Tuesday, April 2, 2019

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 06 – 4

1 comments

Sinopsis Drama Taiwan – Hello Again Episode 06 – 4
Images by : SET TV , TTV, iQiyi
Li Jian mengajak Wen Wen ngobrol di sela-sela jam istirahat Wen Wen. Dengan gaya sok cool dia bertanya, bagaimana hari ini? Ada yang mengganggumu? Berapa banyak pakaian yang kau jual hari ini? Apa sudah makan siang? Apa ada waktu ke toilet? Atau…
“Kau terlalu banyak bertanya. Yang mana yang harus ku jawab?”
“Eh, itu, aku hanya ingin mengatakan, aku akan membantumu jika terjadi sesuatu.”
“Membantuku? Baik. Kalau gitu, aku akan langsung bilang. Aku tadi bertemu pelanggan yang menyulitkan. Dapatkah kau memukulnya untukku? Aku di denda oleh supervisor lantai, dapatkah kau membatalkan denda itu untukku? Terus, aku tidak punya waktu untuk pipis, dapatkah kau membantuku untuk pipis?!” tanya Wen Wen balik dengan kesal.
Li Jian terkejut hingga menjawab, “Ya, aku akan pipis. Aku akan bertanggung jawab. Tidak… aku,” gugup Li Jian. Hahahha.
“Hh, aku tumbuh di pasar. Aku bukannya hidup di lindungi. Jadi, kau tidak perlu menjagaku!” tegas Wen Wen.
--
Zi Hao akhirnya menemui putri dari pemilik Bank Ju Bang, Jammie Chien. Jammie berpenampilan elegan. Dengan sopan, Zi Hao meminta maaf karena sudah salah membiarkan Jammie menunggunya kemarin dulu. Saat itu, dia sibuk bekerja hingga lupa waktu.
“Aku tadi sudah bilang, tidak masalah kan. Tapi… lupa mengenai waktu adalah alasanmu saja. Sekarang, kau bisa mengatakannya dengan jelas. Jadi aku bisa menjelaskan (kepada ayahnya) ketika di rumah.”
“Kerja adalah hal yang paling penting bagiku. Aku juga bukan orang baik. Kau tidak suka orang yang tidak peduli pada keluarga. Apa yang kau pikirkan mengenai penjelasanku?”
“Tidak masalah. Tapi, apa kau tidak punya alasan yang lebih baik?”
“Hufft…,” Zi Hao menghela nafas panjang dan melirik ke samping. Di sana ada Zi Jie yang memberi kode padanya. “Aku punya rahasia yang tidak akan bisa kau terima.”
Dan Zi Jie bangkit dari kursinya, bergabung dengan Zi Hao dan Jammie.
“Dia adalah rahasia-ku,” ujar Zi Hao, dan Zi Jie menggandeng tangan Zi Hao dengan romantis. Hahahahaha. Jammie sampai heran melihat tingkah mereka.
“Jangan bertengkar dengan keluargamu karena aku,” ujar Zi Jie pada Zi Hao. “Aku tidak masalah.”
“Sayang, kau orang yang baik. Kau tidak egois dan memikirkanku. Bagaimana bisa aku bertahan melihatmu sedih?” jawab Zi Hao. Mereka sok sebagai pasangan.
Dan Jammie tersenyum usil melihat hal itu. Dia malah menyuruh mereka berdua untuk saling berciuman. Dengan begitu, dia akan pulang dan memberitahu kedua orangtua-nya kalau dia tidak menyukai Zi Hao. Dia akan menolak Zi Hao.


Zi Hao kaget. Tapi, tidak punya pilihan lain. Zi Jie mengehela nafas panjang. Zi Hao mendekat dengan perlahan. Aaaahhh…. ampun, ini adegan ngakak! LOL.
“Hahahhahaha!” Jammie ketawa ngakak, dan membuat Zi Hao gagal mencium Zi Jie. Dan terlihat kalau, Zi Jie sangat lega karena gagal berciuman dengan Zi Hao. “Aku tidak percaya kau sampai melakukan hal ini untuk menolakku. Ini sangat menarik. Karena kalian sangat polos, maka aku akan langsung bilang saja. Aku lesbi!”
Zi Hao dan Zi Jie terkejut. Jammie kemudian mulai mengeluarkan karet rambut dan mengikat rambutnya kemudian makan dengan lahap. Dia capek daritadi berpura-pura berkelas. Melihat rambut Jammie yang terikat, membuat Zi Jie jadi teringat sosok Jammie.
“Kau yang makan kue beras dengan Chang Ke Ai di restoran itu kan!” ujar Zi Jie.
“Okay, Yang Zi Hao. Aku rasa kita tidak akan bertemu lagi,” ujar Jammie dan beranjak pergi.
Tapi, Zi Hao menarik tangannya. Hal itu di rekam oleh salah seorang pengunjung restoran tersebut.
“Kenapa kita tidak pacaran saja?” tawari Zi Hao. “Kita akan di paksa kencan buta setelah ini. Karena kita sudah saling terbuka, kenapa kita berpura-pura pacaran saja? Kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika ada sesuatu, kita bisa saling menutupi satu sama lain. Aku rasa ini cara paling mudah untuk menjelaskannya pada keluarga kita.”
“Baik. Aku setuju.”
Dan setelah itu, Jammie pergi.
Zi Jie masih penasaran, apa Jammie benar-benar lesbi? Tapi, Zi Hao tidak peduli, karna dia harus buru-buru ke rumah Ke Ai. Ke Ai kan hari ini shift pagi, jadi pasti sudah pulang.
--
Zi Hao sampai di depan rumah Ke Ai dan melihat Ke Ai keluar dengan terburu-buru. Zi Hao langsung mengejarnya dan bertanya ada apa? Tapi, Ke Ai malah menyuruhnya untuk tidak ikut campur.
Ke Ai menerima pesan, dan Zi Hao mengintip pesan yang Ke Ai terima. Tiger mengirimkan foto Xiao Gang yang babak belur, Ini gedung yang di renovasi di sebelah pasar Tian Tian, No. 7, jalan Hua Xing. Datang sendiri!
“Ini jebakan!” ujar Zi Hao.
Tapi, Ke Ai tidak mendegarkan ucapan Zi Hao dan langsung lari ke vespa-nya. Zi Hao menghalangi Ke Ai untuk pergi karena itu adalah perangkap. Tapi, Ke Ai terlalu panik dan tidak mau mendengarkan apapun perkataan Zi Hao.
“Jangan takut. Aku di sini. Aku akan menghadapinya denganmu.”
“Tidak. kau tidak bisa ikut denganku.”
“Kenapa?”
“Aku hanya boleh ke sana sendirian. Kau sudah sering menolongku. Tolong berhenti menolongku lagi. jika kau ikut campur dengan para preman itu, kau tidak akan bisa lepas dari mereka sama sepertiku. Aku tidak bisa membawamu ke dalam masalah ini. Fokus saja mencapai penjualan NTD 50juta. Itu yang harus kau lakukan. Berpura-pura saja kau tidak tahu masalah kak Gang ini,” jawab Ke Ai dan langsung pergi dengan vespa-nya.


Zi Hao tentu tidak menyerah begitu saja. Dia melihat helm yang ada di salah satu motor yang terparkir dan mengambilnya. Setelah itu, dia berlari sekuat tenaga, mengejar vespa Ke Ai. Ke Ai tidak menyadari hal itu.
Zi Hao berhasil melompat ke tempat duduk vespa dan memegang setir bersama dengan Ke Ai. Ke Ai terkejut.
“Kau ngapain? Aku sudah bilang jangan ikut kan?”
“Aku juga tidak ingin ikut. Tapi, aku tidak ingin meninggalkanmu. Terlebih lagi, kau masih berhutang NTD 70juta. Jika sesuatu terjadi padamu, aku juga akan kehilangan NTD 70juta. Jadi, untuk melindungi uangku, akan akan bertanggung jawab atas keselamatanmu.”

Pada akhirnya, mereka tiba di gedung yang di SMS-kan oleh Tiger. Ke Ai menyuruh Zi Hao untuk berkeliling mencari barang yang bisa menjadi senjata, dan Zi Hao menurut. Tapi, saat Zi Hao sudah berjalan pergi, Ke Ai langsung masuk ke dalam gedung tersebut dan menguncinya dari dalam. Zi Hao mendengar dan langsung berteriak menyuruh Ke Ai membuka pintu. Terlalu bahaya sendirian! Ke Ai tidak membuka pintu dan langsung naik ke atas gedung.
Zi Hao tidak menyerah. Dia melihat kalau gedung itu bisa di panjat, dan langsung memanjatnya. Dia mengerahkan semua tenaga-nya, sudah seperti polisi profesional. Dan dia berhasil masuk ke dalam gedung tersebut. Dan dengan kemampuan pas-pasan nya, dia melumpuhkan para penjaga.

Ke Ai jelas heran melihat Zi Hao bisa masuk ke dalam gedung. Zi Hao hanya berkata pada Ke Ai untuk terus membawa-nya, apapun yang terjadi. Percayalah padanya, segalanya akan baik-baik saja.

Sementara itu, anak buah Tiger, mendorong tubuh Xiao Gang ke bawah gedung (lihat foto-nya ya).
“Tuan pengacara, jangan membesarkan masalah ini. Kau bahkan membahayakan nyawa-mu untuk orang-orang di pasar. Aku akan memberimu kesempatan terakhir. Apa yang aku inginkan sederhana. Aku tidak bertanggung jawab atas kecelakaanmu. Jangan bicara omong kosong. Dan juga, berhenti ikut campur masalah pasar. Dan aku akan segera membebaskanmu,” tawar Tiger.
“Apa yang ku inginkan juga sederhana. Jika kau setuju tidak menaikkan harga sewa dan membuat masalah untuk semuanya, semuanya akan setuju untuk membiarkanmu menjadi ketua pasar yang baru. Kita akan hidup bersama dengan damai. Jika kau mendapat masalah di masa depan, selama itu masih masuk akal, aku akan membantumu secara gratis.”
“Kau kira kau punya hak untuk mendiskusikan syarat-nya denganku? Nanti, ketika Chang Ke Ai datang, ayo kita lihat apakah kau masih akan keras kepala.”
Xiao Gang jelas marah karena Tiger melibatkan Ke Ai dalam masalah ini. Dia langsung memberontak. Tapi muncullah Ke Ai dan Zi Hao.

Zi Hao menyapa Tiger dengan ramah. Tapi, Tiger jelas tidak peduli walaupun Zi Hao sudah pernah memberikannya uang. Dia malah menyuruh anak buahnya untuk mendorong tubuh Zi Hao dari atas gedung tersebut.
“Jangan sentuh Yang Zi Hao!” teriak Ke Ai dengan panik. Tetapi, anak buah Tiger langsung mendorong tubuh Ke Ai menjauh.
“Sebelum aku mati, kau peduli padaku, itu sudah cukup,” ujar Zi Hao tiba-tiba. “Jika aku benar-benar mati, kau akan mengingatku selamanya, kan?”
“Kenapa kau masih bercanda sekarang?!” marah Ke Ai.
“Tentu saja aku bercanda. Karena… seseorang mungkin tidak akan bisa tertawa keras lagi.”
Semua bingung dengan maksud Zi Hao.

“Tiger lihat, kita ada di kamera. Senyum. Segala yang kau lakukan sudah terekam. Lihat itu?” ujar Zi Hao dan menunjuk ke drone yang terbang di depan mereka. “Temanku ada di seberang kita. Jika dia menggerakan jarinya, lokasi dan bukti kejahatanmu agar di kirim ke kantor polisi.”
Dan terlihat Li Jian ada di gedung seberang sedang memegan remote drone.
Tiger berteriak kesal karena mereka sudah berada di tempat kosong begini, kenapa masih ada CCTV?
“Karena sekarang kita sudah hidup di era digital. Tolong ikutilah perkembangan zaman. Sebelum kau berbuat kejahatan, periksa terlebih dahulu apakah ada CCTV atau kamera drone di sekitar. Jangan kehilangan segalanya karena ini,” lanjut Zi Hao.
Dan para anak buah Tiger malah bersembunyi di belakang tubuh Tiger karena takut wajah mereka terekam. Tiger semakin kesal dan memukuli mereka sembari menyebut mereka pengecut.
“Baiklah. Bukan aku yang membuatmu kecelakaan. Dan juga mengenai pasar, kita akan mendiskusikannya lagi,” ujar Tiger dan pergi bersama para anak buahnya.
Setelah Tiger pergi, Ke Ai langsung berlari ke arah Xiao Gang dan melepaskan ikatannya. Dia juga memeluk Xiao Gang dengan lega karena Xiao Gang tidak terluka sama sekali. Zi Hao kesal sekali melihatnya.
Dan dia langsung berakting kesakitan sambil memanggil nama Ke Ai. Ke Ai jelas jadi peduli padanya lagi. Dan Zi Hao langsung tersenyum menang pada Xiao Gang.
--

Untuk membalas dendam pada Zi Hao, Xiao Gang dengan sengaja mengurut pinggang Zi Hao dengan keras. Zi Hao berteriak kesakitan memanggil nama Ke Ai sambil merengek kalau Xiao Gang berusaha membunuhnya.
Ke Ai keluar dan memberitahu kalau air panas sudah siap. Siapa yang ingin mandi duluan? Xiao Gang lah yang mandi duluan. Zi Hao bertanya, apa Xiao Gang perlu bantuan untuk mencuci punggung lagi?
“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Bisa sendiri? Jadi sebelumnya kau membohongiku?” tanya Zi Hao. Dan Xiao Gang tersenyum memberi tanda ya.
Setelah Xiao Gang pergi, suasana menjadi canggung antara Ke Ai dan Zi Hao.
“Terima kasih. Kau terluka karena aku.”
“Tidak perlu berterimakasih. Aku juga tidak serius terluka. Aku sudah lebih baik sekarang. jangan khawatir.”
“Kau tahu betapa bahayanya tadi?”
“Kau khawatir padaku?” goda Zi Hao.
“Tentu saja.”
“Kenapa?”
“Karena kita sekolah di tempat yang sama. Kita teman. Kau boss-ku dan aku pegawaimu. Jangan lakukan hal ini lagi. Jangan membantuku lagi. Aku tidak bisa membalasmu.”
“Membalasku? Gampang. Biarkan aku tinggal di sini,” ujar Zi Hao.
“Tinggal di sini?”
“Ya, tinggal di sini!” senyum Zi Hao.



 Bersambung

1 comment: