Sunday, June 9, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 03-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 03-1
Images by : TvN
Part 1 : The Children of Prophecy

Bukan hanya Moobaek yang merasa kalau kuda yang di naiki oleh Eunseom adalah Kanmoreu. Tapi, juga Kitoha dan Moo-Gwang yang bersama dengannya. Moobaek tidak menjawab dan menyuruh mereka kembali sementara dia yang mengejar Eun Seom.
Arthdal Chronicles

Eun Seom masuk jauh ke dalam hutan hingga tiba di tepi danau. Pikirannya kacau mengingat Tanya yang tadi di seret tetapi dia tidak bisa menolong sama sekali. mata Eunseom terlihat bersinar. Merasa kalau sudah berhasil terlepas dari Moobaek dan anak buahnya, Eunseom turun dari kudanya dan membenamkan wajahnya ke dalam air. Dia teringat perkataan Tanya agar dia kembali untuk menyelamatkannya dan suku Wahan.
Eunseom bingung apa yang harus di lakukannya. Dia tidak tahu siapa orang-orang itu. Dia juga tidak tahu orang-orang itu akan kemana. Tidak hanya itu, para prajurit itu begitu kuat dan terlalu banyak. Eunseom sampai memukul tanah karena merasa tidak berdaya.


Tiba-tiba, Bantu yang sedang makan rumput, mengangkat kepalanya seolah merasakan sesuatu. Eunseom juga merasa kalau aura mendadak berubah. Dan benar saja, Moobaek telah tiba di dekat sana dan mengintai. Dan merasa saat-nya sudah tepat, dia mengeluarkan pedangnya dan melajukan kudanya ke arah Eunseom. Untunglah, Eunseom sangat sigap hingga dia langsung melompat ke Bantu dan memacunya pergi.

Moobaek sadar kalau dia mungkin tidak akan pernah bisa mendekati Eunseom jika benar kuda itu adalah Kanmoreu. Dan hanya ada satu cara untuk melukai Eunseom, dengan panah. Eunseom yang di serang dengan panah, semakin cemas. Dia ingat kalau benda aneh di tangan Mooobaek itu bisa melukainya dari jauh.
Di saat genting tersebut, Bantu malah berhenti dan berbalik arah menuju ke Moobaek. Eunseom jelas ketakutan dan menundukkan tubuhnya. Saat itulah dia teringat apa yang selalu Dalsae katakan padanya, bahwa dia bukanlah Saram karena matanya terlalu tajam. Dan benar, dia bisa menghindari panah yang Moobaek arahkan padanya.
Melihat kalau Eunseom mendekat ke arahnya, Moobaek segera mengeluarkan pedangnya, bersiap untuk menebas Eunseom. Tidak di sangka, begitu Bantu mendekat, kuda Moobaek malah mengangkat tubunya dengan tinggi hingga membuat Moobaek terjatuh dari atas kuda. Tidak hanya itu, kuda-nya tersebut berlari mengikuti Bantu dan meninggalkan Moobaek.
Hal itu membuat Moobaek teringat sesuatu.
Flashback
Saat Moobaek masih muda dan di lantik menjadi prajurit untuk Arthdal, saat itu Sanwoong berkata padanya agar dia menjadi Kanmoreu yang tidak hanya cepat dan kuat tapi juga menjadi sosok yang di ikuti dan di teladani semua orang.
“Ada pepatah lama yang bilang bahwa saat Kanmoreu mulai lari, semua kuda musuh akan mengikutinya,” ujar Sanwoong.
End
Dan dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kudanya mengikuti kuda Eunseom.
Kanmoreu… apa kuda itu sungguh Kanmoreu?
--

Tanya dan semua suku Wahan di bawa melewati Laut Air Mata. Banyak dari anggota suku Wahan yang terluka dan bahkan kesulitan berjalan. Choseol juga terjatuh saat berjalan dan mengenai Tanya. Tanya cemas karena badan Choseol sangat panas. Tapi, Choseol berkata dia tidak apa-apa dan hanya tersandung. Tanya merasa takut, mau di bawa kemana mereka sebenarnya?
“Apa mereka membawa kami ke tempat itu?” tanya Choseol di dalam hatinya.
--

Bantu membawa Eunseom kembali ke desa Suku Wahan. Dan di sana, Eunseom harus merasakan kesedihan mendalam, melihat tubuh anak-anak dan orang dewasa suku Wahan yang tidak bernyawa. Ditambah lagi, desa itu telah di bakar. Sisa-sisa api masih ada di sana. Pemandangan yang sungguh menyayat hati.

Eunseom terus berjalan masuk ke dalam desa, mencari sisa-sisa senjata kayu yang dapat di jadikannya senjata (suku Wahan membuat senjata dari kayu). Dan saat itulah, dia menemukan Dotti yang masih hidup. Begitu melihat Eunseom, Dotti langsung berlari ke arahnya dan menangis. Dia juga memberitahu kalau para prajurit untuk membunuh semua orang termasuk teman-temannya. Orang-orang itu sangat menakuktkan dengan pisau berkilap yang tampak sangat aneh.
“Tidak apa, Dotti. Aku akan pergi menyelamatkan mereka,” tenangkan Eunseom.
Dotti melarangnya karena orang-orang itu sangat menakutkan.
“Kadang kala, kita merasa bingung karena tengah kesulitan, benar?” tanya Eunseom.
“Ya. Ingat kepala suku menyuruh apa?”
“Jika kita kesulitan? Dia suruh kita mendengarkan suara spirit.”
“Benar. Hebatnya, aku mendengar suara spirit kuda itu.”
“Apa katanya?”
Balik dan serang,” jawab Eunseom.
“Benarkah? Caranya? Mereka sangat banyak. Mungkin ada lebih banyak lagi.”
Eunseom kemudian mengingatkan Dotti mengenai apa yang pernah Dalsae katakan, kalahkan pemimpin musuh untuk mengalahkan semuanya. Dan karena itu, dia akan menangkap pemimpin musuh dan menukar nyawa pemimpin itu dengan nyawa suku Wahan. Mendengar jawaban Eunseom, membuat Dotti agak bisa tenang.

Saat itu, kuda Moobaek muncul dan ikut makan rumput dengan Bantu. Eunseom dan Dotti sudah tegang, mengira ada musuh, tapi ternyata tidak ada apapun. Mereka menghela nafas lega.
Tapi, Eunseom melihat kalau di kuda Moobaek ada pelana, sementara di kudanya tidak ada. Dan dia terpikirkan sesuatu, dia akan mengambil pelana kuda itu untuk Bantu.
--
Yeolson bingung karena para prajurit membawa mereka ke arah tebing padahal di sana adalah jalan buntu. Jadi, kemana mereka mau membawanya? Para prajurit itu masih saja merasa kagum karena suku Wahan berbicara bahasa yang sama dengan mereka. Mereka kemudian memberitahu kalau mereka akan ke atas.
“Hanya burung yang bisa naik setinggi itu,” ujar Yeolson.

Dan saat itulah, mereka melihat sebuah alat yang dapat mengangkut mereka hingga ke atas tebing. Melihatnya, membuat Choseol ketakutan.
“Semua spirit akan berhenti bicara. Dan semua makhluk hidup akan kehilangan kehidupannya. Mereka akan kehilangan kehidupannya,” gumam Chosel dan terdengar oleh Tanya.
Lift tradisional itu, di gerakkan dengan menyuruh para budak untuk mendorong tuas penggerak. Begitu tanda di berikan (dengan cara meniup terompet), para budak yang berada di atas harus segera mendorong tuas-nya. Mendorong tuas bukanlah hal yang mudah, karena lift yang terbuat dari kayu dan orang yang berada di dalam lift, membuat tuas menjadi berat. Para prajurit Arthdal yang bertugas akan terus memaksa para budak untuk terus mendorong, walaupun para budak itu sudah kehabisan tenaga. Jika mereka tidak melakukannya, maka mereka akan di cambuk.
Pemandangan itu tentu merupakan hal yang menakutkan bagi suku Wahan.
Begitu tiba di atas tebing, semua suku dari Iark yang telah di kumpulkan di bariskan.

Kitoha dan Moogwang juga ada di sana. Moogwang memperingati Kitoha untuk tidak memberitahu Tagon kalau mereka tadi melihat kuda Kanmoreu. Mereka tidak boleh membuat Tagon repot untuk hal yang belum pasti. Dan bisa jadi Tagon adalah Aramu Haesulla walaupun tanpa Kanmoreu. Kitoha tidak setuju karena Moobaek pasti akan kembali dengan kuda Kanmoreu. Dengan kesal, Moogwang langsung berkata kalau Moobaek sudah kembali baru mereka memberitahu Tagon.
--
Moobaek yang kehilangan kudanya, akhirnya berjalan kaki hingga tiba di desa Wahan saat hari sudah mulai gelap. Dia mulai memeriksa untuk mencari Eunseom, yang mungkin saja kembali ke desa.
--

Kitoha dan Moogwang melapor pada Tagon kalau mereka sudah kembali dengan membawa para budak. Mungkin ada sekitar 2000 budak. Tagon langsung memerintahkan kalau hari ini mereka semua akan kembali ke Arthdal. Semua langsung bersorak senang karena akhirnya mereka akan kembali.
Kitoha juga memberitahu Tagon kalau orang-orang itu (suku Wahan) berbicara dengan bahasa mereka. Dan jika mereka menjual mereka, mereka bisa menjual 10 kali lipat dari harga biasa. Tagon yang mendengar hal itu, memandangai suku Wahan. Dan Tanya melihatnya.
Tidak hanya itu, Kitaoha dan Moogwang bahkan berkata akan selalu mendukung Tagon. Jika setelah semua yang Tagon lakukan, Tagon dilarang berada di Arthdal, mereka akan menghancurkan Arthdal.
 --

Sementara itu, di Arthdal, seorang prajurit bernama Gilseon malah sedang mengeksekusi suku Hopi yang mencuri hasil panen Serikat Arthdal. Dia memerintahkan agar pemimpin suku di eksekusi dan para pengikutnya di iris pergelangan kakinya.
“Apa kesalahan kami, Suku Hopi? Kami membajak Dataran Bulan sampai batu hitam hancur. Kami bekerja keras membuat pengairan sampai lutut kami kotor! Namun, kenapa suku kami tetap mati kelaparan, sementara gudang Klan Asa penuh hasil panen, padahal mereka tak melakukan apa pun?” teriak Kepala Suku Hopi.
“Klan Asa adalah suku pertama yang tiba di Arth. Hasil panen kalian untuk Klan Asa bukanlah untuk rakyat Asa. Itu persembahan untuk para dewa!” teriak Gilseon.
“Apa yang Isodunyong, sang dewa Gunung Puncak Putih, lakukan untuk membantu kami bertani di sana? Terlebih, Klan Asa saat ini bukan pewaris langsung Asa Sin. Kalian sungguh pikir mereka pantas menjadi pewaris Isodunyong?”
“Dasar berandal. Apa kau Jiwa Gunung Puncak Putih?” marah Gilseon.
“Fitnah macam apa itu? Kau habisi mereka semua delapan tahun lalu!”
“Walau begitu, masih ada yang menyatakan bahwa Aramun Haesulla adalah Igutu, dan Klan Asa bukan pewaris langsung. Seperti kau.”
“Namun, memang benar bahwa Klan Asa tak melakukan apa pun. Tagon-lah yang menyingkirkan para Neanthal dari Dataran Bulan. Dan orang yang mengalirkan air ke tanah gersang adalah Kepala Suku Hae, Hae Mihol!” teriak Kepala Suku Hopi. “Di bawah langit dan di Arth, tak ada suku yang lebih unggul atau kalah unggul daripada yang lain. Itu kata-kata Aramun Haesulla, pencipta Serikat Arthdal!”
(Apa Asa Hon adalah keturunan langsung dari Aramun Haesulla? Jika ya, maka Eunseom yang berhak berkuasa atas klan Asa dong? Dan lagi, Eunseom adalah Igutu, sama seperti desas desus -yang di katakan Gilseon- kalau Aramun Haesulla adalah Igutu).
Semua anggota suku Hopi mulai berteriak meminta pertolongan dari dewa Aramun. Saat itulah, Sanung muncul dan bertanya apa yang terjadi. Gilseon memberitahu kalau suku Hopi telah mencuri hasil panen untuk kuil. Kepala Suku Hopi langsung berkata kepada Sanung yang juga adalah ketua Suku Saenyeok kalau dia memang mencuri hasil paneh, tapi apa yang membuat klan Asa hingga layak mendapatkan semua hasil panen dari Dataran Bulan?
Sanung langung menyatakan kalau mereka telah mencuri hasil paneh dan juga tidak menghormati klan Asa, namun, dia akan menggunakan kekuasaannya untuk menunda eksekusi kepala suku Hopi, dan dia akan membahas masalah ini dengan Asa Ron Niruha, sang Pendeta Tinggi. Semua langsung berterimakasih atas pertolongan dari Sanung.
--
Dasar bermuka dua, begitu masuk ke dalam kediamannya, Sanung langsung memerintahkan agar semua suku Hopi di eksekusi kecuali pria pemimpin saja.
“Apa? Bukankah kita harusnya eksekusi pemimpinnya saja? Itu akan membuat kegemparan. Saat ini pun rakyat sudah tak puas dengan Klan Asa.”
“Karena itu kuberikan perintah ini. Rakyat akan membenci Klan Asa karena kematian mereka, bukan aku.”
“Ayah, lalu kenapa biarkan pria itu hidup?”
“Dia pandai bicara. Juga sangat lantang. Biarkan dia bicara. Lagi pula, ucapannya juga tak salah,” jelas Sanung.

No comments:

Post a Comment