Thursday, July 4, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 25 - part 3

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 25  – Part 3
Network : KBS2


Kang Woo memasuki studio latihan yang sepi tanpa para penari, karena barusan dia menyuruh mereka untuk pulang dan beristirahat hari ini. Kang Woo menghela nafas, dan mengingat kembali pembicaraannya dengan Kim Dan barusan.


Flash back
Kang Woo menanyakan apakah Kim Dan masih bermimpi untuk bisa menjadi manusia. Dan Kim Dan membalas bahwa Kang Woo tidak perlu khawatir, karena dia tidak akan pernah membiarkan Yeon Seo dikorbankan.


“Aku senang kamu mengerti aku. Adalah bijaksana untuk menyerah,” kata Kang Woo.
“Aku belum menyerah. Aku yakin Tuhan memiliki rencana untukku dan Yeon Seo. Dan aku akan mencari tahu. Dan aku pasti sudah melewati jalan bersamamu untuk sebuah alasan,” balas Kim Dan.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku pertemuan kita juga merupakan kehendak- Nya.”
Flash back end


Kang Woo membuka matanya, dan berdiri ketika melihat para penari yang memasuki ruangan studio. Dengan heran, dia menanyakan apa yang sedang para penari lakukan. Dan mereka menjawab bahwa mereka sedang berlatih menari, karena apa yang harus mereka lakukan jika pulang ke rumah. Serta tubuh mereka akan menjadi kaku, jika tidak berlatih.
“Kamu akan mengerahkan kami untuk adegan bagian Willis, kamu bilang.”
“Kamu akan membuat kami yang terbaik. Kamu bilang.”
“Aku ingin jadi yang terbaik juga.”
“Aku juga. Dan aku suka bagian Giselle.”


Mendengar betapa bersemangat dan berantusias nya mereka semua, Kang Woo tersenyum senang. “Lakukan pemanasan dalam 20 menit. Dengarkan, Willis. Aku akan memeriksa semuanya termasuk sudut jarimu,” perintahnya.
Dan semua penari mendengarkan perintahnya. Melihat itu, Kang Woo semakin tersenyum senang.


Yeon Seo menghubungin Ny. Jung dan menanyakan apakah para polisi telah menemukan Joon Soo, dan Ny. Jung menjawab belum. Kim Dan kemudian menjelaskan bahwa mereka harus segera menangkap Joon Soo, sebab sepertinya Ru Na penuh dengan dendam.
“Aku tidak berpikir dia akan segera bertobat. Biasanya pendendam tobat hanya jika dia puas. Dan jaga Nona dengan baik. Biarkan aku bicara dengan wartawan sebelum aku kembali,” jelas Ny. Jung.
“Baik,” jawab Kim Dan.

Setelah selesai bertelponan dengan Ny. Jung, Kim Dan menanyakan kenapa Yeon Seo berpura- pura tegar, karena saat ini wajah Yeon Seo tampak sangat gundah. Dan Yeon Seo menjawab bahwa itu tidak benar.
“Bukan sembarang orang. Keluargamu sendiri mencoba melukaimu. Wajar bagimu hancur. Aku sudah bilang, kamu bisa menunjukan sisi lemahmu,” jelas Kim Dan dengan penuh perhatian.


“Orang itu bukan keluarga ku lagi. Aku hanya punya Ny. Jung, dan kamu,” balas Yeon Seo sambil memegang tangan Kim Dan.
“Yeon Seo, kamu punya segalanya. Kamu punya dua orang yang tidak akan pernah mengkhianatimu,” balas Kim Dan sambil tersenyum.


Yeon Seo kemudian balas tersenyum. Dan dia mengatakan kepada Kim Dan bahwa ada tempat yang ingin dikunjunginnya bersama Kim Dan.


Dipusat pembelanjaan. Yeon Seo menarik tangan Kim Dan untuk mengikutinya, lalu ketika telah sampai ditempat yang ingin ditujunya, Yeon Seo berhenti dan menunjuk kearah papan toko.
“Ini. Aku ingin melakukan ini bersamamu,” jelas Yeon Seo.
“Kamu ingin mengambil foto?” tanya Kim Dan, tertawa.


Mereka berdua kemudian mencoba untuk melakukan foto box bersama. Tapi karena Yeon Seo tidak pernah berfoto menggunakan itu, maka dia tidak tahu cara menggunakan mesin foto box tersebut. Sementara Kim Dan memang tidak tahu.


Lalu akhirnya mereka pun berhasil juga dalam mengambil foto bersama. Dan ketika hasil foto mereka telah keluar, mereka berdua tertawa karena merasa foto itu lucu.

“Foto- foto ini akan bertahan sampai kamu menjadi wanita tua dengan rambut kusam?” komentar Kim Dan, kagum dengan hasil foto mereka.
Mendengar itu, Yeon Seo tampak sedih. “Ini murah, jadi mungkin akan pudar. Kita dapat berfoto setiap musim, setiap tahun,” ajak Yeon Seo sambil tersenyum memandang Kim Dan.
“Kali ini, ayo kita ambil yang benar- benar lucu. Setuju?” balas Kim Dan, mengalihkan pembicaraan.



Mereka berdua membeli aksesoris- aksesoris lucu, dan memakainya. Mereka berdua tertawa bersama. Mereka berdua kemudian kembali berfoto bersama.
Namun saat melihat wajah tersenyum Kim Dan, itu membuat Yeon Seo kembali teringat akan perkataan Kang Woo. Dan itu membuatnya merasa sedih, sehingga dia pun mulai menangis. Melihat itu, Kim Dan merasa heran.

“Jangan menghilang. Tidak bisakah kamu tidak mati?” tanya Yeon Seo.
Kim Dan tersenyum pahit, karena dia tidak bisa berbohong. “Bagaimana kamu tahu?”
“Kamu punya kurang dari sebulan. Ketika waktu kamu habis, kamu akan menghilang seperti debu. Kamu akan pergi selamanya,” kata Yeon Seo, menangis tersedu- sedu.


Melihat itu, Kim Dan memeluk Yeon Seo. “Aku tidak akan hilang. Kenapa aku harus saat aku memilikimu disini?”
“Sungguh?” tanya Yeon Seo. Menatap Kim Dan.


“Yeon Seo. Dengarkan. Aku akan menjadi manusia. Aku akan pastikan menjadi manusia nyata. Aku mengirim laporanku ke atas, dan aku juga berdoa. Aku belum menerima jawaban yang pasti, tapi aku akan menunggu dan terus kirimkan. Apa kamu percaya padaku, Yeon Seo?” jelas Kim Dan dengan lembut.
Dan Yeon Seo mengiyakan. Lalu mereka berdua berpelukan kembali.

Hasil cetakan foto mereka berdua keluar dari dalam mesin box.

Kim Dan menemui Kang Woo. Dengan marah dia memegang kerah jas Kang Woo, dan berteriak padanya. “Sudah kubilang aku tidak akan menyakiti Yeon Seo! Kenapa kamu memberitahu nya? Dia menangis karena kamu!”


“Untuk menyuruhnya melarikan diri. Untuk melarikan diri sekuat tenaga. Tapi kurasa dia tidak akan melakukannya. Lee Yeon Seo, betapa bodohnya dia,” balas Kang Woo.
Kim Dan memperingatkan Kang Woo agar jangan pernah menyebutkan sepatah katapun soal kehidupan dan pengorbanan pada Yeon Seo. Jika Kang Woo melakukannya, maka dia tidak akan tinggal diam. Lalu dia berjalan pergi.


“Kamu akan berakhir sepertiku. Jika Tuhan itu adil, kamu juga akan hancur sepertiku!” teriak Kang Woo, mengingatkan.

“Jika aku takut hancur, aku tidak akan kembali,” balas Kim Dan, tegas.

Didalam kamar. Yeon Seo mempelajari semua hal tentang malaikat yang ada didalam buku. Lalu dia menuliskan dibuku catatan nya tentang hal buruk yang mungkin saja akan terjadi kepada Kim Dan.
1. Kehilangan sayap dan mati
2. Hilang ditengah jalan
3. Tidak menjadi manusia
4. Semuanya adalah tragedi. Aku tidak percaya ini

Yeon Seo kemudian mengambil hapenya, dan menghubungin Kang Woo.

Kang Woo mengangkat telpon dari Yeon Seo.


Yeon Seo menjelaskan bahwa dia punya pertanyaan. Mengenai sapu tangan Kang Woo yang memiliki bulu berwarna hitam seperti terbakar. Lalu tentang bagaimana Kang Woo bisa menjadi manusia. Dan apakah Kim Dan bisa menjadi manusia juga.
Kang Woo teringat kembali akan kenangan buruknya, saat Seol Hee mati untuknya. “Tidak ada cara seperti itu. Kamu harus menyerah,” kata Kang Woo, menjawab.


“Kenapa kamu menjadi manusia. Katakan padaku. Ya?” pinta Yeon Seo.
“Aku tidak bahagia selama 15 tahun terakhir sesudah menjadi manusia. Setiap detik dalam hidupku. Itu akan sama untuk Kim Dan juga. Apa kamu berharap untuk mendorongnya ke dalam tragedi seperti itu?” balas Kang Woo, bertanya.
Dan Yeon Seo terdiam. Lalu dia mematikan telponnya.


Kim Dan datang ke taman. Dia menatap ke atas pohon. Lalu sebuah daun jatuh kepadanya, tapi daun tersebut kosong.

Kim Dan menulis laporannya.
Yeon Seo tahu. Bahwa aku akan menghilang jika aku gagal dalam misiku. Apa kamu benar- benar takkan memberi jawaban? Aku tidak punya waktu.


Sesudah Kim Dan selesai menulis laporannya. Tiba- tiba saja kertas laporan itu terbakar. Dan melihat itu, Kim Dan merasa kaget serta heran.
“Maksud- Mu, Engkau sama sekali tidak akan mengambil laporanku?” tanya Kim Dan sambil memandang ke arah langit.


Didalam kamar. Kim Dan menulis lagi di kertas laporannya.
Berilah aku jawaban. Aku ingin jadi manusia. Sekali lagi laporan itu terbakar dan lenyap begitu saja.
“Tidak masalah. Aku bisa menulis yang lain. Aku dapat menulis 100, tidak, bahkan 200 laporan,” kata Kim Dan, penuh tekad. Lalu dia menulis hal yang sama lagi.
Kim Dan menulis berkali- kali. Dan berkali- kali pula kertas laporannya terbakar dan lenyap begitu saja.

Pagi hari. Hape Kim Dan berbunyi, dan mendengar itu Kim Dan mengingau dalam tidurnya. “Berilah aku jawaban. Apa itu jawaban ku? Apa aku harus menjawabnya?” gumamnya. Lalu dia mengambil hape nya.
Dan ternyata itu adalah telpon masuk dari Yeon Seo. Melihat itu, Kim Dan langsung tersenyum senang dan mengangkatnya.

“Keluarlah ke ruang tamu dalam 30 menit. Kita pergi piknik. Ini kencan resmi. Pastikan kamu terlihat menggemaskan,” jelas Yeon Seo dengan cepat. Lalu dia mematikan telpon.

“Kencan?” gumam Kim Dan, terkejut. Lalu dengan panik, dia mulai membongkar seluruh isi lemarinya untuk mencari baju yang bagus.
“Ah, aku harus mandi dulu,” gumamnya.

No comments:

Post a Comment