Tuesday, April 16, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 4 - part 2

2 comments


Krong Karm Episode 4 – part 2
Network : Channel 3
Pagi hari. Ketika bangun, dan keluar dari dalam kamar, Atong melihat Philai yang sudah bangun dan berpakaian rapi. Jadi dia pun menanyakan, apa Philai sudah lama bangun. Dan Philai pun menjelaskan bahwa dia tidak bisa tidur, makanya dia bangun cepat.



Atong kemudian menyuruh Philai untuk memasak nasi, lalu mereka akan sarapan bersama. Sesudah itu, mereka bisa pergi ke toko untuk membantu. Tapi ternyata, Philai sama sekali tidak tau bagaimana cara nya memasak nasi. Bahkan Philai juga tidak tau bagaimana caranya menyalakan api.

Mengetahui itu, Atong terkejut, dan tanpa sadar dia pun berbicara dengan nada keras. Dan mendengar itu, Philai menatap malas ke arahnya. Lalu merasa tidak enak, Atong pun meminta maaf, karena telah berbicara terlalu keras.


“Ketika kamu tinggal di Thap Krit, apa kamu tidak pernah menyalakan api untuk memasak nasi?” tanya Atong.

“Mom melakukan segalanya untukku. Aku tidak perlu melakukan apapun sendirian. Mengapa?” balas Philai, dengan sikap malas.

“Tidak apa. Hari ini aku akan mengajari mu. Sehingga kamu bisa melakukannya,” balas Atong dengan nada lembut.

Dipasar. Chai menemani serta membantu Renu berjualan kue. Dan melihat itu, beberapa orang di pasar memuji mereka. Lalu kemudian mereka membicarakan tentang betapa tidak baiknya Yoi, yang mengabaikan Renu, hingga Renu keguguran. Mendengar itu, Chai merasa tidak nyaman, dan Renu menyadarinya.


“Jangan bicara begitu. Ini mungkin karma ku. Dia akan menerima ku suatu hari nanti. Dan lagian, aku selalu menghormatinya seperti Ibuku sendiri,” kata Renu kepada semua orang, sambil memegang tangan Chai untuk menghiburnya. Dan Chai tersenyum.



Atong datang ke toko untuk membeli beberapa barang belanjaan. Dan ketika mengetahui bahwa Philai masih dirumah untuk memasak nasi, Yoi merasa heran, kenapa baru jam segini Philai memasak nasi. Dan kenapa Atong yang harus datang untuk belanja ke sini, bukannya Philai sendiri yang kesini atau kepasar.


“Philai tidak bisa memasak nasi. Bahkan menyalakan api juga. Dia bilang, Ibunya yang selalu melakukan segalanya selama ini,” jelas Atong. Dan Boonplook merasa kasihan pada Atong.

“Tidak apa. Dia bisa belajar. Pekerjaan rumah dan pekerjaan dapur adalah pekerjaan wanita,” balas Yoi dengan tenang.


Setelah Atong selesai memesan semua barang yang di butuhkan. Yoi memberitahu agar Atong mencatat semua nya itu di buku, karena pada akhir bulan nanti, dia akan memotong bayarannya dari gaji Atong serta Philai. Karena bagaimana pun, Atong telah hidup berpisah dari mereka, dan memiliki keluarga sendiri. Dan Atong mengerti.

“Pastikan Istrimu mengerti juga,” kata Yoi, tegas. Dan Atong mengiyakan.

 
Dipasar. Chai pamit pergi kepada Renu. Tapi dengan manja, Renu meminta agar Chai menenamanin nya sebentar lagi sampai kue jualannya habis, sebelum Chai berangkat ke stasiun.

Tapi Chai tidak bisa menemanin Renu lebih lama, karena dia harus pergi ke toko Ibu nya. Dan sambil tersenyum Renu bertanya, apa dia harus menemanin Chai ke sana. Dan Chai balas tersenyum.

“Aku akan menulis surat untuk mu. Jaga dirimu ya,” pamit Chai.

“Aku akan menunggu mu, P’Chai,” balas Renu.



Sebelum Chai pergi meninggalkannya sendirian, Renu menunjuk pipinya. Sebagai kode agar Chai mencium nya dulu. Namun Chai merasa sedikit malu, karena sekarang mereka sedang berada di pasar. Tapi karena Renu meminta dengan manja padanya, maka Chai pun mencium pipi Renu. Lalu dia pamit dan pergi.



Atong pulang ke rumah. Dan ketika dia melihat meja makan yang masih kosong, dia bertanya kepada Philai. Lalu dengan acuh, Philai bertanya, memang apa yang harus dilakukannya. Dan Atong pun menjelaskan bahwa setidaknya Philai bisa memanas kan air untuk di minum.

“Au tidak tau dimana tempat minumnya,” kata Philai. Dan Atong pun mengambilkan nya, tapi Philai sama sekali tidak mau melihat dimana Atong mengambil nya.



Atong kemudian memeriksa nasi yang dimasak nya, tapi ternyata Philai sama sekali tidak ada mengaduknya, sehingga nasinya menjadi lengket ke bawah. Dan dia pun bertanya. Lalu dengan mudah, Philai menjawab bahwa dia tidak tahu kalau itu harus di aduk.



Philai kemudian protes, mengapa Atong membeli kebutuhan sehari- hari merk ini, kepadahal dia tidak suka merk itu. Dan Atong pun membalas lain kali dia akan membelinya. Lalu dia memberitahu bahwa semua barang itu tidak di dapatkannya secara gratis. Karena semua bayarannya akan dipotong pada gaji mereka diakhir bulan.

“Toko itu punya mu sendiri, tapi mengapa kamu harus membayar nya sendiri?!” keluh Philai.

“Dengarkan aku. Kita sudah memiliki keluarga sendiri. Jadi kita tidak seharusnya mengambil keuntungan dari yang lain,” jelas Atong.



Chai datang ke toko. Dan melihat nya, Ayah pun menghampirinya, lalu dia menanyakan apakah Chai sudah akan kembali ke kamp hari ini. Dan Chai mengiyakan. Lalu dia menanyakan kepada Ayah, dimana Ibu, karena dia ingin bertemu.

“Masuklah ke dalam dan makan dengannya. Cobalah berbicara kepadanya. Dia akan mendengarkan mu,” kata Ayah. Lalu dia pergi.

Chai memberanikan dirinya sendiri, dan dia masuk ke dalam rumah. Dan ketika melihat Ibunya yang sedang berada didapur, dia memanggil nya. Tapi dengan nada dingin, Yoi membalas, mengapa Chai datang ke sini.


“Aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku harus kembali ke camp hari ini,” kata Chai.

“Kamu datang menyapa ku dan mengucapkan selamat tinggal. Tapi sebelum nya, kamu tidak pernah berkonsultasi dengan ku sekali pun. Dan menyebabkan masalah!” balas Yoi, tanpa mau menatap Chai. Dan sibuk melakukan kegiatan di dapur.



Chai meminta Ibu untuk menjaga Renu selama dia tidak ada disini. Tapi Ibu malah membalas bahwa sebentar lagi Chai akan meninggalkan militer, jadi dia akan memberikan saran. Dan Chai pun bertanya, saran apa itu.

“Cari Istri baru. Pilihlah seorang wanita yang lebih berkelas. Bukan seseorang yang berada di tempat rendah. Cukup dengan itu!” kata Yoi, tegas.

“Ma. Aku mencintai Renu. Apa kamu mengerti tentang cinta?” balas Chai.



Yoi dengan emosi mengatakan bahwa jika Chai tidak menurutinya, maka dia tidak akan memberikan sepeser pun kepada Chai. Dan Chai pun menerimanya. Lalu Yoi menyindir Chai, dia mengatakan bahwa ketika Renu menuliskan surat kalau dia keguguran, Chai buru- buru kembali. Dan Chai membalas bahwa itu karena, bayi Renu adalah anak nya.

“Aku tidak mempercayai dia. Dan aku juga tidak percaya bahwa dia hamil karena kamu. Dia sudah berbohong padamu dan membuat cerita tentang kehamilannya, berharap kamu terjebak! 3 bulan hamil dan perutnya tidak membesar?! Karena takut ketahuan, dia berpura-pura keguguran!” teriak Yoi, emosi.


“Ma, kamu begitu berprasangka melawan Istriku,” balas Chai.


Dengan penuh emosi. Yoi menceritakan mengenai Renu yang sudah mempunyai anak, sebelum bertemu dengan Chai, serta sebelum Chai mengambil Renu sebagai Istri. Dan karena itulah, makanya dia tidak bisa mempercayai Renu.

“Aku tau itu, Ma. Renu menceritakannya sendiri padaku,” kata Chai.

“Kamu tau, tapi kamu masih mengambil nya?!” balas Yoi.

“Ma, tidak ada seorang pun yang terlahir sempurna di dunia ini. Setiap orang memiliki cacat. Kita semua punya luka. Tapi masa lalu adalah masa lalu. Bahkan walaupun kita mencoba untuk menghapus nya, itu tidak mungkin terhapus,” jelas Chai.


“Kamu tidak perlu mengajariku. Kemanapun kamu mau pergi, pergi saja! Pergi dan jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi! Pergi!” usir Yoi. Dan Chai pun pergi.


Melihat Chai yang berbalik untuk pergi begitu saja, Yoi merasa sangat sedih dan kecewa.  Dia masuk ke dalam dapur. Dan menangis tanpa suara.



“Aku minta maaf, Ma,” gumam Chai. Lalu dia pergi.

2 comments: