Sunday, June 23, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 07-2

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 07-2

Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land

Esok harinya,
Dilakukan pengumuman di tengah desa mengenai penangkapan Asa Ron dan Hae Mihol oleh Danbyeok karena di duga telah membunuh Sanung. Mendengar pengumuman tersebut, klan Asa langsung berdoa dan para rakyat juga menjadi panik dan berdoa. Kenapa? Karena ada mitos yang mengatakan, bencana akan menimpa mereka jika darah dari klan Asa menyentuh tanah Arthdal.

Chae-eun yang ada di kerumuman tersebut, bingung. Katanya, kepala suku Wahan mau di penggal, tapi kenapa malah jadi seperti ini? Apa yang telah terjadi?
--
Asa Mot dan Asa Yon menemui Danbyeok dan meminta pembebasa Asa Ron atau kemarahan Isodunyong akan melanda seluruh negeri Arthdal. Danbyeok menolak dan berkata kalau dalam tiga hari, rapat semua kepala klan dan suku akan di adakan. Kebenaran atas kematian Sanung Niruha akan di ungkap di sana.
“Apa katamu? "Kebenaran"? Fakta bahwa penjaga dan Tagon  gagal melindunginya, serta membiarkan Sanung Niruha mati?” sindir Asa Mot.
“Tepat. Selain itu, penjaga maupun Pasukan Daekan belum bisa menangkap dujeumsaeng itu,” tambah Heulrip.
“Akan kami tangkap dia,” ujar Tagon yang tiba-tiba masuk.
“Kapan? Kau hanya bicara,” balas Asa Yon.
“Semalam, saudara Daekan, Mubaek dan Yangcha, mengejar dujeumsaeng itu. Dia terluka parah dan lompat ke sungai. Mubaek dan kesatria Daekan tengah mencarinya, jadi, pasti segera ditemukan. Saat dujeumsaeng ditangkap, kita bisa ungkap kebenaran. Jika tak ada yang disembunyikan, percayalah pada Danbyeok dan menunggu untuk saat ini,” ujar Tagon.
Danbyeok tampaknya semakin mempercayai Tagon yang telah membelanya.
--
Saat berjalan di tengah kota, para rakyat yang melihat Danbyeok langsung menggunjingkan Danbyeok yang sudah gila dan berani menangkap pendeta tinggi. Dan kenapa juga mereka tidak mampu menangkap dujeumsaeng itu? Para penjaga semakin resah.
Dan ada seseorang yang melemparkan Danbyeok dengan buah. Para pengawal langsung ingin menyerang, tapi Danbyeok menyuruh untuk membiarkan saja.
--
Tagon berdiri di balkon dan menatap seluruh kota Arthdal. Dia teringat laporan pasukan Daekan kemarin mengenai Eunseom yang adalah Igutu.
“Igutu? Dia Igutu? Kenapa aku tidak menyadarinya?”
Saat itu, Gilseon datang menemuinya dan memberitahu mengenai rakyat Arthdal yang bertanya-tanya tentang penangkapan Asa Ron. Asa Ron pasti tahu hal itu. Jadi, apa yang harus mereka lakukan?
“Aku akan memohon padanya,” jawab Tagon.
--
Mihol duduk dengan tenang dalam penjara-nya. Danbyeok datang menemuinya. Mihol dengan tenang bertanya, apakah Danbyeok rela kehilangannya dan akhirnya kembali ke era berperang dengan kapak batu dan pedang tulang?
Danbyeok tidak menjawab dan menunjukkan pesan yang di temukannya waktu itu dari Haetuak. Dia langsung bertanya, apakah itu adalah tulisan Taealha. Mihol menghela nafas dan berkata kalau itu adalah rencana Tagon. Danbyeok tidak percaya, apa mungkin Tagon membuat rencana agar Taealha untuk membunuh diri sendiri? Itu tidak mungkin.
Tidak hanya itu, Danbyeok juga menduga kalau Saehanmanop yang di sebut dalam pesan itu adalah Asa Ron. Dan karena itu, Mihol menyarankannya agar membantu menjadikan Asa Ron mejadi pemimpin serikat.
“Taealha… bawa Taealha kemari,” pinta Mihol. “Bawa Taealha kemari!” teriaknya.
--

Tagon pergi menemui Asa Ron. Asa Ron masih tenang karena dia adalah klan Asa, dan jika darahnya tertumpah maka akan terjadi bencana. Di balik sikap tenang Asa Ron, Tagon dapat melihat tangan Asa Ron yang bergetar ketakutan.
“Apa yang akan terjadi saat darah Klan Asa tertumpah di tanah Arthdal? Mereka akan ketakutan. Ketakutan itu akan ditujukan pada dua pengkhianat Suku Saenyeok. Mulai cemas, Tagon?” ujar Asa Ron, mengejek. “Kau mencari dujeumsaeng yang lompat dari tebing? Kuyakin jasadnya akan ditemukan karena dia… menyaksikanmu membunuh ayahmu.”
“Bukan hanya dia. Tenggorokan ayah digorok dan aku juga melihatnya. Dan pedang itu ada di tanganku. Aku tak mengarang alasan. Kau benar. Kubunuh ayahku,” akui Tagon.
“Apa kau baru saja mengaku  membunuh ayahmu sendiri?” kaget Asa Ron.
“Karena kau cerdas, aku yakin kau tahu apa artinya ini. "Jika dia memberitahuku rahasia sebesar itu, pasti berarti dia akan membunuhku." Kau mau bekerja sama lagi? Aku akan jadi pemimpin Serikat dan kau terus melayani para dewa Arthdal. Kau tentu saja bisa menolak. Namun, itu hanya akan berakhir dengan kematianmu. Entah Serikat hancur, atau aku mati saat kabur usai membunuhmu, atau pergi ikut Pasukan Daekan memerangi Suku Gunung Putih. Sebelum aku keluar dari ruangan ini, aku harus membunuhmu... karena kau tahu aku membunuh ayahku. Jadi, apa pilihanmu?”
“Kau… Kau sungguh keturunan iblis,” maki Asa Ron. “Kau benar. Jika bunuh aku sekarang, kau akan mati saat kabur. Walau bisa selamat, kau akan jadi musuh Serikat. Jika kematianku bisa mengakhiri kutukan yang kau berikan atas kami, aku rela mengorbankan diri,” ujar Asa Ron, sok sebagai orang bermoral, padahal ketakutan.
Tagon tersenyum sinis, “Berarti hanya ada dua pilihan. Kemungkinan saat kau dan aku mati, atau kemungkinan saat kau dan aku hidup.”
“Cara untuk kita berdua hidup?” ulang Asa Ron, melihat ada sedikit harapan.
“Benar. Mana yang kau inginkan? Katakan saja agar kau bisa kembali menghirup Asap Keramat dan menemui para dewa,” ujar Tagon dan memegang tangan Asa Ron yang gemetar ketakutan.
Entah apa jawaban Asa Ron, karena Tagon kemudian keluar dari ruangannya. Dia berjumpa dengan Danbyeok, dan Danbyeok langsung bertanya apa yang Asa Ron katakan.
“Dia hanya minta aku memberikan bukti. Mihol bagaimana?” tanya Tagon.
“Dia bilang ini semua tipuan dan menuntut bertemu Taealha.”
“Kau sudah menemukan Taealha?” tanya Tagon balik, berlagak tidak tahu.
“Soal itu… Bahkan Hae Tuak juga kabur saat kekacauan. Hyung-nim. Kau sungguh tak tahu di mana Taealha?”
“Aku belum lihat dia sejak datang membawa bichwisan (racun tanpan bau dan rasa).”
“Jika kami temukan dia, boleh kami tembak mati?” tanya Danbyeok.
Tagon terdiam.
--
Taealha berada di ruangannya dan memikirkan ucapan Tanya mengenai Saenarae. Dia berusaha untuk menyangkal kalau tidak mungkin Tanya memiliki ‘karunia’. Saya ada di ruangan itu juga dan bertanya apakah Ayah (Tagon) kesal padanya? Dia bingung karena kekacauan mendadak itu. Harusnya dia mengatasi Tanya. Dia yang salah.
Tapi, Taealha tiba-tiba bertanya, apakah Saya masih memikirkan Saenarae? Apa Saya membencinya? Saya tampak sedikit gemetar dan gugup. Dia menjawab kalau dulu ya, tapi sekarang tidak.

Taealha menengadahkan tangannya. Dan seolah tahu apa yang di inginkan Taealha, Saya mendekat. Berlutut dan meletakkan dagunya di tangan Taealha. Kemudian, Taealha mengelus kepalanya. Taealha tampak seperti memperlakukan Saya seperti binatang peliharaannya saja.
“Ketahuilah aku menyesal atas semua yang terjadi,” ujar Taealha.
Dan membuat Saya teringat akan Sanaerae dulu.


Flashback
Saya meminta Saenarae (cameo : Ji Soo BLACKPINK) untuk menemuinya di gitgang saat bulan terbenam. Malam ini, mereka akan kabur bersama. Dia bahkan memakaikan gelangnya pada Saenarae. Mereka saling mencintai.

Ketika bulan muai terbenam, Saya segera bersiap untuk kabur. Sayangnya, saat itu, Taealha datang ke kamarnya. Saya segera menyambutnya dengan gugup. Taealha mengajak Saya berbincang dan mungkin bisa merasakan sikap Saya yang tampak gugup. Taealha kemudian bertanya mengenai Saenarae yang tidak kelihatan padahal kan sering datang.
“Dia sudah tidur. Dia akan datang jika ku panggil,” bohong Saya.
Taealha mendekat, “Begitu?” dan kemudian tertawa. “Baiklah, selamat malam.”

Kemudian, Taealha berjalan keluar. Eh, dan berbalik. “Tunggu,” ujarnya dan memasangkan gelang bernoda darah ke tangan Saya. Gelang yang di berikan Saya kepada Saenarae.
“Selamat malam,” ujar Taealha dengan dingin, melihat ekspresi terkejut Saya.
Tangan Saya bergetar hebat melihat gelang itu. Pertanda kalau rencana kabur mereka ketahuan dan Saenarae di bunuh.
End
“Tidak apa. Tolong jangan cemaskan itu,” ujar Saya.
“Tidak, maafkan aku. Aku menyesalinya. Sungguh,” ujar Taealha dan mengelus kepala Saya.
Taealha kemudian memanggil Haetuak. Dan Haetuak langsung masuk dengan membawa Tanya. Taealha kemudian berkata pada Saya kalau Tanya kini akan menjadi pelayan baru Saya. Haetuak terkejut. Sementara Tanya tidak tahu artinya menjadi pelayan. Taealha memerintahkan Haetuak untuk mengajari Tanya. Saya menatap ke Tanya.
--
Taealha keluar dan hendak pergi. Haetuak mengikutinya sambil merengek tidak mau mengajari Tanya. Taealha tidak peduli dan bertanya dimana Tagon? Apa ada datang? Haetuak menjawab, Tagon belum kemari.
--
Tagon ada di kediamannya. Dia tampak memikirkan sesuatu.
Flahsback
“Apa yang kau inginkan?” tanya Tagon pada Asa Ron.
“Nikahi seseorang dari Klan Asa.”
End
Tagon kalau, dia memikirkan Taealha. Saat itu, pasukan Daekan datang dan melapor kalau mayat Eunseom tidak di temukan, tapi mereka akan mencarinya lagi.
“Tidak, katakan kalian temukan dia. Kita bunuh dia dan menemukan jasadnya. Lukanya terlalu dalam untuk bisa selamat. Cari jasad penggantinya. Tak ada orang yang tahu wajahnya. Dandani jasad itu agar mirip dia,” perintah Tagon.
--

Dotti menanyakan mengenai ibunya pada Dalsae dan Buksoe. Melihat ekspresi mereka, dia bisa tahu kalau ibunya pasti sudah meninggal. Dotti menangis sedih dan dengan marah berkata akan membunuh mereka semua. Dotti kemudian mengambil dompetnya gitu.


Saat itu, Chae-eun datang untuk mengambil tanaman obat. Buksoe menanyakan mengenai Eunseom. Sementara Dotti menjatuhkan barang dari dompetnya, sehingga Dalsae yang melihatnya mengambilkannya. Itu adalah kalung Eunseom. Chae-eun melihat kalung itu dan terkejut.
“Darimana kau dapat ini?”
“Itu milik ibunya Susu (paman) Eunseom,” jawab Dotti.
Chae-eun terkejut. “Tidak mungkin. Ini lambang klan Asa.”
Buksoe membenarkan, “Itu memang milik ibunya Eunseom. Walau aku tidak tahu apa itu klan Asa.”
“Katakan sejujurnya. Darimana kau dapat ini?” tanya Chae-eun masih belum percaya.
“Sungguh. Itu milik ibunya Susu Eunseom. Siapa namanya, ya?” ujar Dotti.
“Bagaimana aku tahu?” jawab Dalsae.
“Aku ingat!” ujar Dotti.
--
Mubaek sedang berjalan sendirian di tengah hutan. Dia memikirkan mengenai Eunseom yang adalah Igutu. Tapi, jika Suku Wahan adalah keturunan dari Asa Sin dan Risan, bagaimana Eunseom bisa menjadi Igutu?
“Benda langit pertama, sang Anak Pedang. Apakah itu, atau bukan?” tanya Mubaek dalam hati.
Di dalam hutan, ada sebuah pondok dan seorang wanita sedang belajar menggunakan pedang. Di sana juga ada kuda Kanmoreu, Bantu. Mubaek menyapa wanita itu yang bernama Nunbyeol dan memuji gerakan pedang Nunbyeol yang lumayan. Nunbyeol sedikit tersenyum mendengar pujian tersebut dan berlatih lagi.
Eunseom ada di dalam pondok itu dan sedang di obati oleh Harim.
“Apa dia akan hidup?”
“Entah. Aku belum pernah mengobati Igutu,” jawab Harim. “Apa rencanamu? Kau lupa apa artinya darah campuran ini di Arthdal?”
“Bagaimana aku bisa lupa? Igutu adalah ozubari (darah campuran) dari Neanthal yang kami basmi,” jawab Mubaek.
Saat itu, Chae-eun datang. Dia memberitahu kalau Eunseom adalah… dia menunjukkan kalung Eunseom yang adalah milik ibu Eunseom. Harim terkejut, itu adalah kalung milik klan Asa.

Mubaek lebih terkejut. Kenapa? Karena dia mengenali kalung itu sebagai milik Asa Hon.
“Bagaimana kau mengenal pemuda ini?” tanya Harim pada Chae-eun.
“Namanya Eunseom, dia putra Georukeumihon (nama penghormatan untuk Asa Hon dari Suku Gunung Putih),” beritahu Chae-eun.
Dan Mubaek teringat masa lalu.


Flashback
Mubaek sedang berada di dalam hutan. Saat itu, dia mendengar suara jeritan seorang wanita. Ternyata, di sana ada Asa Hon yang tidak berhati-hati dan terjatuh. Dan karena terjatuh itu, kalung Asa Hon menjadi ada bagian yang patah. Asa Hon berkata kalau dia baik-baik saja dan memberikan Mubaek sebuah delima yang di petiknya. Tampak, kalau Mubaek menyukai Asa Hon.
Kemudian saat perang itu terjadi, dia merasa sangat marah saat sadar kalau Asa Hon menghilang.
End
Dan kalung yang di lihatnya, jelas memiliki bagian yang patah.
--


Haetuak mulai melatih Tanya. Dia memerintahkan Tanya untuk duduk dan berdiri. Saya memperhatikan Haetuak yang melatih Tanya. Setiap kali Tanya melakukan kesalahan, Haetuak pasti memukulnya dengan tongkat, seperti saat Tanya mengandahkan kepala dan menghela nafas. Dia memarahi Tanya kalau Tanya tidak bisa seperti itu pada majikan.
Tanya tidak mengerti arti majikan. Haetuak semakin kesal dan menjelaskan kalau majikan artinya adalah orang yang memiliki Tanya. Orang yang harus Tanya patuhi. Tanya bergumam kesal, bagaimana bisa orang memiliki dirinya!

Dan karena kesal di perintah duduk dan berdiri terus, Tanya membangkang. Dia tidak mau berdiri saat di perintah Haetuak walaupun di pukul. Haetuak sampai frustasi dan tidak mau mengajari lagi.
“Hei!” panggil Tanya. Dan kemudian memecahkan mangkuk. Dan mengarahkan pecahan itu ke arah Haetuak, “Kemari.”
Haetuak jelas marah di pandang remeh. Dia menyerang Tanya, tapi saat dia mau memukul Tanya, Tanya malah berujar : “Kau menang.” Haetuak menjerit kesal dan meninju Tanya. Sementara Saya tersenyum melihat itu.

Dari ruangannya, Taealha bisa mendengar jeritan frustasi Haetuak, tapi dia mengabaikannya. Dia tampak cemas karena Tagon tidak juga datang. Saat itu, seorang pengawal datang dan memberitahu kalau Tagon meminta Taealha untuk ke Hutan Bandi. Di sebelah lokasi penyelenggaraan rapat suku.
--
Taealha pergi ke hutan saat hari sudah malam bersama dengan Haetuak. Haetuak masih marah dengan Tanya, tapi Taealha menyuruhnya untuk bercerita nanti.
“Aku heran kenapa Tagon memanggilmu ke Hutan Bandi. Aku tahu itu tempat keramat, tapi itu tempat kalian berdua… Saat kalian muda. Kalian berdua…,” goda Haetuak.

No comments:

Post a Comment