Saturday, August 31, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 22 part 2

0 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 22 part 2
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Malam hari, di hotel Norway,
Ny. Han berada di kamar Shangyan. Shangyan mengusirnya, menyuruh Ny. Han untuk pulang karna hari sudah malam. Dengan santai, Ny. Han berkata kalau dia sudah menyewa kamar di sebelah kamar Shangyan. Shangyan tersenyum kecil, padahal ada rumah, kenapa nginap di hotel? Ny. Han menjawab kalau dia kan hanya sedang bersama keluarga dimana Shangyan adalah keluarganya. Dan juga, dia sudah menyuruh suaminya untuk menjemputnya ke pesta pernikahan dari hotel ini.
Ny. Han kemudian menjadi sentimental, mengingat saat-saat dia membesarkan Shangyan. Dan karena itu, dia ingin tahu bagaimana wajah ‘gadis’ yang Shangyan sukai. Apa Shangyan nggak ada fotonya? Aiyo, sangat sedih rasanya tidak bisa tahu wajah gadis yang anakku sukai.
Shangyan tiba-tiba saja bangkit dan pergi keluar.
--

Setelah puas di kamar Shangyan, akhirnya ny. Han kembali ke kamarnya. Saat dia membuka pintu kamarnya, dia menemukan ada sebuah kertas di bawah lantai yang di selipkan di bawah pintu. Itu adalah gambar wajah Tong Nian. Shangyan yang menggambarnya.
Ny. Han tersenyum senang karena Shangyan membuat gambar itu untuknya.
Shangyan datang ke kamarnya. Alasannya, dia hanya ingin memastikan kalau ny. Han melihat gambarnya. Gambarnya tidak begitu bagus, jadi dia tidak tahu apakah Ny. Han bisa membayangkan gadis yang di sukainya.
Ny. Han tersenyum melihat gambar itu. Dia bisa melihat dengan jelas kalau dari gambar itu, gadis itu pasti mempunyai senyuman yang kecil. Dan gadis itu adalah gadis baik dengan hati yang penuh kepedulian. Ny. Han memuji Shangyan yang mempunyai selera bagus.
Shangyan tersenyum mendengarnya. Tapi, dia juga minta maaf karena besok dia tidak bisa datang ke pesta pernikahan Ny. Han. Dia hanya bisa mengikuti pemberkatan nikah dan kemudian harus segera kembali. Ada teman akrabnya yang akan bertanding, jadi dia harus datang untuk mendukung.
Ny. Han mengerti.

Dan tidak lama, ny. Han menyelipkan fotonya bersama Shangyan saat masih kecil ke bawah pintu kamar Shangyan. Di balik foto itu, tertulis pesan Ny. Han : Tidak peduli berapa kalipun kau gagal, ibu akan  menjadi pendukungmu. Payung yang melindungimu, dan penyemangatmu. Anakku Yan Yan, aku akan selalu mencintaimu.
Shangyan tersenyum lebar membaca pesan itu.
--
Esok hari, di Shanghai,
Pagi-pagi, Tong Nian sudah mendapat telepon dari satpam kampus Jiaotong yang memberitahu kalau ada seorang gadis kecil yang datang mencari kakaknya. Gadis itu menggunakan jeans, sepatu kain dan membawa tas hitam serta mengenakan topi. Gadis itu bilang namanya, Xiao Ai. Apa Tong Nian mengenalnya?
“Aku kenal padanya. Tolong minta dia untuk menunggu sebentar. Aku akan segera menjemputnya. Terimakasih,” ujar Tong Nian.
Tong Nian mengajak Yaya untuk ikut dengannya.

Tong Nian tiba di gerbang kampus. Dia memberitahu kalau dia orang yang tadi di telepon dan meminta maaf juga karena sudah merepotkan. Satpam mengerti dan meminta melihat ID Card Tong Nian agar bisa membawa Xiao Ai masuk ke dalam.
Tong Nian mencoba bicara pada Xiao Ai. Apa Xiao Ai datang mencarinya? Xiao Ai diam tidak menjawab. Tong Nian segera mengetik di ponselnya, bertanya apakah Xiao Ai datang sendirian? Apa keluarga Xiao Ai tahu? Melihat itu, Xiao Ai menunjukkan alat bantu dengarnya, dia memakainya. Tong Nian mengajak Xiao Ai untuk ikut ke asramanya saja untuk bicara.
Yaya sendiri masih tidak tahu siapa Xiao Ai.
--

Xiao Ai masuk duluan ke dalam kamar asrama. Tong Nian mau masuk juga, tapi Yaya mengajak Tong Nian bicara di luar sebentar. Apa anak itu, benar-benar adalah putri Solo? Tong Nian membenarkan. Tapi, dia tidak bisa menjelaskannya jalan. Dia harus bicara dengan Xiao Ai dulu agar mau pulang.
Yaya masih penasaran. Apa telinga…
Belum Yaya bertanya, Tong Nian langsung menjelaskan kalau Xiao Ai memakai alat bantu dengar, jadi Xiao Ai bisa mendengar apa yang mereka katakan. Tadi Xiao Ai tidak menjawab pertanyaannya, itu artinya Xiao Ai mengabaikan mereka.
Di dalam, Xiao Ai hanya terus menatap ponselnya. Yaya ngerti kalau Xiao Ai pasti ingin berdua saja dengan Tong Nian, jadi Yaya pura-pura keluar untuk membeli makanan untuk Xiao Ai.

Saat Yaya sudah keluar, Xiao Ai baru mau bicara. Tong Nian bertanya, kenapa Xiao Ai tidak memberitahunya terlebih dahulu kalau mau datang? Kan Xiao Ai punya akun WeChat-nya. Xiao Ai dengan ragu menjawab kalau dia merasa tidak senang, makanya datang mencari Tong Nian. Jika dia bilang terlebih dahulu mau datang, Tong Nian pasti tidak akan mengizinkannya datang.
“Kenapa kau datang mencariku?”
“Aku ingin kau membantuku.”
“Kau butuh bantuanku?”
“Han Shangyan adalah boss ibuku. Kau buat Han Shangyan mengirim ibuku pergi.”
“Kenapa? Kau tidak ingin melihat ibumu?”
“Aku sudah melihatnya. Sudah cukup. Aku berharap dia segera pergi,” jawab Xiao Ai tanpa merasa ragu sedikitpun. “Kehadirannya mempengaruhi hidup ayahku.”
Tong Nian bingung. Ayah dan ibu Xiao Ai kan sudah bercerai. Apa Xiao Ai mengira Su Cheng ingin kembali bersama dengan Solo? Xiao Ai berteriak memberitahu kalau Su Cheng ingin membawanya pergi dan itu adalah hal yang sangat mempengaruhi hidup mereka. Tong Nian memberitahu kalau Shangyan tidak punya kekuasaan seperti yang Xiao Ai pikirkan.

Xiao Ai malah memanasi. Menyebut kalau Tong Nian tidak bisa menguasai Shangyan. Dia juga mengejek Shangyan yang mempunyai temperamen buruk. Ayahnya, Solo, jauh lebih baik daripada Shangyan. Ayahnya juga jauh lebih tampan dari Han Shangyan. Apa Tong Nian tidak sebaiknya mempertimbangkan ayahnya juga?
Tong Nian menolak dengan tegas. Lagipula, Shangyan jauh lebih tampan. Apa mata Xiao Ai sudah rusak? Xiao Ai tidak terima dan berkata mata Tong Nian yang sudah rusak. Mereka jadi malah berdebat.
--

Dan setelah beberapa waktu, Xiao Ai malah sudah menonton di laptop sambil mengenakan headphone.
Yaya juga akhirnya kembali bersama Chunchun dengan membawa banyak makanan untuk Xiao Ai. Xiao Ai mengabaikannya dan malah fokus menonton saja. Walau kesal, Yaya mencoba untuk bersabar.
Yaya menarik Tong Nian keluar untuk bicara. Sementara Chunchun menemani Xiao Ai. Yaya bertanya apa rencana Tong Nian selanjutnya? Tong Nian juga tidak tahu. Dia menelpon Shangyan, tapi tidak di angkat. Yaya menyimpulkan dari yang terlihat, sepertinya, Xiao Ai bertengkar dengan Solo. Tong Nian memberi saran agar Yaya menelpon Xiaomi dan menyuruh Xiaomi meminta Solo untuk datang menjemput Xiao Ai.
Yaya menolak saran Tong Nian. Xiao Ai itu lagi memberontak, jadi mereka tidak boleh bertindak sembrono. Tapi, mereka tetap harus memberitahu Solo kalau putrinya ada di sini. Dan Yaya kemudian terpikirkan sesuatu, besok kan pertandingan team SP, jadi jika mereka bisa mendapat tiket masuk untuk Xiao Ai, mereka bisa membawa Xiao Ai ke sana. Dan setelah kompetisi, Xiao Ai bisa langsung bertemu dengan Solo dan biar mereka bisa berbaikan. Malam ini, biarkan saja Xiao Ai menginap di asrama mereka. Tong Nian setuju dengan rencana Yaya.
--
Yaya pun segera menghubungi Xiaomi dan memberitahu mengenai Xiao Ai yang ada di asrama mereka. Pas sekali, Solo baru datang. Dia juga sedang panik mencari Xiao Ai. Xiaomi segera memberiakn teleponnya, agar Solo bicara dengan Tong Nian.

Tong Nian menyuruh Solo untuk tidak khawatir karena Solo ada bersamanya. Dia akan membawa Xiao Ai besok ke arena kompetisi dan menyerahkan Xiao Ai pada Solo. Jadi, biarkan Xiao Ai menginap di asramanya.
Solo lega. Dia berterimakasih atas bantuan Tong Nian.
--
Malam hari,
Xiao Ai tidur di ranjang Tong Nian. Sebelum tidur, dia bertanya, apa yang Tong Nian sukai dari Shangyan padahal temperamen Shangyan buruk.
“Tidak ada yang tidak ku sukai darinya. Aku suka semua tentangnya,” jawab Tong Nian.
Eh, Xiao Ai malah terus menyuruh Tong Nian untuk mempertimbangkan ayahnya. Yaya yang mendengar saja kaget. Dan lagi-lagi, Tong Nian menolak karena dia tidak menyukai Solo. Yaya ikut nimbrung, dan bertanya apa Xiao Ai tidak mempertimbangkan kalau Solo mungkin saja suka pada wanita dengan kemampuan bermain game?
Dan karena pertanyaan Yaya itu, Xiao Ai langsung lari ke ranjang Yaya. Dan mereka jadi menggoda Yaya yang suka pada Xiaomi.
--

Entah kenapa, malam ini Ou Qiang tidak bisa tidur. Dia menemui Xiaomi yang sedang berada di ruang latihan. Mereka bicara dari hati ke hati. Ou Qiang merasa tidak tenang di dalam hatinya, mengenai Xiaomi yang menurut rumor akan di pindahkan ke team dua.
Xiaomi seperti biasa tersenyum, seolah tidak masalah dengan hal itu.
“Ada yang ingin ku katakan. Dulu, kita berlima adalah yang terkuat,” ujar Xiaomi dengan serius, secara tiba-tiba. “Tapi, aku tidak pernah menyangka kalau sekarang akulah yang terburuk!” teriak Xiaomi, frustasi. “Ini adalah hal paling memalukan di dunia! Aku kasih tahu, jika aku di pindahkan, hal itu tidak masalah! Setidaknya, tidak akan ada orang-orang yang bergossip kalau aku bergantung pada Solo!”
“Hal gila apa yang kau katakan?! Jika kau bilang hal seperti itu lagi, aku akan marah padamu! Kami semua tidak pernah meragukan kemampuanmu!”
Bro, tolong bantu aku. Besok, semangati aku. Aku harus menang.”
“Tidak masalah. Aku ada di sini. Aku akan membantumu. Kita pasti akan menang!”
“Kita akan menang besok! Biar orang-orang tahu kalau orang dari Team SOLO bukanlah sampah!” tekad Xiaomi.
Ou Qiang tersenyum. Itulah tekad yang harusnya Xiaomi miliki.
--
Babak perdelapan final Regional China

Sesuai rencana, Yaya dan Tong Nian membawa Xiao Ai ke arena pertandingan. Dan Ai Qing yang datang memberikan tiket masuk untuk Xiao Ai.  Yaya yang baru pertama kali bertemu langsung dengan Ai Qing, merasa sangat bersemangat dan senang.
Tong Nian kemudian bertanya pada Ai Qing, apakah Shangyan akan datang hari ini? Dimana Shangyan akan duduk? Di kursi belakang atau depan?
“Dia tidak datang hari ini. Apa dia tidak memberitahumu?” tanya Ai Qing balik.
“Aku tahu dia keluar negeri. Aku hanya bertanya saja.”
“Dia mungkin sibuk. Hari ini adalah pertandingan team kami. Team K&K tidak ada pertandingan hari ini.”
Setelah itu Ai Qing pamit untuk pergi duluan.
Setelah Ai Qing pergi, Xiao Ai kembali membanggakan ayahnya pada Tong Nian. Ayahnya adalah kapten team terbaik.
--
Shangyan sudah tiba di bandara. Dia menelpon supirnya agar segera menjemputnya karena dia akan ke arena pertandingan.


No comments:

Post a Comment