Thursday, August 22, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 17 part 2

5 comments

Numpang Iklan Sejenak, All 😊
Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 17 part 2

Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Zhou Shan memesan banyak sekali makanan hingga membuat Tong Nian sedikit sungkan. Tapi, Zhou Shan berkata tidak masalah. Saat Tong Nian mulai makan, Zhou Shan malah tidak makan dan hanya melihat Tong Nian. Tong Nian langsung berkata kalau dia merasa sangat tidak nyaman karena Zhou Shan menatapnya seperti itu. Dia juga malu makan sendiri, bukankah Zhou Shan harusnya makan juga? Apa ada yang Zhou Shan ingin tanyakan?
Dan mulailah Zhou Shan menunjukkan maksud aslinya. Dia bertanya, apakah Tong Nian adalah pacar Shangyan? Tong Nian membenarkan. Keluarga mereka juga sudah bertemu dan makan bersama saat malam tahun baru. Zhou Shan yang awalnya tersenyum langsung cemberut. Dia masih tidak menyerah dan berkata kalau makan malah itu bukanlah hal istimewa. Dan juga Tong Nian itu masih terlalu muda, masih belum paham akan segalanya. Orang seperti Shangyan, tidaklah cocok untuk Tong Nian.

Wajah Tong Nian juga berubah. Dia tahu kalau Zhou Shan berusaha membuatnya tidak suka pada Shangyan. Zhou Shan tidak sadar dan malah membahas masa lalu. Ketika Shangyan baru saja bergabung dengan CTF, dia telah menjadi fans Shangyan. Saat itu, dia juga tidak belum terlalu mengerti mengenai CFT, tapi kakaknya menyukai coding, dan karena itu dia belajar dengan kakaknya. Dan akhirnya, dia masuk ke dalam dunia CTF. Kemudian, dia mulai memperhatikan Shangyan dan dia sangat menyukai Shangyan. Tiba-tiba, Shangyan keluar dari team. Dan apa Tong Nian tahu, dia mengambil karir itu semua adalah karna Shangyan!
Tong Nian berpura-pura polos dengan berkata kalau dia sudah tahu karena Ai Qing sudah bilang padanya, Shangyan mempunyai banyak sekali fans. Jadi, dia bisa mengerti perasaan Zhou Shan pada Shangyan!
“Aku bukan hanya sekedar fans!” marah Zhou Shan. “Jika aku menyukainya lebih awal, dia pasti tidak akan meninggalkan team saat itu. Dan dengan kemampuanku, dalam waktu kurang dari 3 tahun, dia akan menjadi peringkat pertama di dunia, kebanggan China.”

Tong Nian mengabaikannya dan terus makan. Zhou Shan tidak menyerah dan malah membahas umur Tong Nian yang pasti berbeda sangat jauh dengan Shangyan. Apa Tong Nian sudah lulus kuliah? Dengan bangga, Tong Nian berkata kalau dia tinggal menunggu wisuda tahun ini. Zhou Shan kaget karna tidak menyangka kalau Tong Nian sudah cukup berumur (umur Tong Nian sebenarnya 19 tahun, tapi karena Tong Nian bilang mau lulus tahun ini, Zhou Shan jadi beranggapan kalau Tong Nian sudah berumur di atas 20 tahun). Tong Nian dalam hatinya berkata kalau dia tidak akan memberitahu Zhou Shan kalau dia melompat beberapa kelas. Emang apa salahnya kalau masih muda? Dasar wanita tua!
“Seorang pria yang sukses selalu memiliki wanita penting di belakangnya,” ujar Zhou Shan.
“Aku tahu. Aku sangat mengerti mengenai Shangyan dan mendukungnya, kau tidak perlu khawatir.”
Saat itu, Shangyan sudah tiba. Tapi, mereka berdua tidak sadar akan kedatangan Shangyan.
“Itu masih belum cukup. Karir seorang pria yang sangatlah penting bagi mereka. Seorang wanita yang dapat membantunya untuk sukses dalam karir adalah orang yang pada akhirnya akan ada di sisinya. Tapi, wanita muda dan cantik yang mengganggu karir-nya… hanyalah seperti kapal-kapal yang mengambang di air tapi tidak berlangsung lama.”
Tong Nian kesal mendengarnya. Dia segera berpura-pura kalau ada banyak lalat yang berterbangan dan berisik sekali. Sangat mengganggu!
Shangyan yang melihat dari belakang, tersenyum. Sementara Zhou Shan merasa kesal. Dia sadar kalau yang di maksud lalat oleh Tong Nian adalah dirinya.
“Jadi, apa tujuanmu memberitahuku semua ini?” tanya Tong Nian, to the point.
 “Tidak ada maksud apapun. Hanya saja, aku melihatmu masih mudah, dan takut kalau kau akan terluka. Kau mungkin tidak akan bisa mengerti orang seperti Shangyan. Dia tidak cocok untukmu.”
Shangyan pun tidak tahan lagi. Dia segera duduk di samping Tong Nian dan menatap Tong Nian. Kalau bukan Tong Nian yang cocok dengannya, siapa lagi? Tong Nian dan Zhou Shan kaget dengan kedatangan tiba-tiba Shangyan.
“Darimana kau tahu aku di sini?” tanya Tong Nian.
“Jika aku mau tahu, aku akan langsung tahu saja.”
Zhou Shan ini benar-benar tidak bisa melihat sikon. Masih berpura-pura ramah dengan mengajak Shangyan untuk makan bersama. Setelah itu, dia beralasan kalau membawa Tong Nian kemari karena Shangyan sangat sibuk, jadi dia mengajak Tong Nian jalan kemari. Tempat ini adalah tempat terkenal di Sanya.
Shangyan mengabaikan Zhou Shan. Dia hanya fokus pada Tong Nian. Dia juga menarik kursi Tong Nian, jadi posisi duduk Tong Nian menghadap padanya. Dan tidak hanya itu, dia memberitahu Tong Nian kalau kakeknya menelpon dan bilang rindu pada Tong Nian.
Zhou Shan benar-benar di abaikan. Merasa di abaikan, Zhou Shan berusaha mengalihkan perhatian mereka dengan berkata kalau dia pergi duluan ya. Tak di sangka olehnya, Tong Nian dan Shangyan tidak melirik sama sekali padanya dan menyuruhnya untuk langsung pergi saja. Dengan menahan rasa malu, Zhou Shan pergi dari sana.
Setelah Zhou Shan pergi, barulah Shangyan memberitahu kalau kakek tidak menelpon. Dia tadi berbohong agar Zhou Shan kesal dan Tong Nian senang. Tong Nian memang senang sih. Shangyan bertanya, apa saja yang Zhou Shan katakan tadi?
“Dia bilang kalau dia adalah fans-mu. Apa kau mengenalnya dulu?” tanya Tong Nian.
“Dia hanyalah fans fanatik yang ingin masuk ke dalam dunia CTF.”
“Dia bilang kalau dia bergabung dalam dunia CTF sudah lama. Sangat hebat. Tidak sepertiku.”
“Apa gunanya hebat, jika aku tidak menyukainya kan?”
Tong Nian tersenyum senang mendengar ucapan Shangyan itu. Dan dia baru sadar kalau baju dan rambut Shangyan basah. Apa yang terjadi?  Shangyan hanya menjawab kalau tadi mendadak hujan.
“Lalu, kenapa kau tidak pakai payung?”
“Aku khawatir dan datang terburu-buru,” jawab Shangyan.
Tong Nian tersentuh. Mereka mulai makan. Shangyan memuji makanan di restoran tersebuh yang enak. Walaupun Zhou Shan bukan orang baik, tapi selera makanannya bagus juga. Tong Nian tertawa dan memberitahu kalau saat Zhou Shan bicara tadi, dia biarkan saja dan sibuk makan.
--
Shangyan dan Tong Nian sudah balik ke hotel dan memutuskan untuk berjalan di pinggir pantai.
Di tempat yang sama, Su Cheng bertemu dengan Solo. Dia membahas mengenai Solo yang pasti ingin memulai hidup baru dan memiliki anak, akan membuat Solo tidak bisa menikah. Solo menjawab dengan tegas kalau dia tidak berencana menikah. Dia sudah merasa cukup memiliki Xiao Ai.
“Solo, aku benar-benar merindukan putriku.”
“Dia juga putriku!” balas Solo dengan suara keras.
Suara Solo terdengar oleh Shangyan dan Tong Nian yang melintas. Tanpa sengaja, mereka melihat perdebatan Su Cheng dan Solo. Tong Nian jelas bingun dan bertanya pada Shangyan, ada apa di antara mereka? Shangyan lanjut jalan, menjauh dari sana dan Tong Nian mengikuti langkah Shangyan.
Su Cheng tahu kalau Solo marah dan tersinggung atas perkataannya. Dia memberitahu kalau Solo adalah cinta pertamanya. Orang yang paling pertama di cintainya dan dia tidak menyesali hal itu. Jika Solo menikah lagi, dia tidak akan mengganggu. Karena dia begitu mencintai Solo setelah putus, karena itu dia melahirkan Xiao Ai.
“Apa yang terjadi di masa lalu, biar menjadi masa lalu. Tidak ada yang harus di ungkit lagi,” ujar Solo.
“Solo. Aku ingin putriku. Berikan aku kesempatan. Ingatlah aku yang mengandungnya selama 9 bulan. Berikan aku kesempatan,” pinta Su Cheng, menangis. “Kau tahu kalau ada banyak hal yang tidak bisa kau campuri kan? Katakan saja, aku ingat ketika aku lulus SD, itu adalah kali pertamaku mengalami menstruasi. Aku sangat takut. Dan ibuku lah yang mengajariku. Jika kau menyuruhku memberitahu ayahku, aku tidak akan melakukannya. Ini hanyalah contoh hal kecilnya dan masih ada banyak lagi. Wanita mempunyai banyak hal masalah di tubuh dan yang tidak bisa mereka bicarakan.”
“Kau sudah selesai bicara?” potong Solo. “Biarkan aku memikirkannya sendiri.”
--
Solo menjadi sangat bimbang dan galau. Apa yang di katakan oleh Su Cheng ada benarnya. Xiaomi yang melihat Solo sangat gelisah, menghampirinya dan bertanya ada apa? Solo berkata tidak ada dan malah balik bertanya pada Xiaomi ada apa? Xiaomi memberitahu kalau Shangyan mencarinya tadi. Shangyan ingin dia bergabung dengan K&K.
“Apa jawabanmu?”
“Bergabung dengan K&K di saat penting seperti ini, bukankah rasanya seperti kabur? Kau tahu kalau aku bukan orang yang suka kabur. Meskipun aku merasa ragu atas banyak masalah, tapi…”
“Tapi apa? Kita saudara. Aku mengerti maksudmu!”
“Bahkan jika aku ragu, aku juga harus tetap menerima kenyataan. Aku harus bekerja lebih keras. Jika nilaiku meningkah, aku akan memberimu jawaban ku.”
--
Shangyan dan Tong Nian berdiri di depan akuarium melihat lumba-lumba putih.
“Aku belum tanya padamu. Apa yang terjadi dengan orang tua Xiao Ai? Aku merasa kasihan pada Xiao Ai.”
“Mereka adalah cinta pertama masing-masing, tapi mereka kemudian putus.”
“Lalu, Xiao Ai adalah…”
“Lahir setelah mereka putus. Jadi, Solo tidak tahu mengenainya.”
“Solo tidak mencari Xiao Ai?”
Shangyan mulai bercerita. Memberitahu masa lalu Solo dan Su Cheng. Saat itu, Su Cheng tidak memberitahu Solo kalau dia hamil. Tapi, kemudian, Su Cheng tidak bisa membesarkan Xiao Ai dan mencari Solo. Jadi, mereka menikah secara kertas (tidak ada perayaan apapun, hanya langsung datang ke KUA dan mendaftarkan pernikahan), dan mendapatkan akta lahir Xiao Ai dan kemudian bercerai.  Sejak itu, Solo membesarkan Xiao Ai seorang diri.
“Lalu, Xiao Ai…”
“Kau masih anak-anak, berhenti ingin tahu masalah orang lain,” potong Shangyan, sebelum Tong Nian bertanya lagi. Tong Nian mengerti dan tidak bertanya lagi.
Shangyan mengeluarkan obat dari kantongnya dan memakannya. Tong Nian yang melihat, jadi merasa khawatir, ada apa? Shangyan menjawab kalau dia hanya bekerja terlalu keras hingga kepalanya mejadi pusing. Tong Nian khawatir dan mengajak Shangyan untuk kembali ke kamar dan beristirahat.
“Tidak apa-apa. Tidak mudah mencari waktu untuk bersama denganmu. Mari kita jalan-jalan sedikit lagi.”

Tong Nian tersenyum senang. Mereka pergi ke tempat lumba-lumba dan menghabiskan waktu dengan bermain bersama lumba-lumba.
--
Di Shanghai,
 Yaya merasa penasaran. Dia yakin kalau Tong Nian ke Sanya untuk bertemu dengan pacarnya. Karena itu, dia mengirim pesan untuk Tong Nian.
--

Tong Nian ada di kamar Shangyan, melihat akuarium yang ada di dalam kamar. Shangyan sampai ketiduran dalam posisi duduk karena kelelahan.

Saat itu, sms dari Yaya masuk ke ponsel Tong Nian. Tong Nian segera menjauh dari Shangyan agar bunyi sms ponselnya tidak membangunkan Shangyan. Tong Nian membalas pesan dari Yaya, kalau ya dia pergi bersama pacarnya ke Sanya.
Yaya dan Chunchun (teman sekamar asrama) kaget karena tebakan Yaya ternyata benar. Yaya dengan cemas dan khawatir mulai menasehati Tong Nian untuk tidur di kamar terpisah dengan ‘pacar’-nya itu.
Shangyan terbangun dan melihat Tong Nian yang sedang sibuk bersama ponselnya. Dia menyuruh Tong Nian untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Tong Nian dengan khawatir, bertanya, apakah Shangyan masih merasa pusing? Shangyan menggelengkan kepala. Dia lebih khawatir karena besok akan sibuk seharian, apa tidak masalah jika Tong Nain sendiria?
“Tidak apa-apa. Tidak masalah. Kalau gitu, kau istirahat dulu ya,” ujar Tong Nian dan beranjak keluar kamar Shangyan.

Tapi, Shangyan menahan tangan Tong Nian. Dia memberikan kartu cadangan kamarnya pada Shangyan. Tapi, Tong Nian jangan diam-diam menyelinap ke kamarnya saat dia tidur ya. Tong Nian jelas malu mendengarnya. Setelah menerima kartu Shangyan, Tong Nian kembali ke kamarnya.
--

Esok hari,
Walau sedang sibuk mengawasi latihan, Shangyan tetap memperhatikan ponselnya, melihat GPS dimana posisi Tong Nian. Tapi, posisi Tong Nian tidak beranjak sama sekali. Merasa khawatir dan penasaran, Shangyan bertanya pada 97, menurutnya apa yang di lakukan seorang anak di Sanya yang tidak meninggalkan kamar hotel sepanjang hari?
“Anak kecil apaan? Ini pasti tentang ‘kakak ipar’ kan?” tebak 97.
“Jawab saja pertanyaanku, ngerti.”
“Main games?” tebak 97.
“Dia tidak bisa main game.”
“Tidur?”
“Dari kemarin malam hingga hari ini?”
“Dia nggak sakit kan?”
Mendengar itu, Shangyan malah mau mukul 97. 97 mah juga bingung apa alasan Tong Nian nggak keluar kamar. Dia menyuruh Shangyan untuk memeriksa saja, karena mereka kan juga sudah mau selesai latihan. Pergi saja, jangan mengkhawatirkan mereka. Dan Shangyan langsung pergi.
--
Tong Nian ada di dalam kamarnya dan sibuk dengan komputernya.
Shangyan ada di depan kamar Tong Nian. Tapi, dia malah galau mau ngetuk pintu kamar atau nggak. Pada akhirnya, dia malah balik pergi.

Shangyan kembali ke kamarnya. Dan dari telepon yang ada di kamar, Shangyan menelpon ke kamar Tong Nian. Dia pura-pura tidak tahu Tong Nian ada di kamar seharian, dan beralasan menelpon hanya untuk tahu apakah Tong Nian sudah balik ke kamar atau belum. Tong Nian balik tanya, cepat sekali Shangyan sudah kembali ke kamar. Shangyan berbohong kalau tidak ada banyak hal di pelatihan, jadi dia kembali.
“Karena kau sudah selesai, aku akan menemuimu,” ujar Tong Nian.
“Okay. Aku akan menemanimu jalan-jalan.”

Dan dua-duanya bahagia mau bertemu. Shangyan yang biasa sok jaim saja, langsung bersorak girang dan merapikan rambutnya. Tong Nian juga sibuk merias diri sebelum ke tempat Shangyan.
--
Mereka sudah bertemu dan keliling hotel bersama. Dan hanya berdua saja, mereka sudah bisa merasa bahagia dan bersenang-senang dengan melihat-lihat ikan.
“Apa yang kau lakukan hari ini?” tanya Shangyan.
“Aku tidak kemana-mana hari ini dan hanya di kamar hotel. Aku membuatkan hadiah untukmu.”
“Hadiah?”
“Hadiah karena kita pacaran,” jawab Tong Nian malu.
Mendengar itu, Shangyan jadi ingin menyiapkan hadiah juga. Tong Nian melarangnya dan berkata kalau Shangyan tidak perlu memberikannya apapun. Tong Nian memberitahu kalau dia menyiapkan hadiah istimewa dan dia tidak bisa memberitahu Shangyan sekarang.
Shangyan tersenyum senang mendengarnya. Tong Nian kemudian bertanya rencana Shangyan di malam hari? Shangyan menjawab kalau pagi-siang hari, dia sibuk dengan yang terjadi di China. Di malam hari, dia sibuk mengurus masalah di pusat. Tong Nian langsung kecewa. Untung Shangyan cukup sadar akan hal itu dan mengajak Tong Nian untuk mengunjungi internet café dimana teamnya berlatih. Tong Nian langsung kembali bersemangat.
--
Hari sudah semakin larut dan Shangyan masih saja bekerja di resto hotel. Wu Bai yang tanpa sengaja melihatnya, segera menghampiri Shangyan dan mengajaknya berbincang. Apa Shangyan sudah bicara dengan Xiaomi? Apa Shangyan benar-benar ingin mendaftarkan Team Dua? Peringkat Xiaomi sekarang ini…
“Kita bisa berhenti membicarakan topik ini,” ujar Shangyan. “Dia tidak ingin bergabung dengan team kita. Dia menolak penawaranku.”
 Wu Bai kemudian bertanya dengan serius, untuk pertandingan final, siapa yang Shangyan harapkan untuk menang? Team mereka K&K atau team SP? Hanya ada satu pemenang dan semua orang menginginkan hal itu! Dia berharap segala keputusan Shangyan di putuskan dengan melihat peringkat team mereka, bukan karena persahabatan di masa lalu.
“Sejak kapan kau mulai memberikan nasihat padaku? Juga, kau masih belum mengenalku dengan baik?” balas Shangyan “Pergilah tidur.”
Wu Bai menurut dan langsung pergi.
--
Esok hari,
Pagi-pagi, K&K sudah melakukan lari pagi di pantai. Tong Nian yang melihat hal itu, bertanya pada Shangyan, apakah mereka melakukan hal itu setiap hari? Shangyan mengiyakan. Tong Nian penasaran, dan bertanya apakah di masa lalu, Shangyan juga begitu?
“Dulu, kami bukanlah profesional. Kami latihan siang malam. Sakit perut dan kurang tidur, sudah biasa kami rasakan,” jawab Shangyan.
“Pantas saja. Ketika aku muda, aku tidak suka kelas olahraga. Aku merasa itu sangat melelahkan jadi aku menghindarinya. Dan kemudian tubuhku tidak begitu sehat. Kemudian, aku menyadari kalau olahraga adalah hal yang sangat penting. Lihat, bukankah aku sangat sehat? Juga, aku dulu pendek, tapi setelah olahraga, aku tubuh lebih tinggi sedikit.”
Shangyan tersenyum mendengar cerita Tong Nian.
Selesai lari pagi, pelatihan mereka di lanjutkan dengan berlatih CTF. Tong Nian juga ada di sana dan memperhatikan latihan mereka.




5 comments: