Saturday, May 18, 2019

Sinopsis Lakorn : Krong Karm Episode 5 - part 3

1 comments


Krong Karm Episode 5 – part 3
Network : Channel 3

Sesampainya di rumah. Jantra mengulurkan tangannya kepada Asa, meminta Asa mengembalikan fotonya. Dan melihat itu, Je pun bertanya. Lalu Jantra memberitahukan tentang Asa yang telah mencuri satu fotonya, dan Asa berjanji untuk mengembalikan foto itu jika dia mau di bonceng, jadi sekarang dia menagihnya. Mendengar itu, Je tersenyum.

“Jadilah gentleman, dan pegang kata- katamu,” kata Jantra dengan tegas pada Asa.

“Hanya satu foto saja, mengapa kamu begitu possessive?” balas Asa. Dia mengeluarkan dompetnya dan mengembalikan foto Jantra.



Saat Jantra ingin mengambil fotonya, Je muncul dari belakangnya dan merebut foto itu. “Oh, Cantik. Itu mengapa setiap orang ingin melihatnya,” goda Je.


“Foto mu juga cantik. Ini,” balas Jantra sambil menyerahkan amplop foto kepada Je. Tapi Je tidak menerimanya, malahan dia tersenyum pada Asa dan meminta Asa menunggu sebentar, lalu dia masuk ke dalam.



Melihat itu, Jantra merasa bingung, dan bertanya apa yang  Je lakukan. Tanpa menjawab, Je kembali dan memberikan foto milik Jantra kembali kepada Asa. Dan menerima itu, Asa tersenyum senang. Apalagi ketika dia membaca tulisan Je di belakang foto, hanya mencintaimu dalam hidupku.

Jantra ingin merebut kembali fotonya, tapi Asa segera mengelak. “Je sudah memberikannya padaku,” kata Asa sambil memasukan foto itu ke dalam saku nya.



Jantra mengeluh kepada Je. Dan dengan santai, Je membalas,” Ada masalah apa? Dia menginginkannya. Berikan saja. Apa salahnya sih?”

“Terima kasih ya,  Je,” kata Asa sambil tersenyum.

“Hati- hati ya. Jangan berkhayal sampai menabrak seseorang!” balas Je. Dan Asa menganggukan kepalanya, lalu dia pamit dan pergi.



Jantra merasa penasaran, dan menanyakan apa yang Je tulis di belakang foto. Dan Je membalas bahwa dia tidak ada menulis apa- apa, hanya mengetes pena saja tadi, seperti coret- coret saja.
“Jae!” keluh Jantra, tidak percaya.

“Tidak ada,” balas Je, masuk ke dalam toko.



Asa tersenyum lebar sambil memandangin foto Jantra. Dan dia terus bersikap seperti itu disepanjang jalan. Dia tampak sangat bahagia dan senang.

Dalam hidup atau mati, aku hanya mencintai kamu

Gadis- gadis yang pernah aku temui, tidak ada yang secantik kamu, sayangku

Jika kamu bisa menjadi pacarku,

Aku akan membawa mu menonton film Thai setiap ada pertunjukan

Aku akan membawa mu berjalan- jalan di hari senin dan selasa,

Untuk berdoa pada Dewa di Kota Chonburi



Ditoko obat. Pemilik sedang meracikan obat batuk yang di pesan oleh Karn. Tepat disaat itu Asa datang ke sana, dan dia memesan obat batuk serta beberapa tonik untuk Ayahnya yang masih sering batuk- batuk. Mendengar itu, pemilik berkomentar bahwa sakit Ayah Asa hampir sama seperti Ibu Karn yang sakit batuk kronis.



Mendengar itu, Asa dan Karn saling berpandangan.



Setelah selesai meracik kan obat, Pemilik memberikannya kepada Karn, dan dia memberitahukan harga obatnya. 24 baht.

Karn mengambil obatnya, dan lalu dia menghitung uang yang dimilikinya, tapi ternyata dia hanya memiliki 15 baht saja. Menyadari bahwa uang nya kurang, maka Karn pun merasa cemas. Dia meminta kepada Pemilik untuk mengurangkan obatnya, karena dia hanya memiliki 15 baht saja. Tapi Pemilik tidak bisa melakukannya, karena itu adalah dosis yang pas, jadi tidak mungkin dikurangkan.



“Tidak perlu di kurangkan, paman. Biarkan dia membayar 15 baht saja, dan aku akan membayarkan sisanya,” kata Asa, menolong Karn.

“Apa tidak apa- apa? Karena uang bukan sesuatu yang mudah di hasilkan. Tolong jangan lakukan ini,” balas Karn, menolak.

“Tidak apa. Ayahku juga sakit. Jadi aku mengerti bagaimana perasaan mu,” balas Asa sambil tersenyum menenangkan.




Pemilik toko obat menyarankan agar Karn menerima saja kebaikan dari Asa, lagian dia juga ingin melihat Ibu Karn sembuh. Mendengar itu, Karn pun mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua.

“Kebaikanmu, aku tidak akan pernah melupakannya,” kata Karn.

“Tidak apa. Kita berada disituasi yang sama. Selama Ibumu sembuh, aku senang,” balas Asa. Dan Karn tersenyum berterima kasih.



Asa kemudian menanyakan dimana Karn tinggal, dan Karn pun menjawab bahwa dia tinggal di Khamang. Mendengar itu, Asa menyuruh Karn untuk lebih baik segera pulang, karena jika tidak maka Karn bisa sampai malam dirumah. Dan Karn membalas bahwa dia tidak apa, karena dia menaiki sepeda ke sini.

“Lebih baik kamu cepat. Jika tidak, Ibumu akan menunggu,” kata Asa sambil tersenyum. Dan Karn balas tersenyum, lalu dia pamit dan pergi.


Setelah obat untuk Ayah nya selesai, Asa pun membayar si pemilik. Dan dia juga membayarkan kekurangan untuk uang Karn barusan. Melihat itu, Karn tersenyum, karena ternyata masih ada orang yang baik.


Asa pulang kerumah. Dan ketika melihat Philai serta Atong yang ada dirumah juga, dia pun bertanya kenapa mereka berdua belum pulang.

“Jika kami pulang untuk memasak dirumah, itu akan menghabiskan waktu. Lagian lebih baik makan bersama dengan Ayah dan Mama,” kata Philai, beralasan.

“Ibu bagus, Sor,” balas Asa. Lalu dia memberikan obat yang dibelinya kepada Ayah.



Yoi menanyakan apakah Asa barusan ada di tempat penggilingan, dan Asa mengiyakan. Lalu Yoi mengatakan bahwa jika itu benar, kenapa dia tadi ada melihat Asa sedang membonceng seseorang di jembatan. Dan Yoi ingin tahu siapa gadis yang Asa bonceng.

“Oh! Aku pergi untuk mengantarkan foto,” kata Asa, berbohong.

“Itu berarti mataku tidak salah. Gadis yang dibonceng itu, siapa dia?” tanya Yoi, serius.

Asa terdiam. Dia merasa bingung serta gugup harus menjawab apa.


Ditempat Je. Mereka sedang makan siang bersama juga. Dan selama makan, Ama membicarakan tentang Asa, menurutnya Asa adalah seseorang yang baik dan siapapun yang menikah dengannya pasti akan terjamin.

“Ama. Je. Percayai aku, tidak seorang pun yang serius tentang ku. Aku hanya pekerja miskin,” kata Jantra, tidak percaya diri.

“Jantra, orang hidup itu bukan tergantung apa dia kaya atau miskin. Itu tergantung pemikiran mu,” balas Ama. Dan Jantra diam.


Asa menjelaskan bahwa dia bertemu gadis itu di toko foto, dan dia hanya memberikan tumpangan kepadanya, karena mereka searah. Dengan sinis, Yoi menanyakan siapakah yang menawarkan, Asa atau gadis itu. Dan Ayah menyela pembicaraan mereka berdua, dia meminta mereka untuk makan.

“Beritahu aku, apa namanya dan siapa dia?” tanya Yoi, tidak menyerah untuk mengintrogasi Asa. Dan dengan terpaksa Asa pun jujur, dia menjawab bahwa gadis itu bekerja di toko Je.



Mendengar itu, Atong menatap terkejut pada Asa. Sementara Philai langsung berkomentar ‘sial, gadis pekerja’.  Dan dengan tegas, Yoi langsung menegurnya, karena dia tidak ingin kata ‘sial’ dikatakan didalam rumah, takutnya akan membawa sial nanti. Dan Philai pun langsung diam.



“Jika kamu tidak merasakan apapun untuknya, tidak apa. Aku berharap apa yang kamu ini katakan benar. Gadis hari ini tidak bisa di percaya. Aku ingin tahu, jika kamu hanya anak dari petani biasa, anak penjual sayur di pasar, apa dia masih tertarik padamu? Hanya seorang pekerja, dan dia beraninya mendekatimu! Dia pasti berharap bisa hidup enak,” kata Yoi, memarahi Asa.

“Ho! Itu tidak seperti itu, Ma. Mari makan saja! Aku lapar,” balas Asa.

Yoi menatap tajam Asa, dan bertanya mengapa selama dia berbicara Asa tampak berkeringat sangat banyak. Dan Asa pun beralasan bahwa itu karena barusan dia menaiki sepeda, dan dia merasa kepanasan jadinya.



Setelah selesai makan. Atong dan Philai pun berniat pulang, tapi sebelum mereka berdua pulang, Asa memanggil Atong.

“Tidak apa, aku mengerti,” kata Atong sambil tersenyum dan menepuk pelan bahu Asa, sebelum Asa sempat mengatakan apapun. Dan Asa tersenyum mendengar itu.


Didalam kamar. Yoi  menceritakan bahwa tampaknya dia harus buru- buru mengurus masalah Asa. Dan Ayah berkomentar bahwa sebaiknya Yoi membiarkan Asa menghabiskan masa mudanya terlebih dahulu, dan kemudian biarkan Asa memutuskan siapa yang disukai dan dicintainya. Jangan dipaksa.

“Dia bisa jadi sama seperti Achai! Itu akan melukai hati kita. Dan kelihatannya Asi juga akan mengikuti jalan yang sama. Untungnya kita melihat foto dia (Wanna), sehingga bisa cepat dicegah,” kata Yoi.



Yoi mengatai Renu dengan kasar, menurutnya Renu ingin menghancurkan keluarganya, dan membawa adiknya untuk membantu. Mendengar itu, dengan tenang Ayah membalas bahwa sebaiknya Yoi melupakan masalah itu, dan membiarkan Renu serta Chai berbahagia selagi mereka berdua memang saling mencintai.

Tapi Yoi tidak mau mendengarkan nasihat Ayah sama sekali. Dan tanpa bisa melakukan apapun lagi, maka Ayah pun hanya diam, dan meminum obat yang diberikan kepadanya.



Malam hari. Karn memberikan Ibunya meminum obat. Lalu setelah itu, dia meminta Ibunya untuk tidur dan beristirahat.

“Tahun ini, akankah kita memiliki cukup beras untuk dijual, Karn?” tanya Ibu.

Karn terdiam untuk sesaat. Lalu dia menjawab,” Tidak akan cukup, ma. Kita mungkin harus menyimpan itu untuk makan kita sendiri. Tolong jangan khawatir ya. Aku tidak masalah untuk bekerja apa saja. Kamu harus tidur sekarang,” kata Karn, menjelaskan dengan lembut.


Karn datang kerumah Phiangpern. Dan memanggilnya seperti biasa, “Phen! Phen!”

Mendengar panggilan itu, Phiangpern  langsung melihat keluar jendela. Dan melihatnya, Karn pun bertanya dengan suara pelan, bisakah Phiangpern turun ke bawah menemuinya. Namun Phiangpern tidak bisa, karena bibi Ram sedang berjaga di depan kamar nya.

“Aku akan naik keatas untukmu!” kata Karn, pelan.

“Tidak, jangan lakukan itu!” balas Phiangpern.




Tepat disaat itu, dari belakang tampak seseorang datang dengan membawa balok kayu, dia ingin memukul Karn dari belakang. Dan melihat itu, Piangpern pun langsung berteriak memperingatkan Karn. Tapi telat.

1 comment: