Wednesday, July 17, 2019

Sinopsis C-Drama : Unique Lady Episode 24 - part 2

0 comments

Network : iQiyi iQiyi
Wu Mei memarahi para pengawal nya yang sama sekali belum ada menemukan dimana Luo Jing berada. “Kalian tidak berguna! Sheng Jing begitu kecil, tapi kalian bahkan tidak bisa menemukannya! Cepat pergi cari dia!” teriaknya.

Wu Mei kemudian memanggil Zhang Ji, dan menyuruhnya untuk mempersiapkan kuda. Tapi Zhang Ji menolak, dia memberitahukan bahwa Wu Mei tidak boleh pergi sekarang, karena bangsa Bei Yu sekarang sedang sangat marah tentang apa yang terjadi kepada Putri mereka, yaitu Ru Yu. Jadi jika sekarang Wu Mei pergi untuk mencari Luo Jing, maka dia takut sesuatu bisa terjadi.
Mendengar itu, Wu Mei pun merasa bingung dan bimbang.

“Saya akan melanjutkan pencarian untuk menemukan Yang Mulia Permaisuri (Luo Jing). Jika ada kabar, Anda akan segera menerima informasinya,” jelas Zhang Ji, menenangkan dan meyakinkan Wu Mei.
Tapi Wu Mei tetap ingin pergi sendiri untuk ikut mencari Luo Jing. Dan dengan tegas, Zhang Ji langsung menghalanginnya, dan menyuruh agar Wu Mei tetap tinggal didalam kediaman saja dan menunggu berita baik.
“Yang Mulia, saya mohon,” pinta Zhang Ji. Dan Wu Mei pun terpaksa menurutinya.
Dijalan. Tanpa sengaja Yi Yi terjatuh dari atas kudanya, dan dengan cemas Xiu Wen langsung menghampirinya. Xiu Wen menanyakan apakah luka lama Yi Yi terbuka kembali. Dan Yi Yi menggelengkan kepalanya.
“Kamu tidak bisa menaiki kuda seperti ini,” kata Xiu Wen, tegas dan cemas.
“Tuanku, aku baik- baik saja. Kita harus segera kembali ke Persia,” balas Yi Yi, menahan rasa sakit yang dirasakannya.
Luo Jing dan Shang sedang duduk didalam pondok sambil mengerjakan sesuatu. Kemudian disaat mereka melihat seseorang terjatuh dari kuda, mereka pun segera menghampiri orang tersebut. Yang ternyata orang itu adalah Yi Yi.

“Xiu Wen,” panggil Luo Jing, terkejut.
“Xiao Jing,” balas Xiu Wen, juga sama terkejut.

Shang mendekati mereka, dan melihat dia, Xiu Wen segera meminta nya untuk mengobati Yi Yi. Dan dengan senang hati, Shang bersedia untuk mengobati Yi Yi.
“Nona muda, mengapa kamu tidak ikut masuk ke dalam dengan kakek tua ini?” kata Shang, bertanya. Dan Yi Yi menganggukan kepalanya, lalu dia mengikuti Shang masuk ke dalam pondok.

Luo Jing merasa canggung, ketika ditinggal berdua dengan Xiu Wen. Dia memalingkan wajahnya, dan tidak berani untuk menatap Xiu Wen.
“Xiao Jing. Pada perjalanan kembali ke Persia, aku dikejar oleh musuh. Aku tidak percaya bahwa aku bisa bertemu kamu disini,” kata Xiu Wen, memulai pembicaraan.

“Apa kamu ada terluka?” tanya Luo Jing, pelan.
Xiu Wen bertanya bahwa seandainya dia bisa kembali ke hari itu, ketika Luo Jing masih sendirian, akankah Luo Jing memilihnya. Mendengar pertanyaan itu, Luo Jing terdiam dan tidak menjawab.
Yi Yi menyela pembicaraan mereka. Dia mengajak Xiu Wen untuk segera pergi, karena dia telah selesai di obati. Dan Xiu Wen pun mengangguk mengiyakan.

Sebelum pergi meninggalkan Luo Jing lagi, Xiu Wen mengembalikan pedang yang pernah Luo Jing berikan kepadanya. Dia berharap bahwa setelah dia mengembalikan pedang ini, Luo Jing bisa memberikan ini kepadanya sekali lagi. Dan Luo Jing hanya diam saja, dia tidak mengambil pedang itu.

Xiu Wen kemudian menaruh pedang itu ke tangan Luo Jing langsung. Lalu setelah itu, dia berbalik dan berjalan pergi.
Xiu Wen : “Xiao Jing. Jika aku kembali ke Sheng Jing suatu hari nanti, dan bertemu dengan Zhong Wu Mei di medan pertarungan, akankah kamu membenciku?”

Xiu Wen naik ke atas kudanya, dan melajukan kuda nya. Dan Yi Yi pun langsung mengikutinya. Mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Luo Jing membuka mulutnya, dia ingin memanggil nama Xiu Wen dengan keras. Tapi dia tidak jadi melakukan itu. “Xiu Wen,” panggilnya pelan sambil menatap ke pergiaan Xiu Wen yang semakin menjauh dari tempat nya.

Xiu Wen dan Yi Yi menemui Pria bertopeng yang telah menunggu mereka.
“Hari ini kita berpisah. Aku berharap kamu akan mengumpulkan kembali kelompok lama untuk menyerang Sheng Jing, begitu kita bisa bertemu lagi. Sekarang aku datang untuk mengirim kepergiaan kalian. Si rubah licik, Perdana Mentri telah di jatuhkan. Yang tersisa hanyalah hari kematian Zhong Shi Li,” jelas si Pria bertopeng sambil tertawa dengan sangat keras.

“Seratus ribu kematian orang- orang kami yang tidak berdosa, itu telah menunggu telalu lama,” kata Xiu Wen, dengan nada kebencian.
“Kamu tidak perlu untuk mengkhawatirkan tentang ini. Setelah segalanya diambil kembali, kesakitan dan penghinaan yang kamu tanggung akan terbayarkan,” balas si Pria bertopeng dengan yakin.


Si Pria bertopeng kemudian memberikan obat penawar untuk selama enam bulan kepada Xiu Wen. Dan dia mengungkapkan agar Xiu Wen tidak mengecewakannya.
Xiu Wen lalu langsung meminum setengah obat tersebut, dan dia memberikan setengahnya lagi kepada Yi Yi untuk diminum. Lalu setelah itu, mereka berdua pun pergi dari sana.
Si Pria bertopeng memasuki penjara, tempat dimana Fei Yu dikurung. “Hanya aku satu-satunya yang bisa menyelematkan kamu pada moment ini.”
“Menyelamatkan ku?”
“Sekarang kamu terkunci disini untuk segera di eksekusi. Jika kamu menyerahkan mata- mata dan sisanya kepadaku, aku mungkin memiliki hati untuk menyelamatkan mu,” kata si Pria bertopeng, memberikan penawaran.
Fei Yu mempertanyakan, kenapa dia harus percaya. Dan si Pria bertopeng itu pun membuka topeng yang selama ini dipakainya, dan ternyata si Pria bertopeng tersebut adalah Jing Yuan.




Ternyata selama ini, Jing Yuan telah memperhatikan setiap orang dan memperhitungkan segalanya dengan baik, demi menjebak dan membuat Fei Yu berada dalam keadaan seperti ini. Lalu sekarang dia datang dan memberikan penawaran kepada Fei Yu.

Melihat itu, Fei Yu sangat terkejut. “Itu kamu,” katanya, pelan.
“Ayahku adalah pejabat yang menemukan negara ini, sangat setia kepada Kaisar terdahulu. Tidak diduga, kelebihannya melampaui tuannya. Jadi Kaisar terdahulu menjebak untuk membunuh dia. Dalam rangka untuk menenangkan ku, dia memberikan gelar kebesaran. Ini hutang antara keluarga Jing dan Zhong, tidak akan tahan berada dibawah langit yang sama,” jelas Jing Yuan, dengan penuh kebencian.

Kemudian Jing Yuan bertanya, apakah Fei Yu tidak memiliki kebencian terhadap Zhong Shi Li (Kaisar) dan membuat Zhong Shi Li membayar darah hutang untuk kematian Wan’er. Lalu setelah menanyakan itu, Jing Yuan mengulurkan tangannya.
Dan ntah apa jawaban Fei Yu, karena dia hanya melihat tangan yang diulurkan kepada nya tersebut.
Xi Que menemui Zhang Ji, dan berbicara kepada nya dengan berbisik ditelinga nya.
Wu Mei bergerak dengan gelisah didalam kamarnya, dia masih bertanya- tanya dimana keberadaan Luo Jing sebenarnya. Dia takut Luo Jing telah benar- benar pergi meninggalkan kota Sheng Jing.

“Yang Mulia, ada berita dari Yang Mulia Permaisuri,” kata Zhang Jing, berteriak menyampaikan kabar tersebut. Dan mendengar itu, Wu Mei langsung tersenyum bahagia.

Xi Que datang ke rumah Shang. Dan ketika disana dia berhasil menemukan Luo Jing, dia pun langsung memanggil Luo Jing dengan riang. Mendengar itu, dengan heran, Luo Jing bertanya bagaimana Xi Que bisa tahu bahwa dia berada disini.
“Siapapun yang memiliki niat, dia pasti akan menemukan mu,” kata Xi Que, menjelaskan dengan riang.

Ternyata ketika Luo Jing pergi meninggalkan kediaman Wu Mei untuk selama- lamanya. Xi Que melihat itu, dan mengikutinya.

“Nona, aku sangat merindukanmu setengah mati,” kata Xi Que, manja.
“Tidak ada orang lain yang tahu ini, kan?” tanya Luo Jing, cemas.
Xi Que meminta Luo Jing untuk tidak perlu khawatir, karena cuma dia sendiri yang datang ke tempat ini. Lalu dia meminta Luo Jing untuk pergi berjalan- jalan dan bermain dengannya diluar.
“Aku tidak mau pergi,” kata Luo Jing, menolak.

“Ikutlah denganku, Nona,” bujuk Xi Que. Lalu dia langsung menarik tangan Luo Jing untuk mengikutinya berjalan- jalan ke luar.
“Kamu akan membawa ku kemana?” tanya Luo Jing sambil tertawa.
“Aku membawa mu ke tempat yang sangat menarik.”
Xi Que membawa Luo Jing berjalan- jalan ke pasar malam di kota Sheng Jing. Dan disana, Luo Jing mulai mengingat kenangan- kenangan yang dimilikinya ditempat itu.
“Pertama kali aku datang ke pasar malam, itu sudah sangat lama sekali. Kelihatannya pada waktu itu, aku sudah diam- diam menyukai dia. Dan terakhir kali aku datang ke pasar malam adalah untuk mengucapkan perpisahan kepada dia.”

“Aku tidak pernah membayangkan bahwa datang ke pasar malam kali ini, segalanya telah berubah,” kata Luo Jing sambil mengenang kembali.
“Nona, apa yang berubah? Xi Que tidak berpikir ada apapun yang berubah,” balas Xi Que, bingung dengan maksud Luo Jing.
Dengan sedih, Luo Jing tersenyum. Lalu dia menjelaskan bahwa dia benar- benar sangat mengkagumin Xi Que, karena Xi Que selalu polos seperti ini.

Xi Que kemudian mengajak Luo Jing untuk pergi ke arah dimana orang ramai sedang berkumpul, karena mana tahu ada sesuatu yang menarik untuk dilihat. Dan Luo Jing pun mengikutinya.

No comments:

Post a Comment