Sunday, August 4, 2019

Sinopsis K- Drama : Class Of Lies Episode 6 - part 3

0 comments

Sinopsis K- Drama : Class Of Lies Episode 6 – part 3

Network : OCN
Hyun Jung merasa heran, darimana Tae Seok mendapatkan uang puluhan juta dolar, kecuali mereka mempunyai dana gelap tersembunyi. Dan Tn. Kim menunjukan hasil penyelidikannya, tempat dimana Tae Seok bisa mendapatkan uang.

“Inilah orang-orang yang sebenarnya berkuasa. Yoo Yang Ki, anggota dewan di Kementerian Pendidikan. CEO Firma Hukum Songha, Lee Do Jin. Presdir Bank Saehan, Oh Kang Suk. Sebanyak ini yang kutemukan dari ulasan sekilasku,” jelas Tn. Kim.
“Rupanya sekolah ini memilih orang tua, bukan siswa,” kata Hyun Jung, menyimpulkan. “Carilah daftarnya. Cari tahu orang tua mana yang diperlukan untuk akuisisi Universitas Woonam,” perintahnya. Dan Tn. Kim mengiyakan.

Dipenjara. Moo Hyuk menanyakan kepada para polisi penjaga, siapa orang yang mengunjungin Han Su terakhir kali. Dia menunjukan foto Joon Jae kepada mereka. Tapi seorang polisi tidak mau memberitahu dan mengusir Moo Hyuk, dia menyalahkan bahwa Moo Hyuk lah yang telah membuat Han Su bunuh diri.
Namun seorang polisi mau memberitahu Moo Hyuk. Walaupun tidak banyak yang bisa di katakan olehnya, karena semuanya adalah rahasia. Dia memberitahu bahwa bukan Joon Jae lah orang yang mengunjungin Han Su hari itu dan dia yakin.


“Kalau begitu, tahukah kamu apa yang dibicarakan pengunjung itu dengan Han Su... “ tanya Moo Hyuk.
“Mana bisa kami memberitahumu pembicaraan saat kunjungan? Dia tampak sangat gugup. Dia tampak gugup selama dia berjalan kembali ke sel setelah itu. Hanya itu yang bisa kukatakan,” jelas si polisi baik. Karena dia melihat Moo Hyuk sungguh-sungguh melakukan semua ini untuk Han Su.

Moo Hyuk menghubungin Won Suk, dia menanyakan tentang Joon Jae. Dan Won Suk menjelaskan bahwa dia telah mengikuti Joon Jae, tapi tidak percaya bahwa ternyata Joon Jae tinggal dilingkungan kumuh.
Moo Hyuk : “Lingkungan kumuh?”
Won Suk : “Ya. Rumahnya benar- benar berantakan, dan ada rentenir yang datang.”

Bisnis ayah Joon Jae bangkrut, dan ayah Joon Jae kabur sendirian keluar negeri. Sehingga Joon Jae serta Ibunya terus- menerus diganggu oleh para rentenir.
Won Suk melihat semua kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Dan dia pun jadi bertanya- tanya, dimana Joon Jae bisa mendapatkan tas penuh uang tunai.

“Keluarganya bangkrut, tapi dia punya tas penuh uang dan memakai sepatu mahal,” kata Moo Hyuk, menyimpulkan. “Kita harus menyelidikinya,” jelas Moo Hyuk.
“Pokoknya, berhati- hatilah. Dia pasti berhutang banyak ke rentenir. Dia membawa pisau,” balas Won Suk. Dan Moo Hyuk mengiyakan.

So Hyun ingin mengetikan surat petisi, tapi dia bingung harus menulis bagaimana. Jika dia menuliskan seorang guru yang terluka, maka dia harus mengkonfirmasi pada Kang Jae terlebih dahulu. Dan jika dia menulis respons sekolah yang lambat, maka apa yang harus dilakukannya.
“Aku belum pernah membuat ini,” keluh So Hyun, kebingungan.

Young Hye memanggil Byung Ho, dan memintanya untuk mengundurkan diri dari sekolah. Byung Ho lalu pun menceritakan tentang dirinya yang dirisak oleh Joon Jae dan Jung Tae, bahkan dia di pukuli setiap hari dan harus melawan anak lain. Serta mereka bedua mengancam akan melecehkan adiknya, jika dia menolak. Sehingga karena itu, dia meminta Young Hye mempertimbangkan hukuman lain untuknya.

“Kamu seharusnya menahan dirimu. Inilah alasan kami seharusnya tidak menerima anak-anak sepertimu. Kamu tidak tahu diri dan tidak bersyukur. Kamu masuk sekolah hebat ini dengan gratis. Tidak bisakah kamu menahan diri?” jelas Young Hye tanpa belas kasih sama sekali.

“Begini, uang sekolahmu berasal dari uang orang tua anak-anak itu. Kamu membuat masalah padahal seharusnya berterima kasih. Apa yang membuatmu merasa berhak bernegosiasi? Bertindaklah sesukamu. Jika tidak keluar dari sekolah, kamu akan dikeluarkan. Kamu tahu tidak bisa pindah sekolah jika itu terjadi, bukan? Ikuti aku,” kata Young Hye sambil tertawa kecil.
Mendengar itu, Byung Ho hanya bisa diam.
Joon Jae menarik paksa Ji Eun ke dalam sebuah gang. Dia menyuruh Ji Eun untuk membayar nya. Dan Ji Eun pun memberikan dompet serta jam tangannya.
“Ini saja?” tanya Joon Jae, melihat sedikit uang Ji Eun. Dengan kesal, Joon Jae pun mengangkat tangan untuk memukulnya sebagai gertakan. Sehingga Ji Eun ketakutan.

“Hei. Kalau begitu, curi kartu kredit Ibumu atau mencuri peralatan dari ruang penyiaran dan bayar aku,” ancam Joon Jae. “Atau kamu mau bekerja denganku? Sebagai seorang gadis, kamu bisa menghasilkan lebih banyak. Bagaimana?” tanyanya.

Kang Jae datang menghampiri mereka. Dia menyuruh Ji Eun untuk pergi ke sekolah saja dan membiarkan dirinya mengurus masalah ini. Dengan lega, Ji Eun pun berjalan untuk pergi. Tapi Joon Jae tidak membiarkan Ji Eun pergi.

“Kamu menyembunyikan sesuatu yang penting di ruang band? Sesuatu yang tidak bisa diambil siapa pun? Mari kita bicara tanpanya atau kamu ingin dia mendengar? Agar seluruh sekolah tahu?” tanya Kang Jae, mengancam secara halus.
Dengan terpaksa, Joon Jae pun membiarkan Ji Eun untuk pergi. Lalu dia menanyakan, omong kosong apa yang sedang Kang Jae bicarakan ini. Dia mengacungkan pisaunya dan memperingatkan Kang Jae agar jangan menyentuh barang- barangnya.

Kang Jae menjelaskan bahwa dia tidak akan menyentuh barang Joon Jae, tapi Joon Jae harus menjawab pertanyaannya. “Dari mana kamu mendapatkan sepatu yang kamu pakai?” tanyanya, tegas.
“Apa?”
“Itu bukan sepatumu. Kamu mengambilnya? Misalnya dari ruang band?” kata Kang Jae, memperjelas dan bertanya.

Didalam kelas. Byung Ho mengisi form pengunduran diri dari sekolah. Dia mengisi semuanya dengan baik, tapi ketika sampai di kolom alasan, dia mematahkan penanya. “Kenapa aku harus menahan diri lagi?” gumamnya dengan kesal.
Tae Seok melihat hape nya. “Semua orang membuatku kesal sekarang,” gumamnya.

“Kenapa kamu ingin tahu? Apa pedulimu? Apa urusanmu aku mengambilnya atau tidak?” tanya Joon Jae, marah.
“Jawab saja pertanyaanku. Kamu mau aku menelepon ruang guru? Untuk menyuruh mereka menggeledah ruang band dan menemukan semuanya?” ancam Kang Jae dengan sangat tenang.
Joon Jae tidak mau menjawab, dan malah mau menyerang Kang Jae menggunakan pisau ditangan nya. Untungnya Kang Jae berhasil menghindar, dan menjatuhkan pisau ditangan Joon Jae. Dia menggunakan wajan yang ada disana.

“Bukankah itu tidak adil?” protes, Joon Jae.
“Aku yang terluka, bukan kamu, dan kamu menyerangku lagi? Apa? Seharusnya kamu siap untuk terluka,” balas Kang Jae. Lalu dia mengeluarkan hape nya dan berniat untuk menghubungin ruang guru.


Joon Jae takut dan menjawab bahwa sepatu yang dipakainya sekarang adalah milik Portir, atau lebih tepatnya milik Ahn Byung Ho. Mendengar itu, Kang Jae terkejut.

Tae Seok mengatai Byung Ho gila, karena telah berani datang ke ruangannya. Dan Byung Ho menjawab bahwa Tae Seok yang mengatakan padanya tidak akan terjadi apa- apa, Tae Seok yang menyuruhnya memberikan pesan. Sehingga Joon Jae akan berhenti menindasnya, tapi semuanya menjadi lebih parah.
Mendengar itu, Tae Seok hanya diam saja sambil tersenyum.

“Kamu yakin itu benar-benar milik Byung Ho?” tanya Kang Jae, memastikan.
“Ya. Aku mengambil ini darinya,” jawab Joon Jae.
“Bagaimana dengan dia? Bagaimana bisa dia mendapatkannya?”
“Mana kutahu? Memang dia bisa membelinya? Dia pasti mencurinya. Jika Portir mencurinya, kenapa aku tidak bisa mengambil darinya juga?” balas Joon Jae.
Dengan tegas, Kang Jae memperingatkan Joon Jae untuk jangan mendekat ke sekolah dan bertindak seenaknya. Dan Joon Jae pun diam. Lalu setelah itu, Kang Jae pun pergi meninggalkannya.

No comments:

Post a Comment