Thursday, August 15, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 13

5 comments

Numpang Iklan Sejenak, All 😊
Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.
 ------

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 13

Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Lan Mei begitu semangat saat melihat kalau yang menelpon adalah Tong Nian, dan tanpa mendengar suara Tong Nian, dia udah langsung tanya, apakah Tong Nian sudah ciu*an dengan Shangyan?
“Hallo, aku adalah Han Shangyan,” ujar Shangyan, memperkenalkan diri.
Mata Lan Mei langsung membesar, mendengar orang yang menelponnya menggunakan ponsel Tong Nian adalah Shangyan. Shangyan berkata kalau dia ingin meminta tolong. Entah apa yang di katakan Shangyan, karena Lan Mei menjawab tidak masalah dan kemudian mematikan ponselnya.
Suami Lan Mei yang lagi mandi, mendengar suara jeritan Lan Mei tadi, keluar dan bertanya, ada apa? Siapa yang menelpon?
“Idola mu,” jawab Lan Mei.
Suaminya langsung terkejut dan keluar dari kamar mandi. Dia sangat antusias mendengar yang menelpon adalah Shangyan dan bertanya apa yang Shangyan katakan? Lan Mei menjelaskan dari awal kalau Shangyan menggunakan ponsel Tong Nian untuk menelponnya. Dia bilang kalau Tong Nian mabuk dan ingin memintanya membawa Tong Nian pulang ke rumah.
“Aku rasa ya, dia takut jika membawa pulang Tong Nian sendiri, dia akan di ceramahi oleh orang tua Tong Nian,” akhiri Lan Mei.
Suami Lan Mei lebih bersemangat. Dia menyuruh agar Lan Mei segera bertukar baju dan bersiap, karena mereka akan segera berangkat.
--
Shangyan berusaha mengambil kalung-nya (milik ibu tiri-nya) yang di pegang oleh Tong Nian dan berhasil. Setelah itu, dia membereskan barang-barang Tong Nian kembali ke dalam tas, dan dia juga memasukkan kalung yang sudah di letakkannya dalam kotak kalung ke dalam tas Tong Nian.
Setelah itu, Shangyan menggendong Tong Nian keluar dari kamar menuju mobil.
--
Lan Mei dan suaminya sudah berada di depan rumah Tong Nian dan menunggu di dalam mobil. Lan Mei sudah sangat bosan karena Shangyan belum juga tiba. Suaminya saja sudah sampai ketiduran.

Untunglah, tidak lama kemudian, Shangyan tiba bersama Tong Nian yang masih belum sadarkan diri. Begitu melihat Shangyan, suami Lan Mei langsung menjabat tangan Shangyan dengan antusias dan memanggilnya “Gun God”. Shangyan menyuruhnya untuk memanggilnya, Han Shangyan, saja. Lan Mei dengan bersemangat memberitahu Shangyan kalau suaminya adalah fans garis keras Shangyan.
“Aku terlalu gugup hingga tidak tahu harus berkata apa,” ujar suami Lan Mei, antusias. “Tapi, kau harus percaya, masih ada banyak fans untuk team SOLO! Kalian adalah yang terbaik!”
“Terimakasih,” jawab Shangyan.
Suami Lan Mei meminta izin untuk berfoto dengan Shangyan, tapi Lan Mei langsung melarang-nya. Suami Lan Mei langsung teringat kalau Shangyan tidak suka di foto dan dia langsung meminta maaf.
“Walaupun kita tidak bisa berfoto bersama, aku masih ingin mengatakan hal ini : Han Shangyan, semangat! Entah masa lalu ataupun sekarang, kau selalu mempunyai kami para fans yang selalu mendukung mu dari belakang! Kami percaya kalau team K&K, suatu hari nanti akan memenangkan turnamen team dan mengibarkan bendera nasional kita! Ini mimpi-mu dan, sebagai fans-mu untuk bertahun-tahun lamanya, itu juga mimpiku. Kau harus semangat!” ujar suami Lan Mei serius dan memeluk Shangyan.

Melihat dukungan suami Lan Mei padanya, membuat Shangyan sedikit melembut. Dia mengizinkan suami Lan Mei untuk berfoto dengannya. Suami Lan Mei tentu tidak mau melewatkan kesempatan itu dan langsung mengeluarkan fotonya dan Lan Mei segera memotret mereka.
Setelah itu, Shangyan mengingatkan mereka untuk permintaannya. Shangyan membawa keluar Tong Nian dan menggendongnya hingga ke depan gang rumah Tong Nian. Sambil jalan, Lan Mei langsung tanya, apakah Shangyan memiliki perasaan pada Tong Nian?
“Sejujurnya, aku tidak mengenalnya cukup baik, kami hanya bertemu beberapa kali. Jika kau tanya apakah aku menyukainya dan aku menjawab ya, bukankah aku akan terlalu munafik. Menyukai atau tidak, dapat di tentukan nanti. Pelan-pelan saja. Ini bukanlah hal penting,” jawab Shangyan.
“Ini sangat penting,” ujar Lan Mei, dengan cepat.
“Segala hal punya waktunya. Cepat atau lambat perasaan akan datang,” jawab Shangyan ambigu.
Lan Mei bingung dengan maksud perkataan Shangyan. Apa artinya adalah hal yang di pikirkannya sekarang ini? Suaminya berkata kalau itu artinya Shangyan akan bertanggung jawab hingga akhir. Lan Mei sangat senang mendengarnya, karena itu artinya, Tong Nian masih memiliki kesempatan.
Setelah menggendong Tong Nian sampai ke depan pintu gerbang rumah, Shangyan mengajak mereka untuk bertukar akun WeChat agar jika ada apa-apa bisa di hubungi. Suami Lan Mei sangat senang karena bisa mendapatkan akun WeChat Shangyan.
“Hari ini, terimakasih,” ujar Shangyan dan memberikan Tong Nian pada Lan Mei.
Setelah itu, Shangyan langsung kembali ke mobilnya dan pergi.

Ibu Tong Nian keluar karena mendengar suara bel, dan dia sangat terkejut karena Tong Nian kembali dalam keadaan mabuk. Lan Mei segera meminta maaf. Lan Mei berbohong kalau tadi mereka melakukan pertemuan, dan seseorang menuangkan alkohol ke minuman Tong Nian. Tapi, tidak perlu khawatir, begitu bangun tidur, Tong Nian akan baik-baik saja. Untunglah ibu tidak marah pada Lan Mei.
--
Esok hari,
Shangyan mengumpulkan semua anggota dan membaca laporan-laporan yang telah di buat setiap anggota. Masalahnya, Shangyan tidak fokus dan terus teringat sikap agresif Tong Nian yang mabuk kemarin. Dan karena itu, dia hanya melihat sekilas laporan-laporan itu dan menyuruh semuanya untuk membuat ulang laporan.
Pas sudah keluar, Demo bicara dengan 97, membahas mengenai luka di dahi Shangyan. 97 menebak kalau Shangyan pasti menabrak dinding kemarin, dan itu pasti karena ‘kakak ipar’.

Wu Bai masuk ke dalam (dia tadi tidak ikut rapat di dalam) dan menghampiri Shangyan. Shangyan benar-benar tidak fokus untuk kerja hari ini. Wu Bai memberitahu Shangyan, kalau kemarin ibu tiri Shangyan menghubunginya karena ponsel Shangyan tidak aktif kemarin. Ibu tiri Shangyan menelpon untuk meminta kalung yang dia beli di titipkan pada kakek. Shangyan menghela nafas panjang dan meninggalkan Wu Bai.
Shangyan masuk ke dalam kamarnya. Dia terus menerus menghela nafas. Dia teringat saat kemarin Tong Nian mabuk, Tong Nian mengambil kalung itu, dan dia memberikannya. Shangyan akhirnya memutuskan menelpon ibu tirinya.  Dia berbohong kalau dia sudah menghilangkan kalung itu saat di bandara dan karena itu dia akan mengganti kalung tersebut.
“Aku tidak percaya padamu,” ujar ibu tirinya.
“Ngapain aku harus bohong padamu?”
“Kau anakku.”
“Kita tidak berhubungan darah.”
“Aku membesarkanmu seperti anakku sendiri!”
“Kenapa kau mengomel? Aku bilang aku akan membayarnya.”
Ibu tirinya tidak mengomel lagi dan bertanya kapan Shangyan akan membayar kalungnya yang hilang? Shangyan meminta waktu 3 hari.
--

Tong Nian terbangun dengan senyuman karena mengingat saat Shangyan mengelus kepalanya. Tapi, kemudian, dia menjadi ragu. Apakah itu kenyataan atau hanya mimpi? Apa yang terjadi kemari malam? Tong Nian tidak bisa mengingatnya karena mabuk.

Tong Nian kemudian membongkar tas-nya untuk mencari ponselnya. Dan dia menemukan kotak kalung tersebut. Dia membuka kotak itu dan terkejut melihat ada kalung yang indah di dalam sana. Dia teringat saat dia melihat kalung tersebut di tempat Shangyan, ketika mabuk.

Tong Nian memeriksa saku jaketnya dan menemukan memo dari Lan Mei agar menelponnya jika sudah sadar. Tong Nian benar-benar bingung dan langsung menelpon Lan Mei. Lan Mei langsung bercerita dengan bersemangat kalau suaminya sangat senang karena bisa bertemu dengan Shangyan dan bahkan berfoto bersama. Suaminya bahkan menyuruhnya untuk memperingati Tong Nian agar memperlakukan idolanya dengan baik dan jangan pernah selingkuh darinya!
“A-aku … apa yang ku lakukan kemarin?” tanya Tong Nian gugup, tidak dapat mengingat yang terjadi kemarin malam.
Lan Mei tidak menjelaskan malah memberitahu Tong Nian kalau dia kemarin bilang ke ibu Tong Niang kalau mereka minum bersama, dan Tong Nian mabuk. Jadi, dia dan suaminya membawa Tong Nian pulang. Setelah itu, Lan Mei mengomeli Tong Nian yang sangat memalukan kemarin, hanya minum 1 atau 2 kaleng bir malah sudah mabuk. Apa Tong Nian ada melakukan sesuatu saat mabuk kemarin?
Tong Nian tampaknya ingat. Dengan sedih, dia mematikan telepon. Dia memukul kepalanya. Dia merasa sangat malu.
Setelah itu, Tong Nian mengirim pesan permintaan maaf pada Shangyan karena kemarin dia sudah merepotkan Shangyan lagi. Tapi, pesannya tidak di balas oleh Shangyan. Hal itu membuat Tong Nian berpikiran negatif kalau Shangyan pasti takut dengannya dan tidak akan memaafkannya. Dan ini pasti adalah akhir dari harapannya.
--
Shangyan mengajak Wu Bai bicara berdua. Wu Bai jelas bingung. Apalagi, Tong Nian bertanya berapa banyak uang yang ada di kartu kreditnya termasuk dengan uang hadiah yang di dapatnya dari kompetisi di Norway tempo hari.
“50.000 yuan,” jawab Wu Bai.
“Pinjamkan aku dulu. Aku tidak punya cukup uang,” pinta Shangyan.
“Apa pendapatan klub sangat buruk?”
“Bukan untuk klub. Ini untukku pribadi.”

Wu Bai malah mengira kalau Shangyan ada meminjam uang dari rentenir. Shangyan dengan malu (tampaknya) menjelaskan kalau kalung ibu tirinya yang dia suruh belikan tempo hari, tanpa sengaja dia berikan pada Tong Nian. Wu Bai yang berpikiran simple, menyuruh Shangyan untuk meminta balik saja kalung itu. Shangyan jelas tidak mau, sudah di berikan, masa di minta balik?
“Cepat transfer uangnya padaku,” pinta Shangyan. “Oh ya, jangan bilang siapapun mengenai hal ini.”
“Baiklah.”
Setelah selesai membicarakan uang, Shangyan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia menghela nafas panjang. Dia terus teringat saat Tong Nian berkata kalau dia menyukai kalung itu dan memeluknya. Saat itu, Shangyan baru melihat pesan dari Tong Nian. Ada pesan baru lagi.
Maaf karna menganggumu lagi. Mari kita putus. Lagipula, semuanya palsu.
Shangyan menghela nafas panjang. Wajahnya tampak sedih karena di putuskan Tong Nian.
--
Tong Nian juga menangis sedih saat mengirim pesan itu. Dia teringat saat dia bertanya pada Shangyan (di malam tahun baru), kapan mereka akan putus? Dan Shangyan menjawab saat itu kalau Tong Nian saja yang memutuskan. Ketika Tong Nian sudah memutuskan kapan ingin putus, beritahu padanya.
Dan kini, dia sudah mengirim pesan, memutuskan untuk putus dari hubungan palsu dengan Shangyan. Dan saat itu, Shangyan mengirimnya pesan.
Shangyan : Apa kau sudah memikirkan ini baik-baik?
Tong Nian : Ya.
Shangyan : OK
Raut wajah Shangyan tampak sangat kecewa dan sedih. Dia sudah menyukai Tong Nian, dan tidak menyangka hubungan mereka harus berakhir, di saat dia mulai membuka hatinya untuk Tong Nian (ini pendapat pribadiku, melihat raut wajahnya).
Tong Nian menangis penuh kesedihan membaca balasan Shangyan.
Ibu bingung melihat wajah Tong Nian yang sedih. Dia menebak, apakah Tong Nian putus? Tong Nian mengangguk. Ibu segera mengajak Tong Nian ke ruang tamu untuk bicara. Ibu  juga memberitahu ayah kalau Tong Nian putus. Ibu dan ayah berusaha mengibur Tong Nian agar tidak terlalu sedih karena sudah putus. Dan karena ayah yang tampaknya malah tidak pandai menghibur, ibu menyuruhnya keluar, jadi dia bicara dengan Tong Nian berdua.
Ibu berkata kalau Shangyan juga tidak cocok untuk Tong Nian. Dia juga merasa Shangyan tidak memperlakukan Tong Nian sebagai pacar. Tong Nian tidak suka mendengar ibu yang menjelekkan Shangyan, jadi dia berkata tidak ingin membicarakan hal ini.
“Ibu beritahu ya, sebelum ibu bertemu ayahmu, ibu sudah pacaran beberapa kali. Setiap kali ibu putus, ibu seperti kamu, menangis hingga mata bengkak. Ibu berpikir kalau dunia sudah berakhir. Tapi, Nian Nian. Kau harus percaya pada ibu. Kau akau bertemu seseorang yang sangat mencintaimu. Orang itu, tidak akan membiarkanmu menangis.  Dan hanya akan membiarkanmu tertawa. Dan juga menyemangati apapun yang ingin kau lakukan. Seperti permata, dia akan memegangmu di tangannya,” nasehat ibu. “Aku akan selalu seperti saat kau masih kecil. Kami akan memegang tangamu selalu. Di saat tersulit dan terpahit di hidupmu. Ayah dan ibu akan selalu berada di sisimu.”
Tong Nian tampak masih sedih tapi juga sedikit terhibur dengan ucapan ibunya.
--
Perkuliahan sudah di mulai kembali,
Saat pulang, Zheng Hui sudah langsung menemui Tong Nian. Dia berkata agar Tong Nian tidak khawatir karena dia sudah menyiapkan laporan yang mereka perlukan untuk Public Security Bureau. Dia juga sudah memanggil taksi. Tapi, Tong Nian hanya diam dan tidak menanggapi apapun. Tong Nian bahkan langsung pergi ke toilet. Yaya langsung menyusul.

