Friday, June 14, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 13 - part 2

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 13 – Part 2
Network : KBS2

Pagi hari. Ny. Choi mengajak Ru Na untuk berbicara, tapi dia tidak jadi karena melihat tatapan Ru Na saat bertanya soal apa.
(Sepertinya Ny. Choi mau bertanya tentang seberapa Ru Na terlibat dan mengetahui semuanya selama ini. Ingat kejadian di pestakan? Ru Na bertindak sendiri dalam menaruh obat untuk Yeon Seo.)
Ny. Choi mengalihkan pembicaraan, dia meminta agar Ru Na menghubungin asosiasi sponsor sekarang dan meminta mereka untuk berkumpul 9 pagi.

Saat Ni Na datang ke dapur untuk minum. Ny. Choi mencium kalau tubuh Ni Na berbau alkohol yang menyengat, dan dia pun merasa heran karena tidak biasanya Ni Na mabuk. Dan dia menebak kalau itu pasti karena Yeon Seo.

Karena Ni Na hanya diam saja, maka Ru Na lah yang menjelaskan. Semua penari bersatu untuk melakukan mogok, tapi Kang Woo tetap saja keras kepala. Lalu dengan perhatian, Ru Na memberikan jus yang dibuat nya kepada Ni Na.
“Semuanya akan berhasil. Percaya pada Ibu dan Istirahat lah hari ini,” kata Ny. Choi dengan tegas. Dan Ni Na pun mengiyakan, lalu meminum jus nya.


Ni Na tiba2 teringat tentang guru baletnya, Elena, dan dia pun mau membicarakannya kepada mereka berdua. Tapi baru mendengar nama itu saja, Ny. Choi serta Ru Na sudah sama2 tampak tidak senang. Dan karena itu, Ni Na pun tidak jadi menceritakan mengenai pertemuannya dengan Elena, dia menjelaskan bahwa hanya tiba2 dia teringat pada Elena, karena Yeon Seo telah kembali sekarang.

“Guru apanya? Dia melemparkan cat merah pada seorang gadis berusia 8 tahun, menyuruhnya membayangkan kematian. Dan dia mencelupkanmu ke dalam bak mandi, sehingga kamu bisa membayangkan laut. Aigoo. Dia benar2 gila,” kata Ny. Choi dengan kesal, mengingat semua itu.

“Ni Na. Jika seseorang bertanya, bilanglah kamu tidak mengenalnya. Dia tidak pernah mengajarmu dan kamu tidak mengenalnya. Tak ada satupun hal baik yang berkaitan dengannya,” jelas Ny. Choi dengan tegas. Dan mendengar itu, karena tidak bisa membantah, maka Ni Na pun hanya diam saja.

Kim Dan datang ke ruang latihan Yeon Seo, dan memperhatikannya menari sambil merenung. Dia mengingat perkataan Ny. Choi yang memberikan waktu 12 jam untuk Yeon Seo mengundurkan diri. Serta perkataan Kang Woo yang mengatakan bahwa memberitahu penari untuk berhenti seperti merenggut hidup penari itu.

Menyadari keberadaan Kim Dan, maka Yeon Seo pun berhenti menari. “Berapa lama kamu disana?” tanyanya. Dan Kim Dan tersenyum.
“Dari tadi. Kamu cantik, seperti biasanya saat kamu menari,” puji Kim Dan.
“Benar. Ini anugerah,” balas Yeon Seo. Lalu dia bertanya, apa dia punya sekitar 2 jam lagi. Dan mendengar itu, Kim Dan ingin berbicara, tapi tidak jadi karena Ny. Jung datang.

Ny. Jung menyerahkan surat hasil tes darah kepada Yeon Seo. Walaupun itu kurang bisa dijadikan sebagai bukti, tapi itu bisa digunakan untuk menggertak setiap orang saat Yeon Seo terpojok. Karena Yeon Seo adalah korban. Dan mendengar itu, Yeon Seo tersenyum. Sementara Kim Dan hanya diam saja.

“Tidak. Jangan pergi. Batas waktu 12 jam kan tidak adil. Kamu tidak punya kewajiban atau tanggung jawab untuk mengikuti perintah mereka,” kata Ny. Jung mengubah perkataannya, karena dia merasa sangat khawatir pada Yeon Seo.

“Dan jika aku tidak pergi, haruskah aku menyerah? Kamu tahu Direktur Umum Choi tidak mudah menyerah,” kata Yeon Seo.
“Aku tahu. Aku tahu betul. Jelas apa yang akan terjadi. Dia akan mengomel padamu tanpa akhir, dan memaksamu untuk berhenti,” balas Ny. Jung, cemas.

Tepat disaat itu, Ny. Choi tiba2 menelpon ke hape Ny. Jung sehingga dia merasa kaget kenapa bisa pas banget. Namun dengan tenang, Yeon Seo mengambil hape Ny. Jung dan mengangkatnya.
Ny. Choi menanyakan kenapa Yeon Seo tidak menjawab telpon darinya, sehingga dia hampir saja berpikir Yeon Seo bersembunyi karena takut. Lalu dia memberitahu bahwa waktu Yeon Seo sudah hampir habis, jadi apakah Yeon Seo akan datang atau tidak. Karena semua orang dari asosiasi akan datang. Jadi jika Yeon Seo tidak datang bergabung, maka dia akan berbicara mewakili.
“Aku akan beri tahu mereka, kamu akan bertanggung jawab penuh…”

“Tunggu saja. Aku akan datang tepat waktu,” sela Yeon Seo.
Mendengar itu, Ny. Choi tersenyum puas. “Kamu sudah membuat keputusan yang tepat. Orang bilang mengakhiri sesuatu dengan catatan yang baik adalah yang terpenting. Jauh lebih baik kamu yang akan mengakhiri kekacauan ini tanpa keterlibatan siapapun. Sampai jumpa,” katanya. Lalu telpon dimatikan.

Ny. Jung dengan penasaran menanyakan apa yang Ny. Choi katakan. Dan Yeon Seo menjawab bahwa dia harus pergi. Lalu dia berjalan keluar dari dalam ruangan, diikuti oleh Kim Dan dari belakang.
“Jika semuanya kacau, pura2 saja pingsan. Ya?” kata Ny. Jung, cemas.


Didalam mobil. Yeon Seo menanyakan kenapa Kim Dan tidak berbicara, dan tidak bertanya apa yang akan dia lakukan. Dan tanpa menjawab, Kim Dan memutarkan arah mobil. Dengan heran, Yeon Seo pun bertanya kemana Kim Dan mau pergi. Tapi Kim Dan tetap diam, tidak menjawab.

Kim Dan berjalan ke arah jembatan, dan Yeon Seo mengikutinya dengan heran sambil bertanya kenapa mereka ke sini. Dan tanpa menjawab, Kim Dan naik ke atas pagar jembatan dan merentangkan tangannya lebar2. Melihat itu, Yeon Seo merasa bingung dan cemas, dia berteriak menanyakan apa yang Kim Dan lakukan sekarang.

“Bagaimana rasanya saat kamu jatuh ke air?” tanya Kim Dan. Lalu tiba2 saja dia kehilangan keseimbangan tubuhnya, dan hampir saja terjatuh. Tapi Yeon Seo segera memegang tangannya, dan menahannya.

“Bukankah gelap, mencekik, menakutkan, dan sepi? Aku juga tahu,” kata Kim Dan. Lalu dia memegang tangan Yeon Seo, dan meloncat turun dari pagar jembatan.

“Kamu sudah gila? Apa maksudmu? Aku hampir terkena serangan jantung!” teriak Yeon Seo, merasa lega.
“Sangat disayangkan. Seandainya aku mengenalmu pada saat itu, aku akan menghentikanmu, seperti kamu memegang tanganku sekarang. Sebenarnya kemarin ini yang hendak ku katakan. Jika sulit, kamu bisa menyerah,” jelas Kim Dan.

“Aku tidak ingat,” balas Yeon Seo.
Kim Dan menjelaskan bahwa dia ingin Yeon Seo menyerah dan memiliki kehidupan yang mudah. Tapi saat dipantai, dan distudio pagi ini, Yeon Seo terlihat bahagia. Jadi jika Yeon Seo suka menari, maka lanjutkanlah. Dan ingatlah bahwa apapun yang Yeon Seo putuskan untuk dilakukan, atau dimanapun Yeon Seo berada, Yeon Seo tidak lagi sendirian. Mendengar itu, Yeon Seo terdiam sesaat.
“Kita akan terlambat. Ayo pergi,” ajak Yeon Seo. Lalu dia berjalan duluan.
“Tunggu aku!” teriak Kim Dan sambil tersenyum. Lalu dia mengikuti Yeon Seo.

Kang Woo terkejut mendengar kabar dari asistennya bahwa semua orang asosiasi sponsor berkumpul diruangan konferensi sekarang. Dan lalu telponnya berbunyi, telpon dari Tn. A atau Lee Yong Jin.

Tn. Jin menanyakan apa yang Kang Woo lakukan. Kemarin datang menerobos masuk ke mobilnya dan mengancamnya.

Flash back
Kang Woo menghadang mobil Tn. Jin diparkiran. Dan lalu masuk ke dalam mobilnya. “Sepertinya kamu melakukan bisnis dengan Ishikawa. Apa kamu ingin membayar pajak di kedua negara?” ancam Kang Woo.
“Apa yang kamu inginkan?”
“Mempertahankan status. Tidak lebih, tidak kurang.”
Flash back end

Tn. Jin memberitahu tentang Ny. Choi yang menelponnya pagi hari ini, dan Ny. Choi mengatakan bahwa Yeon Seo akan membuat pengumuman penting.
Mengetahui itu, Kang Woo terkejut, karena dia tidak tahu.

Didalam rapat. Setiap orang menuntut Yeon Seo untuk berbicara dan menjelaskan. Mereka menanyakan apa yang mau Yeon Seo lakukan. Dan mereka akan mengajukan petisi untuk memberhentikan Yeon Seo. Lalu Ny. Choi berteriak, dia mengatakan bahwa mereka harus membawa semua ini, karena jika terus begini, Fantasia dalam masalah besar. Dan Yeon Seo diam.


Yeon Seo memandang ke arah Kim Dan, dan Kim Dan menganggukan kepalanya dengan pelan. Memberikan kekuatan pada Yeon Seo agar berani.

Yeon Seo membungkuk dihadapan mereka semua. “Maaf,” katanya. Lalu dia mulai menjelaskan, “Hari itu, aku membuat kesalahan. Aku tidak akan beralasan. Maaf.”

“Dan juga, apa lagi?” desak Ny. Choi, ingin mendengar pengunduran diri Yeon Seo.
Seorang pemegang saham (sponsor), dia bertanya apakah permintaan maaf saja sudah cukup. Dan Ny. Choi langsung menenangkannya, karena Yeon Seo masih ada yang mau di bicarakan lagi.

“Lee Yeon Seo, jangan gugup. Utarakan saja pikiranmu. Apa kamu ingat apa yang kita janjikan kemarin? Apa kamu ingat apa yang akan kita lakukan untuk masa depan Fantasia?” desak Ny. Choi dengan gugup, karena Yeon Seo tetap diam.

Tidak sabar lagi, maka Ny. Choi pun berdiri dan mengumumkannya sendiri. “Mulai hari ini, Lee Yeon Seo memutuskan untuk mengundurkan diri dari yayasan dan teater balet,” katanya sambil tersenyum. Mendengar itu, Kang Woo tampak kaget.

“Tidak, aku tidak akan melakukannya. Tidak benar,” balas Yeon Seo dengan sikap percaya diri.
Ny. B menanyakan, apa itu berarti Yeon Seo tidak akan mengundurkan diri dan benaran meminta maaf barusan. Dan Yeon Seo menjawab bahwa dia akan menunjukan kepada mereka dengan kinerja kerjanya. Dia akan menunjukan bahwa dirinya stabil secara mental dan dia benar2 waras.

Tn. Jin menggebrak meja dan berdiri. “Semuanya harus sepadan. Sepadan dengan nilai uang yang kita peroleh atas darah dan keringat kita. Jika kamu meminta maaf, sebaiknya kamu berlutut. Itu jelas dan tulus.”
“Oh. Berlutut? Tulus? Begitukah,” gumam Yeon Seo.
Yeon Seo lalu berjalan ke arah Tn. Jin. Melihat itu, Kang Woo langsung berdiri dari tempatnya dan ingin menghentikan Yeon Seo berlutut beneran. Begitu juga dengan Kim Dan, dia tampak seperti ingin sekali menghentikan Yeon Seo agar tidak melakukan itu.

“Apa kamu suka balet? Apa acara kesukaanmu? Apa peran kesukaanmu? Kamu tahu berapa banyak penari yang ada di teater balet kami?” tanya Yeon Seo.
Tn. Jin tertawa mendengar itu. “Kamu ada di tengah permintaan maafmu. Omong kosong apa yang kamu bicarakan?”
“Kamu tidak suka balet. Benar?” potong Yeon Seo.

Yeon Seo berjalan melewati mereka satu persatu secara perlahan. Dia mengatai mereka bodoh, karena berpikir dapat membeli rasa dengan uang. Dan mereka duduk dikursi terbaik serta tidur. Orang2 sombong yang menjengkelkan. Mendengar itu, Kang Woo tersenyum bangga. Sementara para sponsor merasa kesal.

“Aku akan membuatmu menyukainya. Balet. Aku akan membuatmu menyayangin balet. Itu akan sepadan dengan uang kalian. Jika pertunjukan ‘Giselle’ tidak berhasil, aku akan mengundurkan diri dari Teater balet dan Yayasan Fantasia. Apa ini cukup untuk menjawab mu? Kami akan memperpanjang surat kuasa Choi Yeon Ja sampai hari pertunjukan. Sesudah pertunjukan, kita akan memilih salah satu dari kami yang akan meninggalkan Fantasia. Sudahhkan? Kalau begitu, permisi,” kata Yeon Seo dengan penuh percaya diri. Lalu dia pergi bersama dengan Kim Dan.

Kang Woo tersenyum melihat wajah kesal Ny. Choi.


Yeon Seo bersandar di dinding, dan melihat itu Kim Dan menepuk pelan bahunya untuk memberikannya kekuatan.

“Lee Yeon Seo,” panggil Kang Woo. Lalu dia mendekat dan memeluk Yeon Seo. “Kerja bagus. Mari kita berikan pertunjukan terbaik, dan membuat mereka berlutut,” katanya sambil tersenyum menatap Yeon Seo.
“Aku akan melakukan yang terbaik,” jawab Yeon Seo.

Ny. Choi menghampiri Yeon Seo dan mengajaknya untuk berbicara berdua.

No comments:

Post a Comment