Sunday, June 23, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 07-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 07-1

Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land
Eunseom berhasil menyerang dan melukai pipi Yangcha, tapi pasukan Daekan yang lain muncul, jadi mau tidak mau, Eunseom memilih untuk kabur dari sana.
--




Tanya menemukan Saya yang bersembunyi di balik tirai yang ada di kamar tersebut. Tanya begitu terkejut saat melihat wajah Saya yang sangat mirip dengan Eunseom, tapi Saya memakai jepitan rambut sama seperti yang di lihatnya dan juga bibir Saya berwarna merah, bukan ungu. Saya tampak sangat gugup karena Tanya begitu dekat di sampingnya. Tanya benar-benar penasaran, hingga dia mengusapkan jarinya ke bibir Saya. Ungu. Warna bibir asli Saya adalah ungu.
“Kau … siapa?” tanya Tanya.
Arthdal Chronicles

Pasukan Daekan dan Danbyeok berhasil menyalakan kembali api penerang ruangan. Mereka juga berhasil menangkap beberapa suku Wahan. Asa Ron tertangkap dan Danbyeok langsung memerintahkan penangkapan Asa Ron lagi. Asa Ron benar-benar marah dan mengingatkan Danbyeok akibat yang akan di terimanya.
“Terimakasih,” ujar Tagon, karena Danbyeok percaya padanya.
“Aku hanya melakukan tugas sebagai putra Ayah,” jawab Danbyeok dan berlalu pergi.
Kitoha datang melapor kalau Mihol dan Heulrip menghilang. Tagon dapat menebak kalau Mihol pasti pergi ke bengkel perunggu. 
--

Benar, Mihol pergi ke bengkel perunggu. Para pekerja di sana, tidak tahu apa yang terjadi di luar sana sehingga mereka masih bersikap tenang. Tapi, tiba-tiba saja, Mihol menggunakan pedang yang ada di sana dan mulai menghabisi semua pekerja. Tersisa satu orang pria dan wanita.
“Mihol… kenapa kau lakukan ini?” tanya si pria dengan ketakutakn.
“Kami hanya anak kecil. Tolong ampuni nyawaku,” mohon si anak.
“Aku mau kalian berdua kabur dari tempat ini. Kita, Suku Hae, hampir tak bisa bertahan di  Remus, dan datang ke Arth, di ujung timur. Kenapa kita memutuskan menetap di Arth?”
“Karena jemari yang diukir di Karang Gochiju Besar,” jawab si pria.
“Peradaban misterius dengan ukiran yang sama di perisainya telah menghancurkan negeri kita. Aku yakin Arthdal terkait dengan insiden itu. Kita harus bongkar rahasianya. Di mana pun berada, kau harus ingat misi itu,” perintah Mihol.
Kedua orang itu mengerti dan langsung kabur dari sana.
Setelah kedua orang itu pergi, Mihol segera membakar petunjuk pembuatan perunggu milik suku Hae hingga menjadi abu.
Pasukan Daekan tiba ketika kertas itu telah menjadi abu. Mereka berusaha menyelamatkan kertas itu, tapi ya sudah percuma. Dengan tenang, Mihol mengatakan kalau sekarang hanya dialah yang mempunyai pengetahuan mengenai pengerjaan perunggu di seluruh Arthdal. Tagon merasa apa yang Mihol lakukan tidak perlu, padahal Mihol hanya perlu berlutut memohon pada Taealha, dan dia akan menyelamatkan Mihol.
Mihol hanya tersenyum. Tagon segera memerintahkan agar Mihol di tangkap.
Kitoha masih belum pergi dan menemukan Yeolson yang sedang bersembunyi di pojokkan. Dia membawa Yeolson keluar dan membawanya menghadap Tagon. Tetapi, pandangan Yeolson tidak terarah kepada Tagon, melainkan kepada mesin pembuatan perunggu yang ada di sana.
“Apa yang kau tatap?” tanya Tagon.
Yeolson menunjuk ke wadah yang berisi api yang sangat panas dan lintasannya juga. Dia bertanya, apakah mereka melebur batuan di dalamnya? Tagon jadi terkesan karena seorang dujeumsaeng dapat mengerti hal itu. Yeolson bingung, bagaimana bisa api melumerkan batu? Tapi, Tagon pun tidak tahu.
Yeolson melihat ke sekeliling. Tagon segera menyuruh Kitoha melepaskan Yeolson dan membiarkan Yeolson melihat-lihat. Yeolson yang memang sangat suka membuat sesuatu, sangat tertarik dengan pembuatan perunggu tersebut, dan dengan cepat dapat menebak proses pembuatannya.
Yeolson menemukan pegas di sana. Dia mencoba menggerakannya dan sadar kalau itu menghasilkan angin ke dalam api sehingga api menjadi semakin panas. Yeolson benar-benar tertarik dan mencobanya. Woaaah, dia benar-benar pintar. Api yang panas bisa melumerkan batu, mencairkannya dan kemudian mereka mengeraskannya lagi.
“Biarkan dia amati proses-nya,” perintah Tagon dan membiarkan Yeolson tetap di dalam bengkel. Jika Yeolson sudah memahami semuanya, maka Mihol tidaklah lagi berguna.
--
Semua orang yang berada di dalam benteng api, di tangkap dan di kumpulkan keluar oleh para pengawal. Tagon yang baru kembali dari bengkel terkejut karena takut ada pengawal yang pergi ke atas dan menemukan Saya. Dengan cepat, Tagon segera berlari ke atas sana.
Benar, ada seorang pengawal yang naik ke atas dan menemukan Tanya serta Saya. Dan pengawal itu melihat bibir Saya yang berwarna ungu. Dia segera mengeluarkan pedangnya. Saat itu, Tagon tiba. Pengawal segera melapor kalau ada Igutu di sini.
“Ayah,” panggil Saya.
Pengawal itu terkejut mendengar Tagon yang di panggil Ayah.
“Ppiejett!” teriak Tagon marah dan langsung menebas leher pengawal tersebut hingga tewas (Ppiejett = brengsek, bahasa suku Ago).
Tagon kemudian dengan marah berjalan ke arah Tanya dan menyeret Tanya keluar. Saya memanggilnya. Sehingga Tagon segera melempar Tanya ke samping dan dengan cepat menghampiri Saya, kemudian mencekiknya!
“Berapa banyak lagi saudaraku yang harus ku bunuh karenamu?!” marah Tagon.
Saya ketakutan. Dan Tagon tidak membunuhnya. Sebaliknya, dia memukul leher Tanya sehingga Tanya pingsan dan kemudian membawa Tanya bersamanya.
Tagon tidak membawa Tanya ke lapangan tapi menyembunyikannya di tempat lain.
--

Eunseom berusaha kabur, tapi dia malah tertangkap pasukan Daekan yang menjeratnya menggunakan rantai ke tangan kanan, kiri dan lehernya. Yangcha juga bergabung bersama mereka. Eunseom mencoba melepaskan diri, dan dengan kekuatannya, dia bisa mematahkan rantai tersebut. Tidak hanya itu, dia bahkan berhasil menebas topeng Yangcha sehingga memperlihatkan wajah tampan Yangcha.
Setelah itu, Eunseom segera kabur. Pasukan Daekan yang melihat kekuatan Eunseom langsung yakin kalau Eunseom bukanlah Saram tapi dia tidak sekuat Neanthal. Apakan Eunseoma adalah Igutu?

Yangcha tidak peduli dengan obrolan mereka dan tetap lanjut mengejar Eunseom. Tapi, pada akhirnya, mereka kehilangan jejak. Eunseom masih ada di dekat sana dan bersembunyi di salah satu gudang. Dia melihat pedangnya yang patah dan untungnya di dalam gudang itu ada senjata berbentuk sabit. Jadi, Eunseom mengambil senjata tersebut.

Yangcha masuk ke dalam gudang tersebut. Dan dengan sigap, Eunseom langsung menyerangnya. Mereka saling bertarung dan Yangcha berhasil melukai Eunseom. Dia melihat darah ungu Eunseom. Eunseom berusaha kabur dari sana dengan kaki yang terluka. Tapi, dia malah bertemu dengan Mubaek. Dan Mubaek melihat jelas wajah Eunseom dan bahkan mengenalinya.
Mubaek langsung bertanya apa yang terjadi? Pasukan daekan yang ada di sana memberitahu kalau pria itu adalah dujeumsaeng yang membunuh Sanung. Mereka lanjut mengejar Eunseom hingga ke tengah hutan. Karena lagi-lagi kehilangan jejak, mereka memutuskan untuk berpencar.

Mubaek diam di tempat, berusaha mendengarkan suara alam. Dan dia mendengarnya. Suara tetesan darah Eunseom. Dia segera berlari ke sana, tapi ternyata yang ada di sana adalah baju rompi Eunseom yang bernoda darah. Dan yang mengejutkan Mubaek adalah darah itu berwarna ungu.
Eunseom muncul dari belakangnya dan mengarahkan pisaunya ke leher Eunseom
--

Dalsae dan Buksoe dalam keadaan lemah berusaha kabur. Beruntung, dia bertemu dengan Dotti. Dalsae sangat senang melihat Dotti, tapi bagaimana Dotti bisa berada di sini? Bukannya menjawab, Dotti malah bertanya dimana Eunseom? Mereka berdua tidak bisa menjawab pertanyaan Dotti.
--
Eunseom memberitahu Mubaek kalau dia tidak membunuh Sanung. Mubaek tidak mendengarkannya, dia hanya terus memikirkan Eunseom yang adalah seorang igutu, tapi bagaimana bisa? Eunseom sendiri berkutat dengan pikirannya, jika dia memberitahu kalau Tagon adalah Igutu maka suku Wahan akan di bunuh.
Pas saat itu, Mubaek menjatuhkan sesuatu sehingga perhatian Eunseom teralih. Mubaek segera memanfaatkan momen itu untuk menghajar Eunseom. Kini, giliran Eunseom yang tersudut. Apalagi di belakangnya adalah jurang.
“Tagon adalah apa?” tanya Mubaek, menanti Eunseom melanjutkan ucapannya tadi.
Eunseom bingung. “Tanya,” ujar Eunseom, teringat Tanya.
--
Tagon membawa Tanya ke hadapan Taealha dan Haetuak. Dia juga memberitahu kalau ada jasad Daekan di kamar Saya. Jadi, dia meminta Taealha dan Haetuak menyingkirkan mayat tersebut dan membawa Saya sementara tinggal di sini dengan mereka. Haetuak kaget tapi menuruti perintah Tagon.
Setelah Haetuak pergi, Tagon memberitahu kalau Tanya melihat Saya. Giliran Taealha yang kaget.
--
Pasukan Daekan yang lain tiba di sana dan mereka terkejut saat mendengar dari Mubaek kalau Eunseom melompat dari tebing.
“Dia Igutu, kan?” tanya salah seorang.
Yangcha menatap ke bawah dan tersenyum. Sementara Mubaek hanya diam.
--
Tanya akhirnya sadar dari pingsan-nya. Dan begitu sadar, dia telah di kurung dalam sebuah ruangan mirip gudang. Dia teringat wajah Saya dan yakin kalau itu bukanlah Eunseom. Apa Saya hanyalah orang mirip dengan Eunseom?
“Mungkinkah dia… benetbeot Eunseom?” (Benetboet : Kembaran, dalam bahasa Wahan). “Ku yakin ini tempat yang Eunseom lihat di mimpi. Itu berarti orang yang Eunseom lihat dalam mimpi bukan dirinya, tapi pemuda itu?”
Saat itu, dia mendengar pembicaraan Taealha dan Tagon yang berada di luar ruangan. Taealha ingin Tagon membunuh Tanya, tapi Tanya malah ingin mengampuni nyawa Tanya. Mereka harus melakukannya sampai berhasil menangkap dujeumsaeng tersebut. Taealha berkata kalau ini berbeda, jika Tagon tidak mau membunuh Tanya, maka setidaknya potong lidah Tanya agar tidak bisa bicara lagi. Tagon hanya diam.
“Saya. Mata itu tampak tidak asing,” ujar Tagon, mengenali mata Saya.
“Apa maksudmu? Tentu saja. Kau lihat dia sepuluh tahun lalu,” jawab Taealha. “Tagon. Matahari akan terbit. Bunuh dia atau potong lidahnya? Tagon, bukan waktunya kita meributkan hal ini. Kita akan lakukan hal penting. Kau harus berapat di Istana Serikat. Bunuh saja dia.” 
“Jika membunuhku, anak itu juga akan mati!” teriak Tanya dari dalam ruangan.  
Tagon dan Taealha langsung membuka pintu dan bertanya maksud dari perkataannya. Tanya malah menantang mereka untuk membunuhnya jika tidak percaya. Dan anak itu pasti akan mati.
“Semalam, aku bermimpi. Serigala Putih Besar datang padaku. Aku tak paham karena pikiranku keruh, tapi aku jelas mendengar ini. Jika aku mati, anak itu juga mati,” ujar Tanya.
Tanya teringat akan cerita-cerita mimpi Eunseom dulu di Iark padanya. Tanya sekarang sudah tahu kalau yang di lihat Eunseom dalam mimpi adalah mengenai Saya. Jadi, dia hendak menggunakan cerita mimpi Eunseom padanya, seolah dia yang memimpikannya.

Tagon tidak percaya dengan Tanya karena dia merasa Tanya hanya bicara omong kosong. Dulu kan, Tanya bilang Moogwang akan mati dengan jantung terenggut, tapi buktinya Moogwang masih hidup dan sehat (itu sih belum waktunya. Lihatlah nanti, Moogwang pasti mati sesuai kutukan Tanya. Dalsae saja sampai berkata ingin menebas leher Moogwang!)

“Saenarae,” ujar Tanya. (Dulu Eunseom pernah cerita padanya, kalau di dalam mimpinya, dia ingin kabur dengan seorang gadis tapi dia tertangkap oleh banyak wanita. Dan kemudian dia terbangun dari  mimpinya).
Taealha terkejut karena Tanya tahu nama Saenarae. Tagon lebih terkejut karena apa Taealha memang tahu Saenarae?
“Bagaimana kau kenal dia?” tanya Taealha dengan ekspresi terkejut pada Tanya.
“Jangan sakiti dia lagi,” ujar Tanya.
“Apa lagi? Teruskan,” ujar Taealha.
Tanya teringat lanjutan mimpi Eunseom. Saat itu Eunseom memberitahunya kalau para wanita itu berkumpul dan menyelipkan sebuah benda ke tangannya. “Gelang bernoda darah,” ujar Tanya. “Saat Saenarae meninggal, takdirnya dan takdirku terjalin. Jika aku mati, dia juga akan mati. Aku di tugaskan untuk melindungi anak itu.”
Taealha terkejut hingga termundur. Tagon tidak mengerti dengan percakapan mereka dan bertanya maksudnya. Taealha memberitahu kalau itu adala insiden di masa lalu yang tidak mungkin di ketahui Tanya. Hanya dia dan Haetuak yang tahu hal tersebut.
Taealha dan Tagon jadi percaya kalau Tanya bermimpi mengenai hal tersebut, dan ucapannya mungkin benar.

No comments:

Post a Comment