. Kecuali, kau benar-benar ingin membeli baju.”
“Aku benar-benar ingin beli baju. Jadi, tolong rekomendasikan beberapa baju padaku.”
Ke Ai tidak punya alasan menolak lagi. Dia memperhatikan penampilan Jammie dan berkata kalau dia tahu toko baju apa yang cocok untuk Jammie.
Ke Ai membawa Jammie ke toko baju Daniel. Jammie memperkenalkan dirinya dengan nama Jian Zhen Yi. Ke Ai meminta Daniel merekomendasikan beberapa baju untuk Jammie. Dan dengan cepat, Daniel langsung melayani Jammie.
“Ini bukan tokomu?” tanya Jammie.
“Aku bekerja di INDEX, yang ada di depan toko ini. Tapi, pakaian kami lebih ke style romantic dan elegant. Aku rasa kau mempunyai karaktermu sendiri. Aku tidak ingin merekomendasikan pakaian yang tidak sesuai untukmu. Tapi, walau bagaimanapun, jika kau membeli pakaian yang kau suka di toko manapun dari departemen kami, aku akan bahagia.”
Dan salah satu dari trio pekerja, ternyata mengenali Zhen Yi sebagai Jammie Chien. Jammie mendengar bisikan mereka.
“Chang Ke Ai, sebenarnya, aku dapat juga mengenakan pakaian elegan. Hari ini, aku harus mengenakan pakaian dari toko mu. Setelah itu, kau akan lebih menyukaiku lagi,” ujar Jammie. Ke Ai bingung.

1 comment: