Monday, July 22, 2019

Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 04 part 1

0 comments
Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 04 part 1
Images by : SBS
Semua karakter, tempat, perusahaan dan kejadian dalam drama ini hanyalah fiksi

Yo Han terdiam dan kemudian dengan suara yang agak lembut bertanya kembali, “Apakah tidak ada yang bisa kamu lakukan? Apakah tidak mungkin kamu bisa menyelamatkannya? Kecuali menghentikan rasa sakitnya? Itu alasanmu melakukannya? Kamu menghentikan rasa sakitnya? Jika tidak bisa menyembuhkan rasa sakit, kamu harus menghentikannya. Jika dokter diam saja, derita pasien tidak akan berhenti. Bahkan saat ini, pasien merasakan sakit. Park Jung Bo. Sekarang pun dia merasa kesakitan. Ayo. Pergilah dan sembuhkan dia,” nasehat Yo Han dengan lembut.

Ucapan Yo Han itu memberi kekuatan pada Si Young. Mungkin kata-kata itulah yang selama ini telah di tunggu oleh Si Young. Yo Han keluar dari sana, dan ekspresi wajahnya juga tampak seperti menahan tangis.
Di luar, diam-diam, dia menatap ke Si Young yang sudah bisa menghentikan tangisnya.
Dan bersamaan dengan hujan yang berhenti, Si Young pun mulai membuka kembali hatinya.
Tiba-tiba, petugas sipir masuk dengan panik dan memberitahu kalau Jung Bo menghilang dari
kamar rawatnya. Mereka meminta Si Young untuk segera kembali. Si Young segera keluar dan melihat Yo Han yang masih ada di sana.

“Itu pasti penyakit Fabry. Itu langka, tapi kadang biopsinya tidak menunjukkan tubuh zebra. Lakukan tes enzim sekali lagi,” yakinkan Yo Han.
--
Si Young tiba di rumah sakit. Dia berpas-pasan dengan dr. Lee bersama para suster dan sipri yang sedang berlarian panik. Si Young segera menanyakan apa yang terjadi. dr. Lee menjelaskan kalau mereka melepas borgol Jung Bo saat Jung Bo kejang, tapi kemudian Jung Bo menghilang saat penjaga pergi. 
Semua mulai berpencar untuk mencari.

Jung Bo ada di atap rumah sakit. Dia menatap ke arah langit. Tatapannya tampak kosong, seperti orang tidak sadarkan diri gitu. Dia berjalan dengan perlahan di pinggiran atap, yang jika dia salah selangkah saja, dia akan terjatuh ke bawah.
dr. Lee dan Si Young masih mencari Jung Bo. Dan saat itulah, Si Young melihat Jung Bo yang berjalan di pinggir atap rumah sakit. Dia dan dr. Lee segera berlari ke atas dengan kecepatan penuh. Mereka tiba di sana.

Jung Bo ada di sana. Entah apa yang dia lihat atau dia pikirkan kaerna matanya terus menatap ke atas. Dia merentangkan tangannya seolah meraih sesuatu. Dan dengan cepat. dr. lee menariknya turun.

“Aku mendengarnya. Aku mendengarnya,” ujar Jung Bo, panik. “Suara ibuku. Aku mendengar suara ibuku.” Dan usai mengatakan itu, Jung Bo pingsan.
--
Jung Bo sudah di bawa kembali ke kamar rawat. dr. Lee segera menarik Si Young dan bertanya apakah Jung Bo memiliki riwayat penyakit kejiwaan? Si Young menjawab tidak. dr. Lee bingung, kalau gitu, apa alasan Jung Bo ke atap? Kenapa tiba-tiba ingin bunuh diri?
“Bagaimana jika itu bukan percobaan bunuh diri? Katanya, dia mendengar suara ibunya. Bagaimana jika itu halusinasi pendengaran?” ujar Si Young.
“Halusinasi pendengaran?”
“Itu tidak biasa, tapi beberapa pasien Fabry menderita psikosis seperti…”
“Kamu sudah lupa? Itu bukan penyakit Fabry,” potong dr. Lee dengan emosi.
Si Young terdiam dan ingat perkataan Yo Han kalau Jung Bo pasti menderita penyakit Fabry dan menyuruh agar melakukan pemeriksaan enzim sekali lagi.
dr Lee segera memberi tanda agar Si Young di bawa keluar dari ruangan Jung Bo karena Si Young sudah tidak di perlukan lagi. Si Young hanya bisa menghela nafas panjang saat di bawa keluar.

Diluar, tidak sengaja dia mendengar pembicaraan Jeong Nam dengan seorang pria paruh baya. Pria itu adalah ayah Jung Bo.
“Aku muak mendengarnya berkata dia sakit. Aku menyuruhnya berhenti berpura-pura sakit. Istriku akhirnya meninggal sebelum berusia 40 tahun. Aku tidak bisa membiarkan putraku mati seperti itu. Aku akan menyembuhkannya,” tangsi pria itu dan beranjak pergi.
Setelah pria itu pergi, Si Young baru menghampiri Jeong Nam dan bertanya siapa pria itu? Jeong Nam memberitahu kalau itu adalah ayah Jung Bo.
“Apakah istrinya meninggal karena gejala yang sama?” tanya Si Young.
“Entahlah, tapi putrinya belum lama meninggal.”
“Putrinya? Bagaimana meninggalnya?”
“Gagal ginjal kronis?” jawab Jeong Nam, sedikit ragu. “Narapidana 5353 punya kakak yang juga sakit-sakitan. Ibunya meninggal pada usia 30-an dan kakaknya memiliki sejarah CKD.”
--
Dan informasi yang di dengarnya dari Jeong Nam tersebut, langsung Si Young sampaikan pada dr. Lee. Dengan riwayat keluarga itu, mungkin saja ibu Jung Bo menderita penyakit Fabry sehingga keturunannya memiliki peluang 50 persen untuk mewarisinya.   
“Bukankah ini alasan penyakit Fabry harus didiagnosis sejak dini? Itu bisa diobati, tapi banyak orang mati karena diagnosis yang terlambat. Andai dokter tahu penyakit mereka, ibu dan kakaknya tidak akan mati,” ujar Si Young.
“Apakah itu diagnosis yang pasti?” tanya dr. Lee balik.
“Jadi, untuk kali terakhir, bagaimana jika kita melakukan tes enzim?” pinta Si Young.
“Bagaimana jika dia kejang lagi saat kami melakukan tes dan menunggu hasilnya? Bagaimana jika tetap negatif? Lalu siapa yang bertanggung jawab? Tidak ada lagi yang bisa dilakukan di sini. Dia akan dipindahkan. Itu keinginan ayahnya dan aku akan menghormati itu. Yang terbaik adalah mengirimnya ke rumah sakit yang lebih besar,” ujar dr. Lee dan keluar ruangan.
Si Young mengejarnya, “Bagaimana jika kondisinya memburuk? Karena kita mencoret penyakit Fabry, setelah dipindahkan, mereka akan mulai tes dari awal. Bagaimana jika dia gagal ginjal dan harus dialisis selamanya?” tanya Si Young.
Dan pertanyaannya memancing emosi dr. Lee. Dia merasa keputusannya sudah tepat. Lagipula, Si Young hanyalah pekerja paruh waktu, tapi kenapa sangat terobsesi dengan hal ini? Kenapa Si Young bisa sangat berbeda dengan kemarin? Sudah lah, mereka sudah berusaha yang terbaik.
Si Young terdiam dan akhirnya membiarkan dr. Lee pergi. Jeong Nam menghampirinya dan memberitahu kalau dia sudah menghubungi kakak Jung Bo dan akan segera kemari. Si Young dengan lemas memberitahu kalau semua sudah terlambat karena Jung Bo akan di pindahkan.
“Tidak ada yang bisa ku lakukan sekarang,” sedih Si Young.
“Kamu sudah berusaha keras. Sejak semalam,” hibur Jeong Nam.
“Tidak,” ujar Si Young penuh penyesalan. Dia teringat saat kemarin Yo Han menyuruhnya agar segera mengirim Jung Bo ke rumah sakit besar, tapi dia malah mengabaikan Yo Han. “Andai aku mendengarkan. Andai aku mengirimnya ke rumah sakit.”

Saat itu, Jeong Nam mendapat telepon dari Yo Han. Dia memberitahu mengenai pemindahan Yo Han ke rumah sakit lain. Mendengar hal itu, Yo Han jadi ikut panik juga karena jika di pindahkan, mereka akan mulai dari awal lagi dan akan terlambat. Jeong Nam juga tidak tahu harus berbuat apa karena tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Yo Han mulai mengetuk-ngetukan jarinya lagi ke meja. Dia berpikir. Dan sesuatu terlihat di kepalanya. Dia melihat jam di dinding.
“Kamu punya obatnya,” ujar Yo Han, tiba-tiba.
“Obatnya? Si Young mendapatkannya kemarin.”
“Letakkan di kamarnya. Letakkan di samping ranjang. Aku akan ke sana,” perintah Yo Han dan mematikan telepon.
Jeong Nam panik karena Yo Han tidak menjelaskan apapun dan hanya memberi perintah. Si Young mendengar Jeong Nam yang memanggil-manggil napi 6238, jadi dia bertanya apa yang Yo Han katakan? Dan Jeong Nam memberitahu yang Yo Han katakan.
Seperti tahu apa yang di rencanakan Yo Han, Si Young langsung tersenyum. Dia memeluk Jeong Nam dan berterimakasih.
Kemudian, dia berlari menemui dr. Lee. Melihat Si Young, dr. Lee tampak kesal.
“Siapkan saja obat ERT itu. Rumah sakit tempat dia dipindahkan mungkin membutuhkannya. Butuh waktu lama untuk memperolehnya. Ini hanya untuk berjaga-jaga. Itu sebabnya kita berusaha keras untuk mendapatkannya,” ujar Si Young.
Dan untunglah, dr. Lee mau mendengarkan saran Si Young. Dia membawa obat ERT ke kamar rawat Jung Bo dan menyerahkannya kepada dokter di sana yang akan ikut memindahkan Jung Bo. Dia memberitahu kalau itu adalah obat ERT dan silahkan di bawa untuk berjaga-jaga jika di perlukan.
“Tidak. Dia harus disuntik sekarang,” ujar Si Young tiba-tiba. “Pasiennya mengidap penyakit Fabry.”
“Berapa kali harus kubilang dia tidak punya tubuh zebra?” kesal dr. Lee.
“Itu langka, tapi bergantung tempat jaringannya berasal, mungkin tidak ada tubuh zebra.”
“Kata siapa? Narapidana 6238?” dr. Lee mulai emosi. “Apa kamu gila? Kamu yakin itu penyakit Fabry karena dokter yang kehilangan lisensinya bilang begitu?” teriaknya. “Keluar. Keluar sekarang juga.”

Dan saat dia hendak menyeret Si Young keluar, di depan pintu kamar rawat Jung Bo, dia berpas-pasan untuk pertama kalinya dengan tahanan 6238, Cha Yo Han. Yo Han menatapnya dan bertanya apakah dia dr. Lee Yoo Joon yang sering di dengarnya? Yo Han memeprkenalkan dirinya juga, sebagai narapidana 6238.
Dan tanpa menjelaskan, dia menarik tangan Si Young dan membawanya kembali masuk. dr. Lee bertanya dengan heran kenapa Yo Han bisa kemari?
“Narapidana 6238. Mulai siang ini, dia orang yang bebas,” beritahu Jeong Nam.
Si Young dan dr. Lee tampak terkejut juga. Berarti Cha Yo Han, bukanlah lagi Narapidana. 

(Oh ya, judul drama-nya : Doctor John, John itu adalah Yo Han ya. Kalau di bahasa inggriskan, Yo Han di ubah jadi John. Kalau di artikan secara harafiah dari hangul, judulnya adalah : Doctor Yo Han)
“Beberapa tahun lalu, pasien datang ke RS Universitas Myeongwon ke bagian nefrologi. Setelah menderita albuminuria, kondisinya menurun drastis dan membutuhkan dialisis. Biopsi ginjalnya menunjukkan dia menderita FSGS. Itulah hasil diagnosis Jung Bo oleh Dokter Lee. Kakak pasien menawarkan ginjalnya, tapi tebak apa yang ditunjukkan oleh biopsinya? Tubuh zebra yang tebal dan jernih. Dia mengidap penyakit Fabry,” jelas Yo Han.
“Benarkah? - Lalu kenapa kakaknya…,” ujar dr. Lee.
“Tidak menunjukkan hal yang sama?” potong Yo Han, menebak lanjutan kalimat dr. Lee. “Bukan karena itu tidak terjadi. Tubuh zebranya ditutupi oleh banyak sel mati. Sama seperti kasus Jung Bo. Kamu tidak bisa memindahkannya sekarang. Selagi mereka melakukan diagnosis, kondisinya bisa memburuk tanpa bantuan. Dia harus dirawat di sini.”
“Perawatan dilakukan setelah diagnosis yang pasti,” tegas dr. Lee.
Mereka mulai beradu argumen. Dan dr. Lee masih terus bersikeras.
“Jika kamu menyertakan semua orang yang tidak bisa didiagnosis meski mengunjungi banyak rumah sakit, beralih ke pengobatan alternatif, kehabisan tabungan, dan mati, pasien Fabry lebih banyak daripada dugaanmu. Mereka bisa hidup seandainya didiagnosis, tapi banyak orang mati karena itu tidak terjadi,” jelas Yo Han.
dr. Lee tetap tidak mau mengizinkan Jung Bo di suntik dengan obat ERT karena obat itu sangat mahal dan diagnosis Jung Bo tidaklah pasti. Dia tidak mau mengambil resiko itu. Yo Han menegaskan kalau pasien-lah yang mengambil resiko tersebut. Yo Han bahkan memberitahu jika dr. Lee membanjiri Jung Bo dengan steroid, jika ginjalnya gagal dan tidak bsia menahan dialisis, siapa yang akan di salahkan?
“Beraninya kamu mengancamku?” marah dr. Lee, merasa Yo Han mengancamnya.
“Ini peringatan, bukan ancaman. Dari seluruh tubuh pasien.”
“Dia pasienku!” teriak dr. Lee. “Kamu mungkin profesor medis yang terkenal, tapi dia pasienku sekarang. Jadi, jangan ikut campur.”
“Kamu yakin itu bukan penyakit Fabry?” tanya Yo Han, balik. “Memang benar kamu dokternya. Tapi aku telah memantaunya selama setahun.”
“Di penjara,” ujar dr. Lee, terdengar menghina (ampun, ini dokter kok sombong amat. Aku bukan salahkan dia, karena dia hanya menjalankan prosedur, tapi gayanya tidak mau mendengarkan dan merasa dirinya hebat gitu). “Aku tidak sepertimu. Aku tidak akan mengambil risiko seperti itu.”

No comments:

Post a Comment