Saturday, June 22, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 18 - part 1

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 18 – Part 1
Network : KBS2

Kang Woo datang ke tepi pantai untuk mencari Yeon Seo. Tapi dia tidak bisa menemukannya.

Kim Dan meminta maaf pada Yeon Seo untuk segalanya, karena telah berkata kejam dan menyakiti Yeon Seo pada hari itu, dan untuk saat ini.
Mendengar itu, Yeon Seo pun bertanya, apa itu artinya Kim Dan tidak akan ikut dengannya. Dan Kim Dan diam. Dengan sedih, Yeon Seo menceritakan tentang Ibu dan Ayahnya, Tn. Jo serta Seong Woo, semua orang yang disayanginnya meninggal lebih dahulu. Dan itu membuatnya serasa ditinggalkan sendirian di gurun pasir yang tidak berujung. Jadi dia berharap Kim Dan bisa berada di sisinya.

“Kamu ingat, bagaimana kamu akan mengabulkan permintaanku? Aku akan memakai permintaan kedua ku. Sekarang juga,” kata Kim Dan. “Tunggulah aku. Sebentar saja. Jika kamu menungguku sebentar saja, aku akan menyelesaikan semuanya, lalu kembali. Jangan menanyakan apapun sekarang.”
“Apa yang harus kamu selesaikan? Ada apa? Aku harus tahu masalahnya agar bisa bertindak. Ada apa?” tanya Yeon Seo, mendesak, karena tidak paham.

Tanpa menjawab, Kim Dan memberikan sapu tangan malaikatnya. Dia berjanji kepada Yeon Seo bahwa dia tidak akan lama, dia pasti akan kembali. Jadi sampai saat itu tiba, Yeon Seo harus makan yang lahap, giat berlatih, dan bersikap berani. Itulah permintaannya. “Bisakah kamu melakukan nya?” tanya Kim Dan.

Yeon Seo menggelengkan kepalanya dengan pelan, dan melangkah mundur ketika Kim Dan mau memberikan sapu tangan itu kepadanya. Namun Kim Dan tetap memaksa Yeon Seo untuk menerima sapu tangannya.
Lalu setelah itu, Kim Dan menguatkan dirinya dan pergi meninggalkan Yeon Seo disana. Dan Yeon Seo memperhatikan kepergiaanya dengan sedih.

Sementara itu, ternyata dibelakang mereka ada Kang Woo yang sedang memperhatikan mereka berdua sedari tadi.
Kim Dan berhenti berjalan, dan melirik ke belakang. Lalu setelah itu dia kembali berjalan lagi.

Kang Woo mendekati Yeon Seo, dan langsung memeluknya. “Berhentilah menangisi bedebah itu,” katanya dengan keras.
Dan Yeon Seo pun melepaskan pelukan Kang Woo, dan menamparnya dengan keras. “Apa yang kamu lakukan?” teriak Yeon Seo.

Kang Woo menyarankan agar Yeon Seo jangan menyia- nyiakan perasaan demi pria yang terus melarikan diri. Dia tahu Yeon Seo sangat mengandalkan Kim Dan saat sakit dan lemah, tapi dia tidak akan membiarkan Yeon Seo menangisi pria seperti itu. Dia ingin Yeon Seo mengandalkannya saja, karena dia tidak akan melarikan diri ataupun menghilang.
Yeon Seo melangkah mundur sedikit. Dengan tegas dia memperjelas agar Kang Woo tidak mencampuri perasaannya. Karena dia merasa tidak nyaman. Jadi dia berharap hal semacam ini tidak akan terjadi lagi. Serta dia berterima kasih, karena sebagai Direktur Kang Woo telah membantunya untuk tampil kembali.

“Maaf, jika aku mengejutkanmu. Tapi aku tidak bisa berjanji ini tidak akan terjadi lagi. Aku serius soal menyuruhmu untuk mengandalkan ku. Hari ini aku akan berhenti. Ayo,” kata Kang Woo, lalu dia berjalan pergi duluan.
Dengan heran, Yeon Seo pun hanya bisa diam saja.

Sesampainya dirumah, Yeon Seo berterima kasih atas tumpangan yang Kang Woo berikan kepadanya. Lalu dia masuk ke dalam rumah.
Kang Woo tidak bisa fokus untuk menyetir. Dia terus berpikir sambil memperhatikan cincin di jari kelingkingnya.

Kang Woo datang ke kuil. Dia melepaskan cincinnya, dan menaruhnya didalam tempat Seol Hee. “Kamu pernah bilang hidup ini penuh kejutan. Aku tidak menyangka, hari ini akan tiba. Kupikir aku akan selalu bebas seperti hantu, tidak hidup atau mati.”


Kang Woo keluar dari dalam kuil. Tapi sebelum pergi dia melihat sekali ke belakang. Sepertinya aku juga menjadi manusia biasa.”


Didalam kamar. Yeon Seo mengenggam erat sapu tangan dari Kim Dan.

Diatas batu tebing. Kim Dan mengingat kembali bagaimana dirinya meninggal dulu. Lalu dia memandang ke langit, dan bertanya apakah ini jawaban atas doanya. Kemudian Kim Dan pun melompat ke dalam laut.
“Kenapa Engkau hanya mengawasiku? Kenapa Engkau membuatku mati saat menderita? Kenapa Engkau membiarkanku di lahirkan? Kenapa Engkau membiarkan ku mengingat semuanya?” tanya Kim Dan sambil memandang apa yang ada didalam laut.
Pagi hari. Yeon Seo mengikatkan sapu tangan malaikat milik Kim Dan ditasnya.
Ny. Jung datang menjemput Yeon Seo, dia memberitahukan Yeon Seo bahwa dia telah menemukan seorang sekretaris baru dan dia berencana mengadakan wawancara pekan depan. Dan Yeon Seo membalas agar Ny. Jung membatalkannya.
“Aku tahu kamu begitu memercayaiku, tapi aku sungguh tidak bisa tinggal disini,” jelas Ny. Jung dengan pelan.
 “Kim Dan akan kembali,” balas Yeon Seo.


Ny. Jung terkejut, dan bertanya apa dia sudah boleh menyebut nama Kim Dan, dan Yeon Seo tersenyum. Lalu dengan heran, Ny. Jung bertanya apakah Kim Dan ada menelpon Yeon Seo.
“Kim Dan bilang, dia akan kembali. Dia berjanji padaku,” kata Yeon Seo sambil tersenyum senang.
“Sulit dipercaya. Kapan? Kapan dia akan kembali?” tanya Ny. Jung, bersemangat.
Yeon Seo menjelaskan bahwa dia tidak tahu soal itu. Tapi intinya, dia tidak membutuhkan sekretaris baru. Karena dia akan menunggu Kim Dan. Mendengar itu, Ny.Jung ikut merasa bahagia.

Difantasia. Ketika Yeon Seo baru saja sampai, Ni Na langsung mengajaknya untuk berbicara. Dia memperingatkan Yeon Seo untuk menjaga sikap, dan jangan merusak hubungan antara para penari serta Kang Woo. Karena Yeon Seo baru kembali, tapi sudah meninggalkan latihan dan menemui Kang Woo secara pribadi.

Dengan tegas, Yeon Seo langsung memperjelas bahwa dia sama sekali tidak ada hubungan romantis dengan Kang Woo. Jadi Ni Na jangan bersikap konyol.
Ni Na kemudian membahas tentang mereka yang mogok menari, sebab Kang Woo terlalu memihak pada Yeon Seo. Karena itu dia ingin Yeon Seo untuk berhati- hati.

“Geum Ni Na. Kamu menyukai dia?” tanya Yeon Seo, langsung.
Dan Ni Na langsung gugup. “Apa katamu? Menggelikan. Aku hanya sangat menghormati dia.”
“Kamu payah dalam menyembunyikan perasaan,” komentar Yeon Seo.
“Hey, jangan salah paham hanya karena kamu kesal. Aku hanya ... hanya ... Benar. aku melakukan ini karena tidak bisa membiarkan rumor sekotor itu tersebat di Fantasia,” balas Ni Na, beralasan.
Yeon Seo meminta agar kalau begitu Ni Na berhenti mengoceh didepannya, dan mencari para penyebar rumor itu. Karena dia tidak pernah melakukan siasat atau hal memalukan. Dan dia tidak perlu melakukannya. Mendengar itu, Ni Na terdiam.

Tepat disaat itu, Kang Woo datang. Dia menanyakan ada apa pada mereka berdua. Lalu tanpa sengaja dia melihat sapu tangan malaikat milik Kim Dan yang terikat dipegangan tas  Yeon Seo.
“Bukan apa- apa. Kami hanya …” kata Ni Na dengan gugup, mau menjawab.
“Ada rumor bahwa aku dan kamu berpacaran. Kurasa kamu cukup menuruti permintaanku. Kamu ingat, bukan? Pisahkan emosimu dengan pekerjaan. Mari bersikap profesional,” potong Yeon Seo, menjelaskan pada Kang Woo.
“Jangan cemas,” balas Kang Woo.

Setelah Yeon Seo pergi. Kang Woo langsung bertanya siapa penyebar rumor konyol itu. Dan dengan sangat gugup, Ni Na tidak bisa menjawab. Mengerti akan hal itu, Kang Woo pun pergi meninggalkannya.

Didalam ruang latihan. Kang Woo memperhatikan Yeon Seo, dan Ni Na tampak cemburu melihat itu.
Tn. Geum menunggu Ni Na diluar rumah. Dan ketika akhirnya Ni Na pulang, dia tersenyum dan memeluk Ni Na.

Tn. Geum serta Ni Na pergi makan bersama diluar. Melihat Ni Na yang tampak sangat kelelahan, dia menasehati agar Ni Na jangan terlalu menyiksa diri sendiri karena Yeon Seo. Sebab Yeon Seo adalah anak yang malang.
“Ayah selalu mengatakan itu. Dia tidak malang. Dia cantik, kaya, dan berbakat. Tuhan pasti hanya menyanyangin dia,” kata Ni Na, iri.

“Andai sungguh begitu menyayangi dia, Tuhan tidak mungkin mengambil orang tuanya secepat itu. Apa gunanya cantik, kaya, dan berbakat? Dia mengalami hal mengerikan. Dia wanita yang malang dan menyedihkan. Jadi Ni Na, kamu harus menjaganya,” jelas Tn. Geum dengan lembut.
Mendengar itu, Ni Na sedikit tidak senang, dan bertanya dipihak mana Ayahnya. Dan Tn. Geum menjawab bahwa dia selalu berada di pihak Ni Na. Jadi dia ingin Ni Na memihak Yeon Seo. Dan Ni Na tidak mau.

“Ini kali pertamaku melawan dia dalam kompetisi yang sesungguhnya. Aku tidak bisa memihak dia,” jelas Ni Na, menolak.
“Ada alasan karma berlaku. Apapun yang kamu lakukan, ntah itu baik atau buruk, hal itu akan kembali. Kamu dan Ru Na harus aman,” balas Tn. Geum, serius.
“Apa maksud Ayah?” tanya Ni Na, tidak mengerti.
“Kalian harus baik hati seperti sekarang.”
Ny. Choi memberikan daftar para penari pada Ru Na, dan dia memberikan waktu 3 sampai 4 hari. Dan Ru Na mengeluh bahwa ini merepotkan, seandainya saja ada cara yang lebih mudah dan efektif.

“Ibu mempertimbangkan untuk menunjuk hakim baru, tapi kita terdengar percaya diri dihadapan penari. Jadi mendapatkan suara mereka satu persatu lebih cepat dan efektif. Ibu minta tolong pada Direktur Asosiasi- Ibu ya,” kata Ny. Choi, menjelaskan.
“Baiklah, Direktur Umum Choi,” balas Ru Na sambil tersenyum.
Ru Na menemui satu persatu penari, dan menyogok mereka. Pertama adalah penari Hwang Jung Eun, penari tertua, jika mereka bisa mendapatkannya maka semakin banyak penari yang akan ikut. Ru Na datang membawakan popok untuknya.
Kedua, Soo Ji, wanita miskin yang mengajar murid untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ru Na datang menemuinya di butik, dan membelikannya pakaian.
Ketiga, pasangan Pria atau sang pemimpin. Ru Na menemuinya dirumah sakit.
Malam hari. Yeon Seo berlatih menari.

Hujan tiba- tiba turun, dan Yeon Seo pun melihat keluar jendela. “Kabarmu baik, Kim Dan?” tanya nya didalam hati.

Karena tidak bisa tidur, Yeon Seo menyeduh teh untuk dirinya sendiri. Dan dia pun menawarkannya juga pada Ny. Jung yang datang ke dapur.
Tapi Ny. Jung menolak, karena menurutnya saat hujan seperti ini sup otak2 dan soju akan sangat nikmat. Lalu Ny. Jung mengajak Yeon Seo untuk minum bersama.
Sambil makan serta minum- minum bersama. Dengan gugup Yeon Seo menanyakan tentang kegudahannya. “Ny. Jung, jika seorang Pria menyuruhmu menunggunya dan bilang bahwa dia butuh waktu, apa makna sesungguhnya?” tanya Yeon Seo.
“Nona, kamu menyukai seseorang?” balas Ny. Jung, bertanya.

Yeon Seo langsung menyangkal, dan beralasan bahwa temannya yang bertanya tentang itu kepadanya, jadi karena Ny. Jung lebih berpengalaman, maka dia pun bertanya. Lalu dengan gugup Yeon Seo meminum tehnya.
“Apa dia sudah menikah?” tanya Ny. Jung. Dan Yeon Seo langsung tersedak.

“Belum,” jawab Yeon Seo langsung. “Atau sudah?” gumamnya dengan pelan.
“Dia akan melarikan diri. Pria tidak pernah ragu dalam hal cinta. Dia butuh waktu? Omong kosong,” jelas Ny. Jung.
“Dia sungguh tampak putus asa!” teriak Yeon Seo. “Menurut temanku,” lanjut Yeon Seo dengan pelan. “Dia memberinya sapu tangan yang sangat dia hargai. Itu bukti janjinya kepadanya.”

“Bagi sang Wanita, mungkin itu bukti janji. Tapi bagi sang Pria, mungkin itu hanyalah sampah,” balas Ny. Jung. Dan mendengar itu, Yeon Seo merasa terkejut.
Ny. Jung kemudian memberikan nasihat pada Yeon Seo agar melupakan saja Pria tersebut. Karena dia tahu Yeon Seo tidak punya teman. Dan dengan kesal, Yeon Seo langsung berdiri dan menegaskan bahwa dia punya teman. Lalu dia pergi.
Dengan lelah, Ny. Jung menghela nafas dan melanjutkan minumnya. “Aku harus mencari sekretaris lain,” gumamnya, berpikir.
Yeon Seo terduduk lemas diatas tempat tidur. “Kim Dan, dimana kamu dan apa yang kamu lakukan?” tanyanya.

No comments:

Post a Comment