Saturday, June 15, 2019

Sinopsis Chinese Drama : Nice To Meet You Episode 13-2

3 comments

Sinopsis Chinese Drama : Nice To Meet You Episode 13-2
Images by : Hunan TV
Gao Jie pergi ke rumah Ny. Wu. Gao Hai yang membuka pintu, sangat senang melihat Gao Jie, karena mengira Gao Jie datang mencarinya. Tapi, Gao Jie datang bukan untuk mencari Gao Hai melainkan Ny. Wu.
“Aku tidak akan melupakan apa yang terjadi pada kakek. Aku di sini hari ini karena aku ingin bertanya padamu, apakah kau pernah melihat konsep desain ini sebelumnya? Kau pernah melihatnya sebelumnya kan?” tanya Gao Jie dengan marah sembari menunjukkan desain yang di gambar ibunya.
Gao hai berusaha menengahi dengan menyuruh Gao Jie agar bicara di dalam rumah. Tapi, Gao Jie tidak mau. Dia mengingatkan kalau desain ini adalah desain ibunya dan persis sama dengan yang Ny. Wu gunakan untuk kompetisi internasional yang membuat ny. Wu memenangkan trofi dan mendapat ketenaran.
“Jadi, bagaimana jika itu benar? Apa yang ingin kau katakan?” ejek Ny. Wu.
“Dua desain yang terlalu persis ini, ibuku menggambar miliknya lebih awal dari milikmu. Jelas, kau telah menjiplak desain ibuku!”
Ny. Wu tidak peduli dan hendak masuk ke dalam rumah. Tapi, Gao Jie mencegatnya. Gao Hai langsung membujuk Gao Jie untuk tenang dan dia juga meminta Ny. Wu untuk memaklumi Gao Jie yang masih dalam suasana hati gelisah karena kakeknya baru meninggal.
“Masa lalu, apapun kebenarannya, bagaimanapun juga sudah lewat. Jadi, bisakah kau berhenti membahasnya, oke?” bujuk Gao Hai.
“Bagaimana bisa kau punya ayah sepertimu!”
“Xiao Jie, bibi Wu, bagaimanapun, dia adalah senior. Bahkan jika kau ingin menuntut hak ibumu, bisakah kau mengatakannya dengan kata-kata yang lembut?” bujuk Gao Hai lagi.
“Kau ingin aku minta maaf padanya?”
“Aku berharap kau dan ibumu akan memiliki keluarga yang penuh kasih. Bisakah kau mendengarkan sarah ayah?”
“Tercela! Sejak kau meninggalkan ibuku, aku sudah tidak mempunyai ayah lagi. Jadi, bisakah kau berhenti mengucapkan kata ‘ayah’ ?! kau di persilahkan untuk mengambil kembali rumah kapan saja. Adapun permintaan maaf, aku pasti akan membuat kau bertobat kepada ibuku secara pribadi suatu hari nanti!” tekad Gao Jie.
--
Gao Jie menemui Si Cheng memberitahu masalah ibunya dan Ny. Wu. Si Cheng bisa memahami kemarahan Gao Jie, akan tetapi tidak ada bukti yang bisa membuktikan kalau ny. Wu menjiplak desain ibunya. Jika Gao Jie terus mempermasalahkan hal ini, orang luar akan berpikir kalau Gao Jie menggunakan segala metode untuk menjatuhkan Ny. Wu.
“Apakah benar-benar tidak ada cara untuk membuktikannya? Jika semua orang yang menjiplak karya orang lain dapat menikmati ketenaran dan kehormatan, dan para korban hanya bisa bersembunyi di sudut, aku sama sekali tidak mengerti apa nilai dan arti dari menempatkan begitu banyak kerja keras dalam membuat desain?!” emosi Gao Jie.
Si Cheng mengerti kemarahan Gao Jie, tapi tetap saja, jika Gao Jie tiba-tiba muncul dan menuduh Ny. Wu melakukan plagiat, Ny. Wu bisa balik menuduh Gao Jie melakukan cara tidak bermoral untuk menjadi terkenal. Orang-orang juga pasti akan memilih percaya pada Ny. Wu yang tampak sebagai orang bermoral dan bermatabat seperti yang mereka lihat. Mau apapun, Gao Jie tidak akan bisa memenangkan pertarungan dengan Ny. Wu.
“Si Cheng, aku meminta bertemu agar kau bisa membantuku memikirkan solusi, bukan untuk memojokkanku.”
“Ada cara, dan hanya ada satu cara. Kau harus menjadi lebih kuat dari dia. Percaya lah, jika ketenaran dan posisimu benar-benar melampaui dirinya, itulah saatnya untuk mengekspos plagiarismenya. Tidak hanya itu, kau tidak akan di curigai, sebaliknya, semua orang pasti ingin mengetahui kebenaran darimu.”
“Melampaui dia? Berapa lama aku harus menunggu?” pesimis Gao Jie. “Sekarang, karena niat jahatnya untuk mendiskreditkanku, aku hampir tidak bisa bertahan di industri desain perhiasan lagi. Bagaimana aku akan memenangkannya?”
“Jadi, dengarkan saranku. Pergilah keluar negeri untuk mengembangkan dirimu. Gao Jie, kau memiliki potensi. Tolong jangan membatasi dirimu pada satu sudut. Ada banyak desainer luar negerti yang mengundangku untuk berkarir di luar negeri. Jika kau bersedia, aku akan pergi denganmu. Ketika kau telah mengukir dunia untuk diri sendiri, kembali ke sini. Kemudian, kau akan memiliki modal untuk menghadapi Wu Xiaoci secara langsung.”
“Biarkan aku memikirkan dulu hal ini,” ujar Gao Jie, bimbang.
--

Gao Jie pergi ke panti jompo dan menemani ibunya hingga tertidur. Saat tertidur itu, dia memimpikan ibunya yang berjalan seorang diri dan kemudian tampak sebuah cahaya yang sangat terang. Wu Xiaoci berada di balik mobil dan menyetirkan mobilnya dengan sangat kencang untuk menabrak Pan Yue. Pan Yue terlempar jauh karena tabrakan tersebut.

Mimpi buruk itu membangunkan Gao Jie. Gao Jie yang terbangun dengan panik, tanpa sengaja ikut membangukan Pan Yue.
“Xiao Jie, apa yang terjadi padamu, Xiao Jie?”
“Ibu, hanya kau yang ku miliki saat ini. Tolong jangan tinggalkan aku.”
“Tidak akan pergi. Aku di sini.”
“Aku memiliki banyak hal di hatiku, tapi aku tidak tahu harus mengatakannya pada siapa. Yu Zhi, Gao Hui dan Wu Xiaoci, mereka adalah mitra kerja. Aku tidak dapat menyebabkan masalah baginya karena masalahku sendiri. Selama bertahun-tahun, aku memperlakukan Wu Xiaoci sebagai idolaku. Aku tidak tahu bahwa penderitaanmu selama ini karena dia. Maafkan aku . Aku yang salah. Aku tidak bisa mendapatkan keadilan untuk ibu,” tangis Gao Jie.
“Xiao Jie, jangan menangis. Siapa yang mengganggumu? Aku akan memukulinya. Aku sangat mencintai Xiao Jie. Peluk. Aku sangat mencintai Xiao Jie. Mari tidur.”
Gao Jie diam, memandangi wajah Pan Yue yang telah tertidur. Di dalam hatinya, dia berkata kalau ibunya dapat hidup dengan tenang tanpa kekhawatiran. Tinggalkan semua ketidakadilan dan penderitaan yang telah ibunya derita padanya, dia akan membalaskannya kembali demi ibunya.
--
Siap berbelanja, Gao Hui membawa Yu Zhi ke bar untuk minum-minum. Gao Hui tampak sangat menikmati suasana, sementara Yu Zhi berulang kali menguap ngantuk. Saat itu, dia mendapat telepon dari Gao Jie, jadi dia pergi menjauh dari sana.

“Halo? Ada apa? Kau merindukanku?” tanya Yu Zhi, pede.
“Yu Zhi,” panggil Gao Jie dengan suara lemah.
Mendengar suara Gao Jie, membuat Yu Zhi jadi cemas. Suara Gao Jie terdengar seperti baru saja selesai menangis. Apa ada yang mengganggu Gao Jie?
“Ada sesuatu. Aku tidak tahu harus bilang pada siapa. Aku telah memeriksa seluruh daftar kontakku dan sepertinya aku hanya memilikimu.”
“Begitu kau mengalami masalah, kau memikirkanku. Kau telah meningkat,” senang Yu Zhi. “Sekarang sudah larut. Bahkan jika kau mempunyai pekerjaan, tidurlah. Besok pagi aku akan kembali …”
Lagi asyik berbincang, Gao Hui tiba-tiba muncul dan langsung bertanya apa yang sedang Yu Zhi lakukan? Tidak hanya itu, Gao Hui bahkan merebut ponsel Yu Zhi dan mengingatkan kalau walaupun Yu Zhi sudah menemaninya belanja, Yu Zhi masih harus menenaminya sampai malam. Dan suara Gao Hui tentu terdengar jelas oleh Gao Jie.
“Tidak sopan mencuri telepon orang lain. Tidak ada yang suka wanita yang suka memerintah,” peringati Yu Zhi.
“Salah siapa ini karen kau tidak perhatian saat bersamaku? Aku punya satu aturan. Aku selalu suka menjadi satu-satunya. Sekarang ini adalah waktu yang kau habiskan bersamaku dan tidak boleh setengah hati,” ujar Gao Hui, masih mengira kalau Yu Zhi pasti menyukainya makanya bertingkah sesukanya.
Gao Jie akhirnya memutuskan sambungan telepon. Sementara itu, Yu Zhi langsung berpura-pura pusing karena sudah mabuk. Tanpa malu, Gao Hui langsung menarik Yu Zhi dan berkata akan membawa Yu Zhi kembali ke hotel.
Tidak hanya itu, dia membawa Yu Zhi masuk ke dalam kamar. Yu Zhi berpura-pura mabuk berat dan berjalan terhuyung-huyung. Melihat kondisi Yu Zhi, Gao Hui memanfaatkan kesempatan untuk menemani Yu Zhi malam ini dengan alasan menjaga. Tapi, Yu Zhi menolak.
Gao Hui tetap tidak sadar diri dan tidak mau pergi. Dan Yu Zhi langsung berlari ke dalam kamar mandi, mengunci pintu, dan muntah-muntah dengan suara keras. Mendengar suara Yu Zhi yang sedang muntah, membuat Gao Hui tampak sedikit geli gitu.
“Dan, aku akan muntah sepanjang malam,” teriak Yu Zhi dari dalam kamar mandi.
Gao Hui tampaknya benar-benar jijik, dan berkata kalau dia baru teringat ada janji lain. Jadi, dia pamit pulang duluan. Yu Zhi jelas senang dan mengizinkannya pergi.
Setelah Gao Hui pergi, Yu Zhi baru keluar kamar mandi. Dia masih sangat sadar dan hanya berpura-pura muntah untuk mengusir Gao Hui pergi secara halus. Begitu keluar, dia langsung menelpon Gao Jie.
“Gao Jie, mengapa kau mencariku?”
“Tidak apa. Aku telah mengatasinya. Sudah larut malam. Aku tidak akan mengganggumu. Selamat malam.”
Walau Gao Jie berkata seperti itu, Yu Zhi merasa ada yang aneh.
--
Esok hari,
Gao Jie sudah memindahkan semua kardus di dalam rumah ke halaman. Dia sudah bersiap untuk pindah. Saat itu, Ny. Wu datang menemuinya. Alasannya datang untuk memberi penghormatan untuk kakek, karena bagaimanapun kakek adalah gurunya dulu.
“Aku tahu rumah ini sudah menjadi milikmu. Aku tidak bermaksud untuk tinggal di sini. Tapi, aku perlu mengatur agar kakekku di makamkan. Ketika aku telah menyelesaikan semua ini, aku akan segera pindah. Aku tidak akan menunda waktu-ku bahkan untuk satu menitpun.”
“Mulai hari ini dan seterusnya, menjauhlah dari suamiku,” peringati Ny. Wu. 
“Jika kau dan Gao Hai benar-benar saling mencintai, apakah kau masih keberatan dengan keberadaan ibuku dan aku? Atau bisakah kau takut akan hal itu? Apapun yang di curi olehmu juga bisa di curi oleh orang lain,” peringati Gao Jie.
Ny. Wu benar-benar kesal dan memilih pergi dari sana.
Tidak lama setelah Ny. Wu pergi, orang-orang yang bertugas mengosongkan rumah datang. Gao Jie berdiri di depan rumah dengan memegang foto kakek dan melihat para pekerja itu, satu persatu mengeluarkan barang-barangnya dari dalam rumah dan kemudian mengunci gerbang rumah dengan rapat.
--
 Yu Zhi dan Gao Hui akhirnya pulang kembali ke Shanghai setelah menyelesaikan negosiasi kenaikan harga tersebut. Dan Yu Yi langsung menyambut mereka dengan bahagia karena telah menyelesaikan masalah.
Dan saat berbincang itu, Gao Hui membahas mengenai Yu Zhi yang kemarin mabuk berat. Yu Zhi langsung meminta maaf dan beralasan kalau dia memiliki toleransi yang rendah terhadap alkohol. Dan dia mengarahkan perbincangan dengan menyuruh Yu Yi juga ikut berterimakasih atas bantuan Gao Hui. Yu Yi setuju karena itulah dia sudah memesan restoran untuk mereka makan bersama.
“Maaf. Sebenarnya aku terlalu mabuk kemarin, jadi perutku masih agak tidak sehat. Aku khawatir akan mempengaruhi kesenangan kalian,” alasan Yu Zhi.
Gao Hui tidak menerima alasan dan memaksa Yu Zhi untuk ikut makan bersama mereka sore ini. Yu Zhi sok berpikir dan akhirnya setuju untuk makan sore, mungkin di sore hari dia sudah lebih baik. Gao Hui langsung tersenyum senang.
“Telepon saja aku nanti. Tapi, kau menjatuhkan dan merusak ponselku kemarin, aku tidak yakin apakah sore ini sudah bisa selesai perbaiki atau tidak. Aku mungkin tidak bisa menerima panggilanmu. Aku akan pergi dulu. Pokoknya, coba saja telepon nanti,” alasan Yu Zhi lagi.
Gao Hui jelas kecewa. Dan Yu Yi hanya bisa geleng-geleng kepala menyadari Yu Zhi yang sengaja menghindari Gao Hui.
--


Yu Zhi ternyata pergi ke rumah Gao Jie. Tapi saat dia sampai di sana, barang-barang di dalam rumah sudah di letakkan di luar, dan Gao Jie tidak ada di sana. Yu Zhi langsung mencoba menelpon ponsel Gao Jie, tapi tidak aktif juga. Yu Zhi jadi semakin cemas.
Yu Zhi langsung menelpon Pin Zhen dan menanyakan Gao Jie. Tapi, Pin Zhen juga tidak tahu karena dia baru balik dari kampung. Dia malah balik bertanya apa terjadi sesuatu? Bukannya menjawab, Yu Zhi langsung mematikan telepon.
Yu Zhi pergi ke panti jompo, tapi Gao Jie juga tidak ke sana. Tidak menyerah, Yu Zhi mulai mencari Gao Jie di sekitar panti jompo dan bahkan menemui Si Cheng. Tapi, tidak ada yang tahu dimana Gao Jie. Dan tanpa terasa, hari sudah malam saja.

Yu Zhi akhirnya pergi ke tempat dimana dia pernah membawa Gao Jie untuk merayakan perjumpaan kembali mereka setelah dari hutan hujan. Dan benar, Gao Jie ada di sana. Duduk menunduk di pojok dengan sebuah koper di hadapannya. Yu Zhi sangat lega dapat menemukannya.
“Akhirnya, aku menemukanmu.”
“Aku berjalan cukup lama di jalanan sendirian. Aku tidak tahu harus kemana. Aku tidak tahu apakah ada tempat lain yang masih bisa menampungku.”
-Bersambung-


3 comments: