Tuesday, August 6, 2019

Sinopsis C-Drama : My Classmate From Far Far Away Episode 08-2

3 comments

Sinopsis C-Drama : My Classmate From Far Far Away Episode 08-2

Images by : iQiyi

Hai Lan dalam perjalanan pulang usai melakukan latihan gym. Dan secara sekilas, dia melihat sosok wanita yang mirip dengan ibunya. Tanpa pikir panjang, Hai Lan langsung berlari mencari sosok wanita tersebut, tapi sosok tersebut telah menghilang.
--

Hari ini, Momo di minta untuk bekerja lembur menjaga tempat gym karena yang biasanya berjaga sedang sakit. A Gui bertanya, apakah Momo sudah memberitahu orang tuanya akan bekerja lembur? Momo menjawab kalau orang tuanya sedang kerja keluar kota dan di rumah hanya ada abangnya, yang akan mendengarkan perkataannya.
A Gui berterimakasih karena Momo sudah bersedia untuk menjaga tempat gym malam ini. Dia juga berjanji kalau lain kali Momo tidak akan berjaga lagi. Sebenarnya, tempat gym ini sangat aman, tapi dia hanya berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Jika nanti Momo mendengar sesuatu, jangan keluar pintu tetapi tutup pintu-nya rapat-rapat dan telepon polisi. Momo mengerti.

Setelah A Gui pergi, Momo beristirahat sambil tetap terjaga. Tapi, tidak berapa lama, dia mendengar suara A Gui bersama seorang pria yang sedang berkelahi. A Gui di serang oleh seorang pria dan di jatuhkan. Momo segera keluar untuk membantu. A Gui yang melihat Momo keluar, langsung menyuruh Momo untuk tidak ikut campur. Sayangnya, pria itu memukul A Gui hingga pingsan dan menyerang Momo.
Karena gagal dengan tangan kosong, pria tersebut menyerang dengan pisau. Tapi, tetap saja dia kalah dari gerakan cepat Momo. Karena itu, pria tersebut memilih kabur.
A Gui sadar tidak berapa lama kemudian dan memarahi Momo. Dia kan sudah memperingati Momo untuk mengunci pintu dan menelpon polisi jika terjadi sesuatu. Kenapa Momo malah keluar? Dengan santai, Momo menjawab kalau dia keluar tidak lewat  pintu tapi jendela. Tadi kan A Gui menyuruh nya untuk tidak membuka pintu, dan dia memang tidak membukanya.
--
Hai Lan menemui ayahnya di ruang kerja ayah. Dia ingin bertanya sesuatu, kenapa tidak ada satupun jejak ibunya yang tertinggal di rumah ini? Mendengar pertanyaan itu, ayah menjadi kesal.
“Masalah ini, kau sudah menanyakannya 300 kali. Aku akan mengatakannya lagi padamu untuk ke 301 kalinya hari ini. Ketika kau berumur 9 tahun, ibumu meninggal karena kecelakaan mobil. Dan setiap kali kau melihat barang yang ada hubungannya dengan ibumu, kau akan mogok makan dan minum. Aku hanya bisa membakar semua barang yang berhubungan dengannya,” jelas Ayah.
“Benarkah?”
“Semua pertanyaan mengenai ibumu, aku tidak akan pernah berbohong padamu.  Orang yang sudah meninggal tidak akan pernah bisa kembali. Menyimpan barang-barangnya hanya akan menambah rasa sakit saja.  Aku harap kau mengerti perasaanku.”
Hai Lan masih merasa ragu. Apa ayahnya tidak ada menyimpan 1 fotopun ibunya? Dan karena pertanyaan Hai Lan tersebut, ayah akhirnya menunjukkan 1 foto terakhir ibu yang di simpannya dan memberikannya pada Hai Lan.
--

