Friday, June 14, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 14 - part 1

2 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 14 – Part 1
Network : KBS2

Seorang penari mulai mengeluh, apakah mereka bisa tetap berada disini dan melakukan pekerjaan sukarela. Dan seorang penari yang lain menjawab, menurutnya Kang Woo hanya menggertak mereka saja. Lalu seorang penari yang lain menjawab juga, daripada mereka mogok tanpa melakukan apapun, maka lebih baik mereka melakukan kegiatan amal.
“Bagaimana jika kita bicarakan dengan mereka? Kita perlu berbicara dengan mereka untuk negosiasi,” kata Ni Na, membuka suara.
“Apa kita akan pergi ke sana dengan patuh sesudah dia memberikan kita perintah? Itu sama dengan bilang bahwa kita menyerah,” kata seorang penari menanggapi sambil mengepel. Lalu tiba2 pel nya menabrak seseorang.

Orang yang ditabrak tersebut adalah Yeon Seo. Dan melihat kedatangannya, semua orang merasa heran bagaimana Yeon Seo bisa tahu kalau mereka berada disini.

“Aku datang untuk melakukan pekerjaan sukarela. Aku ‘kan bagian dari Teater Balet Fantasia,” jelas Yeon Seo sambil tersenyum pada mereka. Lalu dia menggulung lengan bajunya dan mengambil sebuah kain lap. Kemudian dia mulai mengelap.

Melihat itu, beberapa orang tampak heran, dan beberapa orang lagi tampak tidak suka. Lalu seorang penari pun menghampiri Yeon Seo, dan merebut kain lap yang dipegang oleh Yeon Seo. “Jangan repot2. Pergilah! Sejak kapan kamu melakukan sesuatu bersama kami?” tanyanya dengan ketus.
Yeon Seo merebut kembali kain lap nya, dan menjawab dengan ramah. “Sejak sekarang. Aku ingin melakukan sesuatu bersama.”

Seorang penari yang lain mendekati Yeon Seo. Dia tampak marah dan mau perbuat kasar, melihat itu Kim Dan segera ingin menjauhkan nya dari Yeon Seo. Tapi sebelum dia melakukan itu, Ni Na telah membantu Yeon Seo duluan.
“Kakak, biarkan saja. Semakin banyak bantuan yang kita punya, semakin baik,” kata Ni Na pada penari tersebut.

“Aku yakin, dia akan pergi menangis dalam satu jam,” balas penari tersebut dengan ketus, lalu dia menjauhi Yeon Seo.

Selesai bersih2 ruangan, para penari membantu mencucikan kaki para lansia. Dan seorang lansia yang Yeon Seo cuci kakinya, dia suka bermain dan menendang- nendang air didalam baskom, sehingga percikannya mengenai wajah Yeon Seo. Melihat itu, Kim Dan segera mau membantu Yeon Seo. Sementara para penari, mereka memperhatikan dengan penasaran reaksi Yeon Seo.

Yeon Seo menlap wajahnya, dan lalu tersenyum. “Apa kamu menyukainya?” tanya Yeon Seo dengan ramah. Melihat itu, Kim Dan tersenyum senang. Sementara yang lain tampak kecewa. (mungkin mereka menebak Yeon Seo akan marah kali ya >.<).

Acara selanjutnya. Menemanin para lansia menari bersama. Tapi karena Yeon Seo kurang pandai bergaul, maka dia pun hanya berdiri diam saja. Dan melihat itu, Kim Dan pun menarik tangan Yeon Seo ke tengah ruangan dan memperkenalkannya kepada semua orang.

Kemudian karena hanya tahu menari balet, maka Yeon Seo pun menari balet untuk mereka. Tapi tampaknya para lansia kurang menyukainya, dan mulai menari bersama yang lain. Dengan canggung, Yeon Seo pun cuma bisa berdiri diam saja. Dan satu- satunya orang yang bertepuk tangan untuk Yeon Seo hanyalah Kim Dan.
Pulang ke rumah, Yeon Seo merasa sangat lelah. Dan Kim Dan pun merasa cemas, tapi Yeon Seo langsung menyuruhnya agar jangan bicara, karena dia lelah.

Masuk ke dalam rumah. Yeon Seo disambut oleh Ny. Jung yang datang membawakan kue dengan lilin. “Nona, selamat!” seru Ny. Jung. “Aku dengar kamu memojokan asosiasi sponsor. Orang bilang semuanya punya kegunaannya, dan itu cara yang bagus untuk menggunakan emosimu. Ayo, tiup.”

Dibelakang Yeon Seo. Dengan panik, Kim Dan memberikan tanda kepada Ny. Jung menggunakan tangan dan tubuhnya. Tanda agar Ny. Jung jangan membicarakan apapun. Tapi sayangnya, Ny. Jung tidak memperhatikan kode darinya, dan sibuk memuji Yeon Seo terus.
“Giselle daebak! Lee Yeon Seo, daebak! 1, 2, 3,” kata Ny. Jung dengan semangat sambil menyodorkan kue yang dibawanya. Tapi Yeon Seo mengabaikannya, dan pergi. Melihat itu, Ny. Jung merasa heran ada apa.

“Teater balet mogok. Jadi perasaannya buruk saat ini,” jawab Kim Dan, menjelaskan.
Mengetahui itu, dengan cepat Ny. Jung langsung meniup lilinnya sendiri. “Kenapa kamu baru bilang sekarang? Harusnya beritahu aku dari tadi,” keluh Ny. Jung.

“Aku juga salah paham sore tadi,” balas Kim Dan.
“Apa? Aku seperti orang yang tidak pengertian,” keluh Ny. Jung pada dirinya sendiri.
Kang Woo menunggu sendirian didalam ruangan studio yang kosong, tapi tidak seorang pun penari yang datang.

Lalu ketika Ru Na datang. Kang Woo langsung menyuruh Ru Na untuk membuat pengumuman audisi, untuk merekrut anggota baru sekarang. Dan Ru Na mau protes. Tapi Kang Woo tidak mau mendengarkan dan dengan tegas menyuruh Ru Na untuk melakukannya sekarang.
Dipanti. Beberapa penari merasa cemas, karena sekarang sudah jam 10, tapi mereka malah datang ke sini. Dan seorang penari yang lain menjawab bahwa mereka harus terus maju sekarang. Lalu dia menarik tangan Ni Na untuk mendekat. “Ni Na ada dipihak kita. Mereka tidak akan memecat kita,” katanya dengan yakin.

“Selamat pagi semuanya,” kata Kim Dan dengan suara keras menyapa mereka dari belakang. Dan karena itu, maka semuanya pun berbalik.
“Selamat pagi,” kata Yeon Seo sambil tersenyum menyapa mereka. Melihat kedatangannya itu, semua penari tampak terkejut, termaksud Ni Na.


Seorang lansia yang tidak bisa melihat keluar dari dalam kamar. Dia mencari- cari dimana suaminya sambil menangis dan bertingkah histeris, karena dia menyangka suaminya pergi meninggalkan dia sendirian. Melihat itu, Yeon Seo berusaha untuk menenangkannya, tapi dia malah didorong sampai terjatuh terus.


Lalu tiba2 terdengar suara suaminya yang berteriak, memanggilnya. “Mi Ok!” panggil suaminya. Dan mendengar itu, Mi Ok pun langsung menepis tangan Yeon Seo yang memeluknya dari belakang, lalu dia berlari ke arah suaminya.
Tapi ketika berlari, tanpa sengaja Mi Ok menabrak meja yang diatasnya terdapat lilin-lilin kecil. Dan tanpa sengaja, salah satu lilin tersebut jatuh ke dalam tempat sampah dan menyebabkan kebakaran.


“Kita harus keluar dari sini,” kata Yeon Seo yang dengan segera langsung membantu Mi Ok serta suaminya untuk pergi keluar dari ruangan itu.
Sementara Kim Dan, dengan segera dia mengambil alat pemadam kebakaran dan menyemprot tempat sampah itu. Untuk memadamkan api. “Cepat keluarkan mereka dari sini,” katanya.

Alarm kebakaran berbunyi. Sehingga dengan panik, semua orang pun langsung segera membantu para lansia yang berada didalam untuk keluar. Lalu setelah semuanya selesai, Ni Na mendekati Yeon Seo dan menanyakan apa yang terjadi.


“Ah, Nenek ini…” kata Kim Dan ingin menjelaskan sambil menunjuk Mi Ok. Tapi Yeon Seo langsung berdiri dan menyela perkataannya.
“Aku yang melakukannya,” kata Yeon Seo, memberitahu. Dan mendengar itu, Kim Dan serta suami Mi Ok tampak terkejut.


“Apa kamu baik2 saja?” tanya Yeon Seo dengan perhatian, pada Mi Ok yang mulai terbatuk-batuk. Dia mengabaikan tatapan keheranan mereka berdua.


Semua penari menyuruh agar Yeon Seo pergi, sebelum mereka semua diusir karena Yeon Seo. Dan sambil menundukan kepalanya, Yeon Seo meminta maaf kepada mereka semua dan menjelaskan bahwa dia hanya berniat baik saja.
Tapi semua penari merespon niat baik Yeon Seo dengan sikap ketus. Mereka memberitahu kalau mereka tidak akan tersentuh oleh upaya Yeon Seo, dan mereka tidak akan kembali ke panggung bersama Yeon Seo. Karena tidak ada yang ingin tetap menjadi penari cadangan selamanya.


“Benar. Ini bukan lelucon. Kamu mendapatkan kembali penglihatanmu, dan ini adalah kali pertama kamu datang menemui kami. Karena kamu butuh kami,” kata seorang penari dengan sinis. Dan Yeon Seo pun hanya bisa diam saja.


Dihalaman. Kim Dan menanyakan, kenapa Yeon Seo berbohong barusan, padahal yang menyebabkan kebakaran bukanlah Yeon Seo. Dan Yeon Seo pun menjawab, dia bertanya balik bagaimana jika Mi Ok diusir dari panti karena itu.
“Kamu sangat baik,” puji Kim Dan. “Mereka akan memahami ketulusanmu. Karena mereka semua suka menari juga.”



“Aku menyaksikan mereka bersih2, dan mereka semua menari. Itu pemandangan yang bagus. Mereka semua tampak seperti pemimpin. Menurutmu mereka tidak mengerti, kamu ingin kembali sesudah 3 tahun? Mereka mengasingkanmu sekarang, karena mereka kesal dan terluka. Tapi jika kamu tampil bersama, aku yakin akan jadi pemandangan yang bagus,” kata Kim Dan, menjelaskan pendapatnya.
“Pemimpin?” gumam Yeon Seo, berpikir.


Kim Dan mendekatkan tangannya untuk menyentuh tangan Yeon Seo. Tapi dia tidak jadi untuk memegangnya.

Gwang il datang kerumah Yeon Seo dengan membawa sebuah dokumen. Tapi didepan pintu dia malah bertemu dengan Tn. Geum, sehingga dia pun tidak jadi untuk menemui Yeon Seo dan pergi.


“Gwang il. Hei, Gwang il. Gwang il,” panggil Tn. Geum, mengejar Gwang il. Dia ingin mengetahui isi dokumen yang dibawa oleh Gwang il. (Sebenarnya saya bingung, namanya siapa sih, Won il atau Gwang il ya? Diepisode dulu, terjemahannya Won il, tapi kemudian berubah menjadi Gwang il. Mm… kita ikuti terjemahan baru saja ya)
Ny. Jung keluar dari dalam rumah. Dan dia merasa heran melihat mereka berdua yang berlarian pergi. “Dia seharusnya menyembunyikan bel. Mm… apa yang mereka lakukan didepan rumah orang sih?” keluhnya.
Pagi hari. Ni Na datang ke panti bersama dengan dua orang teman penarinya. Mereka membicarakan tentang Yeon Seo yang tidak mungkin datang lagi hari ini, jika Yeon Seo memang punya harga diri.

Tapi baru saja membicarakan hal itu, mereka malah melihat Yeon Seo serta Kim Dan yang sedang mengobrol bersama dengan Mi Ok serta suaminya. Jadi mereka pun mendekati mereka dari belakang, dan memperhatikannya.

Mi Ok merasa senang mempelajari hape yang diberikan oleh Yeon Seo. Dia bahkan sampai tertawa girang. Tapi suami Mi Ok merasa sedikit tidak enak, dan dia pun bertanya apakah tidak apa2 mereka menerima ini, karena Yeon Seo telah membayar untuk perbaikan dan disalahkan akibat kebakaran yang mereka sebabkan semalam.
“Maaf. Aku harusnya mati dan pergi pada usiaku, tapi aku tidak dan aku terus kehilangan akal,” kata Mi Ok, merasa menyesal pada Yeon Seo.
“Tidak, nek. Kamu dapat melakukannya dengan baik meskipun buta. Aku akan membantumu,” balas Yeon Seo dengan ramah. Dan melihat itu, Kim Dan tersenyum.

Mendengar pembicaraan itu, Ni Na serta kedua temannya tampak merasa bersalah, karena telah memojokan Yeon Seo dengan jahat semalam.
“Yeon Seo- ah,” panggil Ni Na dengan pelan.
Dan Yeon Seo pun berbalik ke arahnya. “Ayo masuk. Pelatih sedang menunggu,” kata Yeon Seo dengan ramah kepada mereka.

Didalam satu ruangan. Semua penari berkumpul, dan ada Kang Woo juga disana. Dan ketika Yeon Seo masuk, Kang Woo langsung bertanya ada apa ini padanya, dan kenapa Yeon Seo memanggilnya kemari.
“Aku ingin mengusulkan sesuatu. Giselle, ayo kita adakan audisi,” kata Yeon Seo dengan tegas pada Kang Woo. Lalu dia berdiri didepan, dan menghadap kepada semua penari.

“Aku secara tulus ingin bekerja dengan kalian semua. Kalian membuat Fantasia terus berjalan selama 3 tahun terakhir,” jelas Yeon Seo pada mereka. Lalu dia melirik pada Kang Woo, ”Kesatuan baru bukan Fantasia bagiku.”


“Ayo berkompetisi secara resmi dan adil. Dari solois hingga kesatuan ballet, semua orang dapat berpatisipasi. Tentu saja, aku juga mengikutinya. Jika aku tidak lulus, aku akan mulai dari kesatuan balet,” jelas Yeon Seo dengan tegas dan penuh keyakinan.
Mendengar itu, Kang Woo tampak sangat terkejut. Dan semua penari tampak heran. Sementara Kim Dan tertawa.
Kang Woo marah pada Yeon Seo, dia bertanya siapa yang bilang bisa ada audisi. Dan Yeon Seo pun menjawab bahwa dia tidak ingin ‘tumpangan gratis’, jadi menurutnya ini adalah cara terbaik.

“Bagiku, hanya ada satu ‘Giselle’. Tidak perlu membuat segalanya lebih sulit. Aku bilang aku akan mengatasinya, kenapa kamu tidak percaya padaku?” tanya Kang Woo dengan kesal.

“Terima kasih sudah mempercayaiku. Bahkan saat aku tidak percaya diri, kamu mendorong dan membuatku menari. Percayalah lagi padaku,” kata Yeon Seo sambil mengulurkan tangannya. Tapi karena masih merasa kesal, Kang Woo tidak mau menjabat tangan Yeon Seo.

Melihat itu, Kim Dan pun mendekati mereka berdua dan menyatukan tangan mereka bertiga. “Mari bersemangat. Fantasia, Fantasia, Hwaiting!” seru Kim Dan sambil mengangkat taqngannya tinggi2.

Kang Woo terkejut melihat lengan Kim Dan yang sudah sembuh total, kepadahal seingatnya lengan Kim Dan terluka cukup parah. Dan menyadari itu, Kim Dan pun segera menurunkan lengannya.

2 comments: