Friday, July 12, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 30 - part 1

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 30 – Part 1
Network : KBS2
Kim Dan membawa Yeon Seo ke taman, tempat mereka pertama kali bertemu. Dan disana Yeon Seo menanyakan apakah pohon yang berada didekat mereka itu benar- benar pohon Nubuat. Dan Kim Dan mengiyakan.
“Ini membantu memutuskan kemana harus pergi selama waktu dan moment yang tepat,” jelas Kim Dan sambil memandang ke atas pohon. Lalu dia mengambil satu daun yang akan terjatuh.

“Apa ada sesuatu yang tertulis disana?” tanya Yeon Seo, penasaran. Dan tanpa menjawab, Kim Dan mengeluarkan spidol, lalu menulis diatas daun tersebut dan kemudian memberikannya kepada Yeon Seo.

11 Juli. Teater Balet Fantasia. “Kamu benar- benar seperti pemimpin sekte sekarang,” komentar Yeon Seo.
“Bisakah kamu melakukannya untukku tanpa ramalan atau tanda? Aku belum pernah melihat penampilan resmimu. Aku ingin melihatmu melompat, memutar, tersenyum, dan menangis diatas panggung,” jelas Kim Dan, meminta.

Yeon Seo mengeluh, karena dua hari akan berlalu jika dia berlatih dan melakukan pertunjukan, sehingga itu membuang- buang waktu. Dan Kim Dan pun menggelengkan kepalanya, dia menjelaskan bahwa tarian Yeon Seo menandai awal mereka, dan dia ingin tarian Yeon Seo menandai akhir mereka juga.
“Jangan katakan itu akhir. Belum ada yang berakhir,” kata Yeon Seo, kesal. Lalu dia berdiri dan mengajak Kim Dan untuk pulang.
Kim Dan tetap bersikeras, dia menanyakan dengan manja apakah Yeon Seo akan menari. Dan dengan acuh, Yeon Seo menjawab tidak tahu, lalu dia berjalan pergi duluan.
“Kamu bilang kita kehabisan waktu?” keluh Kim Dan. Lalu dia menyusul Yeon Seo.

Yeon Seo mengambil kertas laporan Kim Dan secara diam- diam. Lalu dia berpikir sejenak sebelum menulis. Dan kemudian setelah itu, dia pun mulai menulis.

Kim Dan datang, dan menanyakan apa yang sedang Yeon Seo lakukan. Dengan kaget, Yeon Seo pun segera menutupi kertas laporan yang sedang ditulisnya, dan dia berbohong bahwa dia sedang menulis dibuku hariannya karena sudah lama.
“Jangan repot- repot. Aku menulis sangat banyak laporan, memohon menjadikanku manusia. Tapi dia membakar semua laporanku,” jelas Kim Dan, mengetahui apa yang sebenarnya sedang Yeon Seo lakukan.
Mengetahui itu, Yeon Seo menggerutu dan merasa kesal. Kim Dan kemudian tertawa dan menjelaskan bahwa karena itu Yeon Seo tidak perlu menuliskan apapun, dan mempertaruhkan apapun.
“Sayang sekali. Karena aku akan menari, aku siap untuk bertaruh pada sesuatu,” gumam Yeon Seo. Lalu dia menatap Kim Dan, “Aku yang paling percaya diri dalam menari.””

Mendengar itu, Kim Dan merasa sangat senang. Dan langsung menarik Yeon Seo ke dalam pelukannya. “Kamu membuat keputusan yang benar!” pujinya.

“Itu akan menjadi sangat cantik. Kamu akan melakukan pekerjaan luar biasa,” puji Kim Dan sambil tertawa bahagia. Dan Yeon Seo ikut merasa bahagia juga, karena Kim Dan tampak sangat bahagia.

Didalam penjara. Ru Na terlihat sangat muram, dan dia menatap ke arah selimut yang berada didekanya sambil berpikir.
Seorang polisi berlari dengan panik, dan dia melaporkan kepada rekannya bahwa Ru Na gantung diri dengan selimut. Mendengar itu, mereka langsung memanggil ambulans.
Ru Na yang sudah tidak sadarkan diri dibawa pergi ke rumah sakit.

Diruangan pertunjukan. Semua penari melakukan pemanasan, termaksud Yeon Seo. Dan melihat itu, Kang Woo merasa puas. “Senang melihat kalian semua disini. Kita akan memulai latihan sesudah pemanasan,” katanya kepada mereka semua.

Kim Dan datang, dan duduk dibangku penonton. Melihat itu, Yeon Seo tersenyum.
Akhirnya besok Yeon Seo akan melakukan pertunjukan, dan malam terakhir mereka berdua semakin mendekat. Mendengar perkataan itu, Yeon Seo mengomentari bahwa Kim Dan mulai berbicara seperti manusia, lalu dia menanyakan apakah Kim Dan ingat pernah mabuk dan mengomel kepadanya.

“Itu terjadi berabad- abad yang lalu. Bayangkan betapa kesalnya aku sesudah dipecat oleh kamu, karena minum alkohol saat aku bahkan tidak bisa meminumnya,” keluh Kim Dan sambil mengenang saat itu.

“Bagiku, aku pikir sejak hari itu. Sejak saat kamu menyerahkan sapu tanganmu, dan menyuruhku membayangkan bahwa itu adalah kamu. Kupikir aku sudah mulai menyukaimu,” kata Yeon Seo, mengakui perasaannya.
“Aku menari denganmu saat itu hanya karena aku mabuk. Ah, memikirkan kembali, aku cukup berani menari denganmu,” balas Kim Dan.


Yeon Seo kemudian mengulurkan tangannya, dan mengajak Kim Dan untuk menari sekali lagi. Dan ditengah ruangan yang tampak sangat romantis, mereka berdua menari bersama sambil tersenyum bahagia.

Selama mereka menari, waktu terus berjalan. Sebentar lagi esok akan tiba, dan waktu Kim Dan akan selesai. Bulu pada sapu tangan Kim Dan bercahaya sedikit.

Keesokan harinya. Ny. Jung menjemput Yeon Seo. Dan dengan perhatian, Kim Dan mengulurkan lengannya untuk dipegang oleh Yeon Seo. Lalu setelah itu mereka pun berangkat bersama.


Tapi sebelum benar- benar pergi meninggalkan rumah itu, Kim Dan berbalik dan berteriak. “Aku akan kembali.”
“Aku akan kembali juga,” teriak Yeon Seo. Lalu mereka bergadengan tangan bersama.
Hari pertunjukan. Semua poster, spanduk, dan berbagai hal yang lainnya dipersiapkan.

Tn. Jin datang ke ruangan rias. Dia menyapa Yeon Seo dengan ramah, dan memberikan sebuket bunga untuk Yeon Seo. Walaupun Tn. Geum, Ny. Choi, serta Ru Na tidak lagi ada di bangku VIP, tapi Tn. Jin akan tetap duduk disana untuk menonton pertunjukan Yeon Seo. Dan Yeon Seo berterima kasih padanya.

Tn. Jin kemudian ingin memeluk Yeon Seo, tapi Kim Dan langsung menghalanginnya. Dan memperkenalkan diri sebagai suami Yeon Seo. Mendengar itu, Tn. Jin serta semua orang merasa terkejut. Sementara Yeon Seo tersenyum senang.

“Kami menikah minggu lalu. Aku yakin kalian semua sudah tahu, tapi izinkan aku memperkenalkannya karena kalian akan lebih sering bertemu dia. Ini suamiku,” kata Yeon Seo memperkenalkan Kim Dan kepada semuanya, sambil mengadeng tangannya.
“Semoga beruntung malam ini,” kata Kim Dan, menyemangati semuanya.
Dan semuanya bertepuk tangan dengan meriah untuk mereka berdua. Kecuali Tn. Jin, dia berdiri diam dengan canggung.

No comments:

Post a Comment