Hai Lan terus menatap foto ibunya di dalam kamar. Dia teringat kalau wanita yang tadi di lihatnya, memang persis seperti ibunya. Tapi, bagaimana mungkin?
--
Esok hari,
Guru sedang mengajarkan pelajaran. Tapi, saat itu, seseorang masuk dan memanggil Momo untuk keluar. Semua yang ada di dalam kelas, langsung berbisik-bisik penasaran, ada masalah apa hingga Momo di panggil?
--
Ternyata, Shen Juan masuk ke rumah sakit. Jian Hua datang ke sekolah untuk menjemput Momo dan membawanya ke rumah sakit. Melihat Momo, Shen Juan tersenyum ceria dan berkata kalau dia baik-baik saja, Jian Hua saja yang terlalu berlebihan.
Jian Hua berkata kalau tadi Shen Juan sampai pingsan dan hampir… belum selesai dia bicara, ibu sudah memotong ucapannya. Momo jadi semakin khawatir dan bertanya, ada apa? 
“Ibu hanya mengalami tekanan darah rendah. Setelah di suntik, juga akan sembuh,” bohong Shen Juan.
Momo tentu tidak percaya dengan jawabannya tersebut.
--
Begitu pulang, Momo langsung bertanya pada Yu Chen, apa yang terjadi pada ibunya? Yu Chen tidak berani memberitahu kalau Jian Hua sudah menyuruhnya tutup mulut. Momo langsung menatap dengan pandangan memohon.
“Baiklah, aku akan memberitahumu. Tapi, kau harus berpura-pura tidak tahu ya. Jika tidak, Lu Jian Hua (Yu Chen tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan ‘ayah’) akan memukuliku sampai mati.”
“Bilanglah.”
“Ada sesuatu di paru-paru ibumu.”
“Sesuatu apa?”
“Aku juga tidak tahu. Dokter bilang tidak bisa melihatnya dari hasil x-ray. Tapi, sesuatu itu berada cukup dekat dengan arteri besar. Mereka tidak berani mengoperasi secara terburu-buru. Mereka harus mencari spesialis dari rumah sakit nasional untuk memeriksanya. Masalahnya, dr. Chen Xiao Feng itu sangat sibuk. Terlebih lagi, dokter itu biasanya pergi keluar negeri untuk mengajar. Sangat sulit untuk mengundangnya,” jelas Yu Chen.
--
Dan Momo langsung mencoba menghubungi dr. Chen. Sayangnya, jadwal dr. Chen sudah sibuk hingga Juni tahun depan. Mendengar jawaban itu, Momo kesal karena keluarganya sangat butuh dokter itu untuk mendiagnosa segera penyakit. Dia memohon, tapi suster yang mengurus jadwal dr. Chen bilang semua orang yang mencari dr. Chen juga butuh penanganan mendesak.
--

Momo pergi ke rumah sakit. Shen Juan masih tertidur. Dan dengan kekuatannya, Momo langsung memindai tubuh Shen Juan.
“Jika aku menggunakan 52% kekuatanku untuk menyelamatkanmu, maka aku hanya akan mempunyai sisa kekuatan 19%. Itu kurang dari waktu 2 bulan bagiku. Dan kemudian, aku akan jatuh dalam tidur yang panjang. Aku tidak tahu, apakah masih akan ada kesempatan bagiku untuk bangun lagi. Aku tidak ingin kau mati. Tapi… aku minta maaf,” galau Momo.
--

Kegalauannya itu terbawa hingga ke sekolah. Hai Lan bisa merasakan perubahan sikap Momo dan bertanya apa terjadi sesuatu pada keluarga Momo? Momo kaget karena Hai Lan bisa tahu kalau terjadi sesuatu di dalam keluarganya.
“Kau tahu apa yang paling di takutkan oleh para murid? Bukan gagal dalam ujian ataupun orangtua yang di panggil guru. Tapi, di bawa pulang ke rumah saat jam sekolah. Itu tandanya ada hal yang sangat penting hingga tidak bisa menunggu hingga jam pulang dan itu pastilah hal serius. Apa ada yang terjadi pada ayah atau ibumu?”
“Ibuku.”
“Aku harap itu sesuatu yang dapat di laluinya.”
“Terimakasih.”
--
Hai Lan bersama dengan Momo pergi ke arena tinju. Sambil jalan, Momo bertanya kenapa tadi Hai Lan berdiri di persimpangan lampu merah (tempat dia melihat ibunya)? Hai Lan hanya menjawab tidak ada apa-apa. Momo kemudian memberitahu kalau dia tidak bisa mengajari Hai Lan terlalu lama hari ini karena dia masih harus ke rumah sakit untuk menjaga ibunya.
“Aku ingin kembali ke persimpangan. Menunggu seseorang,” ujar Hai Lan tiba-tiba.
Momo mengerti dan tidak juga bertanya. Dia membiarkan Hai Lan pergi.
--
Di dalam, Momo mengajari seseorang bertinju. Tapi, dia merasa sangat tidak konsentrasi hingga beberapa kali terpukul. Itu karena dia merasa bersalah. Dia bisa saja menyelamatkan Shen Juan, tapi… dia tidak melakukannya.
--
Saat jam kerja usai, Momo malah melihat Hai Lan yang duduk di depan gedung. Bukankah Hai Lan bilang mau menunggu seseorang di persimpangan? Apa sudah ketemu?
“Tidak,” jawab Hai Lan dengan lemas.
“Kalau gitu, aku pergi dulu ya ke rumah sakit untuk melihat ibuku,” ujar Momo dan beranjak pergi.
“Sebenarnya, orang yang ku tunggu juga adalah ibuku,” ujar Hai Lan, memberitahu. “Tapi, aku juga tidak yakin, itu dia atau bukan. Ketika aku berusia 9 tahun, juga saat jam sekolah, aku di bawa pulang oleh ayahku. Dia bilang padaku, ibuku meninggal karena kecelakaan.”
“Sebelumnya… aku tidak pernah mendengarmu membahasnya,” ujar Momo dengan ragu.
“Saat terakhir kali kita latihan, aku melihatnya di persimpangan. Mungkin itu hanyalah orang yang mirip dengannya. Kita berdua punya masalah, tapi kenapa kau tampak baik-baik saja?”
Momo kesulitan menjawab. Dia akhirnya hanya berkata kalau mungkin dia sudah pernah mengalami tragedi yang lebih buruk daripada ini sebelumnya. Dan jika terjadi sesuatu, yang bisa mereka lakukan hanyalah menghadapinya.
“Terkadang, aku pikir, kau tampak lebih dewasa lebih daripada umur 16 tahun,” ujar Hai Lan.
“Sebenarnya… aku sudah berumur 200 tahun,” jujur Momo.
Hai Lan langsung tertawa, mengira Momo bercanda. Dia mengira Momo menghiburnya dan membuat perasaannya jadi lebih baik.
--

Esok hari,
A Gui mentraktir Momo makan di café sekaligus sebagai ucapan terimakasih karena Momo sudah menolongnya saat terakhir kali. Momo bertanya, apa yang di katakan polisi? A Gui menjawab kalau CCTV mereka rusak, jadi akan sangat sulit menemukan pria penyerang tersebut.
A Gui memperhatikan Momo yang tampak tidak berselera makan, apakah karena masalah ibu Momo? Momo membenarkan dan mulai bercerita kalau mereka harus bertemu dengan dokter spesialis paru-paru, tapi dokter itu sangat sibuk. Dan pasien harus menunggu hingga tahun depan. Dokter itu adalah dr. Chen Xiao Feng dari rumah sakit nasional.
A Gui tampaknya memikirkan sesuatu.
--
Hai Lan masuk ke ruang kerja ayahnya dan mengembalikan foto ibunya yang ayahnya berikan waktu itu. Ayah langsung bertanya, apa Hai Lan tidak menginginkannya lagi? Hai Lan tidak menjawab dan langsung pergi.
Dan ayah (Yi Tian) langsung menelpon seseorang.
--

Momo sudah bertukar baju dan siap untuk mengajarkan tinju. Tapi, dia melihat di arena tinju sedang ada pertandingan. Dia langsung bertanya, ada pertandingan apa?
“Yang satu itu adalah dari petarung terbaik dari perusahaan kita,” ujar A Shen.
“Kelihatannya yang menggunakan sarung tangan hitam lebih baik,” komentar Momo.
“Tidak sebagus kau. Oh ya, bukannya kalian berdua sudah pernah bertarung sebelumnya?” tanya A Shen, dan kemudian tersadar kalau dia sudah keceplosan. Dia sampai memukuli mulutnya sendiri.

Momo langsung naik ke atas ring dan menghentikan pertandingan. Dia menghampiri pria bersarung tangan hitam dan menatapnya dengan tajam. Dia menutupi sebagian wajah pria itu. Mirip dengan wajah si penyerang. Momo sadar kalau dia sudah di bohongi. Dengan marah, Momo pergi dari sana.
--

Esok hari,
Saat jam pulang sekolah, A Gui sudah menunggu Momo di depan sekolah. Begitu melihat A Gui, Momo langsung berjalan semakin cepat.
“Jadi, kita sekarang musuh?” tanya A Gui.
“Kita sudah tidak mempunyai kepercayaan lagi. Jadi, tidak ada gunanya kita bertemu lagi,” jawab Momo ketus.
“Organisai kami membutuhkan semua orang berbakat. Kami juga mempunyai syarat tinggi untuk karakter orangnya. Itulah kenapa kami mengetes-mu. Aku harap kau bisa mengerti,” jelas A Gui.
“Aku sudah melewati tes-nya. Tapi, kau masih belum bilang yang sebenarnya juga padaku. Itu bukanlah test, tapi penipuan.”
“Berikan aku satu kesempatan lagi!” pinta A Gui.
Sayangnya, Momo menolak.
--
Momo datang ke rumah sakit dan melihat Jian Hua yang sedang merawat Shen Juan yang tertidur. Dalam tidurnya, Shen Juan menginggau, memanggil Momo untuk memakan roti. Jian Hua segera membawa Momo keluar.
“Aku tahu kau dan ibumu memiliki hubungan yang dalam. Meskipun aku tidak bersamamu sejak kau kecil, tapi ibumu selalu menceritakan padaku mengenai dirimu dari kecil. Dia bilang ketika kau berusia 6 tahun, kau sangat menyukai roti. Saat itu, kalian tidak punya banyak uang, jadi ibumu akan membelikan 1 atau 2 roti, dan melihatmu makan. Tapi, dia tidak pernah ikut makan. Kau lihatkan, bahkan dia masih memikirkan dirimu saat tidurpun,” cerita Jian Hua. “Dan ada satu lagi, ibumu bilang dia memberikanmu 10 yuan, tapi kau kehilangannya dan marah besar. Jadi, dia diam-diam keluar rumah dan meletakkan 10 yuan di lantai untuk kau temukan.”
Momo tersenyum mendengar cerita itu. Dia juga berterimakasih karena Jian Hua sudah mau menjaga ibunya.
--
Esok hari,
Momo pergi ke rumah sakit nasional. Semua demi Shen Juan yang baginya adalah ibu yang hebat. Dia ke rumah sakit nasional untuk mencari dr. chen. Saat sampai, resepsionis memberitahu kalau dr. chen sedang ada tamu dan bertanya apakah Momo sudah membuat janji? Karena Momo belum membuat janji, dia malah dengan kasar mengusir Momo keluar. Dia menyebut Momo hanya mengganggu dengan berada di sini (emang susternya lho yang kurang ajar cara ngomongnya).
Momo marah dan emosi. Dia berteriak menyuruh suster itu memberitahu dr. chen ada di ruangan mana! Suster langsung menghubungi security. Tapi, Momo sudah langsung membuka satu persatu ruangan yang ada.
Dia akhirnya menemukan dr. chen dan langsung mencengkeram kerah baju dr. chen dan menyuruhnya untuk melihat hasil x-ray ibunya.

MENTAL POWER LEVEL 70 %


3 comments: