Monday, June 17, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 06-2

3 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 06-2

Images by : TvN
Part 1 : The Children of Prophecy
Taealha menerima laporan dari Gilseon kalau Danbyeok bertengkar dengan Mihol hingga suaranya terdengar keluar ruangan. Taealha jelas senang mendengarnya, apalagi Danbyeok tidak mudah goyah (tetap percaya pada Tagon, kakaknya).
Gilseon kemudian bertanya dimana Tagon? Padahal sekarang adalah masa genting. Taealha menjawab kalau Tago menangani hal yang lebih penting sekarang ini.
“Tagon, ini akan jadi penghalang terakhir kita. Semoga sukses.”
--
Tagon pergi ke tempat dimana dia membunuh Sanung, tempat pertemuannya dengan Eunseom. Dia pergi ke sana dengan mengenakan jubah hitam agar tidak terlihat siapapun. Tapi, saat dia masuk, dia hanya melihat sebuah kursi yang di letakkan di tengah ruangan dengan tali di kedua sisi kursi. Tagon menyuruh Eunseom untuk keluar, tapi Eunseom tidak mau dan menyuruh Tagon untuk duduk di kursi yang ada di tengah ruangan.
Tagon tidak langsung duduk. Jadi, Eunseom berkata kalau dia akan pergi jika Tagon melakukan hal aneh. Setelah Tagon duduk, dia menyuruh Tagon memasukkan tangannya ke simpul tali di kedua sisi kursi. Setelah Tagon melakukannya, Eunseom segera menarik tali sehingga ikatannya menguat.
Tapi, Tagon bisa dengan mudah melepaskan ikatan tali tersebut.
“Igutu berbeda daripada Saram Mereka lebih kuat dan cepat. Namun, tak seperti Neanthal. Kau mungkin tak tahu,” ujar Tagon. 
Eunseom menjawab kalau dia tahu dengan benar. Karena itu jangan berbuat bodoh. Dia bertanya mengenai suku Wahan. Dan Tagon memberitahu kalau semuanya aman dan dia telah memerintahkan pemberhentian eksekusi. Eunseom langsung meminta agar semuanya di lepaskan.
“Jelas aku tak bisa,” tolak Tagon.
“Aku akan kembali ke Iark bersama mereka!”
“Bagaimana kau bisa kupercaya?”
“Aku Eunseom, mimpi Suku Wahan, selalu menepati janji.”
“Kau memercayaiku? Kau lihat aku membunuh ayahku setelah berlutut. Kau bisa apa jika kuikuti sampai ke Iark dan membunuh seluruh klanmu?”
“Apa yang mau kau lakukan pada mereka di sini?”
“Mereka akan jadi budak, tapi kujamin pekerjaannya layak. Di Iark, kalian mungkin kelaparan jika gagal berburu, tapi di sini tidak. Jika beri tahu siapa pun, aku Igutu, akan kumusnahkan sukumu. Sebelum warga Serikat tahu aku Igutu dan mencabikku, kupastikan membunuh seluruh klanmu lebih dahulu.”
“Maka kuberi tahu mereka bahwa kau Igutu!” teriak Eunseom.
“Benar. Aku tahu nyawaku tergantung suku Wahan. Kau tahu rahasiaku, maka kutahan Suku Wahan. Kau simpan rahasiaku, kulindungi Suku Wahan, walau itu merepotkan.”
“Kenapa kau tak membunuhku dan membungkamku selamanya? Seperti katamu, Igutu cukup kuat untuk itu.”
“Jika itu gagal, aku akan tamat. Sekalipun berhasil, kau mungkin sudah beri tahu rahasiaku ke orang lain.”
“Ketidakpercayaanmu pada orang lain, membuatku bisa mempercayaimu,” ujar Eunseom.
“Jadi, apa maumu?”
“Baiklah. Aku akan tutup mulut. Asal suku Wahan aman.”
“Aku tak akan membunuh mereka. Selama kau bungkam. Namun, kau tahu rahasiaku. Jadi, aku pasti akan mencari dan membunuhmu,” tekan Tagon.
“Aku akhirnya akan selamatkan semua Suku Wahan dari Arthdal, bagaimanapun juga.”
“Arthdal akan segera meluas ke seluruh dunia. Kau pasti lihat tangga raksasa di Tebing Hitam Besar. Selamatkan mereka, lalu kalian ke mana? Adakah tempat tersisa bagi kalian?”
“Aku tak yakin. Kupikirkan itu nanti,” jawab Eunseom dan langsung berlari pergi dari sana. Dia berlari dengan kencang, waspada agar Tagon tidak mengejarnya.
Setelah berlari jauh, Eunseom berhenti. Dia berharap di dalam hatinya agar Tanya tetap menunggunya karena dia pasti akan menyelamatkan Tanya.
--
Tagon pulang ke kediamannya dan Taealha langsung bertanya hasilnya. Tagon menyuruhnya untuk tidak khawatir lagi. Taealha lega karena semuanya tampak lancar. Dia juga memuji Tagon yang sangat hebat dan tenang. Tapi, kenapa Tagon selalu gelisah tiap berurusan dengan hal yang menyangkut Igutu?
“Kenapa kau bawa Saya kemari?” tanya Taealha.
Tagon bingung, “Saya? Siapa itu?”
Taealha mengingatkan kalau Saya adalah bayi Igutu 20 tahun yang lalu, yang Tagon minta untuk dia rawat. Tagon ingat dan bertanya kenapa Taealha memanggilnya ‘Saya’?
“Ah. Aku belum bilang? Dia dapat nama itu pada suatu hari. Dia suruh aku memanggilnya ‘Saya’.”
“Dia masih di kurung dalam Benteng Api?”
“Jika dikurung selama 20 tahun, dia pasti sudah gila. Adakalanya dia keluar saat malam. Jangan cemas. Kuajari dia bersikap baik. Dia menyadari fakta bahwa dia bisa dibunuh jika orang tahu dia itu Igutu.”
--