Tapi, saat Yaya keluar dari kamar mandi pun, Tong Nian masih belum keluar. Jadi, Yaya masuk lagi untuk memeriksa keadaan Tong Nian karena khawatir yang tidak keluar. Tong Nian keluar dari salah satu bilik dengan mata berkaca-kaca. Dia habis menangis. Dan jelas, Yaya jadi khawatir.
“Kau… kau putus?” kaget Yaya. “Aku baru saja putus, dan kau juga ikut putus? Beritahu aku siapa dia?”
“Kau tidak mengenalnya, dia bukan dari sekolah kita.”
“Setidaknya, ceritakan sedikit,” pinta Yaya.
Tapi, Tong Nian tidak mau bercerita. Dia malah mengajak Yaya untuk segera pergi.
--
Mereka sudah tiba di kantor polisi Bureau. Di depan kantor polisi, Tong Nian malah masih menangis, memikirkan Shangyan. Zheng Hui jelas bingung. Tong Nian berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Mereka kemudian masuk menemui petugas Wang. Tong Nian menjelaskan mengenai program yang telah mereka buat. Manfaat dan cara kerjanya. Zheng Hui tampak kagum melihat Tong Nian yang sangat lugas menjelaskan program software yang telah mereka buat. Petugas Wang juga kagum dengan mereka yang masih muda, tapi sudah mampu membuat sistem seperti itu.
Selesai dari sana, Tong Nian pamit pulang duluan. Zheng Hui semakin bingung dan bertanya pada Yaya, apa yang terjadi pada Tong Nian? Yaya malah menjawab kalau Zheng Hui tidak akan mengerti. Dan Yaya langsung menyusul Tong Nian.
--
Tong Nian dan Yaya makan di café. Tong Nian melampiaskan kesedihannya dengan banyak makan. Tapi, Yaya malah mengungkit dan membuat Tong Nian jadi teringat dan sedih lagi.
--
Tidak hanya Tong Nian yang sedih, Shangyan juga sedih. Cuma tidak di nampakkannya di wajah. Tapi, nampak saat kerja dia tidak fokus. Su Cheng sadar kalau Shangyan agak aneh belakangan ini.

Su Cheng membagikan hadiah dan surat dari para fans. Ada untuk Grunt, 97 dan One. Dan terakhir, surat untuk Shangyan. Shangyan bingung, dia dapat surat? Su Cheng baru menjelaskan kalau itu adalah surat dari Xiao Ai untuk Tong Nian. Dan Su Cheng ingin Shangyan menyampaikan surat itu pada Tong Nian. Shangyan sebenarnya keberatan, tapi dia tetap mengambil surat itu.
Han Shangyan, aku meminta Xiao Ai untuk mencarikan beberapa foto yang dapat memotivasi-mu. Meskipun, kita putus, aku tetap berharap kau bisa menjadi lebih berbahagia. Pesan dari Tong Nian untuk Shangyan.

Dan surat yang di berikan Su Cheng tadi, isinya adalah foto-foto kebersamaan Team SOLO dulu. Shangyan menghela nafas panjang melihat foto itu.

Tong Nian melihat kalung hadiah dari Shangyan (hehehe, sebenarnya, itu bukan hadiah juga sih. Tapi, di kasih karena Tong Nian bilang suka). Tong Nian memasukkan kotak kalung itu di laci lemari terbawahnya.


Shangyan benar-benar galau, euy. Pas pula, dia menemukan flashdisk milik Tong Nian yang tertinggal di tempatnya. Jadi, dia melihat isi flashdisk itu. Ada banyak foto-fotonya dari 10 tahun lalu di kompetisi dan foto terbaru. Shangyan sampai bertanya-tanya, bagaimana Tong Nian bisa mendapatkan banyak fotonya? Tidak hanya itu, di flashdisk itu, juga ada GIF kartun Shangyan dan Tong Nian, dimana kartun Shangyan mengucapkan : “Kau bilang suka padaku, bagaimana bisa kau tidak tahu kalau aku single dan tidak tertarik pada wanita?” (ini yang dia ucapkan saat kompetisi di Guangzhou).
Saat itu, 97 dan One masuk ke kamarnya. Mereka melapor kalau Demo dalam mood tidak baik. Mereka tidak bisa membujuknya. Eh, tapi, Shangyan tidak mendengar mereka. 97 dan One sadar kalau mood Shangyan juga tidak bagus, jadi mereka pamit keluar.
--

Shangyan ternyata mendengarkan laporan 97 dan One tadi. Dia masuk ke kamar dan menemui Demo. Demo benar-benar tidak dalam mood baik. Melihat Shangyan, dia memilih untuk berbaring.
“Kenapa menangis?” tanya Shangyan.
“Kau di sini, apa yang bisa ku tangisi? Aku tidak dalam mood melakukan itu.”
Shangyan dengan gaya cool, menyuruh Demo memberitahunya apa yang terjadi. Demo akhirnya memberitahu kalau ayah dan ibunya bercerai dan tidak ada satupun di antara mereka yang menginginkan dirinya.
“Kau sudah umur berapa? Apa hubungannya perceraian mereka denganmu?” komentar Shangyan.
“Itu berbeda. Hatiku terkait dengan mereka, apa kau tidak mengerti?” kesal Demo.
“Wow, kau jadi berani ya. Selesai menangis, kau bisa membalas perkataanku,” balas Shangyan.
Walau begitu, mereka mulai bicara agak santai. Demo melihat Shangyan yang makan permen, dan bisa tahu kalau mood Shangyan tidak bagus juga. Setiap kali Shangyan merasa tidak senang, Shangyan pasti akan mulai makan permen. Semuanya tahu akan hal itu.
Demo mulai berceramah. Kalau terlalu banyak makan permen, Shangyan bisa terkena diabetes. Dan jika terkena diabetes, nanti terkena komplikasi. Dan Demo bahkan menyebutkan satu persatu komplikasi yang bisa terjadi. Shangyan jadi kesal. Mood-nya sedang tidak baik, tapi dia tetap datang untuk bicara dengan Demo, eh sekarang malah Demo yang banyak bicara. Demo berkata kalau dia hanya mengkhawatirkan Shangyan.
“Ibuku meninggal terlalu cepat, tidak lama setelah aku lahir. Ayahku juga meninggal tidak lama kemudian karena sakit. Aku di besarkan oleh ibu tiriku sejak kecil. Jika kau membandingkan hal ini, apa kau merasa lebih baik?” ujar Shangyan, menghibur Demo.
Demo menganggukan kepala. Mungkin, tidak tahu kisah hidup Shangyan selama ini. Dan dengan berani, Demo meminta permen pada Shangyan. Dia melihat Shangyan yang tampak lebih baik setelah makan permen, jadi dia ingin mencobanya juga.
Dengan baiknya, Shangyan memberikan sebuah permen yang berbungkus warna kuning. Demo malah menolak. Dia malah bilang ingin permen bungkus hijau seperti yang di sukai kakak ipar (Tong Nian).
“Berhenti bermimpi,” ujar Shangyan, tidak jadi memberikan permen dan keluar dari kamar Demo.
Demo kesal karena tidak dapat perment, tapi setidaknya, perasaannya menjadi lebih baik setelah bicara dengan Shangyan.
--

Su Cheng dan Shangyan melakukan rapat untuk membahas jadwal kerja mereka. Saat membicarakan kerjaan, Shangyan tiba-tiba meminta Su Cheng untuk menggunakan cinta keibuan Su Cheng untuk bicara dengan Demo beberapa hari ini.
“Ada apa dengannya?”
“Orang tuanya bercerai dan tidak ada satupun yang menginginkannya. Dia masih seperti anak kecil, jadinya ber-drama. Jangan sampai hal itu mempengaruhi turnamen.”
“Baiklah.”
--
Shangyan pulang ke rumah. Masuk rumah saja, dia sudah seperti maling. Penuh kehati-hatian agar tidak bertemu kakek. Eh, sial, ilmu dalam kakek lebih kuat hingga bisa tahu kalau Shangyan pulang! Kkkkk

---------
Numpang Iklan Sejenak, All 😊

Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.


5 comments:

  1. Yey!!! Yabg ditunggu"muncul :D

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. noted ini setuju pake banget : Raut wajah Shangyan tampak sangat kecewa dan sedih. Dia sudah menyukai Tong Nian, dan tidak menyangka hubungan mereka harus berakhir, di saat dia mulai membuka hatinya untuk Tong Nian (ini pendapat pribadiku, melihat raut wajahnya). --> aku liat ya merasa gene ..

    ReplyDelete