Tuesday, June 18, 2019

Sinopsis J- Drama : Takane To Hana Episode 8 - part 1 END

0 comments

Network : Fuji TV, FOD

Pulang ke rumah. Hana duduk dengan lemas didekat tempat tidur, dia mengingat kembali pernyataan cinta Okamoto padanya barusan. Lalu dia berteriak dan menjentik jidat nya berkali- kali.
“Ini tidak bekerja sama sekali,” gumamnya. Karena itu semua memang adalah kenyataan bukan mimpi.

Okamoto membersihkan restoran dengan tidak bersemangat. Tampaknya dia masih merasa gugup setelah menyatakan cinta kepada Hana.

Luciano mengomentari bahwa sangat jarang Takane mau datang ke restoran biasa seperti ini, dan minum2 bersamanya. Yang berarti itu menandakan betapa besarnya pengaruh Hana. Dan Takane langsung menyangkal nya.
“Aku hanya sangat haus dan lapar, itu saja!” sangkal Takane. Lalu dia mencoba makanan yang tidak pernah di makannya.
“Aku senang kamu meminta saran ku,” kata Luciano.

“Aku tidak meminta saran! Umm.. Hana dan bajingan itu… Umm.. bagaimana aku harus mengatakannya?” kata Takane kesulitan untuk menjelaskan. “Aku hanya menceritakan padamu tentang sesuatu yang aku saksikan mereka berdua lakukan!” jelas Takane dengan sikap jaim dan nada ketus seperti biasa.
Luciano mulai membuat kesimpulan. Intinya Okamoto menyatakan cinta kepada Hana. Dan menurutnya untuk anak berumur 16 tahun, Okamoto telah melakukan sebaik mungkin untuk menyatakan cintanya. Lagian Okamoto dan Hana memang telah berteman sejak kecil.

“Apa maksudnya itu?” tanya Takane, tidak senang.
“Dia mendapatkan 100 point untuk menyatakan cintanya dengan berani. Tapi kamu mendapatkan -100 poin untuk tidak berani menyatakan cinta padanya,” jelas Luciano.

Takane terkejut mendengar itu. Dan Luciano pun menjelaskan dengan tegas pada Takane agar dia mengerti. “Para gadis ingin mendengar kamu mengakui perasaan mu dengan suara keras”
“Itu konyol. Bahkan jika dia berpikir begitu.. aku ingin menjadi lebih baik daripada pria yang hanya mengucapkan kata2 dangkal sepanjang waktu,” jelas Takane, ketus.
“Takane! Orang yang mencintai seseorang tapi tidak mengatakan apapun. Dan orang yang tidak tertarik pada siapapun, tapi tetap diam. Apa perbedaannya?” tegas Luciano, menasehati Takane.

“Itu.. kamu bisa tahu dari mengamati, kan?” balas Takane, tidak bisa menjawab.
Luciano merasa sangat capek memberikan clue pada Takane. Jadi dia pun langsung menjelaskan ke intinya. “Orang yang sukses dalam hubungan adalah orang yang percaya diri pada diri mereka sendiri, dan bisa dengan jelas menyatakan cinta mereka. Hana- chan berpikir kamu tidak peduli. Itu mengapa kamu harus secara jelas memberitahu dia ..”
“Cukup!” potong Takane dengan nada sangat ketus.

Takane sudah paham dengan maksud Luciano dari tadi. Menurutnya, tidak peduli bagaimana Hana melihatnya, dia adalah orang dewasa. Dia tahu bahwa teman masa kecil yang tumbuh besar bersama dengan Hana menyatakan cinta pada Hana. Sementara dirinya sendiri dan Hana hanyalah seperti saudara saja. Jadi intinya, dia telah menyadari kalau dia tidak akan pernah mengerti dunia anak- anak.
“Takane!”
“Jangan khawatir! Kami hanya pasangan perjodohan, itu saja.”

Karena Takane sulit untuk dinasehati, dan Takane keras kepala. Maka Luciano pun tidak mengatakan apapun lagi.
“Aku akan membiarkan kamu mengurus bajingan itu,” gumam Takane. Dan Luciano langsung mengangkat kedua tangannya. Lalu lucunya, Takane ikut mengangkat kedua tangannya sendiri.

Hana berbaring dengan lemas. Dia tampak seperti merasa galau.

Okamoto duduk dengan lemas. Dia tampak seperti merasa galau juga.

Hana datang ke apatermen Takane. Dia mengeluarkan kunci yang dimilikinya, tapi dia merasa ragu untuk menggunakannya, jadi dia pun mengetuk pintu. Dan ketika Takane membuka pintu, dia langsung mengomeli bahwa Hana kan punya kunci.
“Aku tahu kamu ada didalam, tapi aku masih tidak bisa main masuk begitu saja,” jelas Hana dengan pelan.
“Apa yang kamu tahan? Baiklah .. silahkan masuk,” balas Takane sambil tersenyum.
Dengan sikap canggung, Takane menanyakan apa yang Hana butuhkan. Dan mendengar itu, Hana merasa heran, karena dia memang selalu ke sini.

“Jika ada apapun yang terjadi, maka beritahu aku,” kata Takane dengan pelan. Dan Hana merasa bingung. “Apa ada apapun yang mau kamu beritahukan padaku? Rahasia terlarang! Itu peraturannya!” jelas Takane, memaksa.
“Apa ada aturan seperti itu?”
“Aku membuat peraturan nya sekarang! Beritahu aku.”

Hana diam, dan mengingat kembali pernyataan cinta Okamoto padanya.
“Bahkan jika kamu tahu orang lain akan tersakiti oleh itu. Dan ketika ada waktunya kamu tidak ingin benar2 memberitahu mereka. Bagaimana kamu akan memberitahu mereka, Takane- san?” tanya Hana dengan serius. Tentang jawaban apa yang harus diberikannya kepada Okamoto.

Mendengar itu, giliran Takane yang terdiam, dan mengingat kembali saat dia melihat Okamoto menyatakan cinta pada Hana.
“Itu benar. Yang terburuk adalah tetap diam tentang hal itu, dan membuat mereka menebak. Itu hanya akan lebih menyakitkan mereka. Kamu harus memberitahu mereka langsung!” jelas Takane, tegas. “Itu mengapa.. jangan di tahan!”

Hana menemui Okamoto untuk memberikan jawabannya. “Aku suka Takane- san ..”
Okamoto langsung menutup mulut Hana menggunakan tangannya, sebelum Hana selesai berbicara. “Aku tahu, kamu menyukai dia ‘kan?”
Hana terkejut bagaimana bisa Okamoto tahu. Dan Okamoto tersenyum, dia menjelaskan bahwa dia menyukai Hana itu tidak ada hubungannya dengan Takane menyukai Hana. Selain itu, dia senang Hana menjawab nya. Itu mengapa Okamoto berharap bahwa Hana bisa menyatakan cinta dengan benar pada Takane.
“Tidak, tidak, tidak! Itu sangat tidak mungkin!”
“Lebih jujurlah!” balas Okamoto.
Mereka berdua lalu duduk bersama, dan mengobrol. Hana menceritakan bahwa dia ingin sekali memberitahukan perasaannya pada Takane, tapi mereka hanyalah pasangan perjodohan saja. Jadi dia tidak bisa memberitahu Takane, karena jika dia memberitahu Takane, maka perjodohan ini akan berakhir.

“Kamu berpikir bahwa hanya hal itu saja yang membuat kalian berdua bertahan bersama? Aku jatuh cinta denganmu. Lebih percaya dirilah pada dirimu sendiri!” kata Okamoto memberikan semangat. Dan Hana tersenyum. Lalu Okamoto pun pergi.

Hana diam, dan mempersiapkan dirinya.
Okamoto menemui Takane yang baru keluar dari dalam apatermen.
“Aku mendengar tentang situasi mu yang sekarang dari Luciano- san,” kata Okamoto, memulai pembicaraan.
“Apa kamu datang kesini untuk memberitahuku bahwa kamu berkencan dengan Hana sekarang?” balas Takane, ketus. Dan Okamoto terkejut.

Melihat Okamoto terkejut, Takane pun merasa heran. Dan dengan suara keras, Okamoto langsung mengatai Takane bodoh. Lalu Okamoto menarik kerah jas Takane. “Jika kamu hanya bermain- main dengannya. Aku akan mencuri dia darimu. Mengerti?” kata Okamoto dengan serius. Lalu dia pergi.
Takane terdiam mendengar itu.
Telpon masuk dari Eiji.
Eiji menghubungin Takane dengan panik karena ada hal darurat yang terjadi. Jadi dia meminta agar Takane bisa segera datang ke Takaba pusat sekarang.

Diruangan rapat. Para petinggi Takaba membahas betapa memalukannya sikap Takane. Dan tepat disaat itu, Takane datang. Dia merasa terkejut, saat melihat foto dirinya dan Hana yang ada dilayar besar.
“Pelakunya datang tepat waktu,” kata Aiba dengan sinis. “Ingin menjelaskan ini kepada kami?” tanyanya.

Aiba berdiri dari tempatnya. “Ketika aku melihat foto ini, aku terkejut. Dia bekerja keras pada pekerjaannya, tapi dia bekerja keras pada sesuatu yang lain juga. Jika ada sesuatu seperti ini dalam grup kita. Maka reputasi kita dan reputasi grup akan ternoda,” jelasnya kepada para petinggi.
Mendengar itu, Takane memandang tajam ke arah Aiba.

Kemudian Takane berjalan mendekati Aiba dan menjelaskan kepada semua petinggi yang ada didalam ruangan. “Pertama, biarkan saya meminta maaf untuk melibatkan setiap orang dalam masalah ini. Saya benar- benar meminta maaf! Tapi saya bersungguh- sungguh!” kata Takane sambil membungkuk hormat.
Takane lalu berdiri tegap kembali. “Hanya saja, gadis disini berbeda. Aku seperti kakaknya. Itu saja.”

“Apa yang akan menjadi tindakan mu selanjutnya?” tanya Aiba dengan tegas. Dan Takane memandang tajam padanya.
Nonomura sedang duduk bersantai menikmati makanannya. Ketika tiba- tiba saja rekan sekerja nya memperlihatkan berita skandal diinternet mengenai Takane dan Hana. Dan melihat foto yang tersebar itu, Nonomura langsung merasa panik dan berlari pergi.
Pulang sekolah. Dengan gembira Hana dan kedua temannya membahas lagu apa yang harus mereka nyanyikan di karaoke.
Tepat disaat itu, Nonomura yang tampak panik, datang berlari ke arah Hana dan memanggilnya. Melihat itu, Hana pun merasa heran, dan bertanya apa yang terjadi. Tapi tanpa menjelaskan apapun, Nonomura menarik tangan Hana untuk mengikutinya.
Nonomura menunjukan foto skandal Hana dan Takane yang tersebar. Lalu dia menceritakan betapa hebohnya kantor pusat, saat mengetahui tentang foto tersebut. Mengetahui hal itu, Hana pun langsung merasa cemas dan ingin pergi menemui Takane. Tapi Nonomura menarik tangannya, dan menahannya.

“Dengarkan aku Hana! Kamu pikir berapa banyak kekacauan yang akan foto ini sebabkan? Tidakkah kamu khawatir tentang hidup mu sendiri? Itu mengapa… kamu harus mengakhiri hubungan dengan dia,” jelas Nonomura dengan sangat tegas.
“Sekarang bukan waktunya untuk mengatakan itu ‘kan. Aku harus pergi!” balas Hana.

Hana memberontak agar tangannya dilepaskan, karena dia ingin segera pergi menemui Ketua (Kakek Takane) untuk menjelaskan kesalah pahaman ini padanya. Tapi Nonomura sama sekali tidak mau melepaskan Hana.
“Kamu tidak bisa! Jangan membuat ini semakin buruk!” teriak Nonomura.
“Kalau begitu … aku perlu berbicara kepada Takane- san. Itu tidak apa- apa ‘kan?” tanya Hana, memohon.

“Kamu tidak bisa!” balas Nonomura.
Hana menepis tangan Ayahnya dengan kuat. Lalu dia berlari pergi dari sana. “Maafkan aku,” teriak Hana.

No comments:

Post a Comment