Benteng Api. Kediaman Suku Hae.
Beberapa pengawal membawa dua buah gerobak yang di tarik dengan kuda ke benteng api. Dan begitu di buka, isi gerobak itu adalah Suku Wahan. Tangan dan mulut mereka di ikat agar tidak bersuara. Semua jelas ketakutan karena lagi-lagi di bawa ke tempat asing. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tanya melihat ke sekeliling dan melihat benteng api, yang di tunjukkan Tagon tadi pagi.
Flashback
Saat pada suku Wahan tertidur, Tanya masih setengah sadar dan mendengar ucapan para prajurit kalau Asa Ron Niruha memberi perintah. Suku Wahan akan di bawa ke benteng api.
End
Wahan menatap benteng api di depannya, dan sadar kalau mereka sekarang ada di dalam benteng api.
--
Esok hari,
Barak-barak pasukan Daekan luar wilayah Arthdal
Tagon terkejut begitu mendengar kalau suku Wahan di pindahkan. Tidak lama, ada yang datang melapor kalau di pasar Daedae…
--
Daedae membuat pengumuman : “Pesan untuk dujeumsaeng pembunuh Niruha. Datangi Istana Serikat. Saat matahari terbit besok. Jika tidak, kami kuliti dan penggal sukumu, dan gantung mereka di Hutan Ratapan. Kalian yang dengar pesan ini, harus menyebarkan perintah ini, hingga didengar dujeumsaeng.”
Chae-eun ada di tengah kerumunan warga dan terkejut mendengar perintah tersebut.
--

Mihol menemui Asa Ron. Mihol menyakinkan Asa Ron kalau dia yakin dujeumsaeng itu akan datang menemui mereka jika mendengar pesan tersebut untuk menyelematkan sukunya. Asa Ron ragu, bagaimana jika dujeumsaeng itu malah mengakui membunuh Sanung? Mihol berkata kalau hal itu tidaklah penting, yang harus di katakan dujeumsaeng itu hanyalah : Tagon membunuh Sanung Niruha.
Bahkan jika dujeumsaeng itu tidak muncul, dia akan membayar orang untuk berpura-pura menjadi Eunseom. Toh, tidak ada yang tahu bagaimana wajah Eunseom.
--
Chae-eun memberitahu pesan itu pada Eunseom. Eunseom tidak percaya karena Tagon sudah mengingkari janjinya. Chae-eun melarang Eunseom pergi. Kalau Eunseom pergi hanya untuk memberitahukan rahasia Tagon kepada semua orang, maka suku Wahan akan langsung di bunuh! Dia kan sudah bilang kalau semua ini tidak akan berhasil.
Eunseom berkata kalau dia tidak akan membongkar rahasia Tagon.
“Kalian punya yang tak kami punya. Saat kutangkap pemimpin Serikat, ada dua kelompok memperebutkan dia. Kau bilang pemimpin Serikat seperti ketua suku. Tak pernah kulihat hal itu.”
“Kenapa?”
“Dan dia katakan sesuatu. Dia bilang putranya, Tagon, mencoba membunuhnya. Itu karena dia mau bunuh Tagon lebih dahulu.”
“Aku tak mengerti.”
“Kalian punya kelompok. Walau tinggal bersama, kalian terbagi jadi kelompok berbeda. Menakjubkan. Teman dan musuh berdampingan. Bagi kami, musuh selalu dari luar wilayah.”
“Jadi... Kenapa dengan itu?”
“Mihol. Katamu jika Tagon punya musuh, pasti Mihol.”
“Kau tanya padaku tentang Mihol dan Taealha karena...”
“Aku tak tahu rencana Tagon. Dia sulit percaya orang lain. Aku juga sama. Aku tahu harus lakukan apa.”
“Kau akan lakukan apa?” tanya Chae-eun lagi.
“Kumanfaatkan Mihol,” jawab Eunseom. “Kuberi dia senjata untuk jatuhkan Tagon dan selamatkan Suku Wahan.”
Chae-eun terkejut. Bagaimana bisa Eunseom membuat strategi seperti ini dalam waktu singkat dengan memanfaatkan dinamika masyarakat? Dan dia semakin kagum saat tahu Eunseom tidak tahu apa itu ‘strategi’ tapi mau memakai dinamika masyarakat untuk menjatuhkan Tagon. Eunseom tidak peduli semua istilah itu karena dia hanya ingin menyelamatkan sukunya. Dia meminta Chae-eun memberitahunya dimana dia bisa bertemu dengan Mihol.
Chae-eun menjawab kalau Eunseom tidak perlu menemui Mihol secara langsung, tapi menggunakan surat. Eunseom terkejut karena belum pernah melihat gambar dan huruf yang di tulis di kertas. Dan melihat benda itu, membuat Eunseom sangat tertarik untuk mempelajarinya dan meminta Chae-eun menjelaskan padanya.
Chae-eun sudah hendak menjelaskan, tapi kemudian dia berkata kalau Eunseom mulai menakutkan padanya. Dia merasa kalau Eunseom menikmati semua ini. Ucapan Chae-eun membuatnya teringat pada Tanya yang memarahinya karena tampak menikmati belajar kuda walaupun akan terusir dari suku Wahan.
“Ku tanya, apa kau menikmati ini?”
“Ya, kurasa begitu,” jawab Eunseom, sedikit tersenyum. “Ini pasti penyakit.”
--
Para prajurit melepas pengikat mulut suku Wahan. Dan setelah bisa bicara, mereka mulai bertanya-tanya mengenai benteng api itu? Apa mereka akan di bakar sampai mati?
“Bukan membakar sesuatu yang hidup. Itu pasti…,” ujar Yeolson dalam hati.
“Lalu apa yang di bakar?” tanya Tanya. “Jika tak hidup, lalu apa?’
“Ayah tidak yakin,” jawab Yeolson.
Tapi, Yeolson benar-benar terkejut. Dia jelas mengucapkannya dalam hati, tapi kenapa Tanya bisa mendengarnya.

“Jika kau harus menjaga kami tetap hidup, temukan kami secepatnya,” harap Tanya.
Saat itu, sebuah cahaya mengenai wajahnya. Dia melihat ke arah cahaya itu, dari jendela di salah satu benteng. Seperti cahaya pantulan cermin.
--

Dotti menunggu di pinggir pasar, dan begitu melihat Heo Yeobi, dia segera memberikan surat Eunseom.
“Aku tidak tahu apapun. Tapi, aku di minta berikan ini padamu,” ujar Dotti dan langsung pergi.

Heo Yeobi membaca surat itu dan tampak terkejut. Dia segera mengantarkan surat itu pada Hae Mihol.
Ada senjata untuk jatuhkan Tagon. Kau mau bayar berapa? Saat bulan ada di atas Kuil Agung, temui aku di Karang Gochiju Besar.
Yeobi merasa itu hanyalah tipuan Tagon. Tapi Hae Heulrib merasa kalau bisa saja ini adalah surat asli. Mihol menghela nafas, keputusan ada di tangannya.
--
Tagon pergi ke penjara yang mengurung suku Wahan sebelumnya. Benar-benar sudah kosong. Semuanya hilang dan tidak ada yang tahu kemana mereka pergi. Yang di ketahui hanyalah, Asa Ron yang memberikan perintah. Tagon panik, karena jika suku Wahan terluka sedikit saja, Eunseom sudah mengancam akan memberitahu semuanya kalau dia adalah Igutu.
Saat dia mau keluar dari penjara itu, dia melihat sesuatu.
--

Tanya cukup pintar. Dia bisa menyimpulkan kalau Tagon berusaha menyelematkan mereka dan ada orang lain yang mau membunuh mereka. Mereka takut kalau akan ketahuan mereka di pindahkan kemana hingga memaksa mereka naik ke dalam gerobak itu. Dan karena itu, dia yakin, Tagon akan menyelamatkan mereka. Mereka masih memiliki harapan.
Dalsae masih ragu, bagaimana Tagon akan menyelematkan mereka jika tidak tahu mereka di bawa kemana. Mereka kan di bawa diam-diam kemari.
“Bisa, jika di bantu Serigala Putih Besar,” ujar Tanya.
Dan mendengar ucapan Tanya, Mungtae langsung berkata kalau dia bosan mendengar mengenai Serigala itu.
--

Tagon melihat di dinding yang terdapat ukiran serigala, ada sebuah gambar menyerupai benteng api. Dia sadar, Tanya memberikannya petunjuk.
“Secara diam-diam, kumpulkan Pasukan Daekan. Saat bulan di atas Kuil Agung dan malam makin larut, kita serbu Benteng Api,” perintah Tagon.
--

Hae Mihol akhirnya memutuskan agar Yeobi yang pergi menemui Eunseon untuk memastikan apakah Eunseom sendirian atau ada yang mengikutinya. Jika tidak berbahaya, bahwa Eunseom ke benteng api. Jika Yeobi tidak kembali, maka dia akan menganggapnya sebagai muslihat Tagon.


3 comments:

  1. Seruuuu. Sukaaa deh, makasi udh nulis sinopnya mbak, hehe
    Oya klo mw nonton dimana ya mbak...

    ReplyDelete
  2. hallo tya :) thank you udh mau mampir dan baca di sini.
    kalau mau nonton di NETFLIX bisa, dan jam tayangnya sama dengan jam tayang Korea. Jadi pas d Korea sana tayang, di NETFLIX juga tayang dan ada sub indo. Atau bisa nonton di kissasian, dramamu, dramacool. Ketik aja di google Watch Arthdal Chronicles with sub indo.

    kalau aku biasanya download, biar bisa ulang-ulang nontonnya tanpa habisin banyak kuota. hehhehe. kalau mau download bisa di kodramas, dramakoreaindo, drakorindo dan masih banyak website lainnya lagi. Kalau mau yang sudah nyatu dengan subtitle, download 360p saja.

    ReplyDelete
  3. Makasi mbak udh jawab pertanyaan ku, hehe
    Klo download, udh pernh coba tapi gagal, jd selama ne lgs nonton ja gitu...
    Makasi mbak udh buat sinopnya, hehe

    ReplyDelete