Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 12-2

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 12-2
Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land
Mihol dan Haetuak dalam perjalanan kembali. Haetuak sangat senang karena dia dan Taealha dapat bekerja sama dengan Mihol. Mihol tiba-tiba berhenti dan meminta maaf karena sudah memberikan Haetuak halusinogen sebanyak 2 kali. Haetuak dengan senang kalau itu bukan masalah.

Tapi, yang mengejutkan adalah, Mihol membawa nya ke tempat Asa Ron dan bahkan pengawal Asa Ron memegang pedang. Apa yang terjadi? Mihol memberikan byeoldaya-nya pada Asa Ron. Dia mengkhianati Taealha dan Tagon. Haetuak jelas marah tapi tidak bisa berkutik karena 2 orang mengarahkan pedang padanya. Dia marah dan juga kecewa pada Mihol. Mihol dengan tenang berkata kalau Taealha yang pertama kali mengkhianatinya.
--

Saya pergi ke gua Ggachi. Diam-diam, Saya menatap koin ornamen Aramun sebelum mulai bicara.
“Biar kusampaikan ucapan Momyeongjin. Keturunan langsung Kepala Suku Asa Sin telah datang ke Arthdal,” ujar Saya.
Dan semua anggota langsung heboh.
--
Asa Ron menatap byeoldaya tersebut dan tentu, dia tidak mengerti akan isinya. Apa benar ini kunci untuk menemukan lonceng bintang? Mihol juga tidak tahu dan tidak yakin.
“Kau cemas aku akan menemukannya? Belum terlambat untuk memihak Tagon,” ujar Asa Ron.
“Tidak. Tagon tak bisa memberikan yang aku mau.”
“Namun, bisa kau dapatkan dariku? Apa itu?”
“Posisi pemimpin Serikat. Kau tak butuh posisi itu lagi, Niruha. Jika Tanya menemukan lonceng bintang, Sidang Keramat tak diperlukan lagi. Kau hanya perlu secara rahasia mengambil lonceng bintang dan membunuh gadis itu. Garis keturunan Klan Asa tak akan lagi dipertanyakan. Tagon tak akan pernah bisa jadi tandinganmu. Kau bisa usir dia dari Arthdal,” jawab Mihol.
“Bagaimana jika gadis itu tak tahu di mana lonceng bintangnya?”
“Maka kau adakan Sidang Keramat. Taealha akan bersaksi memberatkan Tagon. Tagon akan dibuang setelah kakinya dipotong, yang artinya, posisinya akan kosong.”
“Itu benar. Kau minta aku memberikan posisi itu kepadamu?”
“Apa pun yang terjadi, kau tetap menang. Kau juga akan menikmati kemenangan. Niruha, aku tak inginkan hal lain, kecuali melindungi warga Suku Hae dan mencapai kemajuan ilmiah. Agar itu terjadi…”
“Posisi itu milikmu,” potong Asa Ron. Setuju memberikan posisi itu untuk Mihol.
“Niruha, terimalah hormat dari Isodunyong,” senang Mihol dan berlutut memberi salam.
“Pergilah. Pergi dan temukan lonceng bintang Asa Sin,” perintah Asa Ron dan mengembalikan byeoldaya.
--
Mihol kembali dengan langkah ringan. Entah lonceng bintang di temukan atau tidak, yang penting, Arthdal akan ada dalam kekuasaannya.

Dan di depan Taealha, dia masih berpura-pura memihak Tagon. Dia menunjukkan byeoldaya-nya dan memberikannya pada Tanya. Tanya melihat apa yang tergambar di byeoldaya tersebut.
--
Chae-eun dan Nunbyeol di pasar. Chae-eun merasa cemas dengan kondisi Tanya. Dan juga, Mubaek tidak kelihatan lagi dimanapun. Nunbyeol lebih khawatir dengan nasib kelompok mereka dan juga dia dengar malam ini akan di adakan rapat. Chae-eun langsung berkata kalau mereka tidak akan pergi ke sana.
Dan saat itulah terdengar kehebohan di pasar. Kelompok Jiwa Gunung Putih muncul di pasra dan bahkan membawa bendera mereka. Mereka berteriak : Keturunan asli Kepala Suku Asa Sin sudah kembali!
Teriakan tersebut tentu menarik perhatian rakyat Arthdal. Dan dalangnya, tentu adalah Saya. Dan masyarakat mulai mengikuti kelompok tersebut sambil meneriakan hal yang sama.
--

Tanya melihat byeoldaya. Dia berkata di dalam hatinya, agar ibunya membantunya. Dia harus bisa menyelamatkan Eunseom. Tanya terus melihat dengan jelas byeoldaya tersebut. Tampaknya dia tahu, tapi juga tidak yakin.

Akhirnya, dia hanya meminta maaf karna dia tidak tahu dimana lonceng bintang. Mihol tidak percaya dan menyuruh Yeobi memberikan halusinogen pada Tanya. Dia tidak percaya dengan ucapan Tanya. Taealha tampak berusaha menghentikan, tapi tentu Mihol tidak mendengarkannya.
Tanya meminum halusinogen tersebut. Dia mulai tampak seperti antara sadar dan tidak. Setelah itu, Mihol mulai menanyainya. Awalnya mengenai namanya. Dan Tanya bisa menjawabnya. Kemudian mengenai lonceng bintang. Dan Tanya menjawab kalau dia tidak tahu.
“Maka sudah diputuskan. Kini, giliranmu untuk menepati janjimu. Ayah sudah menepati janji, tapi dia tak tahu di mana tempatnya,” ujar Mihol pada Taealha.
Taealha tidak terima. Dia berteriak hingga suaranya terdengar oleh penjaga yang berjaga di depan pintu. Dia marah karena Tanya tidak tahu dimana lonceng bintang berada.
“Baiklah. Semua sudah berakhir. Akan kuturuti kata Ayah,” nyerah Taealha.
“Di Sidang Keramat, kau akan bersaksi tentang kejahatan Tagon.”
“Baiklah.”
“Duduk,” perintah Mihol dan Yeobi mengeluarkan alat tulis. “Kini, masalahnya hanya Tagon. Kita butuh dia di Sidang Keramat. Kau harus menulis ini. "Tanya akan menemukan lonceng bintang Asa Sin. Jadi, pastikan kau hadiri Sidang Keramat. Ini peluang kita untuk mengakhiri Asa Ron."
“Lalu bagaimana dengan Tagon?” tangis Taealha.
“Akhirnya, kedua kakinya akan dipotong.”
--

Para rakyat dan anggota Jiwa Gunung Puncak Putih tiba di depan Kuil Agung. Mereka berteriak mengenai keturunan langsung Asa Sin. Asa Yon dan Asa Mot tentu terkejut dengan kedatangan rakyat yang seperti itu.
Asa Yon segera menyampaikan hal tersebut pada Asa Ron. Asa Ron cemas, apalagi Mihol belum datang untuk memberikan kabar.

Tidak lama, Mihol datang.
“Jiwa Gunung Puncak Putih berkerumun di luar Kuil Agung mengatakan keturunan langsung Asa Sin ada di sini. Kita tak bisa lagi membunuh gadis itu secara diam-diam!” ujar Asa Ron, cemas.
“Tak hanya mereka. Warga Serikat juga ada di sini,” tambahkan Asa Yon.
“Niruha. Kau dilindungi delapan dewa. Ini bisa menguntungkanmu,” ujar Mihol.
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Kau mungkin tak dapat lonceng bintang, tapi kau akan membuang Tagon dan memusnahkan Jiwa Gunung Puncak Putih. Mereka sukarela keluar dari persembunyian.”
“Dia tak tahu di mana lonceng bintang?” tebak Asa Ron.
“Kurasa begitu,” jawab Mihol dan memberikan byeoldaya kepada Asa Ron.
“Ya, tentu. Matahari, bulan, bintang. Sekitar 100 tahun lalu, ini diukir di langit-langit Kuil Agung. Namun, simbol baru diukir dan ditempatkan di atasnya. Jadi, sekalipun ini peta, tak akan ada gunanya,” beritahu Asa Ron. “Mungkin ada di suatu tempat di langit-langit?”
“Niruha, setelah Sidang Keramat berakhir, temukan itu dan ambil saja,” saran Mihol.
“Beri tahu Serikat tentang Sidang Keramat,” putuskan Asa Ron, percaya diri atas kemenangannya menyingkirkan Tagon.

Dan Asa Yon pun keluar menemui para rakyat, “Besok, saat matahari di atas Istana Serikat, Sidang Keramat Taealha akan dimulai.”
“Apa keturunan langsung Kepala Suku Asa Sin ada dalam Kuil Agung?”
“Ya, ada yang mengaku keturunan langsung Asa Sin. Yaitu, Tanya dari Suku Wahan. Jika dia temukan lonceng bintang saat Sidang Keramat, ramalan kuno akan jadi kenyataan.”
Semua bersorak senang. Saya dan Mubaek tampak gugup dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
--
Gilseon melaporkan pada Tagon mengenai penjaga di luar ruangan Tanya yang mendengar teriakan Taealha. Gadis itu tidak tahu dimana lonceng bintang. Tagon mengerti dan menyuruh Gilseon keluar.
Setelah Gilseon keluar, Saya keluar dari persembunyiannya. Dia dan Tagon cemas, entah apa yang harus di lakukan? Saat itu, Moogwang masuk dengan terburu-buru dan melapor kalau Mihol datang bersama pengawalnya. Saya yakin kalau ini adalah perangkap. Dan jika mau memulai kudeta, mereka harus mengatasi Mihol terlebih dahulu. Moogwang segera berkata kalau Pasukan Daekan siap menyerang. Para ksatria mereka sudah bersembunyi di dalam hutan dan di alun-alun. Semua akan mematuhi perintah Tagon.
Jadi, ini yang akhirnya terjadi? Ini hasilnya? Aku berusaha mencegah pertumpahan darah. Kulakukan semua sebisaku. Pikir Tagon.
“Saat kutumpahkan minumku, bunuh pengawal Mihol,” beritahu Tagon.
Dan Mihol pun di bawa masuk. Tentu, Mihol berbohong kalau Tanya tahu dimana lonceng bintang Asa Sin. Mihol bahkan menunjukkan surat yang di tulis oleh Taealha. Moogwang langsung memperhatikan minuman yang Tagon pegang. Jika di tumpahkan maka mereka akan segera menyerang.
Tagon membaca isi surat Taealha. Isinya : Tanya tahu di mana benda itu. Tenang, percayalah pada ayahku. Kita sudah menang! Aku merindukanmu, Tagon. Aku akan senang jika kita jumpa lagi.
Dan entah apa yang di tangkap oleh Tagon dari pesan itu, karena dia tidak memberikan tanda untuk membunuh Mihol. Dia tidak menumpahkan minumannya. Moogwang serta Saya jelas kaget.
Begitu Mihol pergi, mereka berdua jelas langsung bertanya kepada Tagon.  
“Inilah perintahku. Semua kesatria Daekan harus menunggu di posisi mereka saat ini,” perintah Tagon.
--

Para rakyat masih tetap berkumpul di depan Kuil Agung hingga malam. Mereka berujar : Kembalikan Kepala Suku kami, keturunan langsung Asa Sin.
Mihol dan Asa Ron melihat dari atas.
--

Tanya masih di awasi oleh Taealha dan Yeobi. Taealha menatapnya tajam. Sementara Tanya merasa khawatir dengan Eunseom.
--
Kondisi Sateunik semakin parah. Eunseom dan yang lainnya berusaha membuatnya tetap sadar karena besok siang mereka sudah akan bisa keluar dari sini. Mereka memintanya untuk bertahan. Sateunik harus melihat lautan dingin sebelum mati.
“Ya, kau benar. Aku mau tunjukkan pada kalian seperti apa lautan itu. Maafkan aku,” ujar Sateunik dengan lemah.
“Apa maksudmu? Kita akan keluar dari sini bersama,” marah Badoru.
Bersama? Kata yang sangat bagus,” ujar Sateunik.
“Tahan, Serangga Kotoran (panggilan Sateunik),” ujar Eunseom.
“Namaku bukan Serangga Kotoran. Namaku… Sateunik,” ujar Sateunik dengan kondisi yang sangat lemah. Dia meraih pisau yang ada dan memotong rambutnya, kemudian memberikannya ke tangan Eunseom. “Saat kau… keluar dari sini dan mendaki Gunung Hasi, kau akan tiba di tempat bernama Jubinol di sisi bukit. Istriku… mungkin masih menungguku di sana. Berikan ini… kepadanya. Bilang dia kini bisa meninggalkan tempat itu. Katakan padanya… aku mati sebagai Sateunik dari Suku Momo.”
Semua tentu merasa sedih mendengar ucapan Sateunik tersebut.
“Akan kulakukan,” janji mereka.
“Istriku… akan membalas kebaikanmu. Dia juga dari Suku Momo,” lanjut Sateunik dan menutup matanya. Selamanya. Dia meninggal.

Semua menangis penuh kesedihan. Mungkin ini adalah pertama kalinya mereka menangis setelah menjadi budak. Menangis bukan karena mengasihani diri mereka sendiri, tapi menangis karena telah kehilangan teman mereka.
Olmadae memegang dahi Sateunik dan berujar, “Aku, Olmadae dari Suku Gunung Putih.”
Badoru memegang sebelah kaki Sateunik, “Badoru dari Suku Kaeran.”
“Chanaragi dari Suku Mulgil.”
“Ipsaeng dari Suku Ago.”
“Eunseom dari Suku Wahan,” dan terakhir Eunseom.

“Kami berjanji padamu, Sateunik dari Suku Momo,” ujar Eunseom. “Aku tak akan melepaskan tangan lagi,” ujarnya dalam hati. “Kami semua akan saling berpegangan tangan. Bersama, kita akan sampaikan kabar kepada istri Sateunik, dan melihat lautannya,” lanjut Eunseom.
Semua menangis. Mereka akan memenuhi janji tersebut. Untuk teman mereka. Untuk Sateunik yang menyadarkan mereka kalau mereka bukanlah hewan tetapi manusia.
--
Esok hari,
Syourejakin memeriksa dan anak buahnya yakin kalau pasti ada wabah. Dan karena itu, Syourejakin memutuskan untuk turun karena dia tahu tidak akan ada yang mau turun. Syourejakin menutupi mulutnya dengan kain dan kemudian dia pun di turunkan ke bawah dengan alat penampung lumpur tersebut.

Begitu tiba di bawah, dia mulai masuk dengan obornya untuk memeriksa. Tentu saja, dia juga bersiaga dengan pedangnya. Dan benar, seperti dugaan Sateunik sebelumnya, Syourejakin pasti akan menusuk orang terdepan untuk memastikan apakan mereka benar mati atau tidak. Dan dia menusuk Sateunik yang ada paling depan.
Syourejakin kesal, karna kematian mereka akan membuatnya rugi. Dia tidak tahu, kalau diam-diam mereka membuka mata.
Sementara di atas, semua panik karena ketakutan dengan adanya wabah dan mulai menutupi hidung dan mulut dengan kain.

Syourejakin mendekati Eunseom, dan Eunseom langsung menyerangnya. Semua langsung bergerak dan menangkap Syourejakin.



1 Comments

Previous Post Next Post