Wednesday, July 31, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 06

5 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 06

Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Tong Nian selesai menjelaskan mengenai AI kepada para audiens. Setelah itu, dia memperkenalkan juga Zheng Hui yang bertanggung jawab untuk pengobatan medis dan sekarang sedang bekerja di dept. radiology rumah sakit daerah yang terkenal. Pada tahun 2017, Zheng Hui juga di undang ke konferensi tahunan radiology Eropa. Semua audiens langsung bertepuk tangan. Dengan ramah, Zheng Hui menyuruh semuanya untuk rajin belajar nanti agar bisa bekerja bersamanya.

Salah satu audiens, mengangkat tangan dan bertanya siapa yang bertanggung jawab untuk investigasi kriminal? Tong Nian langsung menjawab kalau dia dan Sun Yaya yang bertanggung jawab untuk hal itu (sepertinya mengenai kuliah mereka, mengenai pembuatan AI gitu. Jadi, Zheng Hui membuat AI untuk pengobatan medis, dan Tong Nian dan Yaya membuat AI untuk membantu investigasi kriminal).
Momo dengan semangat menjelaskan kalau dia dan Yaya sekarang sedang membuat sistem pengenalan wajah. Hal itu di buat agar membuat mereka lebih mudah menangkap penjahat. Dan bahkan China mendapat juara pertama saat kompetisi mengenai sistem pengenalan wajah ini.
“Aku juga ingin bilang sesuatu dari hatiku bahwa ini semua tidak ada hubungannya dengan AI. Beberapa tahun ini, pengalaman terbesarku adalah… aku sering melakukan perjalanan ke luar negeri untuk kompentisi. Ada suatu kali, ketika aku di Inggris, aku merasa sangat iri pada orang-orang sana. Kenapa? Mereka hanya perlu menggunakan 1 kartu untuk melakukan banyak hal. Saat itu, aku berpikir, kapan kita bisa melakukan hal seperti itu? Tapi, tidak di sangka, dalam waktu singkat, beberapa tahun kemudian di China, kita hanya perlu ponsel untuk melakukan segala hal yang kita inginkan. Kita dapat menggunakannya untuk membayar makanan, kopi, bahkan di rumah sakit dan semua hanya di lakukan dengan men-scan code QR. Populasi tercepat dalam hal lifestyle adalah di China. Aku merasa sangat bangga. Bukankah kalian juga begitu?” pidato Tong Nian. “Masa depan tergantung pada kalian! Jia You!” akhiri Tong Nian.

Selesai acara, Tong Nian langsung berlari terburu-buru pulang. Zheng Hui dan Yaya sampai capek harus berteriak sambil mengejarnya sampai Tong Nian mau berhenti. Zheng Hui ingin membicarakan sesuatu dengan Tong Nian, tapi dia kesulitan. Yaya berusaha memberi dukungan. Dan akhirnya, Zheng Hui bilang kalau dia ingin membahas proyek terbaru dengan Tong Nian.
“Harus sekarang?” tanya Tong Nian.
“Tidak. Tidak. Setelah Tahun Baru, atau ketika kau luang saja,” jawab Zheng Hui.
Tong Nian langsung bilang kalau gitu pas mereka sudah mulai kuliah saja lagi. Zheng Hui setuju. Yaya udah nampak kesal karena Zheng Hui menyia-nyiakan kesempatan. Jadi, dia membantu dengan menyuruh Zheng Hui dan Tong Nian saling memberitahu contact di WeChat agar bisa diskusi. Zheng Hui setuju. Tapi, Tong Nian malah bilang pakai email saja.
Yaya memberi tanda agar Zheng Hui mencoba lagi. Tapi, Zheng Hui malah tidak bisa mengatakan niat hatinya, ngajak kencan. Dan malah berkata : “Selamat Tahun Baru.” Yaya sampai tertawa karena hal itu.
Tong Nian bingung juga di beri ucapan selamat tiba-tiba. Dia balas memberi salam. Tong Nian berbasa-basi nanya, apakah Zheng Hui tahun ini pulang kampung? Zheng Hui memberitahu tidak. Dan Tong Nian malah dengan semangat memberitahu kalau tahun ini, Yaya juga tidak pulang, jadi Zheng Hui dan Yaya bisa merayakan malam tahun baru bersama. Usai mengatakan itu, Tong Nian pun pergi.
Setelah Tong Nian pergi, Yaya langsung memukuli Zheng Hui yang tidak bisa to the point. Dia sangat kesal. Tapi, Zheng Hui malah berkata kalau dia akan mendekati Tong Nian dengan pelan-pelan saja.
--
Yaya nongkrong berdua dengan Tong Nian di café. Tong Nian dengan murung, curhat pada Yaya kalau akhir-akhir ini dia merasa seperti ada batu yang menghimpit tubuhnya dan membuat perasaannya sangat buruk. Apakah ini yang namanya kehilangan cinta?
Yaya sampai keselek mendengar pertanyaan Tong Nian tersebut. Dia penasaran, siapa yang Tong Nian sukai? Bukankah saat libur musim dingin kemarin Tong Nian masih single, dan setelah musim dingin terlewat setengah, sudah patah hati? Hanya dalam beberapa hari, Tong Niang sudah di campakkan dengan begitu cepat.
“Aku tidak di campakkan. Ini juga tidak bisa di sebut hubungan cinta. Mungkin ini bisa di sebut, cinta bertepuk sebelah tangan,” jelas Tong Nian.
“Pria itu pasti sudah buta.”
“Tidak. Dia bilang, dia ingin mengejar mimpinya. Dia tidak ingin punya pacar sekarang ini.”
Yaya langsung berkata kalau itu hanyalah alibi, tidak bisa di percayai. Tong Nian dengan percaya diri berkata kalau dia percaya, karena pria itu sangat jujur. Yaya semakin sedih, mengira kalau Tong Nian sudah terlena cinta dan di butakan.
Tong Nian langsung menundukkan kepala dengan sedih. Yaya mengerti kalau Tong Nian sudah patah hati dan tidak ingin bercerita lagi, jadi dia tidak memaksa Tong Nian untuk bercerita lagi.
--
Tong Nian mengedarai sepedanya dan dalam perjalanan pulang ke rumah. Eh, tapi dia malah memutuskan untuk mampir ke kantor K&K. Yah, walaupun dia hanya bisa melihat dari luar, itu sudah bisa membuatnya tersenyum.
Satpam yang berjaga, mengira kalau Tong Nian adalah fans. Dan Tong Nian membenarkan. Tong Nian bertanya, apakah semua orang di K&K sudah liburan (libur tahun baru)? Satpam menjawab kalau sebagian besar sudah pergi untuk liburan dan paling lama besok.


Tong Nian dengan sopan meminta izin untuk meninggalkan sepedanya sebentar karena dia ingin melihat-lihat. Satpam mengizinkan. Dan Tong Nian langsung mendekat dan memotret-motret pintu serta logo K&K. Tapi, dia tidak berani masuk. Satpam menawarkan Tong Nian untuk masuk dan bahkan menawarkan diri untuk menemani Tong Nian masuk, tapi Tong Nian menolak. Satpam membujuk untuk tidak takut, karena para fans di persilahkan masuk kok. Tong Nian dengan sopan menolak dan langsung pergi dari sana.

Dia mengendarai sepedanya dengan cepat dan tidak sadar kalau dia melewati Shangyan yang sedang jalan ke kantor. Shangyan jalan sambil menelpon kakek. Dia menyuruh kakek untuk tidak menetap sampai setengah tahun di China saat datang nanti. Alasannya kalau tidak nanti teman kakek di Norway akan kangen.

Sementara itu, anggota K&K sedang sibuk menulisi kertas merah dengan ucapan-ucapan tahun baru. Dan begitu melihat kedatangan Shangyan, semua langsung berbaris. Su Cheng datang dan menasehati Shangyan agar tidak menakuti semua orang. Dan bukankah Shangyan mau membagikan angpao?
“Aku memang ingin memberikan angpao. Aku tidak tahu kenapa mereka semua sangat gugup,” ujar Shangyan.
Semua langsung berseru senang dan menyoraki Shangyan. Shangyan pun mulai membagikan angpao ke satu persatu anggota, sambil memberikan nasehat. Dia menyuruh Demo untuk dapat menjadi 20 besar (jadi, ada penilaian pemain CTF China, dan Demo tidak masuk dalam 20 besar). Sementara 97, Shangyan menyuruhnya untuk mencari pacar walaupun klub melarang anggota pacaran. Hal itu karena, Shangyan tidak mau di datangi lagi oleh ibu 97. 97 tersenyum dan menyuruh Shangyan untuk mencarikannya pacar. Shangyan langsung memarahinya dan 97 tersenyum senang karena dia tahu Shangyan hanya bercanda. Setelah itu, dia menyuruh Grunt untuk bicara lebih kasar lagi (kalau ini, dia lagi sarkastik).
Semua mendapat angpao, kecuali Wu Bai. Wu Bai mah tidak percaya, dia yakin kalau Shangyan pasti akan memberikannya angpao. Dia dengan baiknya menawarkan diri untuk memanaskan mobil.
--
Para anggota sudah selesai menulis di kertas merah dan menempelkannya di depan pintu. Grunt dan 97 malah ingin menempelnya juga di depan pintu kamar Shangyan agar setelah tahun baru, Shangyan bisa menikah dengan Tong Nian dan kemudian tahun depan punya bayi. Mereka tampak bersenang-senang.


Tapi, begitu Shangyan membuka pintu kamar, semua langsung bungkam. Shangyan menegur mereka yang belum pulang juga, karena nanti pasti akan macet dan nanti mereka tertinggal kereta pula. Dia menyuruh semuanya untuk pulang kampung sekarang dan kembali masuk tanggal 6 Januari. Dan semua langsung bubar untuk pulang.

Shangyan kemudian menghampiri bibi Zhao yang berkerja sebagai pembersih kantor. Dia menyuruh bibi Zhao untuk pulang dan tidak usah membersihkan lagi. Tidak hanya itu, dia bahkan memberikan angpao untuk bibi Zhao. Bibi Zhao jelas menolak karena dialah yang harusnya memberikan angpao untuk  Shangyan, dan juga Shangyan kan sudah memberikan angpao untuk One, dan itu sudah cukup. Tapi, Shangyan memaksanya. Walaupun One dan bibi Zhao adalah keluarga, tapi masing-masing kan bekerja padanya dan sudah sepantasnya mendapatkan 2 angpao.
Dari atas, One melihat kebaikan Shangyan pada ibunya tersebut.
--
Semua orang akhirnya siap berbenah dan pamit pulang pada Shangyan. Yang terakhir pergi adalah 97 dan Grunt. Sebelum mereka pergi, Shangyan bertanya pada mereka, apakah tahun ini ada yang tidak pulang kampung?
“Hanya Demo,” jawab 97.

“Kenapa?”
“Dia bilang, orang tuanya bercerai. Dia tidak punya tempat tinggal. Dia bilang dia akan pulang di bulan Mei saat liburan pertama,” beritahu 97 dan langsung pamit untuk pulang.
Shangyan tampak memikirkan Demo yang tidak pulang tersebut.


Dan karena itu, dia menghampiri Demo yang sedang berada di ruang latihan dan menonton movie dengan headphone. Begitu melihat Shangyan, Demo langsung gugup. Dia tahu kalau ada peraturan tidak boleh menggunakan komputer di ruang latihan untuk menonton movie, tapi kan sekarang sedang liburan. Dia kira semuanya sudah pulang.

Tanpa di duga, Shangyan malah menyuruh Demo membereskan baju dan barang-barangnya. Dia mengajak Demo untuk menghabiskan tahun baru di rumahnya daripada berada di klub. Dan jelas saja, Demo kaget di ajak ke rumah Shangyan.
Wu Bai yang sudah menunggu di mobil sambil memanaskan mesin, kaget juga melihat Shangyan yang mengajak Demo ke rumah. Shangyan beralasan pada Wu Bai daripada Demo di klub dan menghabiskan listrik mereka, lebih baik di bawa ke rumah. Terlebih lagi, kakek kan akan datang. Wu Bai tidak suka bicara dan dia selalu di teriaki oleh kakek. Lebih baik membawa Demo pulang untuk menemani kakek.
“Boss, aku selama ini mengira kau tidak punya rumah di Shanghai dan hanya memiliki klub,” komentar Demo.
“Dia punya rumah, sebagai alasan,” jawab Wu Bai. “Dia membeli rumah dan bilang pada keluarga kalau dia akan segera menikah. Kalau dia tidak melakukan itu, keluarganya tidak akan mengizinkannya memulai K&K di Shanghai.”
“Oh, jadi begitu. Boss, kau sangat hebat!” puji Demo.
--
Dalam perjalanan menuju rumah Shangyan, Demo berterimakasih karena Shangyan sudah mau membawanya. Shangyan langsung berkata kalau Demo jangan mengira dia akan memnbiarkan Demo tinggal dengan gratis.
Mereka tiba di rumah Shangyan. Sangat besar. Demo sampai bersemangat karena rumah itu sangat besar. Shangyan menjelaskan kalau kamar di lantai 3 adalah kamarnya. Di lantai 2 ada 2 kamar. Satu di kanan, punya Wu Bai. Sementara yang di kiri, kamar kosong untuk Demo. Dan
kakek akan tidur di kamar tamu, di lantai 1.
“Kau bisa masak?” tanya Shangyan.
“Bisa sedikit. Aku selalu membantu ibuku ketika masih kecil.”
“Jangan terlalu bermalas-malasan walaupun libur tahun baru. Bagaimana kalau kau memasak dan membersihkan?”
“Tidak masalah!” jawab Demo dengan semangat.
“Apa kau bisa berbaur dengan orang tua?” tanya Shangyan lagi.
“Apa yang boss bicarakan?”
“Hanya perlu kau bicara lebih banyak daripada Wu Bai dan lebih baik dariku untuk membuat orang lain senang.”
“Itu sih sangat mudah!” jawab demo.
Shangyan senang. Apalagi Demo ini sangat tahu berterimakasih. Tanpa harus di suruh, dia langsung berkata akan memasak dan menyuruh Wu Bai serta Shangyan untuk bersantai. Dia akan selesai memasak jam 6 sore, dan mereka bisa turun untuk makan nanti di jam itu.

Saat Demo sibuk memasak, Wu Bai bicara dengan Shangyan. Dia tahu kalau Shangyan tidak ingin menunjukkan kebaikan. Jelas, Shangyan bisa masak, tapi kenapa suruh Demo yang masak? Shangyan beralasan kalau dia hanya tidak ingin Demo datang ke rumahnya dan tidak melakukan apapun.  Wu Bai tahu kalau itu hanyalah alasan Shangyan saja. Tujuan Shangyan sebenarnya pasti ingin melatih Demo kan?
“Sejak kapan kau jadi banyak bicara?” komentar Shangyan, tanpa menjawab pertanyaan Demo.
--
Jam 6 sore, Wu Bai dan Shangyan turun dari atas. Demo sudah menunggu mereka dan dengan bangga menunjukkan hasil masakannya. Shangyan memujinya cukup hebat juga.

Saat makan, Demo memberikan paha ayam untuk Shangyan dan Wu Bai. Begitu melihat paha ayam, selera makan Shangyan langsung lenyap. Dia bahkan langsung masuk ke kamar. Demo jelas bingung, ada apa? Apa dia buat salah?
“Tidak ada. Makan saja,” ujar Wu Bai.
“Apa karena aku melakukan hal yang boss benci?” tanay Demo lagi, masih khawatir sudah buat salah.
Wu Bai menggeleng. Demo tetap tidak tenang. Dia memutuskan untuk menyiapkan makanan dan mengantarkannya ke kamar Shangyan.
“Jika kau tidak takut di teriaki, pergilah ke kamarnya,” komentar Wu Bai.
Demo jadi takut juga. Dia duduk lagi. Tapi, hatinya tetap tidak tenang. “Apa karena Boss tidak suka makanannya? Bagaimana kalau aku masak makanan lain untuknya? Kapten (Wu Bai) makan saja duluan, aku akan masak dulu dengan cepat,” ujar Demo dan kembali ke dapur.
--

Di kamarnya, Shangyan menonton rekaman siaran lama, pertandingan team SOLO dulu. Wajahnya tampak penuh kesedihan.
Flashback
10 tahun yang lalu, Beijing


Shangyan tiba di Beijing dengan bus. Solo dan Ai Qing datang menjemputnya. Dia dan Solo saling berpelukan melepas rindu. Setelah itu, Solo memperkenalkan Shangyan dengan Ai Qing. Ai Qing dengan ramah menyodorkan tangan untuk bersalaman sambil memperkenalkan diri kalau dia akan menjadi penyerang utama. Mendengar itu, Shangyan malah menertertawainya. Ai Qing jelas kesal karena baru pertama ketemu, Shangyan malah menertertawainya dan menganggapnya lemah. Solo sampai harus melerai mereka.
--
Solo dan Ai Qing membawa Shangyan ke tempat dimana mereka akan tinggal, Jalan Qianluogulouyuan nomor 2. Di dalam sudah ada Ou Qiang dan Xiaomi. Solo memperkenalkan Shangyan kepada mereka.
“Aku Ou Qiang. Kau bisa memanggilku All. Aku datang dari pinggiran kota, Sichuan, kota yang penuh dengan rumput,” perkenalkan Ou Qiang.
“Namaku Mi Shaofei. Keluargaku punya toko kelontong. Panggil saja aku Xiaomi,” perkenalkan Xiaomi.
Itulah pertemuan Shangyan dengan mereka semua.
Solo kemudian bertanya, Shangyan ingin makan apa? Dia akan memasak apapun yang ingin Shangyan makan. Untuk menyambut kedatangan Shangyan, dia bahkan sudah menyuruh Ou Qiang dan Xiaomi untuk menangkap ayam. Dan yang menang akan makan paha ayam.
Ai Qing ingin membantu Solo untuk masak, tapi Shangyan malah mengajaknya untuk bertanding dulu. Dan karena Shangyan yang tampak meremehkannya, Ai Qing langsung setuju. Xiaomi menyuruh Shangyan untuk tidak terlalu sombong dulu. Tapi, Shangyan malah berkata kalau dia kalah, dia akan mengerjakan pekerjaan rumah. Ai Qing makin bersemangat.
Dan di bawalah Shangyan ke ruang latihan mereka yang sederhana. Di dalam ruangan itu, ada kura-kura yang mereka peliharan dan seekor kucing liar. Tidak di sangka, Shangyan tampaknya menyukai kucing dan bahkan mengelus serta menggendong kucing tersebut penuh perhatian.
Pertandingan di mulai. Kedua pihak tampak sangat serius. Dan akhirnya… pertandingan di menangkan oleh Ai Qing! Eh, walau kalah, Shangyan malah bilang kalau Ai Qing hanya beruntung. Ai Qing sampai kesal, emangnya sangat sulit ya mengakui kalau dia punya kemampuan yang bagus? Xiaomi tertawa dan menjawab kalau mulut Shangyan tidak mau mengakui, tapi hati Shangyan mengakuinya. Ou Qiang membantu dengan berkata kalau mereka akan memaafkan Shangyan karena mungkin Shangyan masih lelah setelah perjalanan jauh. Tapi, mulai sekarang, Shangyan harus bekerja dengan keras. Shangyan tersenyum, tampaknya dia menyukai team-nya.
Ai Qing memberitahu kemenangannya pada Solo. Dia juga mengingatkan Shangyan untuk menerima hukuman. Paha ayam hari ini adalah untuknya!
--
Makan malam telah selesai di siapkan oleh Solo.
Solo berkata kalau paha ayam hari ini akan di berikan kepada Ai Qing yang menang. Dan paha satu lagi, akan di berikan pada Shangyan sebagai ucapan selamat datang! Semua bertepuk tangan. Semuanya tampak sangat senang dan bahagia. Shangyan juga tampak sangat menikmati paha ayam-nya.
--


Setengah tahun kemudian,
Keempat anggota itu sudah semakin akrabt. Mereka tidur dalam satu kamar. Solo tidur di sofa. Ai Qing tidur di tempat tidur tunggal dan di batasi dengan tirai, di sebelah tempat tidur yang di tiduri oleh Shangyan, Ou Qiang dan Xiaomi. Tampaknya, Ai Qing dan Solo berpacaran karena mereka saling mengirim ciuman jarak jauh.
Shangyan melihat Solo yang tampaknya punggung-nya sakit karena tidur di sofa, jadi dia berkata malam ini, dia yang akan tidur di sofa. Xiaomi setuju dengan Shangyan. Solo menolak dengan alasan kalau sofa ini kecil, sedangkan Shanghan lebih tinggi darinya, jika tidur di sana, maka punggungnya akan lebih sakit daripadanya.
“Apa kau masih belum terbiasa?” tanya Solo.
“Sudah. Hanya saja kalian semua mampu mentoleri suara ngorok Ou Qiang setiap hari?” tanya Shangyan.
“Tahan saja dulu. Ketika sponsor memberikan kita sejumlah dana, aku janji akan menukar tempat tidur kalian menjadi lebih besar. Jika Xiaomi, jangan mengambil tempat tidur Lao Han (Shangyan).”
Xiaomi protes dan dengan kesal membangunkan Ou Qiang dengan berkata ada gempa bumi. Semua tertawa melihatnya. Solo kemudian bertanya, apakah Shangyan sudah punya pacar? Shangyan menjawab kalau dia tidak akan membicarakan mengenai cinta sebelum dia sukses!
Ai Qing ikutang nimbrung. Dia seperti membujuk Shangyan agar cari pacar. Shangyan menjawab kalau dia tidak tertarik. Mereka sudah sangat akrab dan bahkan berbincang membicarakan masa depan klub mereka.
--
Dan mereka mulai mengikuti pertandingan. Sayang-nya, semua tidak berjalan semulus yang mereka bayangkan. Mereka harus mengalami kegetiran kekalahan. Team yang mengalahkan mereka saat itu adalah team Buff dan MC berkata kalau itu di sebabkan karena Shangyan melakukan kesalahan analisis. Shangyan tampak sangat kecewa dengan kekalahan tersebut.
Bahkan saat turun dari panggung, para penonton yang mendukung mereka, malah memaki mereka karena kalah. Siapa yang nggak kesal, sudah kalah malah di maki. Awalnya mereka mencoba bersabar, tapi karena makian yang di terima semakin kasar, emosi Xiaomi jadi terpancing juga. Solo dan yang lain sampai harus berusaha menariknya untuk pergi.
--

Dan tidak hanya kekalahan, saat Shangyan menemani Solo untuk menemui investor, investor tersebut menolak memberikan dana. Solo orang yang sabar, berusaha mengingatkan kalau dir. Lin kan sudah tanda tangan kontrak kerja sama dengan mereka. Terlebih lagi, team SOLO pasti akan bisa masuk dalam kejuaraan nasional tahun ini. Dan juga dana sponsor dir. Lin belum mereka terima, bukankah…
Belum selesai Solo bicara, salah seorang pegawai masuk untuk memberikan buah bagi para tamu. Dunia memang tidak sebaik yang di kira. Dengan kejamnya, dir. Lin menyuruh sekretarisnya membawa keluar buah tersebut dan juga dia ingin mengambil balik tempat tinggal team SOLO.
Solo berusaha merendah dan membujuk. Tapi, dir. Lin berteriak menyuruh sekretaris-nya mengusir Solo dan Shangyan. Solo sudah mulai kehilangan kesabaran, dia mengingatkan kalau mereka sudah tanda tangan kontrak, dan dia bisa menuntut dir. Lin.
“Menuntut? Memangnya kau punya uang untuk pengacara?” tantang dir. Lin sambil mendorong tubuh Solo dengan kasar.
Emosi Shangyan terpancing. Solo langsung berusaha menenangkan Shangyan dan mengajaknya pergi. Sebelum pergi, Solo melempar surat kontrak tersebut dan berkata kalau dir. Lin akan menyesali hal ini.
--
Solo dan Shangyan pergi ke restoran. Shangyan masih marah. Dia tidak tahan melihat Solo yang memohon pada orang lain hanya karena uang. Solo menjelaskan kalau hal ini tidak sesederhana yang Shangyan lihat. Mereka mempunyai banyak orang yang harus di beri makan, tidak hanya itu, masih ada tagihan rumah, listrik, air, gas, biaya pendaftara dan biaya transpor. Jika dia tidak membayar semua tagihan itu, siapa lagi?
“Aku akan membantumu mencari jalan.”
“Solusi apa yang kau pikirkan sekarang? Jangan coba-coba menjadi hero,” peringati Solo.
“Dana pendidikan yang ayahku wariskan tabung sebelum dia meninggal, aku bisa mengambilnya sebagai warisan.”
Solo tercengang. Dia berjanji akan mengembalikan uang Shangyan begitu team mereka mencapai hasil dan mendapatkan uang. Shangyan menggelengkan kepalanya.
“Kalau gitu, ayo kita ke Shanghai. Ada lebih banyak orang dan team di sana. Mari kita mulai dari awal di Shanghai. Ayo bertarung lagi!” ajak Solo. Dan Shangyan setuju.
--
Dan akhirnya, team mereka mendapatkan dua anggota team tambahan yaitu Little You dan Yiqian. Tidak hanya itu, merkea pindah ke tempat yang lebih baik dan bagus. Tidak ada yang tahu kalau dana mereka di bantu oleh Shangyan.
Saat mereka sedang berbincang, Shangyan sibuk bermain dengan kucing. Solo langsung berkomentar kalau dia tidak sangka Shangyan menyukai kucing, dia kira Shangyan sukanya anjing yang besar. Ou Qiang dan Ai Qing ikut menggoda Shangyan.
“Kita harus berterimakasih pada Han Shangyan. Kalau bukan karena kedermawaan-nya, team kita pasti sudah di bubarkan sejak lama. Tidak akan ada hari ini. Terimakasih, Lao Han,” ujar Solo.
end
Shangyan masih terus merunduk mengingat masa lalunya itu. Dan terdengar suara ketukan di pintu.



5 comments: