Thursday, August 15, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 14

4 comments

Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.

-------- 

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 14

Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Kakek menanyakan mengenai kalung milik ibu tiri, ternyata itu adalah kalung yang kakek minta belikan. Dengan santai, Shangyan menjawab kalau dia sudah menghilangkannya. Kakek langsung mengomelinya. Kalung itu dia hendak berikan pada ibu tiri Shangyan karena ibu tiri Shangyan akan segera menikah dan meninggalkan mereka. Jika, Shangyan tidak bisa menjaga kalung itu saja, bagaimana bisa Shangyan menghadapi ibu tiri yang sudah menjaga Shangyan selama ini?
“Aku tidak bohong. Aku sungguh menghilangkannya,” ujar Shangyan.
Kakek tampaknya ragu dan bahkan menduga kalau Shangyan menjual kalung itu karena klub kekurangan uang. Shangyan menegaskan tidak. Walau klub mereka kurang uang, tapi divisi lain masih menghasilkan dan bisa menutupi biaya mereka.
“Han Shangyan, kalau kau butuh uang, katakan saja pada kakek.”
“Sudah umur berapa aku hingga aku harus mencuri uang tante?!” marah Shangyan. “Kakek kira aku apa?”
Kakek akhirnya bilang kalau dia hanya khawatir pada Shangyan. Shangyan dengan lebih lembut berkata kalau dia akan mengembalikan semua uang kalung itu pada ibu tirinya dan tidak akan kurang sedikitpun. Usai mengatakan itu, Shangyan naik ke atas. Kakek sendiri, menghela panjang nafasnya.
--
Begitu masuk ke dalam kamar, Shangyan langsung mengirim uang kepada ibu tirinya, Han Jiajia. Uang yang di transfer sebesar 950.000 yuan. Dan karena itu, sisa uang di rekening Shangyan hanyalah 207 yuan. Shangyan menghela nafas panjang melihat sisa uang di rekeningnya. Tapi, setidaknya masalah selesai.
Shangyan kemudian memutuskan untuk membuka aplikasi NetEase. Dan dia melihat status yang Tong Nian buat : Hati seperti rollercoaster. Selain daripada naik dan jatuh, itu juga berputar. Terkadang terburu-buru jatuh ke bawah.

Untuk melampiaskan kegalau-annya, Shangyan memasak banyak sekali hidangan. Kakek sampai heran dan mengira akan ada tamu. Tapi, Shangyan menjawab tidak. Dan tidak hanya itu, Shangyan menolak untuk makan karena tidak ada selera. Jadi, yang makan hanyalah kakek dan Wu Bai.
--
Tong Nian bertemu dengan Lan Mei. Lan Mei yang ngajak ketemu karena hari inii, sponsor dari turnament CTF akan membuka perekrutan untuk menyanyikan lagu tema turnament CTF. Tong Nian benar-benar lupa akan hal itu. Lan Mei menunjukkan lagu tema-nya dan kemudian memberitahu juga kalau Han Shangyan akan menjadi pembicara CTF juga. dan karena berita itu, followers Shangyan meningkat pesat.
Mendengar Lan Mei yang terus menerus membahas mengenai Shangyan, Tong Nian menjadi tidak enak dan meminta agar tidak menyebut Shangyan lagi. Dia dan Shangyan telah putus. Lan Mei kaget dan bertanya alasan Tong Nian putus? Di malam Tong Nian mabuk itu, dia sempat bertanya pada Shangyan, dan jawaban Shangyan kalau perasaan bisa datang secara perlahan.
“Apa kalian tidak bisa baikan lagi?” tanya Lan Mei.
“Aku yang memintanya. Dan dia bilang okay.”
“Kau yang minta putus? Astaga. Kau kan jelas-jelas menyukainya, kenapa malah mau putus? Bukankah kau jadi menderita hanya karena harga dirimu?”
Tong Nian meminta agar Lan Mei tidak membicarakan Shangyan lagi. Lan Mei mengerti dan tidak akan membahasnya lagi. Toh sudah putus juga. Yang penting Tong Nian makan dulu karena mereka masih harus pergi.
--

Tong Nian dan Lan Mei tiba di gedung NetEase untuk ikut serta dalam audisi menyanyikan lagu tema. Saat mereka sedang mengisi daftar tamu, mereka berjumpa dengan Solo yang ternyata menjadi salah satu juri. Melihat Tong Nian, Solo segera mengucapkan rasa terimakasih karena tempo hari, Tong Nian sudah menghabiskan waktu bersama dengan Xiao Ai. Dan Xiao Ai sangat senang hari itu. Tong Nian tersenyum dan berkata untuk tidak sungkan karena dia juga senang hari itu.

Audisi akhirnya di mulai. Direktur Xiang memperkenalkan diri sebagai sponsor acara ini dan dia menjelaskan mengenai audisi kali ini adalah untuk menyanyikan lagu tema CTF. Dia juga menjelaskan penilaian hari ini dan nantinya akan di pilih 2 orang untuk bernyanyi 2 part lagu.
Sebelum penilaian, para kontestan di beri kesempatan untuk latihan bernyanyi terlebih dahulu.
Direktur Xiang ternyata belum memulai karena masih menunggu 1 orang juri. Tapi, karena juri itu belum datang juga, dia memutuskan agar audisi di mulai saja dulu. Semua orang sudah di sini, dan mereka tidak bisa menunda lebih lama lagi.
Satu persatu kontestan maju dan memperkenalkan diri serta alasan mereka ingin menyanyikan lagu tema ini. Semua melakukan yang terbaik. Kontestan terakhir adalah Tong Nian.
“Aku, Tong Nian. Aku sangat suka bernyanyi. Aku suka bernyanyi untuk orang yang ku sukai. Aku juga berharap setelah dia mendengar lagu ini, dia bisa merasa senang dan bahagia. Aku merasa lagu adalah cara terbaik untuk menyampaikan perasaan. Aku akan meletakkan perasaanku ke dalam caraku bernyanyi. Jika dia tidak menyukaiku, aku merasa tidak ada gunanya memaksa. Tapi, setidaknya, aku ingin mencobanya. Jika aku tidak berusaha dan bernyanyi untuknya, dia mungkin tidak akan pernah tahu bahwa aku menyukainya,” ujar Tong Nian.
Dan pas sekali, Shangyan datang. Ternyata, Shangyan adalah juri yang di tunggu dir. Xiang tadi. Shangyan meminta maaf karena sudah terlambat. Dan karna itu, dia hanya akan duduk dan mengobservasi tanpa memberikan penilaian apapun.

Saat itu, Tong Nian dan Shangyan baru saling sadar kalau mereka berjumpa lagi. Mereka sama-sama terkejut. Tong Nian tampak jelas ingin menghidari tatapan Shangyan. Tapi, Shangyan malah meminta Tong Nian untuk menyanyikan lagu “Little Donkey.”
Tong Nian mulai menyanyikan lagu tersebut. Dan sambil menyanyi, dia mulai mengingat setiap pertemuannya dengan Shangyan sejak pertama kali, di internet café. Lagu itu mengenai seseorang yang mempunyai seekor keledai yang tidak pernah di naikinya. Suatu hari, orang itu mulai memikirkan kalau dia menaiki keledai itu untuk ke pasar. Dan tidak tahu kenapa, dia malah terjatuh dan menjadi kotor.
“Boleh aku bertanya, perasaan apa yang ingin kau ekpresikan melalui lagu ini?” tanya salah seorang juri.
Tong Nian mulai menjelaskan kalau dia berimajinasi kalau keledai kecil itu adalah kekasihnya. Dan keledai kecilnya sekarang telah hilang. Tong Nian berusaha keras agar tidak menangis, dan Shangyan juga tampak sedih.
Rapat para juri mulai di lakukan untuk menentukan siapa yang akan terpilih. Direktur Xiang menanyakan pendapat dari Shangyan. Shangyan hanya menjawab kalau mereka harus berhati-hati dalam memilih karna ini adalah penyanyi untuk lagu tema. Dan dari diskusi para juri, tampaknya para juri menyukai suara Tong Nian dalam bernyanyi yang lebih hidup dan ceria.
Direktur Xiang tiba-tiba saja berkata kalau nanti Shangyan harus bisa berhubungan baik dengan Tong Nian untuk mempromosikan lagu tema ini. Shangyan menolak karena dia tidak pernah setuju menjadi ambassador lagu tema. Dia datang kemari untuk menjadi juri karena hubungannya dengan direktur Xiang. Dia minta maaf datang terlambat hari ini karena salah satu anggota teamnya terlibat dalam kecelakaan mobil. Jadi, tadi dia pergi ke rumah sakit dulu untuk memastikan kalau luka-nya tidak serius baru datang kemari. Dan karena sudah selesai, dia pamit pulang duluan.

Tong Nian dan Lan Mei ternyata menunggu Shangyan keluar. Shangyan sadar kalau Tong Nian memperhatikannya, tapi, dia berpura-pura tidak melihat Tong Nian dan terus saja berjalan keluar gedung. Tong Nian menjadi semakin sedih karena mengira Shangyan sudah tidak peduli lagi padanya.
--
Diretkur Xiang dan Solo mengantar Tong Nian dan Lan Mei keluar gedung. dir. Xiang juga memberikan selamat karena Tong Nian dan Lan Mei terpilih menjadi penyanyi lagu tema. Rekaman akan di mulai sabtu minggu depan jam 3 sore. Dan saat rekaman lagu nanti, dia akan meminta Solo atau Shangyan untuk memeriksa mereka.
Tidak di sangka, Shangyan ternyata masih ada di depan gedung dan di dalam mobilnya. Dia memperhatikan Tong Nian yang baru keluar dari dalam gedung.
Lan Mei merasa kalau sikap antara Shangyan dan Solo sangat berbanding terbalik. Dan sejujurnya saja, setiap kali dia melihat Han Shangyan, dia sangat takut. Tong Nian langsung berkata kalau Shangyan bukan orang seperti itu (menyeramkan). Tong Nian masih berharap kalau minggu depan Shangyan akan datang, jadi dia bisa melihat Shangyan.
Dan saat itu, mereka melihat mobil Shangyan yang melintas. Tong Nian jelas kaget.
--

Sabtu depannya,
Tong Nian datang untuk melakukan rekaman. Dia berusaha yang terbaik untuk menyanyi, tapi produser lagu tidak menyukai cara Tong Nian bernyanyi. Dia merasa tidak ada perasaan di dalam cara Tong Nian bernyanyi. Untung ada Lan Mei, jadi dia berkata pada produser, meminta waktu untuk istirahat sebentar.

Setelah istirahat sebentar, mereka mulai melakukan rekaman ulang. Produser melihat kalau Tong Nian sedikit berbeda hari ini karena seperti kehilangan percaya diri. Lan Mei menawarkan diri untuk menemani Tong Nian bernyanyi. Tong Nian sebenarnya, menanti Shangyan untuk datang melihatnya bernyanyi. Dan dia sangat sedih, karena Shangyan tidak juga datang.
Di luar ruangan, Shangyan datang. Dia mendengar dari luar Tong Nian yang sedang bernyanyi.
Shang yan melihat ada mesin penjual minuman. Dan karena itu, Shangyan ingin membeli minuman untuk Tong Nian. Tapi, mesin itu tidak menerima uang kertas. Jadilah, Shangyan menemui resepsionis dan meminta menukar uang kertas-nya menjadi uang logam. Dia ingin menukar uang 100 yuan-nya. Dan karena itu, resepsionis-nya mulai menelpon semua karyawan yang ada di gedung itu untuk mengumpulkan koin untuk di tukar menjadi uang kertas.
Dengan uang koin sebanyak itu (segenggam tangan), Shangyan membelikan banyak minuman.

Solo tiba dan masuk ke dalam ruang rekaman. Dia tampak menyukai cara Tong Nian bernyanyi. Produser lagu juga suka. Resepsionis saat itu datang membawakan botol-botol minuman. Awalnya, Lan Mei mengira yang membelikan minuman itu adalah dir. Xiang atau Solo. Tapi, resepsionis memberitahu kalau yang membeli adalah pria tampan yang datang dan menukar uang 100 yuan dengan 100 koin untuk membeli semua minuman itu. Masalahnya, dia tidak tahu siapa pria itu.
Lan Mei melihat kalau di salah satu botol, di tutup bagian atasnya ada tulisan : “Tetap Semangat!”. Dan bahkan sengaja di tulis di botol yang label-nya ada tulisan “Pengakuan” (kayak permen kiss, kan di belakang-nya ada kata-kata). Tong Nian tampaknya tahu siapa pria itu, jadi Tong Nian segera berlari keluar.
Di dalam, dir. Xiang juga tahu kalau yang datang adalah Shangyan. Dia kesal karena Shangyan masih belum berubah, datang dan pergi sesukanya saja. Dan dia kemudian memberitahu Solo, kalau dia menyukai Tong Nian yang seperti tipe-nya. Apakah Tong Nian sudah punya pacar? Kalau belum, dia ingin mengejar Tong Nian.
“Sebaiknya, kau menyerah saja,” saran Solo.
“Kenapa? Apa dia sudah ada yang punya?”
“Aku mengingatkanmu sebagai teman. Kau tidak akan pernah bisa mengejar gadis itu. Menyerah saja! Selamatkan hidupmu,” nasehati Solo. Wkwkwk, dia nggak kasih tahu kalau Tong Nian adalah milik Shangyan.
Tong Nian sampai keluar jalan, tapi Shangyan sudah tidak ada.

Dan kita di perlihatkan adegan saat Shangyan memang menggunakan semua koin tersebut untuk membeli minuman untuk Tong Nian. Dan bahkan menuliskan “Tetap Semangat!” di salah satu tutup botol.
--

Shangyan pulang ke klub dan terus menerus naik turun tangga. 97 yang ada di kamar sampai keluar dan mengintip. Saat tahu kalau yang naik turun tangga adalah Shangyan, 97 langsung protes. Dia mengira ada sesuatu (maksudnya hantu). Shangyan ngebalas kalau 97 saja yang terlalu sensitif.
--

Esok pagi,
Shangyan telat bangun hingga harus di bangunkan oleh bibi Zhou. Ternyata, Shangyan terkena demam. Bibi Zhao khawatir. Tapi, Shangyan lebih khawatir jika bibi Zhao tertular jadi dia menyuruh bibi Zhao untuk keluar dulu dan tidak usah membersihkan kamarnya. Bibi Zhao akan keluar tapi untuk membuatkan air bawang putih untuk Shangyan minum agar bisa sembuh. Dia tidak takut sakit.
--
Shangyan ke bawah dan wajahnya tampak murung. Para anggota jadi takut dan pada kabur dengan alasan latihan. Hanya, Wu Bai yang tidak kabur. Tapi, saat Shangyan memanggil namanya, Wu Bai langsung berkata kalau dia tidak punya uang lagi. hahahah.
“Eh, kenapa kau seperti ini? kita kan saudara,” protes Shangyan.
“Walaupun kau adalah ayah kandungku sekalipun, aku tidak punya uang untuk di pinjamkan padamu lagi.”
“Aku memanggilmu bukan untuk itu,” kesal Shangyan. “Kau pergi ke universitas Jiaodong dan bawa mobilku kembali.”
“Kenapa kau memarkir mobilmu di sana?”
“Oh Yya, bawa uang cash ya. Bantu aku untuk isi bensin-nya,” ujar Shangyan dengan sangat lembut.
Wajah Wu Bai langsung kesal, merasa sudah di manfaatkan. Setelah Wu Bai pergi, Shangyan menatap tajam pada Su Cheng. Su Cheng sampai takut juga.
“Bukankah kau bilang sebelumnya kalau setiap bulan aku mendapatkan tunjangan?”
“Bukankah kau bilang kau tidak mau,” ingatkan Su cheng.
“Beritahu aku dulu, apa saja tunjangan yang ku dapat?”
“Tidak banyak. Setiap bulan ada tunjangan makan sebesar 1000 yuan dan tunjangan mobil sebesar 2000 yuan. Berdasarkan standar-ku, bukankah itu cukup?”
“Hm,” jawab Shangyan.
Su Cheng langsung menginterogasinya. Kemana semua uang Shangyan? Sebagai seorang boss, apa Shangyan benar-benar kehabisan uang hingga begini? Shangyan akhirnya memberitahu kalau dia menghilangkan kalung antik ibu tirinya dan dia menggunakan semua uang simpanannya untuk mengganti rugi. Dia bahkan meminjam uang dari Wu Bai, tapi masih belum cukup. Dan karena itu, dia mau mulai bulan ini, tunjangannya di transfer ke kartu-nya. Su Cheng mengerti, dan bahkan menanyakan, apakah dia harus memberikan angpao juga? Shangyan tersenyum, setuju.
--
Wu Bai selesai menjemput mobil Shangyan. Dan dia berpas-pasan dengan bibi Zhao yang sedang membersihkan ruangan. Bibi Zhao menyuruh Wu Bai untuk memeriksa Shangyan yang terkena demam. Wu Bai baru tahu.

Wu Bai menemui Shangyan dan heran karena biasanya Shangyan jarang sakit. Apa ini karena Shangyan putus? Shangyan kesal mendengarnya. Wu Bai malah membahas mengenai Shangyan yang menyetir hingga ke univ. Jiaodong hingga habis bensin. Shangyan tidak membahas itu dan malah berkata kalau dia tidak akan pulang malam ini ke rumah. Jika dia pulang, dia harus mendengarkan ceramahan kakek, dan itu bisa membuatnya mati.
“Kakek bilang, jika kau tidak pulang melihatnya, dia akan datang dan tinggal di klub,” beritahu Wu Bai.
--
Dan terpaksa, akhirnya, walau sakit, Shangyan pun tetap pulang ke rumah. Dia menyuruh Wu Bai yang menyetir mobil. Kayaknya karena sakit, Shangyan jadi nggak bisa mikir. Dia malah nanya apakah Wu Bai sudah mengisi bensin mobilnya atau belum? Wu Bai menjawab kalau dia nggak isi bensin, gimana caranya dia membawa pulang mobil ini dari univ. Jiaodong tadi.
“Apakah saat ini aku terlihat seperti orang yang putus cinta?” tanya Shangyan.
“Ya.”
--
Tong Nian datang untuk rekaman lagi. Dia sudah bersemangat karena saat bertanya pada resepsionis, resepsionis bilang kalau hari ini semua datang. Eh, tapi saat Tong Nian masuk, Shangyan tidak ada. Tong Nian jelas kecewa. Lan Mei berusaha menghiburnya.
Caranya? Dia bertanya kepada dir. Xiang, kenapa Han Shangyan hari ini tidak datang?  Dir. Xiang menjawab kalau Shangyan itu orang sibuk dan mungkin sekarang sedang mempersiapkan kompetisi klub.

Dir. Xiang yang melihat Tong Nian, malah langsung duduk di sebelah Tong Nian. Untunglah ada Lan Mei yang sigap. Dia segera duduk di antara mereka sehingga dir. Xiang tidak bisa mendekati Tong Nian. Lan Mei malah membahas mengenai Shangyan. dir. Xiang mengira Lan Mei menyukai Shangyan. Lan Mei segera menjelaskan kalau dia sudah menikah dan suaminya fans Shangyan. Sementara Tong Nian, Tong Nian berkata kalau dia masih single.
Dir. Xiang malah terus menggosip. Dia memberitahu kalau dari sumber dalam K&K, ada berita kalau Shangyan sudah punya pacar. Mendengar hal itu, Tong Nian jadi sedih. Lan Mei juga sedih. Mereka mengira kalau Shangyan sudah punya pacar baru padahal baru saja putus (sepertinya, yang di maksud sebagai pacar Shangyan adalah Tong Nian, tapi mereka semua malah salah paham, mengira itu orang lain).
Karena salah paham itu, hati Tong Nian benar-benar patah.
--
Kakek di rumah sedang menonton berita bersama Wu Bai di ruang tamu. Kebetulan sekali, berita itu mewawancarai petugas polisi Wang dan membahas mengenai universitas Jiaodong. Kakek ingat kalau itu adalah universitas Tong Nian. Dan dia jadi kepikiran, Tong Nian sudah lama tidak datang menemuinya. Apa ada masalah?
“Aku tidak tahu.”
“Xiao Bai, kau dari kecil tidak pernah berbohong. Kasih tahu kakek, ada apa?”
“Tanya saja sama kak Shangyan.”
“Aku tanya padamu!” marah kakek.
“Aku rasa… ada sedikit masalah. Tapi untuk jelasnya, tanya saja sama kak Shangyan dengan jelas,” jawab Wu Bai dan langsung kabur ke kamarnya.
Eh, sial sekali, Shangyan malah keluar kamar dan ke dapur. Kakek jelas langsung mengampirinya. Dia memastikan dulu kalau Shangyan sudah tidak sakit, baru kemudian dia menyuruh Shangyan menjemput Tong Nian ke kampus. Hari ini adalah hari ulang tahun Tong Nian!
Shangyan sok tidak peduli, tapi kakek terus menceramahinya. Dia terus mengikuti dan mengganggu Shangyan
“Han Shangyan, kakek benar-benar menyukai gadis ini, Tong Nian. Dia manis dan bertata krama. Dia juga pintar!  Beberapa saat yang lalu juga ada berita mengenai universitasnya. Coba bilang, bagian mana darinya yang tidak layak untukmu?”
“Aku yang tidak layak untuknya. Oke?”
“Baguslah kalau kau sadar akan hal itu,” benarkan kakek. Hahaha. “Untuk seseorang jatuh cinta padamu adalah hal yang sulit. Dan ada gadis baik yang jatuh cinta padamu bahkan lebih sulit! Jadi, apa kau akan menjemputnya?”
“Tidak.”
“Kau tidak mau mendengarkanku lagi?!”
“Dia masih sekolah. Pulang pergi setiap hari, apa boleh?”
“Hari ini hari Minggu! Pergi,” ujar kakek. “Jika kau tidak pergi, kakek tidak mau makan hari ini!” ancam kakek.  “Besok juga tidak makan!”
Karena tidak berhasil, kakek pura-pura sakit dada. Hahaaha. Karena tidak mempan juga, kakek jadi marah-marah. Eh, terlihatlah Wu Bai yang melihat dari atas. Shangyan langsung memarahinya karena yakin Wu Bai pasti sudah bilang sesuatu. Wu Bai membantah.
“Okay. Aku akan pergi menjemputnya. Tapi, dengan syarat, dia harus ikut denganku!” ujar Shangyan dan menunjuk Wu Bai.
--

Tong Nian tidak fokus dan terus teringat dir. Xiang yang bilang kalau Shangyan sudah punya pacar. Tong Nian kebetulan bertugas mengawasi yang lain belajar (seperti asdos gitu). Zheng Hui memanggil Tong Nian keluar kelas dan mengajaknya untuk keluar sebentar. Dan karena itu, Tong Nian pamit pada yang lain untuk pulang duluan.
-----------------------
Numpang Iklan Sejenak, All 😊
Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.


4 comments: