Sunday, April 28, 2019

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 08 – 2

2 comments

Sinopsis Korean Drama : Beautiful World Episode 08 – 2
Images by : jTBC

Moo Jin pulang dan menemukan In Ha yang duduk di taman dekat apartemen. Dia menanyakan keadaan In Ha dan bertaya kenapa In Ha ada di sini?
“Aku ingin pulang. Tapi, aku tidak ingin Soo Ho melihatku yang sangat kelelahan. Jadi, aku beristirahat.”
Moo Jin tidak berkata apapun dan membiarkan In Ha memeluknya.
--

Jin Pyo bertemu dengan Dae Gil. Dia memberikan sekantong uang pada Dae Gil, dan meminta ponsel Sun Ho. Dae Gil memberikan ponsel pengganti, dan memberitahu kalau dia sudah membuang ponsel Sun Ho di hari kejadian itu. Dia mengambil SIM Card-nya dan memasukkannya ke dalam ponsel itu. Jin Pyo jelas tidak percaya. Tapi, Dae Gil tidak peduli.
Jin Pyo menebak kalau Jin Pyo pasti sudah mengcopy isi ponsel Sun Ho ke ponsel lain. Dan dia bertanya tujuan Dae Gil menelponnya tengah malam begini. Dae Gil menjawab kalau dia merasa Eun Joo akan terjatuh suatu hari nanti, jadi dia memilih Jin Pyo sebagai sekutunya karena merasa lebih aman.
“Putra satu-satumu kecaduan judi, narkoba dan bahkan berhutang pada rentenir. Dan lebih daripada itu, rentenir itu bahkan mulai mengancam hidupnya. Istrimu menjadi shock dan akhirnya gila. Kau benar-benar menyedihkan.”
“Kenapa kau tidak fokus saja mengurus keluargamu sendiri?”
“Jika kau melukai putraku dengan cara apapun, aku akan membunuhmu putramu.”
“Dia sudah mati bagiku,” jawab Dae Gil.

Tapi, itu hanya di mulut saja. Saat dia tahu kalau Jin Pyo telah menyuruh orang menculik putranya dan bahkan mengancam akan membunuhnya, Dae Gil menjadi takut. Dia berusaha mengancam Jin Pyo juga dengan rekaman yang dimilikinya, tapi Jin Pyo tidak takut. Jika Dae Gil menyebarkan rekaman itu, maka di saat itu juga, putra Dae Gil akan mati. Toh, walaupun putra Dae Gil mati, tidak akan ada orang yang peduli sama sekali, sama seperti anjing peliharaaan yang mati.
Pada akhirnya, Dae Gil kalah pada ancaman Jin Pyo.
“Kau terlihat sangat putus asa. Jadi, aku akan melepaskannya kali ini. Tapi, tidak akan ada lain kali. Anak buahku akan mengikuti putramu terus seperti bayangannya. Mereka akan mengawasinya siang dan malam. Jangan berpikir untuk melakukan apapun dan hanya terus menunduk saja. Jangan menghilang. Jangan berhenti dari pekerjaanmu sekarang. Hanya tetap tinggal di tempatmu biasanya. Dan mulai dari sekarang, jika kau membutuhkan uang, kau hanya perlu meminta padaku secara sopan. Kau pernah menjadi detektif. Bukankah memalukan bagimu untuk mengancam orang, benarkan?” ujar Jin Pyo.
--
Di kamarnya, Joon Seok terus mondar mandir dengan cemas. Dan dia mulai teringat kalau Young Chul tahu dia mau menemui Sun Ho malam itu. Joon Seok hendak menelponnya, tapi tiba-tiba Jin Pyo masuk ke dalam kamarnya.
Dia mengajak Joon Seok untuk bicara.
“Ini apa yang sering kakekmu sering katakan pada ayah : Titik mulai hidup seseorang sangatlah penting. Karena itulah yang akan memutuskan bagaimana hidupnya akan terjadi. Kau terlahir di kelas atas. Itu satu-satunya kesalahan yang kau punya. Fakta kalau kau adalah ketua karena kau terlahir dari kalangan atas. Bahkan jika kau tidak berbicara jelas, para anak itu akan menganggap perkataanmu sebagai perintah seolah mereka adalah pelayanmu. Dan itu karena mereka terlahir seperti itu. Karena itulah bagaimana mereka terlahir. Seorang pemimpin harus memiliki pikiran yang kuat. Kau tidak perlu peduli apa yang orang lain katakan. Mereka semua tidak berguna. Jangan goyah karena hal kecil. Hanya fokus untuk terus maju. Jika sesuatu menghalangi jalanmu, aku akan melenyapkan itu tergantung pada hal itu. Kau harus tidur sekarang,” ujar Jin Pyo.
Joon Seok benar-benar senang mendengarnya dan semua kekhawatirannya hilang.
--

Pagi hari,
Soo Ho berangkat sekolah. Dan aku tidak mengerti kenapa, kamera merekam saat Soo Ho memperbaiki tali sepatu-nya. Apa ada sesuatu yang akan terjadi?
--
Di sekolah, Soo Ho menghampiri Dong Hee. Dia sudah mendengar dari ibunya kalau kemarin mereka bertemu dengan Dong Hee. Dan karena itu, dia mengajak Dong Hee untuk bersama-sama menangkap pelaku-nya. Mereka tidak bisa mengharapkan sekolah dan polisi, jadi mereka harus berusah sendiri.
“Bagaimana caranya?”
“Joon Seok adalah tersangka utama. Jadi, kita harus mencari buktinya. Kita harus mencari bukti untuk mematahkan alibinya.”
“Bagaimana cara kita melakukannya?”
“Itulah yang harus kita pikirkan sekarang,” jawab Soo Ho. “Ah, aku menemukan ini di mobil ayahku, jadi aku mengambilnya (kartu nama rep. choi). Aku sudah menghubunginya dan berkata akan bertemu sepulan sekolah. Maukah kau ikut denganku? Kalau tidak mau, tidak apa.”      
--

Det. Park dan det. Kim selesai menginterogasi tersangka, dan tidak menemukan petunjuk mengenai tersangka utama yang mereka incar, Ki Deuk Cheol. Dan hal itu membuat det. Park sangat stress. Det. Kim kemudian memberitahu kalau dia mendengar informasi mengenai seseorang yang di sebut Mr. Ice. Dan anehnya, Mr. Ice itu kemarin menghilang dari TKP yang mereka datangi. Atau dia kabur dengan Deuk Cheol? Dia juga tidak begitu yakin, tapi dari yang dia dengar, ayah dari Mr. Ice adalah polisi sehingga membuatnya menjadi berani.
“Siapa ayahnya?”
“Aku tidak tahu nama asli dari Mr. Ice.”
Det. Park langsung kesal mendengar jawaban dari det. Kim dan menyuruhnya untuk mencari tahu sekarang! det. Kim langsung pergi.
Tidak lama, Moo Jin datang dan Det. Park langsung menghela nafas panjang melihatnya.
--
In Ha sudah menceritakannya pada Joon Ha, dan Joon Ha sangat marah.
In Ha juga menelpon Jin Woo dan memberitahu hal itu. Dia meminta Jin Woo untuk memperhatikan Dong Hee agar tidak di bully atau sejenisnya. Jin Woo mengerti akan hal itu.

Jin Woo juga marah mendengar kejadian itu. Pas pula, Kang Ho datang dan menanyakan ada apa. Dia bahkan berkata apa In Ha mengganggu lagi? Jin Woo jadi emosi dan berteriak kalau In Ha tidak pernah begitu. Teriakannya menarik perhatian semua guru lainnya. Jin Woo bahkan mengatakan kalah Kang Ho menyedihkan. Kang Ho jelas marah, dan Jin Woo memilih keluar untuk menenangkan emosinya.
Jin Woo berdiri di balkon dan melihat para siswa yang bermain di lapangan. Dia teringat perkataan Dong Hee, kalau dirinya tidak berbeda dengan orang lain yang menganggapnya hanya sebagai hantu.
--
Det. Park sudah mendengarkan cerita Moo Jin. Tapi, semua itu masih dugaan dan mereka perlu mendapatkan bukti nyata untuk mengubah dari bunuh diri agar bisa menjadi penyelidikan.  Dan karena itu, dia akan terlebih dahulu mencoba bicara dengan Dong Hee.
“Jika itu yang akan kau lakukan, maka tidak perlu. Dia sudah memiliki hidup yang sulit, aku tidak ingin membuatnya lebih sulit,” ujar Moo Jin. “Kami akan mencari sendiri buktinya.”
“Aku juga merasa kalau ini bukan hanya masalah kekerasan sekolah. Aku bilang sulit untuk mengadakan penyelidikan resmi. Aku tidak berkata kami tidak akan melakukan investigasi sama sekali.”
“Apa itu artinya kau mempercayai kami sekarang?”
“Spekulasi tidak bisa menjadi bukti,” jawab Det. Park.
“Aku tidak nyaman membiarkan polisi bicara sendiri dengan Dong Hee. Aku ingin di sana juga.”
Dan det. Park setuju akan hal itu. Saat Moo Jin sudah mau pergi, dia malah mendengar det. Kim yang melapor pada det. Park, mengenai ayah dari Mr. Ice. Ayahnya adalah satpam di SMP Seah, Shin Dae Gil.
“Kelihatannya dia keluar dari kepolisian karena putranya pemakain narkoba,” jelas det. Kim.
“Kau yakin?”
“Aku yakin dia adalah ayah dari Mr. Ice. Tapi, departemennya dulu tidak mau bekerja sama. Jadi, aku tidak tahu alasan pasti kenapa dia berhenti,”
--
Joon Ha masih kesal dan menyarankan agar mereka memasang poster untuk mencari saksi mata ataupun bukti. Pasti ada seseorang yang melihat pertemua mereka. Saat itu, petugas polisi datang mencari In Ha. Itu karena In Ha membagikan kartu nama di depan sekolah pada para murid, dan mereka mendapat laporan dari orang tua karena hal itu meresahkan.

Dan orang yang melaporkan adalah ibu Sung Jae. Dia juga mengumpulkan orang tua siswa yang lain dan berusaha membuat mereka memusuhi In Ha. Seok Hee yang juga ada di sana, sangat marah mendengar semua yang di katakan ibu Sung Jae. Seok Hee membela In Ha yang adalah seorang ibu dan pasti melakukan hal tersebut demi anaknya. Jika mereka ada di posisinya, mereka pasti akan melakukan hal yang sama. Mereka semua kan ibu.
Saat itu, Joon Ha datang dan langsung menyiram muka ibu Sung Jae dengan air.
“Apa kau gila?!” marah ibu Sung Jae.
“Kau berkata satu kata lagi, akan ku tunjukkan padamu apa itu sebenarnya gila. Sadarlah, kau akan di hukum jika terus seperti ini.”
“Apa kau lupa kalau suamiku adalah pengacara?!”
“Tuntut saja aku. Kita akan lihat siapa yang akan menang pada akhirnya.”
Ibu Sung Jae hanya bisa berteriak frustasi. Dan dengan tenang, Joon Ha pergi dari sana.
--
In Ha pergi ke sekolah. Dan entah ada apa, karena mukanya terlihat sangat lelah.

Jin Woo sendiri menghadap Sang Bok dan memberitahu mengenai Joon Seok yang mungkin adalah ketua gang. Dan jelas saja, Sang Bok marah dan menyebut Jin Woo sudah gila. Jin Woo menegaskan kalau Ki Chan juga mengatakan hal yang sama, tapi mereka tidak percayanya. Sang Bok tetap ngotot kalau Jin Woo salah. Dia malah menyuruh Jin Woo memberitahunya siapa yang mengatakan kalau Joon Seok adalah ketua gang. Jin Woo jelas tidak mau memberitahu.
Sang Bok terus memaksa Jin Woo memberitahu, dan akhirnya mereka bertengkar. Dia menyebut Sang Bok menyedihkan, dan dia juga menyedihkan. Dan sekolah ini pun menyedihkan!
“Kalau kau merasa begitu, maka keluar saja!” perintang Sang Bok. “Jika kau tidak menyukai di sini, kau harus pergi!”
Kang Ho yang mendengar dari tadi, tidak bisa diam lagi. Dia berdiri dan berkata kalau dia yang akan bicara pada Jin Woo. Dan jelas, kita tahu kalau Kang Ho melakukan itu untuk menyelamatkan Jin Woo dari amukan Kang Ho.
 --

In Ha menemui Dae Gil. Dia menyapa Dae Gil dengan ramah. Dia sudah mau pergi, tapi, Dae Gil tiba-tiba menghentikannya. Dae Gil memberikan sebuah pot berisi kaktus. Dia ingin mengujungi Sun Ho, tapi tidak bisa. Jadi, dia memberikan kaktus itu untuk Sun Ho. In Ha menerimanya dan berkata akan meletakkannya di kamar Sun Ho, jadi Sun Ho bisa melihatnya ketika pulang (karena tidak boleh membawa tanaman ke rumah sakit).
Dan aku curiga ada sesuatu di bunga kaktus itu.
--

Dong Hee dan Soo Ho menemui rept. Choi. Rept. Choi awalnya tidak mau mewawancarai Soo Ho karena Soo Ho tidak mendapat izin dari Moo Jin. Tapi, dia tetap akan mendengarkan cerita dari Soo Ho dan Dong Hee.
Mereka telah selesai bicara. Rept. Choi berkata kalau dia akan menulis artikel tersebut, tapi tidak bisa mempublikasikannya hanya berdasarkan cerita satu orang. Dia harus mencari lebih banyak nara sumber. Soo Ho mengerti.
Saat di dalam mobilnya, rept. Choi tersenyum senang, “Anak Oh Jin Pyo adalah orang yang akan menghancurkan image ayahnya. Daebak!”
--
Jin Pyo menelpon Eun Joo dan berkata kalau dia ada janji makan malam, jadi dia tidak akan pulang terlambat.
Tapi, baru selesai dia menelpon, dia jadi teringat saat dia melempar recorder kemarin malam. Dengan panik, dia menyuruh supirnya untuk memutar balik mobil ke rumah.
--
Di rumah, Eun Joo teringat dengan recorder yang kemarin di ambilnya dan belum di dengarkannya. Jadi, dia memutuskan untuk mendengarkan isi recorder tersebut. Dan apa yang di dengarnya, membuatnya terhenyak!
Jin Pyo benar-benar panik, takut kalau Eun Joo akan menemukan recorder tersebut.
Eun Joo menutup mulutnya dengan kaget mendengar isi recorder tersebut!
--

Moo Jin seadng melihat kembali CCTV yang ada di dekat sekolah. Tapi, dia tidak menemukan apapun. In Ha melihatnya dan merasa kesal karena mereka belum menemukan bukti apapun. Moo Jin pun demikian.
“Tapi, kenapa kau melihat ini?”
“Aku tidak bisa berhenti memikirkan yang supir food truck itu katakan,” jawab Moo Jin.

Dan saat itu, In Ha melihat sesuatu yang tidak asing. Sebuah mobil putih di rekaman CCTV. Dia mengenali mobil itu.
--


Jin Pyo pulang dengan panik dan berkata kalau dia meninggalkan sesuatu. Jin Pyo segera ke ruang kerjanya dan memeriksa kolong, tetapi recorder tersebut tidak ada. Dan dia melihat Eun Joo yang berdiri menatapnya sambil memegang recorder tersebut.
--
“Aku rasa itu mobil Eun Joo. Itu mobil Eun Joo. Itu dia,” beritahu In Ha.
Dan mobil itu mengarah ke gerbang belakang sekolah!
“Itu gerbang sekolah!” ujar Moo Jin.
“Eun Joo ada di sana malam itu!” sadar In Ha. “Dia ada di sana.”


2 comments: