Thursday, May 16, 2019

Sinopsis Chinese Drama : Nice To Meet You Episode 01-2

0 comments


Sinopsis Chinese Drama : Nice To Meet You Episode 01-2
Images by : Hunan TV
Gao Jie sudah berada di area pertambangan. Dan sedang beristirahat kerja dengan seorang pekerja di dekat pinggiran sungai.

Yu Zhi juga sedang menuju area pertambangan bersama seorang pria, Barry. Yu Zhi bertanya berapa lama lagi mereka akan sampai? Barry menjawab sekitar setengah jam lagi.

Saat sedang istirahat, seorang pekerja tambang Chinese, berteriak dengan panik menyuruh Gao Jie untuk segera lari! Pergi! dan saat itu, seorang pria muncul dari belakang dan memukulinya dengan kayu besar. Gao Jie terkejut melihatnya, dan pekerja yang sedang istirahat bersamanya, segera menyuruh Gao Jie untuk berlari masuk ke dalam hutan.
Para pekerja tambang berusaha menahan para penyerang tersebut, tapi mereka kalah karena para penyerang tersebut membawa senjata dan menghajar semua pekerja.
Gao Jie benar-benar panik karena dia di kejar. Dia terus berlari hingga tidak menyadari ada sebongkah pohon di depannya, dan akhirnya dia tersandung, terguling dan masuk ke dalam sungai. Dia tidak sadarkan diri dan terseret arus sungai.
Para penyerang menghajar dan membunuh semua pekerja tambang. Sepertinya, ada permasalahan yang terjadi.


Yu Zhi dan Barry masih dalam perjalanan. Yu Zhi sibuk melihat jalan dengan memakai teropong dan saat itu dia melihat ada sesuatu di sungai, jadi dia menyuruh Barry untuk berhenti sebentar. Dari atas tebing, dia melihat tubuh Gao Jie yang tidak sadarkan diri.
--

Gao Jie sudah di tolong dan di bawa masuk Yu Zhi ke dalam mobilnya. Sementara itu, Yu Zhi berada di luar mobil berbincang dengan Barry. Barry memberitahu kalau penduduk setempat memiliki masalah dengan tambang itu, jadi mereka menculik seseorang di pertambangan untuk di tawar.
“Sepertinya kita tidak bisa pergi dari sini,” ujar Yu Zhi. “Belum lagi menemukan ruby nya.”
“Untung aku punya koneksi. Aku bisa mengeluarkanmu saat kita menyerahkan wanita itu kepada mereka.”

Gao Jie sudah sadar dan mendengar pembicaraan mereka. Mendengar dia akan di serahkan kepada para penyerang tersebut, Gao Jie jadi panik dan hendak kabur dari sana. Tapi, karena suara yang di timbulkannya saat hendak kabur, Yu Zhi dan Barry jadi tahu kalau dia sudah sadar. Gao Jie segera mengeluarkan pisau yang ada di sakunya dan menondongkannya ke Yu Zhi. Dia menyuruh Yu Zhi untuk tidak mendekat.

Yu Zhi bingung melihat tingkah Gao Jie, apalagi dia kan sudah menyelamatkannya. Dan karena Gao Jie masih terus menondongkan pisau padanya, dengan cepat dia merebut pisau tersebut.
“Apakah kamu tidak akan menyerahkanku ke penambang?”
“Itu ide yang buruk,” tawa Yu Zhi.
“Kalian mau apa?”
“Jika aku ingin melakukan sesuatu padamu, apakah kau masih akan berdiri di sini tanpa kehilangan apapun? Percaya atau tidak. Selama kita tidak bisa keluar dari hutan hujan ini, kita semua terjebak di sini. Selain itu, kau hanya mendengar setengah dari percakapan ku dengan Barry tadi. Kami masih punya rencana. Jika kita bisa melewati hutan hujan ini, kita dapat menghindari tambang No. 1. Kita akan menginap di sini. Kita bisa mencapai kota besok pagi.”
“Benarkah?”
“Jika kau mau mempercayai kami, maka masuklah ke dalam mobil. Jika kamu tidak mau, kau bisa berjalan sendiri.”
Gao Jie diam dan berpikir sesaat. Yu Zhi menawarkan bantuan untuk mengobati tangan Gao Jie juga, tapi Gao Jie menolak. Dan pada akhirnya, Gao Jie memilih untuk percaya pada Yu Zhi.
--
Malam hari,
Mereka mendirikan tenda untuk bermalam. Mereka duduk di sekitar api unggun. Barry menawarkan untuk minum bir, tapi Gao jie menolak. Yu Zhi menyuruhnya untuk minum sedikit agar bisa membantu mencegah kedinginan di malam hari. Gao Jie mencium bir itu, tapi masih ragu untuk minum.
“Apakah kamu perlu menjaga mentalitas pertahanan-mu? Kamu tidak akan membiarkan kami membantu memulihkan lengan-mu, atau minum bir untuk membantu menjaga kedinginan,” komentar Yu Zhi. “Tidak apa-apa kamu tidak butuh bantuan, tapi aku kasi tahu ya, ketika saatnya tiba, jangan menangis karena kau tidak bisa berjalan karena lenganmu terlalu sakit. Tidak ada yang akan menggendongmu.”
Dan karena takut pada perkataan Yu Zhi, akhirnya Gao Jie meminta tolong Yu Zhi untuk mengobati lengannya. Yu Zhi langsung tanya, apa Gao Jie tidak takut padanya lagi? Gao Jie menjawab kalau untuk keluar dari hutan ini, dia hanya bisa mempercayai Yu Zhi sekarang ini.
“Kalau gitu kau minum dulu. Itu akan sangat sakit (kan lengan Gao Jie terkilir gitu, jadi kan mau di putar, biar tulangnya letaknya benar lagi, dan pasti sakit). Kamu bisa mati rasa sendiri.”
Saat sedang bicara itu, Yu Zhi melihat di antara barang-barang yang di keringkan Gao Jie di api unggun, ada sebuah kartu anggota Toko Buku Hai Feng.
“Ini toko buku tua di Shanghai. Apakah kamu dari Shanghai?” tanya Yu Zhi. “Kita dari kota yang sama.”

Dan dengan senang hati, Yu Zhi mulai membantu mengobati tangan Gao Jie. Dia melakukannya dengan sangat cepat, hingga Gao Jie tidak sempat bereaksi dan berteriak. Dia kemudian berkomentar kalau rasanya sedikit sakit tapi sudah sedikit lebih baik.
Setelah itu, Yu Zhi mengajak Gao Jie minum lagi. Dan kali ini, Gao Jie tidak lagi menolak dan minum segelas kecil. Tapi rasanya sangat pahit hingga Gao Jie bergumam kalau alkohol sangat tidak enak rasanya. Yu Zhi tersenyum kecil mendengar gumamamnya itu.
--
Esok pagi,
Diam-diam, Gao Jie pergi sendiri dari Yu Zhi dan Barry. Sepertinya dia hendak kabur dan tidak begitu mempercayai mereka. Tapi, sialnya, dia malah melihat ulang yang sangat besar berada di depannya. Dengan takut, Gao Jie terus melangkah mundur dengan perlahan. Dan tanpa sadar, kakinya masuk ke dalam batu dan tersangkut. Dia sangat ketakutan karena tidak bisa kabur dan ular besar itu semakin dekat dengannya.

Dan tiba-tiba, Yu Zhi muncul dan melindunginya dari ular itu. Dia menggunakan pisau yang dia ambil dari Yu Zh kemarin untuk menyerang ular tersebut. Barry yang melihat hal tersebut, takut dan langsung membawa pergi mobilnya setelah melempar tas Yu Zhi keluar dari dalam mobil. Yu Zhi sampai bergumam kesal.
Akhirnya ular tersebut berhasil di usir pergi. Dan Yu Zhi langsung membantu untuk melepaskan kaki Gao Jie yang tersangkut dari sela batu.
“Bukankah kamu benar-benar ingin melarikan diri? Mengapa kau ingin kabur?”
“Aku hanya tidak ingin menyeret orang lain ke dalam hal ini.”
“Jocelyn, kamu bukan hanya keras kepala, tapi juga selalu berpikir buruk tentang semua orang,” komentar Yu Zhi. “Tapi barusan, kau menunjukkankau benar-benar memiliki hati nurani.”
“Apakah kau memarahiku atau memujiku?” bingung Gao Jie.
--
Pekerja tambang yang selamat berada di kantor dan sedang bersama Si Cheng. Dia memberitahu Si Cheng kalau polisi bilang situasinya sudah terkendali sekarang. Semua staf perusahaan sudah di evakuasi dengan aman, tapi keberadaan Jocelyn (Gao Jie) tidak di ketahui.  
“Polisi bilang bahwa mereka tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa dia di culik oleh geng setempat.”
“Baiklah. Kau pergi dan beristirahatlah dulu,” ujar Si Cheng.
Setelah pekerja itu pergi, Si Cheng segera menelpon Kedutaan Besar China.
--
Yu Zhi dan Gao Jie akhirnya berjalan kaki untuk keluar dari hutan. Yu Zhi yang memimpin jalan dan berkata kalau mereka akan melewati jalan ini dan tidak akan bertemu ular lagi. Tapi, jalannya agak sedikit sulit. Gao Jie melihatnya jalan itu, dan berkata kalau bukan sedikit sulit, tapi sangat sulit. Hanya ada lereng dan sangat sulit di daki. Tapi, Yu Zhi tidak usah khawatir, dia tidak akan menahan Yu Zhi.
Dan tiba-tiba Yu Zhi berlutut dan mengikat tali sepatu Gao Jie.
“Tali sepatuku baik-baik saja. Kenapa kau mengikatnya lagi?”
“Ini adalah ritual sebelum memasuk hutan hujan.”
“Ritual apa?”
“Apakah kamu tidak tahu bahwa di beberapa tempat, ketika seorang pria mengikat sepatu wanita, itu di maksudkan sebagai lamaran? Dengan cara ini, aku bisa menahanmu dan kau tidak akan bisa melarikan diri.”
Gao Jie tidak habis pikir dengan ucapan Yu Zhi, “Apakah kau hanya bicara omong kosong atau serius?”
“Aku tahu. Kau tidak akan menahanku (mempersulit), tetapi, jalur hutan sulit untuk di lalui. Dan lenganmu masih sakit. Jadi, aku mengikat tali dengan benar sebagai tindakan pencegahan.”

Gao Jie melihat hasil ikatan tali sepatu Yu Zhi dan bergumam kalau ikatannya aneh. Yu Zhi membenarkan, tapi ikatan itu tidak akan mudah lepas. Dan juga, dia berkata kalau dalam sisa perjalanan ini, dia bisa mendukung Gao Jie.
Yu Zhi mengulurkan tangannya, dan menyuruh Gao Jie untuk menyambutnya. Dan Gao Jie menyambut uluran tangan Yu Zhi.
--
Dalam perjalanan, Gao Jie mengaggumi hutan hujan yang indah. Dan Yu Zhi kemudian menunjuk ke sebuah pohon besar yang ada di sana. Itu adalah pohon kehidupan, melambangkan harapan. Dan karena mereka masih bisa melihat pohon itu di situasi mereka saat ini, itu jelas merupakan tanda keberuntungan.
“Jocelyn. Jocelyn,” panggil Yu Zhi. “Aku pasti akan membawamu keluar dari hutan hujan ini.”
Gao Jie tersenyum mendengarnya. Dia berjalan mendekat ke pohon kehidupan dan mengulurkan tangan untuk menangkap daun-daun yang berguguran dari pohon itu. Dia menangkap sehelai daun.
Gao Jie menyerahkan daun itu pada Yu Zhi, “Ini untukmu. Terimakasih karena telah memberiku harapan.”
Yu Zhi menerima daun itu, “Apakah kau berpikir untuk menyelesaikannya dengan daun? Bagaimana dengan ini, kau bisa mempertimbangkannya, pergi berkencan atau makan malam bersamaku ketika kita kembali. Bagaimana kalau begitu?”
Gao Jie tertawa kecil, “Kita sudah seperti ini. Kau masih ingin berkencan?”
“Aku bisa melihat padamu api dan kecemerlangan batu permata yang di poles,” gombalnya. “Sudahlah. Mari kita lanjut jalan. Ada lebih banyak tempat di depan yang pasti akan kau sukai.”

Mereka terus berjalan bersama. Saat melewati sebuah sungai, Yu Zhi menyempatkan diri untuk mandi sejenak. Gao Jie menghadap ke belakang, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan dirinya untuk melirik sejenak ke arah Yu Zhi yang sedang mandi.
Yu Zhi menyuruh Gao Jie untuk turun ke dalam sungai untuk membersihkan diri juga. Tidak perlu khawatir, tidak ada ular maupun piranha di sini. Atau Gao Jie takut padanya?
“Jika itu orang lain, aku akan khawatir. Tetapi setelah semua yang terjadi, aku percaya padamu seratus persen,” ujar Gao Jie.
-Bersambung-

  

No comments:

Post a Comment