Monday, July 8, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 12-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 12-1
Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land


Itzruz datang menyelamatkan Nunbyeol. Dia tidak membunuh Moogwang, hanya saja dia melempar tubuh Moogwang ke pohon hingga Moogwang pingsan. Tanya sendiri cukup terkejut melihat para Neanthal yang sangat kuat dan bermata biru. Chae-eun menguasai keadaan dengan cepat, dia segera menyuruh Tanya untuk pergi menemui Yeolson di rumah ahli obat dan di sana juga ada Mubaek. Mereka akan baik-baik saja, jadi Tanya bisa meninggalkan mereka.
Dan Tanya pun segera pergi dari sana. Tapi, dia bertanya-tanya, kenapa bibir manusia tadi (Neanthal) berwarna biru? Sial! Dia tertangkap kembali oleh Yeobi.
Arthdal Chronicles
Nunbyeol bicara berdua dengan Itzruz, dan dia kembali menegaskan kalau dia tidak mau pergi bersama mereka. Itzruz tersenyum tipis dan berkata dia mengerti akan hal itu. Itzruz pun hendak pergi, tapi Nunbyeol menghentikannya. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada suku mereka. Itzruz menjawab kalau sebagian besar mati dan hanya 5 orang termasuk dirinya yang selamat.
“Kenapa kau mau mengajak aku ikut denganmu?” tanya Nunbyeol.
“Karena kau suku kami. Aku mau kau ikut dengan kami dan menemukan pemuda yang pantas. Walau mungkin kau rasa dia tak menarik.”
“Kurasa hanya aku Neanthal wanita yang masih hidup,” sadar Nunbyeol dan tampak sedih.
“Ya. Namun, kita tak seperti Saram. Kita tak wajib melakukan atau memberi sesuatu. Kita tak berutang apa pun, dan memilih jalan kita sendiri. Pilihanmu selalu lebih penting daripada pilihan orang lain. Itu cara hidup kita. Kau tak perlu tinggalkan keluargamu karena kami,” ujar Itzruz (ah, mereka tidak egois. Walau itu artinya mereka harus rela kalau suku mereka punah).
“Jika... Jika mungkin aku ingin menemuimu lagi...,” pinta Nunbyeol.
“Saat bunga rubah mekar dan bulan sabit pertama bersinar di langit malam… Manteiv...,” jawab Itzruz dan kemudian pergi.
Itzruz pergi bersama dengan Rottip. Rottip ternyata sudah menebak kalau Nunbyeol pasti tidak akan mau ikut dengan mereka.
“Rottip, bisanya kau tersenyum? Ini akan menjadi akhir dari darah biru kita.”
“Bukan berarti akhir dari kita,” jawab Rottip.
“Kau tak marah kepada para Saram?”
“Menurutmu, berapa harimau dan beruang yang marah kepada kita? Namun, mereka kini sudah mati dan kita masih hidup,” jawab Rottip lagi, bijak.
--
Mubaek tiba dan membangunkan Moogwang. Hari sudah gelap. Chae-eun masih ada di sana, dan Moogwang langsung mencekiknya. Mubaek langsung menarik Moogwang menjauh dari Chae-eun dan menjelaskan kalau Chae-eun tadi menyelamatkan Tanya dari kejaran Chae-eun.
“Lalu dimana Tanya?”
“Kusuruh dia pergi lebih dahulu. Namun, kurasa tertangkapm” beritahu Chae-eun panik.
Moogwang langsung mengumpat kesal dan sadar kalau dia pasti tertangkap Yeobi.
--

Saya mengenakan tudungnya dan datang ke kediaman Tagon. Tentu saja dia di tolak masuk dan bahkan di anggap gila oleh Gilseon dan yang lain yang berjaga di rumah Tagon karena Saya menyebut dirinya anak Tagon. Saya tidak peduli dan berteriak menyuruh mereka mengumumkan kalau Saya, putra dari Tagon Niruha datang!
Pas saat itu, Tagon keluar dan melihat kedatangan Saya. Mata Saya tampak penuh amarah.
--
Tagon menyeret Saya ke dalam ruangannya dan melemparkan tubuhnya ke lantai. Saya menjerit histeris penuh amarah. Tagon telah diam-diam mengikutinya dan mengambil Tanya. Tagon lebih marah lagi karena sekarang dia telah kehilangan Tanya. Dia bahkan sampai mengunci pintu agar Saya tidak bisa keluar. Saya terus berteriak kalau terjadi sesuatu pada Tanya, dia tidak akan membebaskan Tanya.
--
Gitoha dan Yangcha datang ke kediaman Tagon. Gitoha jelas kaget saat mendengar dari Gilseon kalau ternyata Tagon sudah mempunyai anak. Gilseon juga berkata kalau sepertinya Saya bukanlah anak dari Asa Mot dan juga bukan anak dari Taealha karena Saya sudah dewasa. Gitoha masuk shock dengan berita tersebut.
Tapi, Gilseon melihat Yangcha yang tampak tenang dan itu artinya Yangcha sudah tahu sedari awal. Gitoha jadi makin penasaran dan bertanya pada Yangcha, tapi Yangcha hanya diam.
Moogwang datang saat itu dengan panik dan mencari Tagon. Tapi, Gitoha menghentikannya untuk memberitahu kabar mengenai Tagon yang ternyata punya anak. Dia mengira kalau Moogwang akan terkejut. Tapi, ternyata Moogwang tidak terkejut sama sekali, dia lebih terkejut saat tahu kalau putra Tagon datang dan lagi bersama Tagon.
Gilseon dan yang lain langsung mengejek Gitoha sebagai satu-satunya orang yang tidak tahu mengenai hal itu, padahal semua prajurit Daekan tahu. Gitoha langsung tampak sedih dan menangis karena hanya diam yang tidak tahu.
--

Moogwang melapor pada Tagon kalau Tanya tertangkap oleh Mihol. Tagon jelas terkejut karena ini diluar perkiaraannya.
--
Yeobi bersama dengan Mihol dan dia bertanya alasan kenapa Mihol tidak memberitahu Asa Ron mengenai Tanya? Mihol hanya menjawab kalau ini adalah masalah rumit.
--
Taealha sedang merenung dan tampak tenang, mengira dirinya telah menang dan benar dengan memilih Tagon. Tapi, Mihol datang menemuinya. Dengan tersenyum Mihol bertanya mengenai Tanya. Awalnya, Taealah berpura-pura tidak mengenal nama Tanya. Akan tetapi, Mihol sudah tahu apa yang hendak di rencanakan oleh Tagon dan Taealha. Dengan senang, dia memberitahu Taealha kalau dia telah menangkap Tanya.
Taealha tertawa sinis tidak mempercayai hal itu.
Dan untuk membuktikan ucapannya, Mihol membawa Taealha ke sebuah ruangan dimana Tanya terikat di sana.
Yeobi dari Suku Hae menangkapku, dan dia membawaku ke Kuil Agung? Asa Ron adalah musuhnya Tagon. Yeobi bekerja untuk Mihol. Mihol adalah ayahnya Taealha. Apa Taealha khianati dia, atau itu berarti Mihol dan Taealha adalah musuh? Aku tak mengerti. Ayo tetap fokus. Eunseom masih hidup. Harus kuselamatkan dia. Serigala Putih Besar, kumohon… Berilah aku kebijakan bintang. Berilah aku jawaban.
Mihol dan Taealha masuk ke dalam. Dan Taealha sangat terkejut karena benar Tanya telah tertangkap oleh ayahnya. Mihol tersenyum penuh kemenangan.
--

Saya yang di kurung tampak frustasi. Dan Tagon akhirnya masuk menemuinya. Begitu melihat Tagon, Saya langsung meminta maaf karena sudah marah hingga salah menduga. Tadi, dia melihat jasad prajurit Daekan di tempat Tanya, artinya, Daekan tidak menangkap Tanya, tapi Asa Ron. Artinya, Asa Ron tahu mengenai Tanya dan akan membunuhnya. Dia meminta agar Tagon menyerang Kuil Agung.
“Ayah ingat Taealha bilang, kau selalu tenang dan cerdas,” ujar Tagon.
“Biasanya aku begitu. Namun, situasinya kini serius.”
Serius? Karena ayah memperdayamu, atau karena kau menyukai Tanya?”
“Ayo cepat. Jika Asa Ron bunuh Tanya...”
“Kau tak akan memaafkan ayah?” tebak Tagon. “Kau harus maafkan semua jika tak punya kekuasaan. Entah berapa banyak ayah harus memaafkan sampai dapat cukup kekuasaan.”
“Maafkan aku. Tolong maafkan aku.”
“Untuk apa? Karena ini sia-sia.”
“Ayah sudah lihat isi kamarku. Aku berlatih demi Ayah. Aku baca buku-buku di Pilgyeonggwan dan memikirkan setiap kemungkinan. Kami akan berguna bagi Ayah. Aku, juga Tanya,” pinta Saya dan berlutut di hadapan Tagon.
“Baiklah. Ayah akan mengingat kemampuanmu. Namun, jika kau menipu ayah lagi dan mengacaukan rencana dengan bertingkah seperti anak kecil, akan ayah tunjukkan apa arti  sesungguhnya tak kenal ampun,” peringati Tagon.
“Baik. Aku paham maksud Ayah.”
“Kami sudah bersiap menyerang Kuil Agung.  Kau tunggu saja perintah ayah,” beritahu sekaligus perintah Tagon.
--
Mihol sudah bisa menebak siapa Tanya, tapi mendengar langsung dari Taealha kalau Tanya adalah keturunan langsung dari Asa Sin, tetap membuat Mihol terkejut. Dia bahkan menyebut Taealha yang sudah gila karena percaya pada dujeumsaeng dan bahkan meminta di lakukan sidang keramat. Untungnya, Asa Ron tidak tahu mengenai Tagon sehingga mereka masih memiliki waktu. Taealha kembali meyakinkan Mihol agar percaya pada Tagon dan mendukungnya. Tapi, Mihol tetap pada pendiriannya.

“Kenapa Ayah… memilih Sanung, bukannya Asa Ron?” ingati Taealha. “Di Arthdal, kita melumerkan batu dan menjadikannya perunggu. Warga Arthdal anggap itu kemampuan cenayang dan keramat. Karena itu Asa Ron takut, benci, dan menjaga jarak dari kita. Kita ancaman bagi kesuciannya. Jadi, kenapa Asa Ron mau kerja sama dengan Ayah? Hanya karena Tagon. Apa yang akan terjadi pada kita jika menyingkirkan Tagon?” sadarkan Taealha. Dan Tanya mendengarkan serta memikirkan taktik dari setiap perbincangan antara Taealha dan Mihol.
“Tak penting. Kita harus tetap hidup. Kita punya misi untuk dilakukan. Balas dendam pada penghancur Remus...”
“Aku muak pada misi itu,” kesal Taealha. “Hentikan saja. Mereka tak akan muncul!”
“Yang penting, Tagon tak akan bisa menang,” tegas Mihol.
Taealha mengingatkan mengenai lonceng bintang Asa Sin.  Totem yang Asa Sin sembunyikan dalam Kuil Agung 200 tahun lalu, jika penemu lonceng bintang ada maka dia akan segera menjadi Pendeta Tinggi. Jika Tanya bisa menemukannya, maka Tagon dan mereka bisa menang.
Mihol terbujuk. Dia bertanya pada Tanya, apakah Tanya tahu dimana lonceng bintang tersebut? Tanya ingat karena Saya pernah memberitahu mengenai lonceng bintang. Mihol segera menyuruh Yeobi keluar, hingga hanya ada dia, Taealha dan Tanya.
Mihol kembali bertanya kepada Tanya, apa dia tahu dimana lonceng bintang itu? taealha menatap pada Tanya dan berkata di dalam hati, agar Tanya mengatakan saja tahu. Tanya diam. Dan menjawab dengan jujur kalau dia tidak tahu. Tapi ada kemungkinan dia tahu.
“Bagaimana? Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Mihol.
“Byeoldaya,” jawab Tanya. “Aku butuh itu. Itu hal yang diwariskan Serigala Putih Besar, leluhur kami. Jika Serigala Putih Besar sungguh adalah Asa Sin, akan beri tahu.”
Tapi, Tanya galau juga karena byeoldaya itu ada di Iark.
“Ada pada Tagon,” beritahu Taealha. “Langit pasti memihak kita. Mubaek membawanya dari Iark. Benda itu memiliki tanda Jiwa Gunung Puncak Putih.”
“Ya, itu dia,” benarkan Tanya.
“Tentu. Karena itulah aku tahu kau keturunan langsung Asa Sin. Jika tak percaya, buat aku meminum halusinogen. Agar Ayah tahu itu benar. Jika kita temukan itu, Tagon akan menang,” senang Taealha sekaligus menyakinkan Mihol.
Mihol berpikir sebentar. Dan akhirnya berkata kalau dia ingin menemui Tagon. Jika Tanya benar bisa menemukan lonceng bintang, maka dia akan mendengarkan Taealha. Tapi jika tidak bisa, maka Taealha harus meninggalkan Tagon. Taealha setuju dengan kesepatakan tersebut.
Tanya sendiri ragu, entah dia bisa menemukannya atau tidak.
--

Mubaek melapor pada Tagon kalau prajurit Daekan sudah di siapkan. Tagon segera menyuruh Mubaek untuk memilih lima prajurit tergesit dan orang itu akan menyusup ke Kuil Agung. Dan ketika menyerang, mereka harus menyelamatkan Taealha dan Tanya terlebih dahulu. Mubaek mengerti.
Pas sekali, Moogwang masuk dan melapor kalau Mihol ada di luar.
--
Mihol bicara berdua dengan Tagon. Dan Tagon akhirnya tahu kalau Tanya ada bersama dengan Mihol.  Dan Mihol juga memberitahu kalau hanya dia yang tahu, dan Asa Ron tidak tahu sama sekali.
“Pendeta Tinggi tak tahu? Jadi, maksudmu, kau akan memihakku? Kau bahkan memenjarakan putrimu sendiri.”
“Situasinya berbeda dibandingkan dahulu. Aku tak tahu keturunan langsung Asa Sin ada padamu. Aku juga tak tahu keturunan langsung ini bisa menemukan lonceng bintang Asa Sin. Tentu, dia bisa saja gagal menemukannya. Aku mungkin akhirnya akan beri tahu Pendeta Tinggi tentang dia. Namun, aku ingin mencobanya jika bisa dapat keuntungan dengan memihakmu.”
“Apa maumu?”
“Tak banyak. Aku mau kau tinggalkan Asa Mot, dan nikahi Taealha. Aku mau rahasia pembuatan perunggu tetap jadi milik Suku Hae.”
“Bagaimana jika aku setuju?” tanya Tagon, tertarik.
“Berikan byeoldaya padaku,” pinta Mihol. “Taealha bilang, Mubaek yang membawanya.”
“Kenapa kau butuh itu?”
“Tanya bisa temukan lonceng bintang jika punya byeoldaya, begitu katanya. Kau kini tak memiliki keturunan langsung Asa Sin, juga Taealha. Jadi, kau tak punya pilihan lain.”
Tagon memikirkan perkataan Mihol. Dan akhirnya, dia setuju untuk memberikan byeoldaya. Akan tetapi, dia mau geulbal (surat) tulisan tangan dari Taealha dan dia mau Haetuak menyaksikan saat Taealha menulis surat itu, dan ajak juga Haetuak saat menyerahkan surat itu. Barulah dia akan memberikan byeoldaya tersebut.
--
Taealha sudah menulis surat itu sesuai permintaan Tagon.
Tagon sendiri sedang memegang byeoldaya di tangannya.
--
Saya sangat khawatir dan berdoa agar Saya bisa bertahan dan menunggunya.
--
Sementara Tanya, dia memikirkan Eunseom.
--
Eunseom menatap semua pekerja di Gitbadak dan bertekad di dalam dirinya kalau dia pasti bisa melakukannya. Dia tidak mau lagi menyesal dan membenci dirinya sendiri lagi. Dia merindukan, Tanya. Dan dia mau hidup. Dia mau hidup dan menemui Tanya.
--
Esok hari,
Di Doldambul,
Para pekerja kembali bekerja. Tapi, saat mereka mengangkat lumpur dari pekerja di bawah tanah, malah kosong melompong. Syourejakin yang sangat tergila-gila dengan permata jelas marah saat tahu pekerja di bawah tidak mengumpulkan lumpur.
Syourejakin mulai berteriak dan memaki mereka sembari mengancam tidak akan memberikan makan. Tapi, tidak ada respon dan suara sama sekali. Semua pekerja di bawah tidak bekerja sama sekali dan diam saat mendengar suara Syourejakin. Syourejakin yang berada di atas, jelas tidak tahu apa yang terjadi di bawah. Dia mulai bersuara manis menanyakan keadaan mereka.

Pekerja di bawah langsung tertawa mendengar suara ramah Syourejakin. Sudah seperti suara seorang ibu saja. Mereka tertawa. Sateunik sendiri sudah tampak sangat lemah, namun dia bertekad untuk dapat bertahan. Dia mungkin bisa keluar dan melihat laut. Dia ingin bisa mati di sana.
“Aku tak tahu kisahmu, tapi kau terseret sampai sini. Hei. Aku… Aku tak serius. Maafkan aku. Maaf,” ujar Badoru, meminta maaf.
Ipsaeng sedikit tersenyum. Dia kemudian bertanya pada Sateunik yang adalah suku Momo, apakah benar, suku Momo punya sirip? Dia dengar, suku Momo bahkan bisa bernapas di dalam air. Dia meminta Sateunik untuk menunjukkan siripnya.
Sateunik langsung menolak. Eunseom tersenyum kecil karena ternyata Sateunik bisa marah juga. Sateunik membalas kalau dia sudah di ambang maut, jadi tidak takut lagi. semua tertawa mendengar jawabannya. Tampak sangat bahagia.
“Kita seperti saudara di sini. Aku merasa sungguh hidup,” ujar Sateunik karena semua tampak sudah seperti Saram. “Jika Syoreujagin turun kemari sesuai rencana, dia akan menusukku pakai pedang, melihat apa aku masih hidup. Jadi, jika aku mati, tempatkan aku di paling depan.”
“Kau tak akan mati, Bodoh,” marah Dorabul. Dia bahkan memberikan air minum miliknya pada Sateunik agar bisa bertahan.
“Namun, jika aku mati… aku sungguh tak mau mati. Aku harus lihat laut untuk terakhir kali,” ujar Sateunik, sedih.
Semua kasihan dan mereka memutuskan untuk kembali mencari air untuk bertahan.
Sementara para budak di atas, jadi cemas. Bagaimana kalau semua yang ada di bawah sana sudah meninggal karena wabah? Syourejakin jadi tampak cemas. Seucheon yang mendengar jadi cemas juga, dan Syourejakin segera menyuruhnya untuk pulang saja. Dalsae sendiri juga cemas.
Syourejakin akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai besok siang saja.
--
Asa Mot sebagai istri Tagon, membantu memakaikan jubah Tagon.
“Aku akan mengubah pikiran Asa Ron Niruha. Di Sidang Keramat, bilang bahwa Taealha adalah Jiwa Gunung Puncak Putih. Taealha juga akan bilang, kau adalah Jiwa Gunung Puncak Putih. Asa Ron Niruha akan bertanya pada dewa dan salah satu akan disebut pembohong. Dewa akan mengatakan bahwa Taealha yang berbohong. Akan kupastikan itu terjadi. Hanya satu syaratnya. Saat rapat suku, umumkan bahwa kau akan minta Asa Ron Niruha memohon bimbingan para dewa untuk urusan serikat,” tawari Asa Mot.
Dan karena itu, Tagon jadi yakin kalau Asa Ron tidak tahu apapun mengenai Tanya.
--

Mihol bersama dengan Haetuak hendak pergi menemui Tagon. Dan mereka berpas-pasan dengan Asa Ron. Asa Ron hanya berbasa-basi sejenak sembari menanyakan kabar kalau dia dengan Mihol menangkap seorang budak. Mihol membenarkan dan berbohong kalau budak itu penting untuk membujuk putrinya. Setelah itu, Asa Ron langsung pergi.
Haetuak langsung menghela nafas lega. Dia kira Asa Ron sudah tahu tadi. Mihol langsung menyuruh Haetuak untuk tutup mulut.
--

Mereka menyerahkan surat dari Taealha. Dan Haetuka langsung dengan ceria berkata kalau surat itu memang benar di tulis Taealha, dan Taealha juga meminta agar Tagon percaya padanya. Dan karna itu, maka Tagon pun memberikan byeoldaya.
Begitu Mihol keluar, Gilseon masuk ke dalam.
“Kami dapat satu, tapi aku tak bisa menjamin apa pun,” lapor Gilseon.
“Baik. Kau boleh pergi.”

Setelah Gilseon pergi, Saya keluar dari persembunyiannya. Dia ada di sana dan mendengar semuanya dari tadi. Dan Tagon menyuruh Saya untuk melakukan rencananya tadi.
--
Yeobi bersama dengan Taealha menjaga Tanya. Taealha berteriak karena dia kan tadi minta air pembasuh, mana airnya? Yeobi menjawab akan segera tiba. Dan tidak lama, airnya pun tiba.

Sambil membasuh, Taealha bertanya apakah Tanya yakin bisa menemukan lonceng bintang dengan byeoldaya tersebut. Dan secara diam-diam, Taealha memberi tanda dengan matanya. Tanya bingung, apakah Taealha ingin mereka bertengkar.

Dan sepertinya benar, karena Taealha mulai bicara dengan emosi dan mereka pun mulai bertengkar. Yeobi jelas terkejut karena mereka berdua bertengkar apalagi Tanya menyerang Taealha. Yeobi segera menampar Tanya dan menegur Taealha agar lebih tenang. Saat itu, Taealha langsung melemparkan air mengenai wajah Yeobi dan api yang ada di sana sehingga menjadi gelap gulita. Dengan kesal, Yeobi berkata kalau dia akan mengambil api dulu.

Dan begitu api kembali menyala, Taealha dan Tanya menatap sengit. Entah apa yang terjadi selama kegelapan sesaat tadi.


No comments:

Post a Comment